Bukan Cinderella

Bukan Cinderella
Berjuang Bersama Sama


__ADS_3

Alyssa duduk diruang tunggu sendirian. Jimmy tidak ikut masuk karena dia tidak ingin lagi mengacaukan suasana karena perasaan nya yang selalu saja tidak bisa menahan sedih saat melihat Alyssa dan Zayden. Tuan asisten itu sungguh iba melihat nasib percintaan bos nya dan Alyssa yang sudah dia anggap seperti adik sendiri. Melihat mereka, Jimmy sungguh tidak bisa menahan perasaannya nya.


Sehingga sekarang, disinilah Alyssa berada. Sendirian menunggu Zayden yang sedang dijemput oleh polisi penjaga penjara.


Jantung nya berdegup tidak karuan, hampir sebulan tidak bertemu membuat dia sudah benar benar merindukan kekasih hatinya itu. Sangat rindu, bahkan tidak terbendung lagi bagaimana besar rasa rindu itu.


Semua nya tentang Zayden selalu membuat hati Alyssa tersentuh, bahkan tidak jarang dia selalu menangis setiap kali mengingat nasib Zayden yang kini terpenjara.


Suara tapak kaki membuat Alyssa langsung mendongak.


deg


Jantung nya berdenyut dengan ngilu ketika melihat Zayden. Alyssa langsung mencoba tersenyum saat melihat Zayden sudah berada didepannya.


Penampilan Zayden sungguh membuat hati Alyssa semakin teriris. Wajahnya yang kusut, tubuhnya yang kurus dan tentu nya pandangan matanya yang menyimpan sejuta beban.


"Mas"


Alyssa langsung beranjak dan berlari kearah Zayden. Bahkan tanpa sadar dia langsung melompat kedalam pelukan lelaki itu. Memeluk tubuhnya dengan erat, sangat erat bahkan sampai membuat nya merasa puas dan tenang.


Zayden memejamkan matanya dan membalas pelukan Alyssa tidak kalah erat. Mencium pucuk kepala Alyssa penuh kerinduan.


Berada didalam penjara tentunya membuat dia benar benar tidak bisa berfikir dengan jernih. Meski dia difasilitasi dengan tempat yang nyaman, tapi tetap saja, tidak ada yang baik jika berada didalam sini.


"Kenceng banget meluk nya" ucap Zayden seraya mengusap pundak Alyssa. Matanya berkaca kaca sekarang. Apalagi ketika mendengar Isak tangis Alyssa.


Ya, Alyssa sungguh tidak bisa menahan tangis nya. Dia tidak sanggup, dia ingin menangis sepuasnya didalam pelukan Zayden. Sudah cukup setiap malam dia yang menangis sendirian didalam kamar. Dan sekarang Alyssa ingin meluahkan perasaannya pada Zayden.


"Sya..." panggil Zayden dengan begitu lembut.


"Bentar lagi mas.... hiks.... aku masih rindu" ucap Alyssa.


Zayden tersenyum begitu getir. Dia kembali mengusap kepala Alyssa. Dan membiarkan Alyssa menangis sepuasnya.


Bahkan tanpa Alyssa tahu, jika Zayden juga menangis sekarang. Namun dengan cepat dia menghapus air mata nya itu.


Setelah cukup lama, Alyssa baru melepas pelukan nya. Dia memandang wajah Zayden dengan sendu.


Zayden tersenyum seraya mengusap wajah Alyssa. Mengecup kedua mata nya dengan lembut dan setelah itu mengecup bibir Alyssa yang selalu membayangi setiap malam nya.


"Kenapa pucat, kamu sakit?" tanya Zayden


Alyssa menggeleng dan memandangi wajah Zayden dengan lekat.


"Mas juga pucat, mas sakit?" tanya Alyssa, masih dengan suara yang serak dan masih bersisa Isak tangis nya.


Zayden mendengus senyum dan kembali mengusap wajah Alyssa.


