Bukan Cinderella

Bukan Cinderella
Jalan Jalan Di Monas


__ADS_3

Alyssa memandang takjub kota Jakarta dari atas puncak Monas. Semua pemandangan yang ingin dia lihat bisa ada disini. Berada diketinggian seperti ini sebenarnya membuat dia ngerih. Namun karena mereka berada didalam ruangan, dia jadi tidak merasakan apa apa.


Wajah Alyssa yang tersenyum sejak tadi membuat Zayden tidak bisa untuk berpaling. Senyum lembut dan penuh ketulusan itu benar benar mampu bisa membuat hati nya selalu berdesir hangat.


Alyssa hanya gadis sederhana, gadis yang tidak memiliki apa apa. Dia gadis yatim piatu, sama seperti Zayden. Mereka sama sama sudah tidak memiliki kedua orang tua lagi. Tapi yang membedakan adalah, Alyssa bisa hidup bebas dan mengatur dirinya sendiri, sedangkan Zayden... dia harus hidup dibawah naungan kakek nya. Sejak dulu, bahkan hingga sekarang, dia tidak bisa untuk membangkang sedikitpun.


Andai bisa memilih, Zayden ingin sekali seperti Alyssa. Yang hidup kemanapun dan melakukan apapun yang dia mau.


Ah... kenapa hidupnya semiris ini. Bahkan untuk mencari kebahagiaan pun, dia harus bersembunyi dulu.


"Mas" panggilan lembut Alyssa mengejutkan Zayden.


"Kok ngelamun???" tanya Alyssa seraya memandang Zayden dan menyandar pada tembok pembatas.


Zayden menggeleng pelan dan tersenyum . Dia menarik nafasnya dalam dalam dan memandang hamparan kota Jakarta dengan pandangan yang begitu nanar.


"Apa hidup kamu bahagia Sya???" tanya Zayden tiba tiba.


Alyssa yang mendapat pertanyaan seperti itu nampak mengernyit. Dia semakin memandang Zayden dengan aneh.


"Kenapa memang nya?" tanya Alyssa pula.


"Aku sangat iri melihat kehidupan kamu" jawab Zayden.


Alyssa mendengus senyum mendengar itu. Dia juga kembali memandang hamparan kota Jakarta didepan sana.


"Apa coba yang harus di irikan. Aku ini yatim piatu. Udah gak punya siapa siapa selain paman dikampung. Hidup sendirian di kota orang. Harus kerja untuk cari makan. Gak enak mas. Capek" ungkap Alyssa seraya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu getir.


"Tapi setidak nya kamu bisa menentukan kehidupan mu sendiri kan" sahut Zayden. Matanya masih memandang ke depan.


Alyssa memandang Zayden dengan heran.


"Apa mas gak bisa begitu?" tanya Alyssa dengan pelan. Zayden seperti sedang menyimpan beban yang begitu berat.


Dan ya, Zayden menggeleng pelan dan tersenyum getir.


"Sejak kedua orang tua ku meninggal. Aku di asuh oleh kakek. Dirawat dengan sepenuh hati dan diberikan segala yang aku mau. Tapi... aku tidak bisa memilih apapun yang menjadi pilihan ku" jawab Zayden.


Alyssa tertegun mendengar itu.


"Aku tidak pernah bisa untuk menentukan sendiri hidupku Sya. Semua sudah di atur oleh kakek. Apapun itu" jawab Zayden. Helaan nafasnya terdengar begitu berat.


Alyssa mengusap lengan kekar Zayden dengan lembut. Dia tersenyum saat Zayden menoleh kearah nya.

__ADS_1


"Mungkin itu karena dia begitu sayang sama mas. Mas harus bersyukur masih ada orang yang perduli" ucap Alyssa.


Namun Zayden malah menggeleng


"Entah lah, aku merasa dia terlalu mengekang hidupku" jawab Zayden.


"Hidup sendiri itu gak enak mas. Aku malahan pengen ada yang ngatur hidup ku" jawab Alyssa seraya tertawa kecil


"Walaupun untuk masa depan kamu?" tanya Zayden


"Pasangan maksud mas?" tanya Alyssa


Zayden terdiam, dia kembali memandang kedepan.


Ah... dia tidak sanggup untuk mengungkapkan yang lebih jauh lagi. Ini terlalu menyakitkan.


