
Dua minggu nyaris berlalu, keakraban Bob dan Robby makin terjalin baik meski akan di warnai cekcok setiap kali.
" Robby, katamu mau menemaniku ke kafe hari ini?. " Bob datang tergesa-gesa.
" Kamu bahkan belum mandi."
" Apa aku pernah mengatakan itu?." Robby bertanya seolah dia tidak tahu apa-apa.
" Jangan berakting denganku." Bob menyeretnya ke kamar.
" Cepat mandi dan bersiap ah!. " Bob membanting pintu.
"Lho! Bob! Belum buka kafe mu?!. " Elle datang dari rumah belakang terlihat heran melihat Bob.
" Si Robby baru bersiap." Balas Bob dengan wajah gelap.
" Oh... dia belum ya? padahal pagi-pagi dia beli sarapan karena mau membantumu di kafe."
" Dia mengatakan tidak ingat apa-apa. "
Elle tertawa. " Kurasa dia mengerjaimu lagi. "
" Huu uh. " Bob mengangguk dengan wajah marah.
Robby muncul, kali ini berpakaian sedikit bergaya. Rambut disisir rapi. Ada jejak aroma parfum tipis.
" Jangan terlalu bergaya begini ah, kamu akan menutupi ku. " Protes Bob.
Bob bukanlah tidak tampan, dia cantik dan imut. Sebesar apapun dia mencoba tampil macho, itu hanya terkesan anak mama yang belajar jadi nakal, seperti itu Teman-temannya menggambarkannya.
Robby berbeda, dia memiliki wajah tampan dan aura maskulin yang alami. Karakternya yang acuh menambahkan poin.
" Sangat tampan!. " Elle memuji tanpa basa basi
Robby berpikir, dia menyukai disanjung.Ia lebih suka kalau sanjungan itu datang dari Elle, tuannya.
" Kenapa pada bengong? kalian harus berangkat sebelum terlambat." Elle menyentak mereka.
" Kalian masih perlu menyiapkan segala sesuatunya nanti. Kan rugi kalau kalian masih siap-siap orang udah pada jualan. " Elle mengoceh mengingatkan mereka.
" Kamu tidak pergi?. " Robby sedikit kecewa melihat Elle tidak bergerak.
__ADS_1
" Ada yang harus aku lakukan." Elle menggeleng.
" Dia harus menunggu mobil kanvas hari ini." Cetus Bob.
" Ayo... kita terlambat." Bob menyeret Robby pergi.
Pertengahan Juni yang panas, desa mengadakan festival panen, itu berlangsung lima belas hari dalam enam bulan. lebih tepatnya, setelah panen padi di bulan kelima.
Jeda satu bulan digunakan untuk memberi waktu tanah persawahan bernapas sekaligus menunggu jerami-jerami di sawah membusuk secara alami sebelum dibajak lagi.
Dikatakan juga, satu bulan atau empat minggu ini, petani berlibur dari urusan bercocok tanam.
Dua minggu pertama, penduduk desa melakukan festival panen, dimana dibuat pasar 24 jam. Bob menyewa stand dan memindahkan peralatan kafenya untuk membuka kafe modern di pasar festival.
Banyak siswa-siswi sekolah Lanjutan atau menengah yang membolos. Mereka inilah yang menjadi target pasar Bob.
Kemarin, Bob sudah memindahkan peralatannya dan menyimpannya ke dalam box, sehingga dia tidak perlu repot membawa barang ke tempat ini.
Bob mulai sibuk menata kafenya, dibantu Robby yang tentu saja harus mendapat arahan terlebih dahulu, sesekali mereka adu mulut sebelum sesuatu selesai dilakukan.
Sebagai satu-satunya kafe modern, pengunjung muda mudi telah meramaikan stand Bob, sama dengan kedai kopi sebelahnya yang telah dipadati bapak-bapak yang ngobrol tentang berbagai hal.
" Bob. " Seorang pelanggan lama Bob menghampiri Bob yang tengah menyeduh kopi.
" Ah.... dia. " Kepala Bob sakit bila melihat kelakuan Robby yang seenaknya sendiri. Dia akan melayani pengunjung bila dia mood untuk melayaninya. kalau dia menganggap merepotkan, dia akan meminta Bob pergi menawarkan menu dan dia akan duduk mengamati mereka.
