Bukan Cinderella

Bukan Cinderella
Rumah Baru


__ADS_3

Tepi pantai..


“hei nona, bangunlah!” suara seoraang wanita membangunkan Vivian. Dia memicingkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang berusaha menerobos retinanya.


“maaf, maafkan saya bibi, saya tidak sengaja tertidur disini.” Ucap Vivian yang telah menyadari keberadaan seorang wanita paru bayah tengah berdiri mentapnya.


“tidak apa-apa. Wajahmu pucat sekali. Kau sepertinya anak sekolah.” Imbuh wanita itu. Dia menebak dari seragam yang dikenakan Vivian.


“iya bibi, saya anak sekolah. Nama saya Vivian.” Jawab Vivian dengan menundukkan pandangannya.


Krucuk..


Krucuk..


Bunyi perut Vivian begitu jelas terdengar karena suasana malam yang sepi.


“apa kau lapar? Ini makanlah.” Wanita itu memberikan Vivian sebungkus kentang goreng yang di belinya pada penjual yang berjajar di sepanjang pesisir pantai di arah utara mereka.


“terimakasih!” Vivian tanpa menolak dan bergegas mengambil kentang goreng itu, lalu mengunyahnya karena rasa lapar yang tidak lagi tertahan.


“pelan-pelan nanti kau tersedak.” Kata wanita itu dengan segurat senyuman. Dia pun melangkah ke dalam conternya untuk mengambilkan sebotol air untuk Vivian.


Keduanya terlihat sedang menikmati kentang goreng bersama, sebelum itu wanita yang belakangan di ketahui bermama Cellyn memberikan sehelai selimut tipis untuk menutupi tubuh Vivian dari hembusan angin laut. Mereka akhirnya larut dalam perbincangan Vivianpun menceritakan bagaimana awalnya dia bisa berada di depan counter Cellyn. Hingga Cellyn mengajak Vivian untuk tinggal bersamanya.


Di kediaman mewah lainnya.


“ayah, besok aku akan ke Jepang tiga hari.” Ucap seorang lelaki membuka percakapan di ruang keluarga yang terlihat amat luas dan mewah.


“kau sudah memutuskan bekerjasama dengan Mr. Roy?” tanya seorang lelaki paru baya lainnya.


“iya ayah, ini adalah kesempatan yang baik menurutku untuk semakin melebarkan sayap perusahaan!” ucap lelaki pertama dengan penuh keyakinan.


“baiklah jika itu menurutmu baik nak.”


“lalu Daan, apa kau sudah memutuskan untuk bertunangan dengan Stephani?” tanya seorang wanita paru baya yang tidak lain adalah ibunya Daan. Lelaki yang asyik mengobrol dengan ayahnya tadi.


“ibu, Daan masih sibuk dengan berbagai urusan perusahaan. Bagaimana kalau kita jangan membahasnya dulu.” Jawab Daan dengan malas.


“tapi kau membutuhkan pendamping nak, kau butuh seseorang untuk mendukung langkahmu.” Sambung ibunya.


“Daan masih sangat mampu hanya dengan dukungan ayah dan ibu. Daan permisi dulu.” Daan beranjak dari tempat duduknya dan menyusuri tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.


“keras kepala sekali.” Lirih ibu Daan yang di dengar oleh suaminya.

__ADS_1


“sudah, kau ini seperti tidak mengerti tabiat anak kita. Jika sudah saatnya diapun akan menikah.” Timpal ayahnya Daan.


Mereka pun melanjutkan perbincangan berdua. Tiba-tiba suara dari pintu depan mengalihkan pandangan keduanya.


“aku pulang.” Suara itu terdengar lantang. Milik seorang pria.


“Juan, kau darimana saja? Sedari tadi pagi kau pergi dan baru kembali.” Juan di sambut dengan cercaan pertanyaan ibunya yang juga ibunya Daan.


“ibu aku pergi sekolah,” Juan menghampiri ibunya dan mencium pipinya sebagaimana biasa.


“Juan, kau sudah dewasa nak, kenapa kau suka sekali bermain-main di luar? Belajarlah yang serius, nanti kau akan mengikuti jejak kakakmu mengurus perusahaan kita.” Ungkap ayahnya dengan nada suara rendah.


Juan tak membalas dan hanya tersenyum kepada ayahnya, sebelum melangkah pergi ke kamarnya yang juga ada di lantai dua.


“anak-anak kita ini.” Imbuh nyonya Helen dengan putus asa.


“sabarlah sayang.” Balas tuan Aston suaminya.


Fajar menjelang, mentari menyingsing pagi dengan sinarnya. Terbias menembus horden putih di kamar, dimana Vivian terlelap semalam. Retina Vivian menangkap cahaya yang datang. Dia melihat sekelilig, sebuah kamar dengan design kuno berdinding kayu yang terawat. Kemudian terukir senyum di wajah cantiknya. Lesung pipinya terlihat. Entah sudah berapa lama lesung pipi berada disana tanpa di ketahui keberadaannya saking lamanya pemilik senyum itu tak pernah menampakkannya.


“aku di rumah bibi Cellyn.” Vivian segera bangun dari tidurnya. Menatap cermin, melihat piyama berwarna merah jambu kini membalut tubuhnya. Vivian menguncir rambutnya memperlihatkan lekuk leher jenjangnya. Dan segera keluar mencari keberadaan Bibi Cellyn.


“selamat pagi bi.” Sapa Vivian setelah menemukan Bibi Cellyn sibuk menyiapkan sarapan di dapur.


Setelah selesai menyiapkan sarapan, mereka berduapun kini asyik menyantap sambil berbincang-bincang.


“bibi, terimakasih banyak karena sudah menolongku.” Ucap Vivian. Matanya terlihat berkaca-kaca.


