Bukan Cinderella

Bukan Cinderella
Dia Amnesia


__ADS_3

" Pak Mantri Bein!." Panggil Bob. " Apa dia benar-benar manusia?."


Pertanyaan Bob membuat mereka was-was.


" Dia hanya mengucapkan dua kata berulang-ulang. "


" Apa itu?. " Mantri Bein penasaran.


" Siapa kamu."


Mantri Bein menarik nafas lega.


" Itu karena kalian orang asing baginya." Mantri Bein memberi penjelasan sekenanya.


" Tapi....


" Kalian tunggu diluar dulu kami akan melakukan pemeriksaan." Elle menarik Bob keluar.


" Kita kan bisa melihat mereka tanpa mengganggu. "Bob berbisik dan melangkah ke depan kamar.


" Tahan di sana!." Nada tegas keluar dari pria kekar berjas biru tua.


" Kenapa?." Bob memandangnya dengan tatapan polos.


" Kamu tidak diijinkan masuk."


" Ini rumah kami, kenapa tidak boleh." Bob membangkang.


" Ini... rumahnya." Pria kekar meralat, matanya tertuju pada Elle yang berdiri di belakang Bob.


" Sama saja. Aku sahabatnya dan sudah terbiasa."


Pria kekar memberi tatapan tajam. " Sayang sekali, bahkan


pemilik rumah tidak diperbolehkan masuk." Pria itu berbicara secara langsung.


" Ohh... dunia ajaib... pemilik rumah dilarang memasuki rumahnya sendiri." Bob berkata dengan ekspresi sedih.


" Kalian benar-benar menindas."


" Nak, aktingmu sangat bagus. Kenapa kamu tidak menjadi aktor saja?." Ujar pria kekar itu.


" Benarkah? kurasa juga begitu." Dia mengangguk yakin.


" Tapi tidak semua orang memiliki mata dan telinga yang bagus."


" Lebih baik kamu berlatih, siapa yang tahu akan ada kru film nyasar kesini dan merekrut mu jadi piguran. Itu lebih berguna daripada mengganggu orang sakit."


" Siapa yang ingin jadi piguran? matamu picik!." Bob meneriaki pria itu dengan tidak puas.


" Elle, dia menggertak ku." Bob mundur ke sisi Elle dengan sedih. Seperti bocah yang mengacu pada kakaknya.


"Kreekkk... krriiiiuukkk... "


Perut Bob bernyanyi sumbang.


Elle memiliki alasan menyeretnya pergi.


" Pria besar itu benar-benar bukan orang baik. Menggertak! dia pembully ! tunggu aku memberi tahu Jefry." Bob merutuk sepanjang jalan.


" Ingat! kamu tidak bisa mengatakan ini pada Jefry. Kamu sudah sepakat dengan Mantri Bein." Peringatan dari Elle membuat Bob mengangguk.


" Aku hanya menggerutu, tidak akan serius mengatakannya. Aku bukan bayi pengadu.."


"Hmm... " Elle bersenandung pelan. Percaya saja apa yang dikatakan.


Elle melanjutkan menggoreng ikan dan Bob berputar di sekitar dengan tak sabar.


Saat Mantri Bein memeriksa pasien, kedua orang ini sedang bersantap. Makan siang di meja cukup meriah. Bob menggerogoti hampir semua ikan bakar sendirian.

__ADS_1


" Rasanya luar biasa. " Bob menepuk- nepuk perutnya yang menggembun dan membulat.


" Sudah lama aku tidak makan ikan bakar, ini ikan air payau lagi. Di rumah, Jefry hanya tahunya menggoreng ikan." Kata Bob seolah curhat.


Elle melirik." Kamu tuh nggak ada syukur-syukurnya. Jefry lho udah berbaik hati capek-capek masakin kamu, masih aja ngeluh. Mana dia kerja tiap hari pula. Pastilah susah ngebagi waktu tetap menyiapkan makan buat babi manja kayak kamu." Elle mengomelinya.


" Iya, aku hanya mengatakannya dengan santai." Ujar Bob cemberut.


" Setidaknya kamu punya dia yang mau menemanimu. Kamu enggak harus kesepian."


" Kan ada aku juga yang menemanimu." Sergah Bob.


" Kalau mau yang bisa nginap, kenapa nggak nikah aja, sih." Bob menggoda Elle.


Sontak Bob dapat lemparan lap piring.


" Kamu kira, nikah itu gampang."


Ponsel Bob berdering.


" Ada pesan dari kang Gerry, katanya handphone mu udah selesai di service."


" Nanti sore lah aku ambil kalau gitu."


" Enggak bisa, dia mau keluar katanya." Bob mendekati Elle.


" Lihat nih. " Bob menunjukkan layar ponselnya ke wajah Elle. "Bilang sama Elle ponselnya udah selesai ku service. kalau mau dipake suruh datang ke rumah sekarang, soalnya saya ada rencana keluar dengan teman-teman. Belum jelas pulangnya kapan. mungkin besok atau lusa." Bob membacakan Elle pesan itu.


" Iya udahlah. Aku pergi sekarang deh." Elle beranjak.


" Aku ikut, ya." Bob mengekor.


