Bukan Cinderella

Bukan Cinderella
Kesedihan Alyssa


__ADS_3

Zayden tersenyum seraya menyuapi Alyssa makan. Sudah beberapa hari berlalu, dan semakin hari keadaan Alyssa sudah semakin membaik. Alyssa belum bisa berjalan seperti biasa, karena dibagian tumit kakinya ada sendi yang sedikit bergeser. Meski sudah mulai membaik, tapi Zayden tidak membiarkan Alyssa bergerak berlebihan.


Luka luka ditubuh dan kepala Alyssa juga sudah mulai memudar, dan kini Alyssa hanya tinggal masa pemulihan saja. Apalagi tubuhnya yang masih lemah dan perlu perawatan.


Zayden tidak pernah meninggalkan Alyssa dalam waktu yang lama. Dia hanya meninggalkan Alyssa saat dia kekamar mandi saja. Selebihnya Zayden ada disamping Alyssa. Bahkan tidur pun mereka satu ranjang berdua.


Dokter melarang, tapi Zayden kekeh untuk meminta itu. Hingga mau tidak mau, mereka pun mengizinkan dan mengganti ranjang Alyssa dengan ranjang yang lebih besar lagi.


Ya, siapa yang bisa menghentikan keinginan tuan muda ini.


"Sudah mas" ucap Alyssa


"Sedikit sekali. Baru beberapa suap sayang" jawab Zayden seraya menyerahkan gelas minum pada Alyssa.


"Sudah kenyang. Buburnya tidak enak" jawab Alyssa


Zayden tersenyum dan mengangguk


"Untuk beberapa hari kamu hanya bisa makan ini dulu. Leher kamu masih sakit kan?" tanya Zayden.


Alyssa mengangguk pelan. Karena memang ternyata lehernya cidera, dan sampai sekarang masih memakai penyanggah.


"Mas..." panggil Alyssa


Zayden yang sedang membereskan sisa makanan Alyssa langsung menoleh pada nya.


"Beneran udah gak dipenjara lagi kan?" tanya Alyssa


Zayden tersenyum dan mengangguk.


"Iya... ini pertanyaan kamu yang kesekian kali nya." jawab Zayden seraya tertawa kecil.


"Aku cuma takut mas pergi lagi" ucap Alyssa


Zayden meriah tangan Alyssa dan menggenggam nya dengan lembut.


"Enggak sayang. Aku janji aku gak akan pergi lagi. Mulai sekarang aku akan menemani kamu setiap hari. Cepat sembuh ya" pinta Zayden


Alyssa mengangguk pelan


"Kenapa mas bisa bebas. Bukan kah masalahnya cukup rumit?" tanya Alyssa. Dia sudah mulai bisa banyak berbicara sekarang. Padahal beberapa hari yang lalu, Alyssa masih berbicara sepatah dua kata saja. Tapi sekarang, dia sudah mulai banyak berbicara. Dan itu cukup membuat Zayden merasa senang.


"Ini berkat bantuan tuan Malik" jawab Zayden.


Alyssa terdiam, seperti sering mendengar nama itu. Apakan orang yang sama?


"Dia anak dari sahabat papa. Dan dia yang membantu aku untuk bebas" ungkap Zayden.


"Tuan Malik, pemilik restauran Denue?" tanya Alyssa

__ADS_1


Zayden mengangguk pelan.


"Iya, restauran tempat kamu bekerja" jawab Zayden.


"Suami nona Zea" gumam Alyssa


"Iya sayang. Aku bersyukur ada dia. Jika tidak, aku tidak tahu bagaimana nasib kamu sekarang" sahut Zayden.


Alyssa terdiam memandang Zayden. Kejadian mengerihkan itu benar benar membuat trauma tersendiri untuk nya.


"Kalau ingat itu aku takut mas" ucap Alyssa


Zayden mengecup punggung tangan Alyssa dengan lembut, memandang nya penuh cinta dan rasa bersalah yang besar.


"Jangan takut lagi. Semua sudah selesai. Mereka sudah dipenjara sekarang" sahut Zayden.


"Aku takut aku gak selamat waktu itu" kata Alyssa lagi.


"Jangan begitu dong. Kamu pasti selamat. Aku mana bisa hidup tanpa kamu Sya" ucap Zayden


"Aku takut anak kita kenapa kenapa mas"


deg


deg


deg


Alyssa belum tahu ini. Alyssa belum tahu jika anak yang dia kandung sudah tidak ada lagi.


Anak mereka tidak selamat.


Dan Zayden memang belum memberitahu Alyssa tentang ini.


