Bukan Cinderella

Bukan Cinderella
Memberimu nama, Robby


__ADS_3

Hampir seminggu sudah Si pasien tinggal di rumah Elle, mengekor dibelakang gadis itu bersama Bob. Melakukan apapun bersama meski perdebatan diantara mereka sering terjadi.


" El, harusnya kita memberinya nama, kan?." Celetuk Bob di satu sore saat mereka sedang berkumpul di halaman belakang.


Elle berbalik melihat si pasien yang duduk tenang mengunyah buah yang dipetik tadi, seolah bukan dirinya yang sedang dibicarakan.


" Harusnya memang dia punya nama." Ujar Elle langsung setuju dengan usul Bob.


" Enggak enak juga kalau manggil dia, hei, kau, kamu... nggak sopan aja gitu, kan?. " Lanjutnya.


" Lebih aneh lagi kalau manggil dia, si siapa kamu." Seloroh Bob disertai tawa.


Elle juga tertawa kecil.


" Itu sih, kamu."


" Hei!." Elle memanggil.


si pasien menoleh dalam diam.


" Kamu maunya dipanggil apa?."Elle bertanya dengan senyum ramah.


" Terserah." Jawabnya acuh membuat senyum Elle mengendur.


" Terserah sih terserah tapi kamu jangan menghabiskan buahku juga dong" Protes Bob memarahinya dengan wajah cemberut.


Mendapat protes dari Bob, dia menyatukan buah yang terbagi dua piring itu menjadi satu lalu meletakkan piring berisi buah di pangkuannya dan piring kosong di dorong ke arah Bob yang cemberut.


" Panggil saja dia si rakus." Tukas Bob kesal mengangkat piring kosong mengancam menghatamkan ke pasien walau pun dia menghentikan gertakannya di udara.


" Tidak mau." Kata si pasien cepat.


" Lho.. tadi katanya terserah." Bob mencibir.


" Tidak mau yang itu."Balas si pasien seolah bocah yang tengah memberontak.


" Siapa yang peduli kamu mau atau tidak?!" Sungut Bob dongkol


" Kembalikan buahku." Bob menjulurkan tangannya tapi disambit.


" Elle, lihat dia....!!"Bob mengadu bak bocah yang dianiaya teman bermainnya.


Elle menggeleng melihat tingkah mereka bak tom dan jerry berebut anak ayam.


" Nih, ambil punyaku." Elle mendorong piring buahnya.


Bob yang bergerak ingin menuju Elle malah ditahan olehnya. Meski dia pasien saat ini, kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Bob pun berpendapat begitu. Dia dengan mudah menekan Bob kembali ke tempatnya, menyerahkan piring berisi buah ke pangkuannya. Berjalan dengan bangga mengambil piring buah Elle dan menikmatinya tanpa peduli tatapan Bob penuh kebencian.


Elle tertawa lepas melihat tingkah laku mereka.


" kasi nama inspektur vijay." Kata Bob dengan nada ketus.


Elle masih tertawa. " Kenapa?."


" Inspektur Vijay dalam film India itu sok pahlawan tapi sebenarnya menyebalkan. Dia akan muncul setelah huru hara berakhir dan suka mengklaim pekerjaan orang lain sebagai jasanya" Tutur Bob.


" Sama menyebalkannya dengan dia" Bob menggunakan gerakan mulut menunjuk kearah si pasien.


" Aku tidak suka nama yang menyebalkan." Celetuk si pasien.

__ADS_1


" Siapa yang peduli kamu suka atau tidak, aku akan tetap memanggilmu begitu."Ujar Bob bersikeras.


" Aku tidak akan menoleh, menyahut atau datang kalau kamu memanggilku"


Keduanya kembali berdebat.


" Kasi nama yang keren dong Bob." Ujar Elle


" John! " usul Bob


" Tidak suka." Tukas si pasien cepat


" Rangga?!." Bob menyebut nama lain.


" Tidak mau." si pasien menggeleng


" Bagas?!." Cetus Bob.


" Kampungan." si pasien menolak.


" Melky. " Ucap Bob.


" Terdengar seperti nama anjing." protes si pasien.


" Ya udah, maemunah deh." Kata Bob dengan nada menyerah.


si pasien melemparnya potongan buah dan Bob membalas.


" Makanan jangan dibuang-buang dong." Protes Elle, sontak menghentikan perang buah keduanya.


" Kalian sedang apa? tampaknya bersenang-senang?. "


" Pak Mantri Bein, kamu datang." Sapa Bob diikuti Elle. pasien hanya memberi anggukan samar yang dibalas senyum oleh mantri Bein.