" Aku memang hanya menyewanya menjadi Maskot kafe biar kamu nggak bosen. " Bob menggoda gadis itu.
" Maskotmu akan memberimu banyak pelanggan. "
" Kuharap begitu. "
Bob melihat kearah Robby yang acuh tak acuh.
" Membawanya juga tidak buruk. setidaknya, dia bisa memikat pelanggan. Itu sudah cukup. " Bob membatin.
Sekelompok gadis itu memesan segera dan Bob kembali ke meja bar dengan setumpuk pesanan.
" Apa yang kamu jual pada mereka begitu bahagia?. "
Selidik Robby menerbangkan antusiasme Bob.
__ADS_1
" Kamu mengetahuinya lebih baik. Aku menjualmu. " Bob memprovokasi.
" Oh... "
" Apa yang ... Oh..?. "
" Jangan sampai menjual mimpi yang tak dapat kamu penuhi. "
Bob mendelik mendengar ucapan Robby.
" Bawa ini pada mereka." Bob menyerahkan pesanan yang telah dia selesaikan.
" Jangan sampai ka Elle datang dan melihat kinerja burukmu. "
" Apa dia akan datang?. " Robby bertanya.
" Kenapa dia tidak bisa datang?. " Bob balik bertanya kemudian sibuk membuat pesanan lainnya.
Robby merasa ada dorongan untuk membanting pesanan itu.
Bob menekan tawanya ketika ekor matanya menangkap Robby pergi.
Kafe semakin rame, Bob juga makin kewalahan. Untungnya, Robby cepat menyesuaikan diri, tidak sekaku sebelumnya. Bibirnya telah menggantung senyum samar. Beberapa gadis tidak bisa membuang tatapannya dari Robby, membuat Bob sedikit masam dihatinya. Dia telah melakukan banyak hal untuk menjadi idola gadis-gadis. Tapi, Robby tidak melakukan usaha apapun segera dapat membius mereka dengan mudah. Dunia sungguh tidak adil, kan?
Rasa masam ini berlanjut ketika Jefry datang mengunjunginya. Dia menelponnya dari atas mobil untuk menemuinya. Bob agak marah karena dia sibuk. Ketika ingin mengomel, satu wajah juga muncul disana. Jadi, Bob mengutuk mereka dalam hati.
" Kalau kamu sibuk, tidak perlu datang." Katanya dengan cepat.
" Aku melihat masakan bebek ini dan mengingatmu. " Ujar Jefry menyodorkan sebuah kantong makan.
"Kami sudah makan. Jefry merekomendasikannya, ini benar-benar enak. " Kata orang lain itu.
" Terima kasih. " ucap Bob cepat. " Lain kali tidak perlu repot. Aku sibuk. Kalian hati-hati di jalan. " Bob berjalan pergi tanpa menunggu Jefry menjawab. Melewati tempat sampah, Bob berdiri sebentar sebelum memutuskan membuang makanan itu. Kemudian dengan ringan menuju kafenya, tanpa menyadari, mobil Jefry belum bergerak sedikitpun.
Robby yang merasa Bob pergi agak lama dan bingung menanggapi pesanan yang menumpuk, segera berlari keluar dan segera menemukan Bob kembali.
" Orang menunggu pesanan mereka. " Sambutnya mengingatkan situasinya.
" Baik. Aku mengerti. ayo... masuk. " Bob menepuk pundak Robby yang menangkap satu mobil polisi berhenti dari tempat Bob berasal. Robby mengingat itu agak familiar dan menghubungkan ekspresi kesal Bob. Robby tanpa sadar agak marah melihat teman kecilnya kurang bahagia. Meski Robby selalu melihat Bob karena teman Elle dan baginya, Bob bukan sekedar kotak obrolan tapi meningkat menjadi radio rusak yang berisik di mana-mana.
Namun, dia tetaplah sahabat penting Elle dan Robby juga menandainya sebagai teman kecil yang dijaga seperti Elle sangat menjaganya.
__ADS_1
Robby mengerutkan kening sebelum berbalik. Kali ini dia akan melewatkannya karena situasi yang tidak memungkinkan. Bila terulang di waktu lain, Robby akan membuat perhitungan pada orang-orang yang membuat Teman-temannya kesal. Bob terlalu naif dan mudah diganggu, Robby sangat tahu itu karena dia adalah penggangu paling top di mata Bob.