
Alyssa memandangi Zayden yang sedang duduk disofa seraya mengotak Atik ponsel nya sejak tadi. Sedangkan Jimmy masih sibuk dengan laptop nya.
Apa kedua orang ini tidak melihat jika ada orang lain disini? kenapa dia malah diabaikan? Sudah hampir setengah jam seperti ini.
Zayden juga seperti orang sibuk saja. Entah apa yang dikerjakan nya di ponsel itu. Atau jangan jangan dia sedang chatan dengan kekasihnya??
Alyssa menghela nafasnya dengan pelan. Jika seperti ini sama saja dia lebih baik sendirian. Katanya mau menemani, namun ternyata malah mengabaikan dan hanya sibuk sendiri.
Jimmy adalah seorang asisten bos besar, wajar jika dia terlihat sibuk. Sedangkan Zayden, dia hanya pekerja bengkel kan. Apa coba yang sibuk, setidaknya jika dia memiliki kekasih, sepaling tidak bisa menghargai kehadiran Alyssa disini. Menyebalkan memang.
Sudahlah, dari pada kesal sendiri. Lebih baik Alyssa pergi saja. Biarkan saja mereka berdua disini.
Alyssa beranjak tanpa kata, namun suara Zayden kembali menghentikan langkahnya.
"Mau kemana Sya?" tanya Zayden tiba tiba
"Tidur" jawab Alyssa dengan singkat. Dan dia langsung pergi menuju kebelakang.
"Cepet banget, masih jam sembilan" kata Zayden lagi.
"Aku gak mau ganggu kalian yang lagi sibuk. Lanjutin aja, aku bisa ajak bu Imah buat ngobrol nanti" jawab Alyssa. Terdengar begitu ketus.
Dia bahkan langsung pergi meninggalkan ruang tamu itu.
"Sya" panggil Zayden. Namun Alyssa terus saja berjalan dan menghilang dibalik dinding. Dia bukan masuk kekamar, melainkan kebelakang rumah.
Jimmy memandang Zayden dengan heran.
"Memang nya sudah berapa lama kita kerja?" tanya Zayden. Dia sedang membantu Jimmy memeriksa proposal kerja sama dengan perusahaan klien.
Jimmy memandang ponselnya, dan dahinya langsung mengernyit sedikit.
"Setengah jam tuan" jawab Jimmy, dengan sedikit ringisan diwajahnya.
Zayden menghela nafas kesal, pantas saja Alyssa marah. Jika ternyata sudah selama itu dia mengabaikan gadis itu.
Zayden langsung melemparkan ponsel nya pada Jimmy. Dan dengan sigap lelaki yang selalu saja berpenampilan rapi itu menangkap nya.
"Kerjakan sendiri, aku mau menyusul Alyssa " ujar Zayden.
"Aah tapi tuan, ini masih banyak yang harus diperiksa" jawab Jimmy nampak keberatan.
Namun Zayden hanya acuh saja dan terus berjalan meninggalkan Jimmy.
Jimmy langsung berdecak kesal memandang Zayden. Lelaki itu sejak mengenal Alyssa jadi terlihat semakin menjengkelkan. Bukan hanya berurusan dengan tuan Juanda yang setiap hari meneror nya, dan sekarang harus selalu menyediakan stok sabar untuk menghadapi kebucinan Zayden. Astaga.
__ADS_1
Sementara Zayden, dia langsung kebelakang rumah saat Bu Imah berkata jika Alyssa ada dibelakang sedang memberi makan ikan dikolam ikan kecilnya.
Dan benar saja, Zayden bisa melihat jika Alyssa sedang berdiri dan memandangi ikan ikan yang memang sudah lama dipelihara dirumah itu. Rumah itu milik Jimmy, dan tentu nya ikan itu juga ikan Jimmy.
"Sya.." panggil Zayden
"Hmm" gumam Alyssa. Dia masih kesal dengan Zayden, tapi malah disusul kemari.
"Kamu marah, aku minta maaf. Aku terlalu sibuk, sampai lupa kalau udah mengabaikan kamu" ucap Zayden seraya berdiri disamping Alyssa dan memandang wajah cantik itu dengan lekat.
"Gak apa apa. Udah biasa" jawab Alyssa.
Zayden tersenyum dan meraih makanan ikan dari tangan Alyssa. Dan kini bergantian dia yang menebar makanan ikan itu.
"Ikan dikolam itu seperti aku Sya" ungkap Zayden tiba tiba.
Alyssa mengenyit dan memandang Zayden dengan aneh.
"Aku punya tempat yang nyaman yang menjadi rumah ku. Aku juga diberi semua kebutuhan yang aku mau. Tapi sayang nya, aku tidak bisa kemana mana dan melakukan apapun selain dirumah itu selama nya" ungkap Zayden lagi.
