
Malam itu rasanya gelisah, Alyssa tidak bisa tidur dengan baik. Meski rasanya tempat tidur ini sangat nyaman, tapi entah kenapa Alyssa benar benar tidak bisa memejamkan matanya.
Alyssa ingat suami nya, entah kenapa malam ini dia rindu sekali dengan lelaki itu.
Mata Alyssa melirik jam yang ada didinding, sudah pukul tiga dini hari. Dan dia sama sekali belum tidur.
Ya Tuhan...
Alyssa Rindu sekali dengan suaminya.
Alyssa menarik selimutnya hingga sampai keleher. Air mata tiba tiba mengalir disudut matanya. Dia rindu, apalagi sekarang Alyssa tengah berada dirumah Zayden. Bahkan saat masuk kedalam rumah mewah ini aroma tubuh Zayden sudah bisa dia rasakan.
hiks hiks
Rindu....
Alyssa ingin Zayden nya, Alyssa ingin bersama lelaki itu. Alyssa butuh dia sekarang...
Tidak tahu kenapa, jika biasanya Alyssa bisa menahan rasa rindunya, tapi kenapa malam ini tidak bisa.
Dia benar benar tidak bisa menahan perasaannya. Sungguh, rasanya sangat sesak dan perih. Apalagi ketika mengenangkan semua yang terjadi pada mereka.
Alyssa sudah berada dirumah nya, tapi semua terasa hambar dan percuma. Ya percuma berada dirumah semewah ini, tapi cintanya tidak ada. Percuma ada disini tapi bukan karena untuk bersama Zayden.
Alyssa sedih, satu malaman dia hanya menangis karena merindukan Zayden.
..
Sementara di penjara....
Mungkin karena ikatan batin yang kuat dengan istri dan anaknya. Zayden juga tidak bisa tidur. Hari sudah jam tiga dini hari tapi sampai saat ini dia belum bisa memejamkan matanya barang sedetikpun.
Sudah sejak pagi tadi hatinya selalu gelisah tidak menentu. Dia khawatir dengan Alyssa. Hari ini Jimmy tidak ada datang, dan sama sekali dia tidak tahu bagaimana kabar istri dan anaknya itu.
Antara gelisah, khawatir, rindu yang besar, dan juga rasa bersalah karena tidak ada disampingnya membuat hari hari Zayden selalu tidak pernah tenang.
Apalagi hari ini, dia benar benar tidak bisa tidur dan tenang sedetik pun.
Hatinya selalu terpaut pada Alyssa.
'Ya Tuhan, Tolong jaga anak dan istriku disana' pinta Zayden dalam hati.
...
Keesokan paginya...
Tuan Juanda sudah duduk dimeja makan. Sejak tadi dia menunggu kedatangan Alyssa, penghuni baru dirumahnya. Namun entah kenapa gadis itu tidak juga hadir. Apa dia tidak tahu jika setiap pagi harus ada disini?
Namun tiba tiba Bu Imah datang tergopoh gopoh menghampiri tuan Juanda.
Dia membungkukkan sedikit tubuhnya dihadapan tuan Juanda.
"Tuan besar maaf. Non Alyssa sepertinya tidak bisa sarapan bersama tuan" ungkap Bu Imah tanpa berani memandang tuan Juanda yang sedang menikmati teh nya.
"Kenapa?" tanya tuan Juanda dengan suaranya yang berat dan terdengar berwibawa. Membuat siapapun jadi takut untuk membantah.
"Non Alyssa demam tuan. Panas nya tinggi, dia tidak bisa tidur satu malaman" ungkap Bu Imah
Tuan Juanda nampak tertegun.
"Baru sehari tapi sudah menyusahkan" gumamnya.
Bu Imah semakin tertunduk sedih mendengar itu.
"Saya permisi dulu tuan" pamit Bu Imah yang langsung pergi kembali ke kamar Alyssa.
Dan benar saja, didalam kamar Alyssa masih bergelung didalam selimut. Tubuhnya menggigil kedinginan, suhu tubuhnya juga sangat panas dan itu membuat Bu Imah nampak begitu khawatir. Pasalnya Alyssa sedang mengandung sekarang.
"Non, sarapan sedikit ya, sehabis itu minum obat" ujar Bu Imah seraya mengompres dahi Alyssa.
"Nanti ya Bu, kepala aku pusing, mual juga" jawab Alyssa dengan lemah. Wajahnya pucat sekali, bahkan keringat dingin sudah mulai membasahi tubuh dan wajahnya.
"Kita kerumah sakit aja ya non" ajak Bu Imah. Namun Alyssa menggeleng.
ceklek
Pintu kamar Alyssa terbuka, namun tidak membuat Alyssa menoleh, hanya Bu Imah yang langsung beranjak dari sisi tempat tidur.
__ADS_1
Tuan Juanda masuk dengan wajah datarnya seperti biasa. Matanya langsung memandang pada Alyssa yang bergelung dalam selimut. Melihat wajah pucat Alyssa membuat tuan Juanda sedikit khawatir.
