
Sudah dua minggu berlalu....
Dan Alyssa belum juga sadarkan diri. Meski keadaan nya sudah jauh lebih baik sekarang. Tapi entah kenapa dia masih belum sadar juga.
Setiap hari Zayden selalu ada disisi Alyssa. Dia tidak pernah meninggalkan Alyssa sedetik pun. Bahkan untuk membersihkan diri Alyssa pun dia yang melakukan nya sendiri. Tidak ada orang yang boleh menyentuh Alyssa nya. Zayden hanya memperbolehkan dokter memeriksa Alyssa, namun untuk yang lain, dia sendiri yang melakukan nya.
Seperti saat ini Zayden baru saja membersihkan tubuh Alyssa. Rutinitas setiap pagi yang Zayden lakukan.
Dia berada di Bandung ditemani oleh Wira. Lelaki itu yang selalu menemani Zayden dan memenuhi segala keperluan nya. Termasuk makanan dan pakaian. Zayden benar benar tidak ingin meninggalkan Alyssa sedetik pun. Sudah cukup dua bulan lebih dia meninggalkan Alyssa, dan membiarkan istri tercintanya ini menanggung beban sendirian. Dan sekarang, Zayden ingin menemani nya. Menebus segala rasa bersalah nya selama ini.
Sedangkan Jimmy, dia sudah berada di Jakarta. Mengurus perusahaan Zega yang memang tidak bisa ditinggal terlalu lama. Hanya jika pekerjaan tidak terlalu banyak baru lah Jimmy datang mengunjungi nya dan Alyssa disini.
Zayden duduk disamping Alyssa, meraih tangan nya yang sudah tidak sedingin kemarin. Mungkin Alyssa masih ingin beristirahat sejenak. Hingga dia belum mau membuka matanya sampai saat ini.
"Sayang..." panggil Zayden dengan lembut.
"Sampai kapan kamu mau tidur terus. Aku rindu" ucap Zayden lagi. Dia mengusap kepala Alyssa dengan lembut sembari mengecup tangan Alyssa dengan penuh sayang.
Rasanya benar benar sedih melihat keadaan Alyssa yang terbaring tidak berdaya seperti ini. Meski luka luka disekujur tubuhnya sudah mulai mengering dan menghilang. Tapi tetap saja Zayden tidak rela melihat Alyssa seperti ini.
Meskipun orang yang membuat ini sudah tidak lagi ada. Entah dimana keberadaan Anabella sekarang. Yang jelas dia sudah hilang bagai di telan bumi. Kedua orang tua nya sudah mendekam dipenjara. Seluruh aset mereka juga sudah disita oleh Malik dan beberapa orang yang terlibat dalam kecurangan nya.
Karir Anabella juga sudah hancur, rumah juga jangan ditanyakan lagi. Tidak ada apapun lagi yang tersisa dari mereka.
Dan Zayden tidak lagi memperdulikan itu. Dia sudah cukup puas melihat mereka hancur. Tidak ada rasa bersalah dihatinya. Itu sudah setimpal dengan Zayden yang kehilangan anak nya dan juga Alyssa yang seperti ini.
"Cepatlah bangun. Aku rindu" bisik Zayden dengan helaan nafas yang terasa begitu berat.
Dia merebahkan kepala nya disamping Alyssa dengan tangan yang masih menggenggam tangan Alyssa dengan hangat.
Rasa rindu, rasa cinta dan kekhawatiran yang mendalam membuat Zayden lelah, hingga akhirnya rasa kelelahan itu membawa dia tertidur dengan tenang.
...
Beberapa waktu kemudian...
Ruangan sepi dan sunyi itu terasa begitu hening. Zayden masih betah dalam tidur nya. Wajahnya terlihat lesu dan lelah. Bahkan posisi tidur yang tidak nyaman seperti ini saja bisa membuat nya terlelap. Meski tangan nya sejak tadi tidak juga melepaskan tangan Alyssa.
Hanya suara detak jantung Alyssa yang berbunyi nyaring dimonitor pendeteksi detak jantung yang bersuara sejak tadi.
__ADS_1
Dan disaat itu pula, mata Alyssa mulai terbuka. Nampak begitu berat, hingga setelah bersusah payah dia berusaha untuk membuka matanya, pandangan mata itu mulai terbuka. Masih nampak sayu dan lemah.