"Kamu kenapa malah balik bertanya. Aku begini karena tidak terkena sinar matahari" jawab Zayden.


Alyssa mencebikkan bibirnya


"Aku juga karena keseringan kena sinar matahari" balas Alyssa dengan tawa nya. Namun terdengar dipaksakan.


Zayden kembali menarik kepala Alyssa dan mencium lama dahinya.


"Jangan nangis dong" pinta Zayden saat air mata itu turun lagi.


"Mas juga jangan nangis" balas Alyssa yang juga mengusap wajah Zayden.


Zayden meraih tangan Alyssa dan mengecup nya lagi.

__ADS_1


"Kamu selalu balikkan kata kata aku" ucap Zayden.


Alyssa kembali tertawa dan mengusap wajahnya sendiri.


"Mas gak bisa bohong, kalau mau nangis, nangis aja. Gak ada yang lihat juga" jawab Alyssa


Zayden menggeleng pelan


"Malu lah dilihat kamu" ucap Zayden.


Alyssa tertawa kecil dan menarik tangan Zayden untuk duduk di meja. Dia tahu jika Zayden juga sedih, bahkan sangat sedih. Namun dia pasti berusaha untuk menutupi kesedihan nya itu dari Alyssa. Ya, sekuat itu Zayden untuk membuat Alyssa tidak merasa sedih dengan keterpurukan nya ini.


"Mas belum makan kan. Kita makan dulu ya. Aku udah masak banyak tadi" ucap Alyssa.


"Masak apa?" tanya Zayden seraya duduk disamping Alyssa.


Alyssa langsung membuka kotak makanan itu, hingga aroma lezat nya langsung menguar dan masuk kedalam hidung Zayden.


"Masak ini, suka?" tanya Alyssa.


Zayden tersenyum dan mengangguk. Steak daging dan juga sup asparagus.


"Pasti enak" puji Zayden.


"Enak dong, aku suapin ya mas" tawar Alyssa seraya mengusap sejenak wajah nya yang terasa basah karena dia menangis tadi. Bahkan suara Alyssa saja masih terdengar sengau.


Zayden tersenyum dan langsung membuka mulutnya saat Alyssa menyuapkan potongan kecil steak itu kedalam mulut nya.


"Gimana?" tanya Alyssa dengan begitu ingin tahu.


"Enak banget, makanan yang paling enak yang pernah aku rasa" puji Zayden.


Alyssa tersenyum lebar mendengar itu.


"Enggak, beneran sayang. Masakan kamu memang enak. Aku gak bohong" jawab Zayden.


Alyssa tersenyum dan kembali menyuapkan makanan pada Zayden. Panggilan sayang itu membuat hati Alyssa semakin pedih. Dia ingin sekali mendengar kata kata itu setiap hari, ingin setiap saat melihat senyum Zayden. Tapi bagaimana mungkin?


"Kenapa sedih lagi. Aku udah jawab jujur Lo" ucap Zayden seraya mengusap kembali wajah Alyssa.


Alyssa menggeleng pelan dan tersenyum tipis.


"Dua hari lagi, aku ikut lomba masak. Mas doain aku ya supaya menang" ungkap Alyssa yang langsung mengalihkan pembicaraan. Sudah cukup, jangan lagi bersedih sedihan. Mereka harus sama sama kuat, agar tidak larut dalam perasaan. Waktu yang sebentar ini seharusnya digunakan untuk saling berbagi bahagia kan.


"Aku pasti doain sayang. Dihotel Denue kan?" sahut Zayden.


"Mas tahu" tanya Alyssa seraya terus menyuapkan makanan pada Zayden.


"Tahu, kan ada Jimmy" jawab Zayden.


Alyssa langsung cemberut mendengar itu.


"Curang banget, kak Jimmy boleh sering sering ketemu mas. Tapi aku enggak" gerutu Alyssa.


Zayden terkekeh dan mengusap pucuk kepala Alyssa penuh sayang.


"Jimmy masih perlu aku untuk perusahaan. Dan lagi dia juga harus selalu laporan tentang kamu" jawab Zayden.