"Apa panasnya sangat tinggi?" tanya tuan Juanda pada Bu Imah
"Iya tuan" jawab Bu Imah dengan pelan. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
Tuan Juanda langsung mendekat kearah Alyssa, berdiri memandang Alyssa dengan lekat.
Alyssa membuka matanya perlahan, dan memandang tuan Juanda dengan lemah.
"Tunggu sebentar lagi, dokter sedang dalam perjalanan" ucap tuan Juanda.
"Saya tidak apa apa tuan" jawab Alyssa dengan pelan.
"Aku tidak ingin kau mati disini" ucapnya dengan begitu tega.
Alyssa hanya diam dan kembali memejamkan matanya. Tapi perutnya yang semakin mual membuat dia langsung beranjak dan menyibak selimut yang dia pakai.
Tuan Juanda dan Bu Imah langsung terkejut melihat Alyssa. Apalagi saat Alyssa melompat turun dan berlari kekamar mandi.
Bu Imah juga langsung mengikuti Alyssa kekamar mandi, meninggalkan tuan Juanda yang memandang nya dengan heran.
Namun ketika mendengar suara kesakitan Alyssa yang muntah muntah dikamar mandi, tuan Juanda juga pergi melihat nya.
Alyssa memuntahkan semua isi perutnya didalam wastafel. Wajahnya memerah dan semakin pucat Pasih. Keringat juga membanjiri tubuhnya.
Bu Imah membantu memegangi rambut Alyssa dan mengusap tengkuknya.
huek huek
cukup lama Alyssa memuntahkan semua nya, bahkan hingga tidak ada lagi yang dia muntahkan.
Selesai mencuci mulut, Alyssa langsung tersandar lemas di dinding dekat wastafel.
"Kita keluar ya non" ajak Bu Imah
Alyssa hanya mengangguk saja. Dia dibantu oleh Bu Imah untuk keluar, namun karena lemas dan tidak bertenaga, Alyssa oleng dan hampir jatuh, namun dengan sigap tuan Juanda juga menahan tubuhnya.
"Hati hati" ujar tuan Juanda.
Alyssa hanya diam. Dia sungguh tidak sanggup lagi untuk berbicara apapun. Bahkan sekarang rasanya dia sudah berjalan mengambang. Kepala nya benar benar pusing dan sangat berat. Pandangan Alyssa juga sudah berkunang kunang.
Sesampainya ditempat tidur, Alyssa langsung merebahkan tubuhnya disana, sedangkan Bu Imah dengan sigap membenarkan posisi nya.
Wajah Alyssa semakin pucat Pasih dan itu yang membuat tuan Juanda juga kelihatan cemas.
"Non.." panggil Bu Imah seraya menyelimuti tubuh Alyssa
"Kepala aku pusing Bu" lirih Alyssa. Matanya terpejam, namun dia masih sadar. Dia hanya tidak ingin membuka mata karena sungguh kepala nya sangat sakit.
Tuan Juanda menarik nafas dalam dalam. Dan tidak lama kemudian, pak Pong masuk kedalam kamar itu membawa seorang dokter. Dokter kandungan Alyssa. Entah dari mana mereka tahu jika Alyssa memang sering cek up kandungan nya dengan dokter Sandra.
"Nona Alyssa" dokter Sandra terlihat terkejut melihat Alyssa yang terbaring disini. Sepertinya ada yang aneh, selama ini dia tahu jika Alyssa adalah teman dekat Jimmy dan suaminya sedang tidak ada disini. Tapi kenapa sekarang dia ada disini, dirumah tuan Juanda???
"Jangan banyak berfikir, cepat periksa" ujar tuan Juanda yang langsung mengejutkan dokter Sandra.
Dokter Sandra mengangguk, dan langsung duduk disisi Alyssa. Dia langsung memeriksa keadaan Alyssa yang sudah lemas. Suhu tubuhnya tinggi, dan langsung saja dokter Sandra langsung menyuntikkan sesuatu ditubuhnya.
Alyssa hanya meringis saja ketika merasakan sakitnya jarum itu yang menembus kulit nya.
"Apa nona Alyssa tidak tidur satu malaman? tekanan darah nya cukup rendah" ucap dokter Sandra.
Tuan Juanda langsung menoleh pada Bu Imah yang mengangguk.
"Iya dokter, nona Alyssa tidak bisa tidur malam ini, mungkin karena itu yang membuat dia demam ya" tanya Bu Imah pula.
Dokter Sandra mengangguk seraya membenarkan kembali selimut Alyssa.
"Sepertinya nona Alyssa banyak fikiran maka dari itu tidak tidur. Jangan terlalu stres, kandungan nya masih lemah dan butuh ketenangan" ungkap dokter Sandra.
Bu Imah langsung memandang tuan Juanda yang nampak terdiam memandang Alyssa.
"Nona Alyssa. Nona dengar saya" panggil dokter Sandra seraya menempelkan tangannya di dahi Alyssa.
Alyssa mengangguk pelan .
"Apa yang nona rasakan?" tanya dokter Sandra
__ADS_1
"Sakit kepala dok. Rasanya lemas sekali" jawab Alyssa. Bahkan suaranya hanya terdengar seperti gumaman saja.