Ya tuhan...


Bagaimana ini???


"Mas..."


"Mas"


Zayden terkesiap. Dia langsung memandang Alyssa dengan bingung. Apa yang harus dia katakan. Zayden takut Alyssa terpukul mendengar kabar ini.


Tapi jika tidak diberi tahu, apa itu baik? Jelas tidak kan.


"Ada apa. Kenapa mas jadi sedih begitu?" tanya Alyssa


Zayden masih diam, namun genggaman tangan nya pada Alyssa semakin kuat. Dia bahkan mencium punggung tangan Alyssa sangat lama dan begitu dalam.

__ADS_1


Dan tentu saja gelagat Zayden yang seperti ini membuat Alyssa merasa heran.


"Mas" panggil Alyssa lagi.


Zayden mendongak pada Alyssa dan tersenyum tipis. Senyum terpaksa yang sudah sangat sering Alyssa lihat.


"Anak kita sudah pergi Sya"


deg


"Pergi?" gumam Alyssa dengan jantung yang terasa berdenyut ngilu.


Zayden mengangguk pelan.


"Dia gak bisa selamat ketika kamu jatuh ke jurang waktu itu" ungkap Zayden.


Mata Alyssa mulai berair. Dia menggeleng pelan dengan bibir yang bergetar menahan tangis.


"Mas bohong kan" ucap Alyssa. Bahkan suaranya sudah terdengar bergetar dan begitu perih. Membuat Zayden sungguh tidak tega melihat ini. Dia langsung beranjak dan duduk disamping Alyssa, meraih tubuh Alyssa yang sudah mulai menangis terisak.


"Hei... jangan menangis. Ini memang sudah jalan nya sayang" ucap Zayden


Alyssa langsung menangis dalam pelukan Zayden. Dia mencengkram erat kemeja Zayden dan menangis begitu pilu disana.


"Anak aku mas.... anak aku. Huuu" tangis Alyssa mulai sesunggukkan. Dan itu benar benar membuat Zayden juga ingin menangis. Dia juga sedih kehilangan anak nya. Orang tua mana yang tidak sedih, disaat mereka menunggu kehadiran buah hati, tapi kenyataan nya mereka malah kehilangan begitu cepat.


"Ini salah aku, aku gak bisa jaga dia dengan baik" ucap Alyssa dengan begitu perih.


"Sayang .... enggak, ini bukan salah kamu. Jangan seperti ini" ucap Zayden. Dia memeluk tubuh Alyssa dengan erat, mengusap punggung nya yang masih menangis tersedu sedu.


"Aku yang gak bisa jaga dia mas. Aku masih ingin punya anak" kata Alyssa lagi.


Zayden membiarkan Alyssa menangis dan mengungkapkan semua nya. Dia tidak tahu harus berkata apa sekarang. Yang jelas, Zayden juga bersedih dan merasa bersalah. Karena semua yang terjadi, dialah penyebabnya.


"Sayang...." panggil Zayden seraya melepaskan pelukan nya dan menangkup wajah Alyssa. Mengusap air mata yang terus keluar dari mata indah itu.


"Dia datang tanpa terduga, dan sekarang tuhan ambil dia lagi dari kita. Itu berarti kita masih belum dipercaya untuk menjaga dia. Kamu harus ikhlas. Anak kita menunggu kita disana nanti" ungkap Zayden. Matanya juga berkaca kaca saat mengatakan ini.


"Tapi aku sedih mas... Aku sayang anak aku. Dia yang buat hubungan kita semakin dekat. Dia juga yang buat tuan besar Nerima aku. Sekarang dia udah gak ada, dan gimana nasib aku nanti" sahut Alyssa yang kembali menangis tersedu sedu. Dia merebahkan kepala nya didada Zayden. Dan menangis dengan kuat kembali.


"Sayang.... aku juga sayang anak kita. Tapi kamu jangan berfikiran buruk seperti itu. Walaupun dia udah gak ada, tapi gak akan ada yang berubah dengan kehidupan kita" jawab Zayden


Alyssa masih menangis dalam dekapan Zayden.


"Lalu gimana dengan tuan besar. Dia pasti usir aku lagi dari rumah mas" ucap Alyssa.


"Apa kau berfikir aku sekejam itu?"


deg

__ADS_1


Alyssa langsung mematung, dia menoleh kearah pintu, begitu pula dengan Zayden.


Mereka begitu terkejut saat melihat ternyata tuan Juanda sudah ada didalam ruangan itu dan mendengar pembicaraan mereka.


__ADS_2