"Tapi aku juga perlu mas untuk ngobatin rindu" sahut Alyssa pula.


Zayden tersenyum seraya meraih kotak makanan dari tangan Alyssa.

__ADS_1


"Sekarang gantian kamu yang makan ya. Kamu kelihatan kurus, pasti jarang makan dirumah" ucap Zayden yang kini malah mengalihkan pembicaraan mereka.


Alyssa tertunduk dan kembali ingin menangis. Bahkan saat Zayden ingin menyuapkan makanan nya dia hanya diam saja.


Zayden menghela nafas dan memandang Alyssa dengan lekat seraya dia meletakkan kotak makanan nya di atas meja.


"Sayang..." panggil Zayden begitu lembut. Namun Alyssa malah menangis dan masih tertunduk.


"Hei... lihat aku" pinta Zayden seraya meraih tangan Alyssa dan menggenggam nya dengan lembut.


"Mas gak rindu sama aku?" tanya Alyssa disela sela Isak tangis nya.


"Rindu sayang, rindu banget" jawab Zayden.


"Jadi kenapa gak mau aku datang sering sering?" tanya Alyssa lagi seraya mendongak dan memandang wajah Zayden.


Zayden tersenyum dan mengusap air mata Alyssa.


"Aku ingin kamu fokus pada kehidupan kamu." ucap Zayden


Alyssa memandang nya dengan bingung.


"Aku disini lama Sya. Bahkan sangat lama. Tapi setiap hari tidak ada satu detik pun waktu yang terlewati tanpa mengingat kamu" ungkap Zayden begitu dalam.


Alyssa semakin meneteskan air mata mendengar itu.


"Boleh aku meminta satu hal sama kamu" kata Zayden lagi.


Alyssa memandang Zayden dengan lekat.


"Maafkan aku jika harus membuat kamu susah dan lelah. Tapi bisakah kamu berjuang untuk kehidupan kamu sayang" pinta Zayden begitu merasa bersalah.


"Maksud mas apa?" tanya Alyssa masih dengan Isak tangisnya.


"Berjuanglah untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Aku ingin kamu dikenal hebat dimata semua orang, terutama Dimata kakek" ungkap Zayden.


Alyssa tertegun mendengar itu.


"Maafkan aku jika meminta ini. Bukan aku mengharapkan apapun dari kamu. Hanya saja...."


"Aku tahu mas" sahut Alyssa langsung, yang bahkan langsung menghentikan perkataan Zayden.


"Aku pasti berjuang supaya pantas untuk bisa bersanding dengan mas. Aku tahu, ini bukan kisah Cinderella yang dari pelayan rendahan menjadi istri bos besar. Aku pasti berjuang untuk hubungan kita" jawab Alyssa dengan cepat, bahkan terdengar begitu yakin.


Zayden bahkan sampai tidak bisa berkata apa apa lagi mendengar nya.


"Yang terpenting mas jangan meragukan aku ya" pinta Alyssa


Zayden langsung menggeleng dengan cepat. Dan bahkan dia langsung meraih tubuh Alyssa dan memeluk nya dengan erat.


"Aku gak pernah meragukan kamu Sya, gak pernah. Aku bangga sama kamu. Maafin aku, maafin aku yang gak bisa memperjuangkan kamu" ucap Zayden. Bahkan kini dia yang menangis.


"Mas... mas rela dipenjara kayak gini, itu karena aku. Jangan berbicara seperti itu mas." sahut Alyssa


"Tapi aku benar benar gak berguna jadi laki laki Sya" sahut Zayden.


Alyssa menggeleng.


"Mas udah melakukan yang terbaik. Dan sekarang, giliran aku. Kita berjuang sama sama ya" ujar Alyssa.


Zayden mengangguk dan mencium kepala Alyssa berkali kali.

__ADS_1


"Terimakasih Sya, terimakasih. Aku beruntung punya kamu" jawab Zayden.


__ADS_2