
Robby tengah membantu Elle ketika Sang mantan kekasih itu datang.
" Siapa kamu?" Tanya Ricky dengan tatapan meremehkan.
Robby yang berkeringat karena mengangkat stok barang ke gudang membuka kemejanya dan hanya meninggalkan tan top hitam.
" Aku penjual disini, kamu mau beli apa?" Robby balik bertanya.
Mata Ricky sedikit tertekan melihat otot-otot Robby.
" Aku tahu pemilik toko ini, jelas bukan kamu" Semburnya.
" Oh ya... " Robby menanggapinya dengan acuh.
" Kenapa aku tidak bisa menjadi pemilik toko?"
" Pemilik toko ini, Elle" Kata Ricky.
" Lalu kenapa?" Robby sengaja bertingkah tengil.
"Kamu hanya pekerjanya" Ricky mencibir.
" Pekerja?!" Tangan Robby bersedekap.
" Nyatanya aku tidak dibayar. Aku hanya tinggal di rumahnya "
Wajah Ricky menghitam.
"Apa hubunganmu dengan Elle? " Ia bertanya dengan gusar.
"Apa hal kamu tahu hubunganku dengan Elle? Kamu hanya pembeli disini. Kalau kamu mau membeli silahkan, kalau tidak, silahkan pergi. Kami tidak melayani bergosip tentang privasi orang lain" Robby berkata terus terang. Dia tidak berniat merawat orang di depannya dalam sopan santun.
"Hai... Rob, aku membawa es buah!"Seru Bob muncul dengan senyum sumringah. Mematikan motor butut Elle dan mengangkat kantong makan ke depan mukanya.
"Hari begini panas, sangat cocok memakan ini ah! "
Bob berjalan lurus ke arah Robby.
" Kebetulan Bob ada disini" Ucap Ricky cepat, dia menghadang Bob.
" Katakan padanya, hubungan spesialku dengan Elle"
Bob yang dihentikan tiba-tiba melihat Robby dan Ricky secara bergantian.
" Ada apa ini? " Tanyanya bingung.
" Katakan tentang hubunganku dengan Elle" Perintah Ricky lagi pada Bob yang masih melongo.
" Hubungan spesial?! " Ujar Robby seolah bertanya pada dirinya sendiri.
" Dia mantan pacar Elle, kan?!" Dia bertanya pada Bob yang bingung.
__ADS_1
" Hemm" Bob mengangguk dengan cepat dan tegas seolah ayam mematuk nasi.
" Waktu sekolah " Lanjut Bob kemudian.
Kekehan Robby kian keras.
" Oh... siapa yang memberimu ini?" Robby tidak menghadapi Ricky lagi, dia lebih tertarik dengan barang bawaan Bob.
" Elle. Ada makan siang kamu juga disana" Bob menjelaskan sambil menunjukan bagian dari bekal itu.
" Dia selalu seperti ini, sangat pengertian " Kata Robby melirik Ricky.
" Ya... dia masih harus berterima kasih karena membantunya menjaga toko" Ucap Bob juga.
" Kenapa begitu sungkan, seolah aku orang lain"
Bob merasa ada yang aneh pada kalimat Robby tapi otaknya tidak bekerja, pikirannya tertuju pada es buah yang dia bawa. Dia seorang foody dan menyukai makanan manis. Jelas es buah menggoda daripada dua orang yang mengobrol tapi tatapan mereka seolah saling membunuh.
Ricky menggigit giginya dengan keras.
" Sebaik itukah hubungan mereka?" Batinnya.
" Bob kamu siapkan dulu" Robby mengisyaratkan Bob masuk. Ricky juga tidak menghalanginya.
" Kamu hanya mantannya. Hubungan spesial apa?" Robby mendengus.
" Itu juga cuma cinta monyet. Tidak ada yang serius" Robby memamerkan senyum meremehkannya.
" Aku dan Elle belum sepenuhnya selesai " Ucap Ricky dengan wajah serius.
" Justru karena aku cinta pertama nya, dia tidak akan mudah lupa padaku" kata Ricky lagi dengan percaya diri yang melonjak.
" Itu hanya asumsi mu yang berlebihan. Percaya diri boleh, tapi percaya diri berlebihan itu memalukan "Sergah Robby mengangkat dagunya.
" Rob, kalau kamu sudah selesai, ayo cepat makan!"Teriak Bob dari dalam ruang dapur toko.
