
Alyssa terduduk dengan lemas didalam rumah. Tuan besar baru saja pergi, dia membuat mental Alyssa tertekan.
Bagaimana mungkin tuan besar itu tega memperlakukan Alyssa sehina ini? Uang dan cinta. Miris sekali. Hanya karena dia miskin, tuan Juanda malah menganggap perasaan Alyssa pada Zayden hanya karena uang dan harta nya.
Alyssa langsung tersenyum dengan getir dan menangkup wajahnya yang sangat ingin menangis.
Bagaimana mungkin tentang uang, jika Alyssa juga baru tahu beberapa waktu ini jika Zayden adalah seorang bos besar. Yang Alyssa cintai dulu awal mula nya adalah Zayden yang seorang pekerja bengkel, bukan pewaris perusahaan besar itu. Lalu dimana letak dia yang ingin memanfaatkan kekayaan Zayden???
"Non... udah jangan sedih. Jangan di masukin hati. Tuan besar pasti cuma sedang marah aja" ujar Bu Imah yang kini duduk disamping Alyssa seraya mengusap bahu Alyssa dengan lembut.
Alyssa memandang bu Imah dengan linangan air mata nya yang tidak dapat lagi dia bendung.
"Ibu tahu kan, kalau mas Zayden sendiri yang sering datengin aku. Mas Zayden yang ngajakin aku berhubungan. Aku juga gak tahu awal nya kalau dia bos besar itu. Kalau aku tahu dari awal, aku juga gak mau bu. huuuuuu" Alyssa langsung terisak begitu pilu.
Bu Imah langsung memeluk Alyssa dengan lembut. Dia yang paling tahu bagaimana perasaan Zayden pada Alyssa, yang setiap hari selalu datang untuk Alyssa, bahkan rela mengantar jemput nya bekerja.
Alyssa benar benar sedih, dia masih ingat jelas perkataan tuan Juanda yang menghina nya tadi. Mengatakan jika dia yang hanya orang miskin dan berani mencuci otak Zayden dengan rayuan nya.
Alyssa juga masih terbayang dengan uang satu miliar yang ditawarkan oleh tuan Juanda agar dia pergi meninggalkan Zayden.
Tentu Alyssa menolak. Dia bukan orang yang gila harta. Alyssa hanya akan pergi jika Zayden yang meminta nya pergi.
"Udah, jangan nangis lagi" bisik Bu Imah.
"Aku sedih Bu, hina banget aku Dimata tuan besar" jawab Alyssa.
"Non... mas Zay itu cucu satu satu nya. Pewaris tunggal kekayaan keluarga Zega. Jadi wajar tuan besar takut kalau mas Zay berhubungan sama orang yang belum dia kenal. Udah jangan diambil hati. Katanya saling cinta, non harus bisa bertahan. Ibu yakin, mas Zayden pasti punya cara untuk meyakinkan tuan besar" ungkap Bu Imah
Alyssa terdiam...
Apa yang dikatakan bu Imah memang benar, Zayden adalah pewaris tunggal kekayaan keluarga mereka. Tentu yang akan menjadi istrinya adalah orang yang benar benar terpercaya. Tentu tuan besar tidak akan dengan mudah menerima Alyssa. Apalagi seperti katanya tadi, Alyssa hanya gadis yang tidak jelas asal usul nya. Bukan tidak jelas, tapi Alyssa hanyalah anak yatim piatu yang berasa dari kampung dipinggiran kota Bandung. Menyedihkan bukan.
"Sya... kenapa?"
Pertanyaan seseorang langsung mengejutkan Alyssa dan Bu Imah.
Mereka segera menoleh ke ambang pintu dimana Zayden sudah berdiri tegak disana, masih dengan setelan kemeja nya yang sudah sedikit kusut.
"Mas Zayden udah pulang" sapa Bu Imah. Dia langsung beranjak dan membiarkan Zayden yang kini mendekati Alyssa.
Kenapa mereka tidak tahu jika Zayden datang? Apa dia menggunakan mobil?
__ADS_1
Zayden baru tiba sore ini dari perjalanan bisnis nya di luar kota. Dan bahkan dia langsung kerumah ini untuk menemui Alyssa tanpa ingin pulang terlebih dulu.
Dan saat tiba disini, dia malah melihat Alyssa yang sedang menangis.
"Sya, kenapa hmm?" tanya Zayden yang kini sudah duduk disamping Alyssa dan mengusap bahu Alyssa dengan lembut.
Alyssa mendongak dan memandang Zayden dengan sendu.
Dia mengusap air matanya dan mencoba tersenyum.
