
Seusai peristiwa itu Vivian memutuskan untuk pulang, dirinya tak sanggup lagi menahan sesak di dadanya. Dia merasa seolah semua orang menolaknya, semua orang menginginkannya untuk hidup tersiksa. Jika mama dan papanya masih ada tentulah hidupnya takkan seburuk ini. Kakinya terus berlari tak peduli kepada siapa saja yang telah di tabraknya dalam pelarian, hanya suara makian yang terus saja terdengar di telinganya. Air matanya masih juga belum surut. Rambut dan seluruh tubuhnya basah karena ulah Juan dan teman-temannya.
“Aghhhhhhhh.” Dia berteriak dengan frustasi lalu menangis dengan terisak di sebuah kursi yang tersedia di bahu jalan. Dia sedang mengutuk Tuhan mengutuk dirinya sendiri. Dia merasa telah sangat membenci hidupnya.
Seorang pemuda berperawakan atletis melihat Vivian dengan seragam SMA yang basah sedang menangis ditempatnya. Langkahnya pun bergegas untuk menghampiri gadis itu.
“hei anak SMA, ini jam sekolah kenapa kau berkeliaran begini?” tanya lelaki itu.
“apa urusanmu ha?” Vivian membalas dengan begitu ketus, karena rasa kesal yang ada di hatinya seolah dia telah mendapatkan pelampiasan untuk itu.
“anak zaman sekarang memang tidak punya etika. Diberitahu malah marah. Paling juga sedang putus cinta.” Begitu pikir lelaki itu tanpa suara. Segera dia beranjak meninggalkan Vivian karena merasa itu bukanlah hal penting.
“kenapa orang-orang sangat senang memarahiku?” ucap Vivian lirih.
Terik matahari di musim panas saat ini membuat pakaian Vivian kering tanpa menunggu waktu lama. Dia sengaja duduk di kursi itu berharap untuk mengeringkan pakaian yang melekat di tubuhnya setelah di rasa cukup kering, Vivian kembali melanjutkan perjalanan ke rumahnya, maksudnya rumah Quen sepupunya.
Ning...nong...
Vivian memencet bel yang tersedia di sisi kanan pintu gerbang rumah yang amat besar itu. Tak butuh waktu lama pintu gerbangpun terbuka dengan sendirinya. Di halaman rumah dia melihat mobil pamannya telah terparkir tanda mereka sudah kembali.
“hah.” Vivian menghembuskan nafas dengan kasar. Dia seolah sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kakinya baru saja menginjak lantai beranda, namun pintu depan telah dibuka daan terlihat seorang wanita yang berusia 35 tahun tetapi, masih amat terlihat muda sedang berdiri menyambutnya.
Plaaaak...
Satu tamparan keras mengenai pipinya. Vivian hanya mengelus pipi itu sambil menahan rasa getir dan pedihnya tamparan yang didapatkannya dari adik ipar ibunya.
“beraninya kau?” suara menggelegar kemudian keluar dari mulut wanita tadi. Tanpa ampun kini rambut Vivian yang jadi sasaran kemarahan, Vivian merasa rambutnya seolah akan terlepas dari kulitnya. Hatinya hanya bisa bertanya-tanya apa salah yang telah di lakukannya. Sambil terus menarik rambut Vivian, Melyana membawa Vivian kini di tepi kolam renang di sisi kanan rumah. Betapa jauh jarak dirinya menyeret ponakan kandungnya itu. Setibanya di bibir kolam Melyana menghempaskan tubuh Vivian ke dalam kolam dengan hentakan keras. Terlihat Vivian sedang berusaha untuk berenang ke tepi. Hingga akhirnya dirinya dapat meraih pegangan besi dibibir kolam.
__ADS_1
“ kau sangat suka berenang bukan? Kenapa tidak berenang saja kau lagi!” Melyana menginjak tangan Vivian yang sedang berpegangan hingga tangannya terlepas dan dirinya kembali ke dalam air.
“beraninya kau bermain di kolam renang sekolah saat pelajaran di mulai ha? Kau pikir aku membayar sekolahmu agar kau bisa bermain seenaknya disana?” Melyana semakin geram kepada Vivian. Melyana memang seseorang yang sangat disiplin. Hingga dia tidak suka mentolerir kesalahan bahkan sekecil apapun. Sebenarnya dia adalah seorang yang penyayang. Tapi, kareba hasutan Quen yang beberapa tahun selalu meracuni pikirannya diapun terbawa emosi setiap melihat Vivian. Sebelum Vivian kembali ke rumah tadi, Quen sudah terlebih dulu menghubungi maminya untuk mengarang cerita.