Toko itu dipisahkan empat sekat, paling luar digunakan sebagai toko, bagian tengah dibagi dua, ruang paling besar digunakan sebagai gudang, ruang kecil sebagai tempat istirahat, paling dalam ada ruang makan yang bersambung dengan dapur kecil.
" Nanti nasinya dingin, lho! Esnya juga mencair!"
"Kamu cepat, ya! Nanti Elle nelpon nanyain kamu sudah makan belum, aku lagi yang disalahin! " Teriakan terakhir Bob membuat Robby tersenyum cerah.
"Kamu mau beli atau tidak? aku masih harus makan siang biar pacarku tidak khawatir" Kata Robby dengan aura bangga.
Muka Ricky gelap, seolah menghadapi utang pinjol yang tidak bisa dibayar.
"Kita lihat saja, siapa yang akan dipilih Elle! " Dia mendengus sebelum pergi.
Robby tertawa geli melihat tingkah Ricky yang uring-uringan.
"Dia beli apaan?" Bob menyambut Robby dengan pertanyaan
__ADS_1
" Dia datang mengumumkan kalau dia itu mantan pacar Elle".Jawab Robby.
"Tumben amat nanya-nanya tentang Elle. kemarin aja pake sikap songong gitu seolah kita gak salin kenal kemarin waktu ketemu di pasar" Bob mencibir sampai bibir nya bengkok.
" Jangan membicarakannya itu akan mengurangi nafsu makan kita"Robby menghibur Bob yang sangat tidak bahagia tentang si Ricky ini.
"Fokus saja untuk makan"
Bob segera pulih.
" Ya.. ya.. kamu benar. Kenapa si Ricky harus diperhatikan, jelas makanan ini lebih baik darinya"
" Oh... ada ikan goreng bumbu, apa kamu menyukainya " Bob bertanya di tengah kunyahan nya.
Robby mengangguk. "Aku merasa sangat cocok dengan rasa ini"
"Pantas belakangan ini Elle sering memasaknya. Padahal dia paling males melakukannya karena ini agak ribet katanya" Bob bercerita.
" Resep ini diajarin sama nenek karena dia suka, sejak nenek meninggal, aku tidak ingat kapan terakhir dia bikin"
Bob menggerogoti kepala ikannya.
"Aku juga nggak pernah benar-benar perhatikan, karena aku juga lebih doyan ikan bakar. Sedappp! "
Bob tersenyum puas.
" Tapi dia memasak juga beberapa kali" Ucap Robby.
" Mungkin dia pernah sekali memasaknya dan kamu bilang suka jadi dia masak lebih sering" Bob mengemukakan pendapatnya.
" Apa pak Kanvas nya datang hari ini?" Bob cepat beralih ke topik lain.
" Iya. semua barang udah aku atur ke gudang"
Mengobrol sambil menyantap bekal dari Elle. Bob yang tadinya hanya mau mengantar makanan ke Robby, usai melayani beberapa pembeli, dia merasa mengantuk. Robby menyuruhnya beristirahat di kamar dan dia memilih rebahan di balai depan toko bawah pohon ketapang. Niat hati ingin tidur malah di ganggu sekelompok nenek yang memang biasa nongkrong di sana. Robby tidak marah atau merasa terganggu, dia malah ikut nimbrung bercanda dengan mereka.
Elle yang datang sore harinya tidak luput dari olok-olokan mereka.
" Mereka hanya orang-orang tua yang kesepian, berkumpul seperti itu merupakan cara menghibur diri atau mencari kesibukan. Jangan masukkan ke dalam hati kalau ada kata-kata mereka yang tidak enak di dengar " Kata Elle begitu keduanya kembali ke toko.
" Tidak sama sekali. aku asik-asik aja ngobrol dengan mereka"Balas Robby dengan senyum meyakinkan di gantung di bibirnya.
"Sok asik lu!" Ledek Elle.
" Kalian darimana?"Bob baru muncul dari dalam toko.
" Nongkrong ama Rojali" Elle menjawab.
"What?! Rojali?" Robby bertanya heran.
" Rojali, rombongan janda-janda liar" Bob yang menjawab.
__ADS_1
" Sembilan puluh sembilan persen di sana itu janda. Mereka itu liar banget sumpah!!" Bob menjelaskan dengan ekspresi yang dibuat-buat.
" Kamu nggak pernah lihat aja mereka beraksi. sopir kanvas aja sampai kabur digombalin sama mereka. lihat cowok baru, mereka suit-suit loh " Elle dan Robby tertawa geli mendengar penuturan Bob.