Zayden lelah, jangan tambahi lagi beban nya. Itulah yang ada didalam hati Alyssa.
"Mas kok gak bilang pulang hari ini, katanya besok?" tanya Alyssa yang langsung memeluk Zayden dengan manja.
Zayden tersenyum dan mengusap tubuh Alyssa dengan penuh rindu. Tiga hari tidak bertemu, tapi sudah membuat nya benar benar merindu.
"Aku udah rindu kamu. Kebetulan kerjaan nya bisa selesai cepat" jawab Zayden.
"Kamu kenapa nangis, ada apa?" tanya Zayden lagi. Namun Alyssa tidak menjawab, dia malah semakin mengeratkan pelukan nya.
Alyssa benar benar tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia harus berpisah dengan Zayden dan melihat Zayden menikah dengan orang lain. Apa dia sanggup.
"Kenapa?" tanya Zayden untuk yang kesekian kalinya.
"Aku cuma rindu mas" jawab Alyssa yang masih menyembunyikan kepala nya didada Zayden.
Zayden mendengus senyum mendengar itu.
"Kamu bohong" ucap Zayden.
"Aku gak bohong, aku memang rindu" jawab Alyssa.
Zayden langsung melepaskan pelukan nya, dan menangkup wajah Alyssa yang sembab, bahkan matanya masih berair dan menahan tangis.
"Rindu kamu gak bohong. Tapi air mata kamu yang bohong" ucap Zayden.
Alyssa tertunduk dengan air mata yang menetes lagi.
"Kakek Dateng kemari?" tanya Zayden.
Alyssa langsung terkesiap mendengar itu.
__ADS_1
"Mas tahu?" tanya Alyssa
Zayden tersenyum dan merapikan anak rambut Alyssa yang berantakan seraya mengusap air mata nakal itu.
"Aku tahu, kamu lupa orang orang ku ada disekitar sini" jawab Zayden.
Alyssa menghela nafas dan mengangguk, dia kembali merebahkan kepala nya didada Zayden lagi. Rasanya jika mengingat itu Alyssa benar benar lemas.
"Kamu gak akan nyerah kan" tanya Zayden
"Aku akan pergi kalau mas yang minta aku pergi" jawab Alyssa.
Zayden tersenyum dan mengusap bahu Alyssa tanpa bosan.
"Aku gak akan pernah minta kamu pergi Sya. Kamu kebahagiaan aku. Bagaimana bisa aku tanpa kamu" jawab Zayden.
"Meskipun mas harus kehilangan semua nya?" tanya Alyssa
"Ya" jawab Zayden tanpa ragu.
Alyssa mendengus senyum dan menegakkan kembali tubuhnya.
"Tadi kakek mas datang dan nawarkan aku uang satu miliar." ucap Alyssa
"Dia minta kamu untuk ninggalin aku?" sahut Zayden, dan Alyssa langsung mengangguk.
"Aku gak mau. Tapi dia marah. Dia bilang kalau mas masih tetap milih aku, maka kehidupan mas akan hancur, bukan cuma karir tapi semua nya. Dan itu... karena aku" ungkap Alyssa begitu sendu.
Namun Zayden malah tersenyum dan meraih tangan Alyssa, menggenggam nya dengan lembut dan penuh rindu.
"Sejak dulu, aku memang hidup dalam kemewahan, tapi aku gak pernah ngerasain apa artinya bahagia dan kasih sayang. Aku menghormati kakek karena aku takut. Sejak kecil,.aku sudah hidup bersama dia. Dia bukan memberi aku kasih sayang, melainkan tekanan. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana dia yang selalu mengancam semua orang dengan menggunakan uang nya. Dan begitu pula padaku" ungkap Zayden.
Alyssa langsung memandang Zayden dengan lekat.
"Dulu, aku selalu berfikir jika tidak memiliki uang dan harta, aku tidak akan bisa hidup, seperti apa yang selalu ditanamkan kakek didalam fikiran ku. Tapi sejak bertemu dengan kamu, aku tahu, jika kebahagiaan tidak selalu tentang uang. Hidup sederhana dengan mu, aku sudah merasa bahagia Sya" ungkap Zayden lagi.
"Jadi, meskipun aku kehilangan semua yang aku punya. Aku tidak apa apa. Asal aku jangan kehilangan kamu yang menjadi sumber kebahagiaan aku" kata Zayden lagi.
Alyssa benar benar terharu mendengar ungkapan Zayden.
Sungguh demi apapun. Ini yang pertama untuk mereka. Tapi ini pula yang menjadi ujian terberat dalam hidup mereka.
__ADS_1