
Alyssa duduk dengan kepala yang tertunduk dan tangan yang saling meremas kuat. Jantung nya sejak tadi bergemuruh hebat, bahkan dia benar benar merasa gugup setengah mati.
Ruang tamu mewah dan megah tidak mampu membuat perasaan nya tenang dan nyaman. Melainkan panas dingin yang benar benar membuat Alyssa seperti ingin demam saja sekarang.
Saat ini Alyssa sudah berada dirumah utama Zayden. Rumah megah yang benar benar mewah dan besar. Bahkan entah seperti apa kemewahan nya, Alyssa tidak berani untuk memandang lebih. Dia sudah cukup tegang saat menginjakkan kaki nya dirumah ini.
Dan sekarang, Alyssa benar benar merasa sangat kecil dan rendah ketika melihat semua kemewahan yang Zayden punya.
Selama ini Zayden selalu menutupi nya, tapi sekarang, Alyssa melihat sendiri bagaimana kehidupan bos besar ini yang sebenarnya.
"Sya.." panggil Zayden yang duduk disebelah nya.
Alyssa langsung menoleh kearah Zayden seraya berusaha untuk tersenyum. Meski senyum nya kali ini terlihat begitu kecut dan getir.
"Jangan takut" bisik Zayden
Alyssa tersenyum dan mengangguk pelan.
Dia tidak takut, dia hanya merasa terlalu hina saat menginjakkan kaki dirumah ini.
Mereka sedang menunggu tuan Juanda yang masih berada dikamar nya. Dan menunggu ini membuat Alyssa seperti berada diambang hidup dan mati. Semoga saja dia tidak pingsan nanti.
Zayden mengusap lengan Alyssa dengan lembut, seraya memberi kekuatan untuk gadis nya ini. Zayden benar benar berharap Alyssa mau bertahan untuk memperjuangkan hubungan mereka.
"Apapun yang terjadi, kamu jangan nyerah ya Sya" pinta Zayden penuh harap. Dia juga sama seperti Alyssa, meski tuan Juanda kakek nya, tapi sejak dulu Zayden tidak pernah berani menentang nya.
Alyssa tidak bisa berkata apapun. Dia hanya mampu tersenyum dan mengangguk. Jika awalnya dia yakin untuk memperjuangkan hubungan mereka, tapi setelah melihat semua ini,.sungguh, hati kecil Alyssa benar benar merasa ragu.
Tapi mau bagaimanapun, dia memang harus mencoba. Alyssa tahu jika ini bukan cerita seperti di kisah dongeng, tapi dia benar benar berharap, keajaiban itu nyata untuk nya.
Hentakan suara kaki yang terdengar dari arah dalam rumah membuat jantung Alyssa berdenyut semakin ngilu.
Apalagi saat dia melihat dua orang pria tua yang datang dengan wajah datar dan kaku. Benar benar membuat Alyssa semakin bergetar takut.
__ADS_1
"Kakek" sapa Zayden. Dia langsung berdiri dan menghadap ke arah tuan Juanda. Begitu pula dengan Alyssa.
Pang Pong berdiri dibelakang tuan Juanda dengan wajah datarnya.
Alyssa langsung tersenyum dan ingin menyalami punggung tangan tuan Juanda, namun tuan besar itu hanya diam mematung dan memandang saja pada tangan Alyssa yang menggantung. Bahkan pandangan mata itu terkesan sinis dan begitu enggan untuk menyentuh Alyssa.
"Siapa yang kau bawa ini?" tanya tuan Juanda dengan suara berat nya yang begitu berwibawa. Dia sama sekali mengabaikan uluran tangan Alyssa.
Alyssa langsung tersenyum getir dan menurunkan tangan nya kembali.
"Kakek, ini Alyssa. Gadis pilihan ku" jawab Zayden dengan begitu yakin.
Alis tuan Juanda tergerak, dia langsung memandang Alyssa dengan lekat. Sangat lekat bahkan terasa seperti ingin membelah tubuh Alyssa dengan pandangan mata itu.
Alyssa, gadis yang masih sangat muda. Terlihat sederhana dan sangat jauh dari kesan mewah. Hanya memakai celana jeans dan baju kaus yang dipadukan dengan cardigan nya.