“a..aku” belum selesai Vivian menyelesaikan bicaranya Melyana kini menarik dengan kasar tangan Vivian agar keluar dari kolam lalu menarik tangannya keluar dari rumah.
“mulai hari ini aku tak sudi melihatmu di rumahku, kau hanya menyusahkan diriku dan keluargaku. Ibumu memang adik dari suamiku tapi, dia sudah tiada dan kamilah yang menjagamu.harusnya kau tahu diri dan menempatkan dirimu pada jalur yang semestinya. Hari ini keluarlah dari rumahku, bila pamanmu bertanya aku akan mengatakan bahwa kau yang sudah tak ingin tinggal disini.” Imbuh Melyana dengan begitu lugas.
“kalau bibi mengusirku, aku akan tinggal dimana?” Vivian tiba-tiba memangis tubuhnya bergetar karena dingin dan lapar yang membuatnya pingsan saat tadi berlari. Dia menjatuhkan dirinya di bawah dan bersimpuh kepada Bibinya agar tidak mengusirnya. Tapi begitulah Melyana sifatnya yang keras sulit untuk di taklukan. Dia tidak peduli lagi terhadap Vivian dan segera brrlalu ke dalam rumah meninggalkan Vivian yang masih tergugu di tempatnya. Bahkan Melyana tak memberikan pakaian untuk Vivian ketika mengusirnya. Vivian merasa tak ada gunanya untuk terus berdiam diri disana, diapun segera pergi. Melangkahkan kakinya setapak demi setapak di jalanan kota.
“aku harus kemana?” dia bertanya sendiri di dalam hati. Sembari kedua tangannya menghapus peluh dan kemudian memegangi perutnya yang sedari tadi bergejolak meminta di isi. Dia pun menjatuhkan tubuhnya di bawah lampu jalan. Duduk bersandar di batang pohon yang juga ada disana. Matanya silih berganti menangkap wajah-wajah dan kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Tak sedikit anak-anak sekolah yang menatapnya dengan pandangan meremehkan. Pandnagan itu tak lagi di pedulikan Vivian, dia begitu merasa terbuang. Tak ada hari terkelam baginya di banding hari ini. Hari disaat dia betul-betul kehilangan segalanya. Orang tua sudah tak punya paman dan bibipun tak sudi lagi menerimanya. Hingga matanya terpejam dan entah kapan dia mulai kehilangan kesadaran.
“hei nona, bangunlah. Hei.” Suara berat seorang lelaki berusaha membangunkan Vivian terdengar lantang di telinganya. Hingga membuat gadis itu terjaga lalu mengerjapkan kedua matanya kemudian membukanya sempurna. Vivian masih teru memandang lelaki itu. Tiba-tiba dari kedua manik matanya mengalir bulir bening yang semakin lama semakin banyak.
“apa kau akan mengusirku juga darisini paman?” tanya Vivian di sela-sela tangisnya.
“tidak, aku hanya tidak enak melihatmu di pandangi orang-orang yang lewat jika mereka berlaku jahat bagaimana?” kini ucapnya dengan suara.
Tanpa menjawab, Vivian hanya mengedarkan pandangannya menyapu jalanan yang ramai.kemudian beralir kepada lelaki tadi. Menatapnya lama dan dalam. Tiba-tiba tubuhnya bergerak hendak berdiri dan segera melangkah menjauh tanpa bicara.
“aneh sekali dia itu.” Gumam lelaki tadi. Melihat Vivian yang semakin jauh diapun melangkah ke arah mobilnya dan melajukannya menuju rumahnya.
Petang hampir tiba. Mega merah terlihat memenuhi cakrawala. Seorang gadis berseragam SMA yang tidak lain dalah Vivian sedang duduk di tepi pantai. Banyak pasangan muda mudi maupun tua yang juga berada disana menikmati senja yang hampir akan di gilas malam. Jika para pasangan itu menikmati dengan penuh suka cita, beda halnya dengan Vivian dia sedari tadi menyembunyikan wajahnya agar air matanya tak terlihat. Pantai itu semakin sepi, setelah pekat tiba orang-orang dengan sendirinya membubarkan diri. Hanya kafe-kafe yang buka dan pengunjung yang terlihat berjarak 50 meter dari tepi pantai. Vivian semakin gelisah karena sungguh perutnya benar-benar lapar. Kepalanya sibuk menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari sesuatu yang sekiranya bisa sedikit mengganjal perutnya. Tak jauh dari tempat duduknya dia melihat sebuah counter kecil menyediakan berbagai cemilan. Terlihat tak nampak pengunjung satupun disana. Dengan ragu Vivian beranjak dan pergi ke counter yang di maksud.