Namun tiba tiba dia terkesiap saat Alyssa malah menggenggam tangan nya.


"Ayo jalan jalan lagi. Bukan kah tadi mas bilang kita kemari untuk bersenang senang?" ajak Alyssa dengan senyum ceria nya seperti biasa.


Zayden langsung tersenyum dan mengangguk.


"Ya, ayo" jawab Zayden


Perlakuan manis Zayden dan tatapan nya tidak bisa membohongi Alyssa, jika Zayden pasti juga menyukai dia. Tapi kenapa seolah Zayden tidak ingin membahas itu? Apa ini ada sangkut paut nya dengan perkataan nya tadi? mengenai kakek nya yang terlalu mengekang hidupnya.


Entahlah...


Alyssa hanya ingin menghabiskan hari ini bersama Zayden dengan bahagia.


Dan ya, mereka memang menghabiskan sore dengan berjalan jalan keliling monumen nasional itu. Duduk berdua, berbincang ringan, bahkan makan makanan kaki lima yang ada disana. Zayden lagi lagi kembali bisa merasakan kebahagiaan sederhana yang mampu membuat hatinya menjadi tenang.


"Ini apa Sya?" tanya Zayden seraya memakan makanan yang terasa seperti kue, cukup lembut dan didalam nya terdapat seperti Fla yang lumer dimulut.


"Ini namanya kue sus. Enak kan?" tanya Alyssa yang sedang memakan cilor dengan kuah sambal yang begitu banyak. Zayden bahkan sampai merinding melihatnya.


"Lumayan lah, dari pada ngeliat kamu makan itu. Takut sakit perut Sya" ucap Zayden


Alyssa tertawa dan menggeleng seraya menikmati makanan nya tanpa canggung. Untung saja ada kue sus disini. Jadi ada yang dimakan oleh Zayden.


"Enggak lah, udah biasa kok. Kadang aku suka heran sama mas. Selera nya udah kayak bos besar aja, takut takutan makan dipinggir jalan" ungkap Alyssa


uhuk uhuk

__ADS_1


Zayden yang yang sedang memakan kue nya langsung tersedak mendengar itu. Dan bukan nya membantu, Alyssa malah mentertawai nya. Apalagi melihat wajah Zayden yang memerah.


"Baru dibilang gitu kok malah kesedak sih mas" ucap Alyssa seraya mengusap punggung Zayden.


"Kamu ngejutin aja" gerutu Zayden


"Ngejutin apaan. Mas nya aja yang baperan" gumam Alyssa seraya mengambil sapu tangan dari dalam tasnya.


"Liat kan jadi belepotan begini" ucap Alyssa, seraya tangan nya mengusap mulut Zayden dengan lembut.


Zayden tersenyum dan memandang wajah Alyssa dari dekat. Semakin lama bersama Alyssa, semakin dia tidak bisa untuk berpaling. Tapi jika dia menghindar, hati nya sungguh tidak kuat untuk menahan rindu.


"Kenapa liatin aku begitu?" tanya Alyssa


"Kamu cantik" jawab Zayden


Blush


Alyssa langsung mendengus senyum dan memalingkan wajahnya yang merona.


"Modus banget sih" jawab Alyssa seraya tertawa kecil.


Namun Zayden malah menggeleng, dia meraih tangan Alyssa dengan lembut.


"Sya... aku gak bisa untuk nahan perasaan ini lagi. Aku..."


pluk..


Makanan yang ada ditangan Alyssa langsung terjatuh saat tiba tiba matanya melihat seseorang yang berdiri diujung jalan disamping sebuah pohon rindang.


Lelaki berjaket hitam.


"Ada apa?" tanya Zayden yang tidak jadi melanjutkan perkataannya.


"Mas.. dia ... dia datang lagi" kata Alyssa yang masih memandang kearah sana. Bahkan tangan nya langsung membalas genggaman tangan Zayden dengan erat.


Zayden langsung menoleh kebelakang. Dan memang, dia bisa melihat seorang lelaki berjaket hitam tengah memandang mereka dengan begitu lekat dan tajam.


Tidak ingin terjadi sesuatu pada Alyssa disini. Zayden langsung menarik tangan Alyssa pergi dari sana.


"Kita pergi Sya" ajak nya.


Mereka langsung berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu. Dan aneh nya, lelaki itu juga nampak mengejar mereka. Dan itu membuat Alyssa semakin ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2