" Kami sedang memberi nama padanya. " Kata Bob


" Ide yang bagus." Mantri Bein mendukung.


"Bergabung dengan kita-kita untuk memberinya nama." Ajak Bob dengan seringai di wajahnya.


" Saya sudah tua, kepalaku tidak bisa lagi memiliki ide yang bagus." Mantri Bein menolak. " Takutnya nanti malah ngasi nama yang membosankan, tua, kampungan atau apalah." Jelasnya dengan senyum di wajahnya.


" Dia aja yang rewel, dikasi nama tapi ditolak terus sama dia" Bob menuding si pasien.


" Pengen dipanggil 'Woi' mulu kayaknya dia"


" Nama yang kamu sebut tidak ada yang keren." Si pasien balas membantah tuduhan Bob.


Bob kembali menyebut sejumlah nama tapi tetap tidak ada yang menyentuh hati si pasien.


" Itu.... Robby terdengar bagus." Potong Elle.


" Emang bagus kok."


" Kalian akan makin cocok bersama dengan nama ini. Robby, Rob dan Bob. " Jelas Elle.


" Kalau disambung Rob dan Bob, sekilas terdengar seperti Robbot. "


" Kalau dibalik terdengar seperti Bobrok. "

__ADS_1


" Menurut kalian bagaimana?. "


" Tidak bagus." Sela Bob cepat dengan Wajah gelap


" Cukup bagus. " Si pasien mengangguk-angguk.


Bob masih cemberut. " Kenapa kamu menentangku dimana-mana."


"Itu namaku, bukan namamu. Kenapa kamu tidak suka?" si pasien protes dengan sikap Bob.


"Terserah." Dumel Bob pada akhirnya.


" Aku tadi becanda. " Elle membujuk.


" Tidak akan ada yang memanggil kalian bersama seperti itu. "


Beralih ke Si pasien, Elle berujar.


" Apa kamu cocok dengan nama itu?. "


" Tidak masalah." Ucapnya singkat.


" Baiklah. Robby!. " Putus Elle.


" Kalau kalian sudah selesai, aku harus memeriksa dia, eh.... maksudku, Robby. " Kata Pak mantri Bein mengingatkan mereka maksud kedatangannya.


" Oh... silahkan pak mantri" Ujar Elle sopan.


Elle dan Bob membiarkan Mantri Bein melakukan pemeriksaan rutin


" Kasi aja suntikan di kepalanya langsung" Seloroh Bob.


mengiringi langkah dua orang itu menuju rumah bagian depan.


" Kemungkinan, si Robby itu anak orang kaya, ya" Celetuk Bob menikmati buah jatah Robby sekaligus.


Elle melirik Bob dan mencetuskan sesuatu di kepalanya.


" Kenapa kamu mengatakan seperti itu?"


" Lihat aja selama ikut dengan kita, tidak ada yang dia tahu yang memungkinkan kalau di rumahnya, hal-hal remeh itu pasti dilakukan oleh asisten rumah tangga dan dia dilayani penuh" Bob memaparkan pendapatnya.


"Namanya juga lupa ingatan"


"Dia cuma lupa identitas dirinya, bukan lupa gimana jadi manusia" Bob membantah perkataan Elle.


" Dia masih tahu cara makan, mandi, berpakaian, masih bisa baca tulis" Papar Bob lebih jauh.


" Tapi, ngomong-ngomong, kebayang nggak sih kalau ada yang amnesia terus benar-benar lupa segalanya. Benar-benar kayak bayi gitu, segalanya diajarin lagi dari awal" Celetuk Elle tertawa kecil.


" Hal pertama yang aku pikirin, siapa yang sanggup merawatnya? karena pasti nguji kesabaran banget, kan?" Ujar Bob.


" Mungkin tidak separah yang kita bayangin sih soal itu" Kata Elle.


" Kan udah besar, udah dewasa jadi ngajarinnya juga lebih mudah. Daya ingat dan nakarnya udah jalan dong"


" Iya juga ya" Bob memikirkan sejenak kata-kata Elle dan merasa kalau itu masuk akal.


Keduanya mengobrol ngalor ngidul, sesekali mereka tertawa dan saling ejek. Beginilah cara mereka, Anak-anak buangan ini saling menghibur. Saat anak-anak seusia mereka menikmati kasih sayang orang tua, keduanya hanya mengasihani diri mereka sendiri. Terlahir dari keluarga sederhana dan masalah orang tua yang rumit dan mereka ditinggalkan karena keegoisan.

__ADS_1


__ADS_2