Tuan Juanda langsung tersenyum sinis memandang Alyssa.
"Gadis ini? yang membuat mu memutuskan pertunangan dengan Anabella?" tanya tuan Juanda. Dan sedetik kemudian dia langsung menggeleng dengan geram.
Siang tadi tuan Alexander mendatangi nya dan mengatakan jika Zayden telah memutuskan pertunangan mereka secara sepihak. Tentu tuan Alexander tidak terima, karena bagaimana pun publik sudah tahu tentang acara besar ini.
"Kakek, maafkan aku. Tapi aku benar benar mencintai Alyssa. Aku hanya ingin menikah dengan Alyssa kakek" ucap Zayden.
Alyssa langsung menoleh lirih pada Zayden yang terlihat benar benar memperjuangkan nya.
"Cinta, cinta kata mu!!!" suara tuan Juanda terdengar begitu menggelegar diruangan itu. Alyssa bahkan langsung tertunduk dan gemetar takut.
"Apa yang kau punya ha, sehingga kau berani datang kehadapan ku dan mengacaukan semua nya. Katakan" seru tuan Juanda yang kini beralih pada Alyssa.
Alyssa terkesiap dan memejamkan matanya sejenak. Dia benar benar takut, bahkan jantung nya benar benar bergemuruh dengan hebat melihat kemarahan tuan Juanda.
"Kakek" potong Zayden yang tidak tega melihat kakek nya bersikap sekeras itu pada Alyssa.
__ADS_1
"Diam kau!" bentak tuan Juanda pada Zayden.
Dan itu membuat Alyssa kembali terkesiap.
Sungguh demi apapun, suasana diruangan ini benar benar terasa ingin membuat jantung Alyssa luruh dan terburai. Dia benar benar takut dan tidak berani memandang tuan Juanda.
"Jawab aku. Jika kau memang memiliki nyali yang kuat untuk bersama cucuku, maka kau harus punya sesuatu yang bisa kau banggakan" kata tuan Juanda lagi pada Alyssa.
"Bahkan asal usul mu saja tidak jelas. Bagaimana mungkin kau berani untuk bermimpi hidup bersama keluarga Zega" remeh tuan Juanda lagi.
Alyssa langsung mendongak dan memberanikan diri memandang wajah tuan Juanda yang terlihat begitu marah.
"Maafkan saya tuan, saya memang tidak mempunyai apa apa. Tapi saya benar benar mencintai mas Zayden" ungkap Alyssa. Suara nya terdengar bergetar dan dalam, bahkan Alyssa sudah menahan air mata nya agar tidak keluar.
"Kakek, aku mohon, untuk kali ini saja" pinta Zayden begitu memelas.
Tuan Juanda berdecih sinis memandang Zayden dan Alyssa.
"Bermodalkan cinta, apa kalian kira hidup semudah itu. Aku tidak mau keluarga Zega tercoreng nama baik nya hanya karena gadis ini. Jangan harap kalian bisa bersama. Keputusan ku sudah bulat, dua Minggu lagi, pertunangan itu tetap dilaksanakan" ucap tuan Juanda tanpa ingin dibantah.
"Aku tidak mau" sahut Zayden dengan tegas.
"Kau sudah berani menentang ku, hanya karena gadis yang tidak jelas ini. Begitu kah" seru tuan Juanda lagi.
"Aku hanya ingin menentukan pilihan ku sendiri kakek. Aku tidak ingin menentang mu. Tapi tolong, untuk kali ini saja biarkan aku memilih" jawab Zayden.
Alyssa langsung tertunduk dengan air mata yang mulai berlinang. Sesakit inikah, harus dengan apa dia berjuang. Dia sama sekali tidak mempunyai senjata untuk berperang. Hal yang sia sia bukan. Tapi melihat Zayden yang seperti ini sungguh membuat hati Alyssa tidak berdaya.
Tuan Juanda memandang Zayden dan Alyssa dengan lekat dan tajam.
"Kau bisa memilih Emanuel. Aku memberi mu pilihan. Kau ingin aku yang mati karena menanggung malu, atau kau pilih gadis ini yang pergi?"
deg
__ADS_1
deg
deg