“jangan bicara begitu. Bibi sangat senang kau ada disini. Kau mengobati luka dan kerinduan Bibi pada Audrey.” Ungkap Cellyn dengan mata yang mulai mengembun juga.


“tinggalah disini, toh bibimu menyuruhmu jangan kembali.” Sambungnya lagi.


“bolehkah bi?aku takut merepotkanmu.” Kini air mata Vivian benar-benar lolos dari tempatnya.


“tentu sayang.” Cellyn langsung meraih tubuh Vivian dalam rengkuhannya.


Vivian memutuskan untuk tinggal dengan Cellyn. Dia pun juga memilih untuk pindah sekolah yang terletak tidak jauh dari rumah Cellyn. Toh, sekolah lamanya hanya membuat Vivian terluka dan tidak mungkin lagi bibinya Melyana mau membayarkan uang sekolah.


Waktu terus berlalu,


Yang lewat takkan terulang


Yang datang kita tidak tahu menyuguhkan cerita apa.

__ADS_1


Setahun sudah Vivian tinggal bersama dengan Cellyn. Mereka selayaknya ibu dan anak. Berbagi cerita dan tertawa bersama. Vivian seolah lupa bahwa di dunia ini dia memiliki seorang paman. Kakak dari ibu kandungnya. Vivian bahkan memanggil Cellyn dengan sebutan “ibu”.


Dua bulan lagi kelulusan Vivian dari sekolah menengah atas. Dia sudah mempersiapkan dirinya untuk masuk universitas. Cellyn sudah mempersiapkan tabungannya dari hasil penjualan di counter makanan miliknya. Bahkan counter itu berubah menjadi sebuah toko kue. Sudah lama Cellyn berniat membuka toko kue itu, tapi karena dukanya dia mengurungkan niatnya. Setelah kedatangan Vivian, Cellyn seolah menemukan semangat baru. Setiap hari toko itu sangat ramai. Meski berada di pinggiran kota. Tempat tinggalnya tidaklah sepi. Bahkan dengan gencarnya kampanye pariwisata yang di canangkan pemerintah, semakin banyak saja wisatawan yang berkunjung ke pantai dan tentu hal ini mampu menjadi keuntungan tersendiri bagi para pelaku usaha disana.


Kediaman keluarga Aston.


Setelah melalui perundingan yang panjang, dan untuk lebih mengeratkan hubungan bisnis di antara Aston ayah Daan dengan Adrian ayah Stephani maka keduanya memutuskan agar pertunangan antara Stephani dan Daan segera di laksanakan satu minggu lagi. Semua persiapan sudah dimulai. Stephani yang mendengar kabar ini langsung dari mulut kedua lelaki itu teramat bahagia bagaimana tidak, Stephani telah memendam rasa kepada Daan begitu lama, sedangkan Daan menerima semua keputusan ayahnya dengan terpaksa. Dia tak ingin berdebat, pun dia tak memiliki alasan terkait wanita lain yang tengah mengisi hatinya. Daan sedari dulu memang tak pernah memiliki seorang kekasih.


Hari yang di tentukan semakin dekat tinggal tersisa tiga hari lagi. Acara pertunangan itu hanya akan di adakan secara sederhana di sebuah vila yang terletak tak cukup jauh dari kediaman mereka. Vila itu terletak di pesisir pantai yang kini sudah ramai pengunjung.


Keluarga Aston sudah lebih dulu tiba disana. Selain persiapan, mereka juga ingin sedikit berlibur menikmati pemandangan yang sangat jarang mereka jumpai jika tanpa perencanaan.


Villa itu terlihat sangat terawat, berjarak sekitar 50 meter dari pantai dan juga cukup jauh dari keramaian di sebelah utara Vila.


“ayah sedang memikirkan apa?” Tanya Daan yang sedari tadi memperhatikan ayahnya melamun di depan jendela, pandangannya jauh ke depan menikmati liukan ombak yang tertimpa cahaya rembulan.


“eh, tidak nak. Ayah hanya sedang merindukan bibimu.” Jawab Aston dengan sedikit terkejut.


“ayah tenang saja, kita pasti akan menemukannya.” Jawab Daan sembari mengusap lembut punggung ayahnya, seolah dia sudah mengerti betul siapa yang di maksud oleh ayahnya.


“mari kita turun makan malam.” Ajak Daan kemudian.


Semuanya sudah berkumpul untuk santap malam bersama. Juan adik Daan juga terlihat disana.


“ibu akan memesan beberapa jenis kue di toko kue seberang sana untuk acara nanti.” Ungkap Helen di tengah-tengah perbincangan.


“kau atur saja.” Sambung Aston sambil melempar senyum kepada istrinya itu.


“Juan kau harus menemani ibu pergi ke sana ya?” kini pandangan Helen beralih kepada Juan yang sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya.


“kenapa Juan bu? Kaka Daan saja, kan kakak yang akan bertunangan bukan Juan.” Tolak Juan, tangannya melepas sendok yang di genggamnya begitu saja.


“Juan, kau ini kenapa begitu kepada ibu?” tanya Daan dengan suara datar.


“kakak, Juan sudah membuat janji dengan teman-teman Juan besok. Mereka akan kemari merayakan kelulusan kami.” Terang Juan.


“ya sudah, besok ibu di antarkan paman Lim. Tapi kau tidak mendapat jatah apapun bulan ini.” Timpal Aston dengan sedikit nada tinggi.


“selalu mengancam, baiklah!” Juan mengalah, dia sudah pernah merasakan susahnya hidup tanpa uang dari kedua orang tuanya.


Mereka pun melanjutkan makan malam sampai selesai.


mohon dukungan dengan Rate, Like and Vote plus coment untuk masukan dan krisannya🙏🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2