Alyssa terdiam dan kembali memandang nanar kolam ikan itu.
"Kamu ngerti maksud aku?" tanya Zayden
"Ngerti. Tapi bukan berarti mas harus terkurung selama nya ditempat yang mas sebut sebagai rumah" ujar Alyssa
"Aku gak punya cara untuk terbebas Sya. Hidup ku sejak kecil sudah bergantung sama sang pemilik" jawab Zayden. Terdengar begitu getir.
Alyssa mendengus dan menggeleng.
"Banyak cara jika mas mau. Bukan kah hidup yang menjalani adalah kita sendiri. Mas .. kebahagiaan mas, mas yang cari. Kalau gak punya keberanian dan keyakinan, bagaimana mungkin bisa bebas?" tanya Alyssa
"Aku gak tahu apa yang membuat mas seolah terpenjara dan gak bisa memilih apapun. Tapi mas harus ingat, gak semua yang bebas itu enak. Gak semua yang terlihat bisa melakukan apapun itu bisa bahagia. Kebahagiaan itu datang nya dari hati, bukan dari mata." ungkap Alyssa
Zayden memandang Alyssa dengan begitu dalam.
"Jika mas punya keyakinan, mas pasti bisa menjemput kebahagiaan dan kebebasan itu tanpa melukai siapapun." ucap Alyssa
"Bagaimana jika kebahagiaan yang aku mau itu kamu Sya?" tanya Zayden
Alyssa terdiam
"Aku itu suka kamu, sejak pertama kali kita bertemu. Aku suka senyum kamu, aku suka semua tentang kamu. Bersamamu aku merasakan kebahagiaan dan kebebasan itu Sya" ungkap Zayden.
Alyssa benar benar tidak menyangka dengan ungkapan hati Zayden ini.
__ADS_1
Apa dia tidak salah dengar?
Perasaan nya terbalas?
"Aku benar-benar tidak bisa untuk menyimpan perasaan ini lagi. Rasanya begitu sesak" ungkap Zayden
Alyssa masih terdiam, karena sungguh, dia tidak tahu harus berkata apa.
Zayden meraih tangan Alyssa dan menggenggam nya dengan lembut.
"Sya.... tanpa kamu bilang. Aku juga tahu, kalau kamu pasti punya perasaan yang sama dengan ku bukan?" tanya Zayden
Alyssa terkesiap, dia memandang Zayden sekilas, namun kembali tertunduk. Jantung nya berdenyut ngilu, seiring dengan perasaan nya yang tidak menentu.
"Jawab aku Sya" pinta Zayden
"Apa yang harus aku jawab mas? Kalau pun perasaan kita sama. Apa lagi yang harus kita perbuat? Mas selalu bilang jika mas gak bisa memilih. Maka biarkan seperti ini saja" jawab Alyssa yang masih tertunduk. Namun matanya sudah berkaca kaca.
"Sya, tolong lihat aku" pinta Zayden seraya mengeratkan genggaman tangan nya.
"Sya..." panggil Zayden lagi.
Dan mata sendu itu langsung memandang mata teduh milik Zayden.
"Tolong beri tahu aku tentang perasaan kamu, supaya aku bisa menentukan bagaimana pilihan ku kedepan nya" ucap Zayden, begitu dalam dan penuh pengharapan.
Alyssa memandang Zayden dengan lekat.
"Mas udah tahu kan" kata Alyssa dengan nada bergetar
"Aku ingin mendengar dari mulut kamu langsung" ujar Zayden
Alyssa meneteskan air mata nya. Tidak tahu kenapa, tapi rasanya benar benar sesak dan dia memang ingin mengungkapkan segala nya. Mengungkapkan jika dia ...
"Aku memang udah jatuh cinta sama mas. Jatuh cinta untuk yang pertama kali. Sejak pertemuan kita lebih dari sebulan yang lalu" jawab Alyssa yang kembali tertunduk.
Zayden tersenyum, dia bahkan langsung menarik Alyssa kedalam pelukan nya. Memeluk nya dengan erat hingga Alyssa bisa merasakan detak jantung Zayden.
"Sya... aku mohon, apapun yang terjadi, tetap lah kuat untuk menungguku. Aku mohon Sya" pinta Zayden begitu dalam
"Apa begitu berat mas?" tanya Alyssa yang juga membalas pelukan itu.
"Sangat berat, bahkan rasanya begitu sakit Sya" jawab Zayden.
Kepala nya tertunduk mencium bahu Alyssa, seolah beban yang dia panggul begitu berat. Dan Alyssa bisa merasakan nya.
__ADS_1