"Bawa istirahat ya. Jangan fikirkan apapun. Ingat kandungan nona yang masih rawan" ujar dokter Sandra begitu lembut.
Namun bukannya menjawab, Alyssa malah menangis. Dia menutup matanya dengan tangan nya, dan menangis terisak disana.
Membuat orang orang yang ada didalam kamar itu langsung terkejut melihat Alyssa yang tiba tiba menangis.
"Nona kenapa?" tanya dokter Sandra yang panik. Apa dia salah bicara?
"Non, kok nangis?" tanya Bu Imah pula
"Aku rindu Bu, aku rindu mas Zayden. huuuuuu" Alyssa kembali menangis terisak dengan begitu pilu.
Dokter Sandra terperangah, sedangkan Bu Imah langsung memandang tuan Juanda yang mematung.
Bagaimana ini?
Bagaimana mungkin mereka bisa bertemu jika Zayden saja ada dipenjara.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya tuan Juanda. Dia seolah mengabaikan tangisan Alyssa yang terisak didalam selimut nya sekarang.
"Nona Alyssa hanya demam dan tekanan darah nya yang rendah. Tapi karena dia sedang mengandung ini juga bisa berefek pada kandungan nya tuan. Nona Alyssa tidak boleh stress dan juga banyak fikiran. Dan dia yang seperti ini sepertinya juga karena bawaan bayi" ungkap dokter Shandra
"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi jika aku butuh bantuan, kau harus datang segera" ujar tuan Juanda.
"Baik tuan" jawab dokter Sandra yang langsung beranjak dari tempat tidur Alyssa.
Pak Pong mengantarkan dokter Sandra keluar kamar dan setelah itu dia kembali masuk kedalam mendekati tuan Juanda.
Sedangkan tuan Juanda langsung menyibakkan selimut Alyssa membuat Alyssa memandang nya dengan pandangan sendu dan begitu menyedihkan.
"Ikut aku sekarang" ajak tuan Juanda
Alyssa memandang tuan Juanda tidak mengerti.
"Aku tidak bisa membawa mu pada Zayden dalam keadaan seperti ini. Jadi untuk sementara waktu kau bisa tidur dikamar Zayden " ujar tuan Juanda
Alyssa memandang tuan Juanda tidak percaya.
Benarkah yang dikatakan nya itu.
Alyssa kembali menangis dan terisak, membuat langkah kaki tuan Juanda langsung terhenti dan kembali memandang nya.
"Kenapa kau malah menangis lagi?" tanya tuan Juanda
Alyssa menggeleng dan langsung beranjak dibantu oleh Bu Imah.
"Terimakasih tuan, setidaknya saya bisa merasakan kehadiran nya disini. Saya benar benar rindu" ucap Alyssa dengan begitu lirih.
Tuan Juanda hanya menghela nafas dan kembali berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Alyssa berjalan dipapah oleh Bu Imah
"Apa nona masih sanggup berjalan?" tanya pak Pong
Alyssa tersenyum tipis dan mengangguk.
"Masih pak" jawab nya.
Meski wajahnya masih pucat Pasih, tapi dia sudah sedikit bertenaga untuk berjalan keluar.
Cukup lama Alyssa dan Bu Imah tiba dilantai atas. Beruntung nya rumah itu memiliki lift yang menghubungkan lantai bawah dengan kamar nya. Sehingga Alyssa tidak perlu menaiki tangga panjang disana.
Dan ketika tuan Juanda membuka kamar itu, aroma parfum Zayden yang biasa dia rasakan langsung menguar dihidung Alyssa. Dan tentu saja itu membuat kepala Alyssa yang pusing menjadi lebih baik sekarang.
Mata Alyssa kembali berkaca kaca. Tapi hatinya sedikit lebih lega meski rasa rindu itu ada.
"Tidur lah, kau bisa istirahat disini. Meski dia tidak ada, tapi kamar ini tidak pernah berubah sejak terakhir kali dia tinggali" ungkap tuan Juanda.
"Terimakasih tuan" jawab Alyssa yang langsung merebahkan dirinya diatas tempat tidur besar.
Aaaaahhh rasanya sangat nyaman sekali. Bahkan tanpa fikir apapun lagi Alyssa langsung bergelung dalam selimut yang memang beraroma maskulin itu. Walaupun sudah dua bulan Zayden dipenjara, tapi tetap saja, aroma nya tidak pernah pudar.
Bahkan Alyssa langsung memejamkan matanya dengan tenang dalam balutan selimut itu.
Tuan Juanda langsung menggeleng pelan, sedangkan Bu Imah dan pak Pong nampak tersenyum tipis.
Sepertinya ini memang bawaan bayi. Dia memang merindukan ayahnya. Terlihat, dari Alyssa yang bisa langsung tertidur setelah berada disini. Bahkan wajah pucat yang sejak tadi meringis kesakitan kini sudah mulai tenang kembali.
__ADS_1
Dan... bagaimana tuan Juanda bisa memisahkan mereka jika ikatan batin mereka memang sudah kuat.