
Hari menjelang siang, Elle merampungkan pekerjaannya. Tidak sempat lagi kembali untuk memasak, jadi dia dengan motor bututnya menuju kedai pak Toi, veteran di desa ini, alias orang yang masa tinggalnya di atas rata-rata warga lainnya. Dia tidak pernah benar-benar tinggal di kota seperti yang lain. Itu karena dia tidak memiliki putra untuk membawanya tinggal di sana. Dia hanya akan ke kota pada bulan Maret, di hari ulang tahun pernikahannya. Dulu sekedar membawa istrinya melihat mewahnya kota. Mereka akan menginap di hotel paling murah untuk merayakan anniversary pernikahan mereka dan itu terus berlanjut sampai sekarang meski istrinya telah meninggal.
Setiap kali ke kota, pak Toi akan berkeliling mencari makanan yang enak dan murah meriah kemudian mengenalkannya pada orang-orang desa dengan memasukkan itu ke dalam menu kedainya.
Elle memesan makan siang yang meriah, sehingga harus menunggu antrian yang panjang berliku-liku.
" Lho... Elle?. " Elle menoleh mendapati Jefry juga mengantri.
" Kak Jefry, tumben ngantri di sini, tidak makan di kantin kantor?. " Elle bertanya pada pria jangkung itu.
Jefry menggeleng.
" Kamu juga tumben makan diluar? tidak bareng Bob?. "
Elle tersenyum. " Ini juga lagi mau pesenin buat mereka. "
" Mereka siapa?. " Elle merasa aneh dengan nada bertanya Jefry.
" Aku meminta seorang teman membantu Bob" Elle menjelaskan.
Kemudian Elle bertanya" Kakak tahu kan kalau dia buka stand? kupikir kakak ada di sana membantunya "
__ADS_1
Jefry tersenyum masam.
" Aku agak sibuk. " Jefry berkata tak berdaya.
" Oh"
Elle tak bicara lagi karena tiba gilirannya. Dia hanya patuh memesan, membayar dan kemudian pergi.
" Elle!. " Akhirnya dia dicegat oleh Jefry bersama beberapa bungkusan makanan.
" Bawa ini. " Dia menyerahkan pada Elle.
" Jangan katakan ini dari saya. " Pesan Jefry pada Elle yang hanya mengangguk patuh.
Kafe masih ramai ketika Elle tiba. Robby yang melihat Elle datang mengendorkan syarafnya. Dia seperti anjing kecil menghampiri pemiliknya. Mengambil alih barang bawaan Elle membawanya ke meja kosong samping dapur. Membersihkan satu meja dan membiarkan Elle menonton dari sana. Bob melambai sangat antusias pada Elle yang duduk tenang dan tersenyum di sebuah meja dibagian sudut, namun dia tidak bisa segera menemui Elle. Dia terjebak di antara para pesanan pelanggan.
Elle menyiapkan makanan yang dibawanya di atas meja. ketika pengunjung kafe mulai berkurang, Bob dan Robby datang untuk mengisi perutnya. Elle tinggal untuk membantu mereka.
Bob tadinya ingin membuka kafe sampai malam hari. Tapi pengunjung siang hari cukup banyak. Dia telah berdiri dan berjalan dalam waktu yang lama. Dia sangat lelah.lagipula persediaan bahannya juga menipis. Jadi, Bob membiarkan kafenya lebih cepat tutup saat ini. Di kepalanya sudah membayangkan Kembali ke rumah untuk memijat dan berendam. Hanya siapa yang akan memijatnya, itu yang menjadi pertanyaan di benaknya. Dia sedang perang Dingin dengan Jefry sejak kemarin. Bob mengumpat Jefry ratusan kali di kepalanya.
Mungkin karena terlalu lelah. Bob mandi dan berganti baju di rumah Elle. Dia langsung mengucapkan selamat malam padahal tadi sudah berencana merecoki Elle untuk memijatnya, dia sudah cukup lelah, Bob kemudian memasuki salah satu kamar tamu yang berada di samping kamar Robby. Tidak lama, terdengar dengkuran ringan. Elle memandang Robby yang juga bingung.
__ADS_1
" Apa Bob ada curhat sama kamu nggak?. " Elle bertanya.
Robby duduk di sofa untuk mengobrol dengan Elle.
" Tidak. kami bahkan tidak punya banyak waktu berbicara biasa. " Jawab Robby setengah mengeluh.
" Ya, hari ini, kafe itu benar-benar ramai. " Elle mengangguk tanpa sadar setuju dengan pernyataan Robby.
" Aku merasa kalau ada yang salah dengan Bob. "
" Apa itu? " Robby tanpa sadar melirik kamar Bob.
Elle mengangkat bahunya.
" Entahlah. Hanya saja feelingku menebak sesuatu. "
" Kita bisa bertanya padanya besok daripada menebak. " Putus Robby.
" Mungkinkah ada sesuatu yang menarik perhatianmu hari ini?. " Selidik Elle.
Robby menggeleng. " Tidak ada. "
__ADS_1
" Oh.... "