" Ngapain sih ikut?." Elle berbalik." Kan, masih ada Mantri Bein disini. Nanti ada perlu apa-apa atau mau bilang apa-apa, enggak ada orang." Cegah Elle.


" Jadi kamu tunggu di sini aja."


Bob hanya pasrah menerima pengaturan Elle.


" Mau kemana, El?. "


" Ke rumah kang Gerry kak." Elle langsung menghentikan langkahnya mengenali si pengemudi.


" Masuk! aku anter." Perintah Jefry.


" Tidak merepotkan kan, ka?." Elle agak sungkan. Terlebih, dia melihat ada teman Jefry duduk di depan.


" Tidak. Aku memang mau keliling dan kebetulan akan melewati tempat kang Gerry. Sekalian aja." Papar Jefry.


" Kak Jefry lembur lagi?. " Tanya Elle saat mobil mulai melaju.


" Sudah selesai sih, cuma ada teman baru yang harus mengetahui wilayah sekitar jadi aku mengajaknya berkeliling." Polisi muda di samping Jefry berbalik dan menyapa Elle.


" Hai aku Eza, baru ditugaskan di daerah ini jadi aku merepotkan Jefry mengantarku berkeliling. Tidak apa-apa, kan?." Pria itu tersenyum semakin cerah. Elle merasa kalau polisi baru ini agak aneh.


" Tentu saja." Elle memberi pandangan bingung.


" Jangan bicara ambigu. Elle tetanggaku dan sahabat Bob." Kata Jefry mencela.


" Oh.... apa Bob ada di rumahmu? tadi aku singgah di rumah tapi dia tidak ada."


" Dia di rumah. "Jawab Elle singkat.


" Tidak pulang makan?."


" Dia makan di rumah."


" Padahal aku sudah memasak untuknya." Jefry menghela napas berat.


" Dia mungkin merasa sepi makan sendiri lagi." Ujar Elle. Dia memarahi Jefry dalam hati. Kamu punya waktu berkeliling dengan temanmu tapi tidak punya waktu menemaninya. Tentu saja, itu hanya dalam pikirannya.

__ADS_1


" Apa dia ada bicara sesuatu?."


" Tidak banyak. Hanya saja dia mengeluh bosan makan ikan goreng, dia merindukan ikan bakar." Elle tadinya ingin menggeleng tapi hatinya agak kurang sreg dengan polisi baru itu yang tidak malu-malu mengamati setiap gerakan Jefry. Jadi Elle bertingkah disengaja mewakili Sahabatnya, Bob.


" Anak nakal itu, dia hanya perlu mengatakannya secara langsung atau mengirim pesan. kenapa dia berlari keluar mengeluh pada orang." Meskipun Jefry terdengar memarahi Bob tapi bibirnya menumbuhkan senyum.


" Dia mau ikan air payau." Elle menambahkan.


" Dasar pemilih." Jefry mengguman.


Elle melirik polisi muda itu lagi yang telah mengalihkan pandangannya.


" Terima kasih ya, sudah memberi tahu." Kata Jefry terlihat bahagia.


" Terima kasih juga ka sudah mengantar Elle." Jefry menurunkan Elle tepat di depan konter Kang Gerry. Jefry dan kang Gerry saling menyapa sebentar kemudian pergi.


" Hebat kali kau, datang kesini dikawal polisi." Seloroh Kang Gerry.


" Kak Jefry kebetulan mau keliling, jadi aku sekalian ikut."


Di rumah Elle, Bob yang bosan menunggu menuju rumah depan.


" Mereka belum selesai?." Tanyanya pada si pria kekar.


" Belum." Jawab pria itu singkat.


" Kenapa lama sekali?." Tanya Bob kemudian.


Pria itu hanya mengangkatnya bahu. Terlihat terlalu malas meladeni Bob.


Bob terpaksa berdiri disisi pria itu dengan wajah cemberut.


" Apa hubunganmu dengan wanita pemilik rumah ini.? "


" Kami berteman."


" Lalu, bagaimana dengan Jefry, ada hubungan apa kalian?."


Alih -alih menjawab, Bob malah balik bertanya.


" Kamu mengenal Jefry juga?." Bob merasa waspada.


" Di masa lalu"


Jawab pria itu enteng.


" Jadi, apa hubunganmu dengannya?. "


" Aku...


" Bob, gimana? apa sudah selesai?. " Kehadiran Elle menyelamatkannya.


" Belum ada apapun. "


" Baik. mari kita tunggu."


Baru juga Elle menyelesaikan kalimatnya. Mantri Bein keluar dari kamar.


" Bagaimana keadaannya?." Songsong Ella.


Mantri Bein menggeleng samar. Pria kekar itu juga tegang menunggu Mantri Bein bicara. Ella dan Bob malah bingung.


" Hasil agak berbeda dari harapan. ingatannya kurang baik." Elle mengerutkan kuning.


" Apa dia lupa ingatan?." Elle mencoba menebak.


" Oh... dia insomnia?." Tukas Bob.


" Hhffttt.... " Si Pria kekar gagal menahan tawanya.

__ADS_1


Mantri Bein tersenyum geli.


" Amnesia!. "Elle mentoel bahu Bob.


__ADS_2