“permisi.
Permisi,
__ADS_1
Permisi.
Setelah tiga kali memanggil belum ada satupun orang yang menyauti dan datang menemuinya. Vivianpun menghela nafas penuh kecewa. Tidak mungkin dia ke kafe sementara dia tak memiliki uang sedikitpun. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di kursi yang tersedia di depan counter itu.
********
Di rumah mewah Melyana......
Terlihat sebuah keluarga bahagia sedang asyik menyantap makan malam, Quen, Melyana dan pamannya Vivian ,Charles. Mereka menikmati hidangan mewah yang enak. Tak satupun di antara mereka yang menanyakan keberadaan Vivian. Sudah biasa, mereka menikmati makan malam tanpa adanya gadis itu sekalipun dia berada di rumah. Paman Charles selalu mengira Vivian telah makan lebih dulu karena kadang Vivian membantu Bi Nany untuk memasak. Sedangkan Melyana mengira Vivian tidak suka makan bersama karena begitulah kata Quen setiap kali maminya menyuruh Quen untuk memanggil Vivian. Sedangkan Vivian segan untuk makan semeja dengan mereka karena Quen mengatakan kedua orang tuanya tidak senang pada Vivian.
“Vivian dimana mam?” tanya Quen, dia memang penasaran tidak melihat Vivian seharian ini.
“mami tidak tahu, seharian ini dia belum pulang!” ucap Melyana gugup.
“aneh, bukannya tadi Vivian sudah pulang duluan ya. Aku juga sudah memberi tahu mami.” Batin Quen.
“bagaimana kamu tidak tahu Quen? Dia kan pergi denganmu ke sekolah. Apa kau tadi tidak pulang dengan Vivian?” tanya paman Charles kepada anaknya. Ya, paman Charles selalu mengira Vivian berangkat dan pulang sekolah mengendarai mobil bersama Quen. Tapi tidak, Vivian selalu berjalan kaki ketika pulang dan berangkat. Meski kadang dari rumah mereka bersama naik mobil, Quen akan menurunkan Vivian di tengah jalan dan menyuruhnya untuk berjalan kaki ke sekolah. Quen tidak ingin teman-teman sekolahnya tahu bahwa Vivian adalah sepupunya.
“hmm, Quen tidak tahu dad, tadi pagi Vivian di hukum karena terlambat sampai sekolah. Setelah itu Quen tidak bertemu lagi dengannya.” Jawab Quen ragu.
“kenapa terlambat? Apa kau juga terlambat? Bagaimana bisa kalian berangkat bersama lalu hanya Vivian yang terlambat?” cecar paman Charles
“ehmm, ta..tadi Quen tidam berangkat bersama Vivian dad, tadi Vivian kesiangan Quen sudah membangunkannya tapi sangat sulit akhirnya Quen duluan ke sekolah bahkan tanpa sarapan karena waktu Quen terbuang membangunkan Vivian. Quen takut di hukum jadi Quen meninggalkan Vivian. Maafkan Quen dad,” Quen berusaha meyakinkan ayahnya dengan ceritanya sembari memasang wajah menyesal.
Sepasang telinga yang sedang asyik mendengar perbincangan majikannya itu hanya mengeryintkan dahinya dan menggeleng-gelengkan kepala. Bi Nany tahu benar setiap kejadian yang terjadi di rumah ini. Bahkan ketika tadi nyonya Melyana menceburkan Vivian dalam kolam saat Tuan Charles sedang tertidur lelap karena lelah usai perjalanan panjang.
“kasian nona.” Gumam bi Nany, kedua matanya berkaca-kaca mengingat Vivian yang entah dimana rimbanya.
__ADS_1
Charles menyuruh sopir pribadinya untuk bergegas mncari Vivian di seluruh penjuru kota, gurat kecemasan jelas terlihat di wajahnya. Vivian tak memilki siapaun selain dirinya. Untuk itu dia begitu sayang dan sangat khawatir akan Vivian. Tapi kesibukannya selama ini membutakan matanya. sehingga, dia tidak pernah tahu bagaimana Vivian menjalani hari di rumahnya.