Alyssa mengerjap perlahan. Dia memandang keatas langit langit ruangan dimana dia dirawat. Kepala nya masih terasa berat dan sakit.
Ada dimana dia sekarang?
Kenapa semua bagian tubuhnya terasa berat dan kaku?
Alyssa kembali memejamkan matanya. Ingatan saat dia diculik dan dibuang kedalam jurang membuat mata Alyssa berair.
Apa dia sudah mati?
Tapi kenapa ada disini.
Tapi selama dia tertidur, dia seperti mendengar suara Zayden setiap saat.
"Mas .... Zayden...." ucap Alyssa. Namun sayang nya hanya terdengar seperti gumaman saja.
"Mas ....."
Sekuat tenaga Alyssa ingin mengeluarkan suaranya, namun nihil karena alat bantu pernafasan ini membuat suaranya tertahan. Apalagi dengan tenaga nya yang tidak ada.
Namun saat mata nya bisa melirik, Alyssa langsung tertegun. Karena ternyata ada Zayden yang tertidur dengan memeluk lengan nya.
Air mata Alyssa kembali meleleh.
Benarkah ini Zayden nya?
Jadi dia belum mati kan?
Tapi kenapa Zayden nya ada disini? Bukankah dia di penjara?
"Mas...." panggil Alyssa. Tapi Zayden tidak mendengar karena suara Alyssa yang hanya terdengar seperti berbisik saja.
Bibir Alyssa tersenyum tipis, dengan sekuat tenaga nya dia berusaha untuk menggerakkan tangan nya yang digenggam oleh Zayden.
Sangat sulit, hingga lama kelamaan barulah Zayden terbangun.
Dia nampak meringis dan memandang Alyssa dengan mata sayunya.
__ADS_1
Namun Zayden langsung terbelalak saat melihat Alyssa yang sudah membuka matanya dan memandang Zayden dengan sendu.
"Sayang kamu udah bangun?" ucap Zayden. Dia segera beranjak dan memencet tombol pemanggil dokter. Beralih ke Alyssa dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Air mata Alyssa yang mengalir membuat Zayden cemas.
"Hei... kenapa menangis hmm? ada yang sakit ya?" tanya Zayden.
"Takut ...." lirih Alyssa. Lagi lagi hanya gumaman dibibir nya saja. Meskipun begitu, Zayden bisa mendengar nya.
Zayden menggenggam erat tangan Alyssa dan mengecup dahi gadis itu dengan lembut.
"Jangan takut lagi, kamu udah aman sekarang. Aku disini untuk jagain kamu" ucap Zayden.
"Jangan pergi" pinta Alyssa. Masih terdengar begitu pelan hingga Zayden harus mendekatkan wajahnya diwajah Alyssa.
"Enggak sayang, aku gak akan pergi lagi. Maafin aku yang datang terlambat. Maafin aku" ucap Zayden yang kembali mengecup dahi Alyssa.
Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Dia bahagia Alyssa sudah sadar, tapi tetap saja rasa bersalah dan rasa sedih itu tetap ada dihatinya.
Alyssa tersenyum tipis dan kembali memejamkan matanya. Terlalu banyak berbicara dan berusaha untuk bergerak membuat nya merasa sakit dan lemas lagi.
"Sayang" panggil Zayden, dia terlihat panik lagi saat melihat Alyssa yang memejamkan matanya kembali.
"Sayang hei, jangan tidur lagi" pinta Zayden seraya mengusap pipi Alyssa
Alyssa membuka matanya dan memandang Zayden.
"Jangan tidur lagi, aku rindu" ucap Zayden. Dan kini dia yang ingin menangis.
Ya ampun... Suami nya ini memang terlihat sangat cengeng.
Alyssa tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Dia sudah lelah untuk berbicara barang sepatah dua kata saja.
"Aku takut kamu ninggalin aku Sya" ucap Zayden yang kembali mengecup dahi Alyssa. Seakan tidak ada puasnya.
Hingga akhirnya perhatian Zayden teralih saat dokter masuk kedalam untuk memeriksa keadaan Alyssa.
Terimakasih Tuhan...
__ADS_1
Setidaknya, meskipun dia kehilangan anak nya, tapi Alyssa masih ada disini untuk dia.