
Gelap berganti terang, matahari mulai bersinar di ufuk timur. Kicau burung riang menari-nari di telinga Vivian, dengan segera dia membuka mata. Hidungnya menangkap aroma wangi dari panggangan Roti. Tanpa basa -basi Vivian segera berlari ke sumber aroma itu. Dia menjumpai ibu angkatnya sedang memanggang Roti dan memberinya sedikit selai nanas di atasnya.
“selamat pagi sayang, kau sudah bangun?” sapa Cellyn pada anak gadis itu.
“pagi ibu, kenapa tidak membangunkanku?aku bisa membantu ibu.” Vivian langsung melingkari pinggang Cellyn dengan kedua tangannya lalu memberi sebuah kecupan di pipi kanan wanita itu.
“ibu tidak tega, semalaman kau menjaga toko. Kau pasti lelah.”
Vivian hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, semalam memang begitu banyak pelanggan yang datang membeli aneka roti dan kue yang mereka jajakan di Audrey’s Bakkery.
Setelah sarapan, Vivian segera mandi dan bersiap ke toko lagi. Hari kelulusan sudah lewat, saat ini dia berlibur dan menanti pengumuman kelulusan dari universitas tempat dia mendaftar.
“ibu, aku berangkat!” teriak Vivian yang sudah tepat berada di depan pintu dan hendak keluar. Seperti kemarin, Cellyn hari ini tidak bisa menemani Vivian, karena dia harus menemani madam Laurent di RS.
“iya nak, hati-hati.” Balas Cellyn kemudian.
Sesampainya di toko Vivian mematikan lampu yang berada sebagai penerang di plang nama toko mereka. Dan segera masuk ke toko. Seketika tulisan closed berubah Open.
“semoga hari ini akan seramai kemarin.” Ucap Vivian dengan penuh harap sambil membersihkan etalase-etalase kue miliknya. Tak lupa dia kenakan apron dan topi koki di kepalanya. Mereka belum memiliki pegawai untuk membantu, karena ibunya tidak disana hanya sementara.
Ting teng..
Suara denting lonceng yang berada tepat di atas pintu kaca akan terdengar bila ada yang masuk.
“selamat datang di Audrey’s Bakkery.” Ucap Vivian menyambut.
“halo nona. Saya ingin memesan kue.” Ungkap wanita yang ternyata adalah Helen.
“halo nyonya, baik. Silahkan duduk.” Vivian segera memepersilahkan Helen untuk duduk. Transaksipun di lakukan. Setelah memberikan struk pembelian, Helen mebayar setengah dari harga pesanan. Lalu kemudian dia pamit pulang.
Vivianpun melanjutkan hari itu dengan melayani pengunjung toko yang ramai. Hingga stok kue di tokonya tersebut menipis.
“astaga, aku harus segera memberi tahu ibu.” Pikir Vivian.
Beberapa jam menjelang pertunangan.
“Juan, kemarilah.” Teriak Helen memanggil anak keduanya yang berada di lantai dua vila.
“ada apa ibu?” Tanya Juan dengan malas. Tubuhnya seakan berat untuk berjalan turun.
“kau ini kenapa tidak semangat sekali. Tolong jemput kue di tempat kita memesan waktu itu.” Perintah Helen.
“ah, ibu suruhlah paman Lim saja. Juan lelah.” Tanpa menunggu jawaban, Juan segera berlari kembali ke atas.
“Juan!” teriak Helen.
__ADS_1
“ibu sudahlah, biar Daan saja.” Daan yang baru masuk ke Vila itu sempat mendengar perdebatan ibu dan adiknya.
“baiklah, kau saja ya nak. Tempatnya tidak jauh dari sini tokonya bernama Audrey’s Bakkery.” Jawab ibunya sembari memberikan struk pembelian.
“baiklah bu.” Daan kemudian berlalu dari hadapan ibunya. Dia mengendarai mobilnya ketempat yang dimaksudkan ibunya tadi.
Audrey’s Bakkery.
Ting..teng..
Sebagaimana biasa bila ada yang masuk. Tapi berbeda seperti sebelumnya, kali ini tak ada suara Vivian yang menyambut dengan mengucapkan “selamat datang”.
“permisi.” Daan memberi salam di toko yang terlihat lengang itu. Matanya menangkap tumpukkan roti di atas meja yang sudah tersusun rapi dengan box-boxnya.
“permisi.” Sapa Daan lagi, karena belum mendapat jawaban.
“iya sebentar.” Teriak Vivian dari arah dapur dengan membawa 2 box kue di tangannya. Segera meletakkan box-box itu, Vivian segera berlari menuju sumber suara tadi. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat lelaki itu.
“Kau?” ucap Vivian dan Daan serempak.
“siapa kau?” tanya mereka lagi dengan serempak. Seperti anak kembar saja.
“aku Daan ibuku menyurhku untuk mengambil kue yang di pesan beberapa hari lalu.” Jawab Daan mendahului.
“ini kan gadis aneh waktu itu.” Daan membatin.
“heh, wanita aneh. Mengapa kau disini?” tanya Daan dengan suara.
“enak saja kau menyebutku aneh. Ini tokoku. Kau mau apa di sini paman?”balas Vivian tak terima.
“jangan panggil aku paman, aku tidak setua itu.” Ketus Daan.
“lalu kenapa kau menyebutku wanita aneh hah? Sangat menyebalkan.” Balas Vivian tak kalah ketus.
“aku tak ada waktu berdebat dengan anak-anak sepertimu. Ini ambil, aku di suruh mengambil kue pesanan ibuku.” Daan memang malas membuang waktu kepada hal-hal yang menurutnya sangat tidak penting. Dia segera memberi struk pembelian kepada Vivian dan menyelesaikan sisa pembayaran.
“oh, bilang dari tadi.” Vivian merampas struk itu degan kasar. Kemudian membantu Daan membawa box-box kue dan menyusunnya di dalam mobil.
“apa namanya Audrey?” batin Daan yang baru saja berlalu dengan mobilnya menuju Vila.
Sore sudah lewat, Adrian dan rombongan keluarganya sudah tiba di Vila keluarga Aston untuk melangsungkan pertunangan. Beberapa sahabat Stephani dan Daan juga terlihat. Alunan musik dari denting piano mulai dimainkan. Berbagai instrumen dari lagu-lagu romantis menemani kebahagiaan kedua keluarga, tapi tidak dengan Daan. Beberapa kali dia meneguk anggur sendirian di balkon vila itu. Seolah dia tidak peduli tentang apa yang akan terjadi nanti. Dia membuang pandangannya jauh menikmati kerlap-kerlip lampu di sepanjang pesisir pantai. Kepalanya seakan hendak pecah, belum pernah rasanya sefrustasi ini. Hingga dia berteriak sekencang-kencangnya.
Ferdinand dan Alan yang baru saja mendapati sahabat mereka itu bergegas menjumpai Daan.
“hei Daan, kau kenapa?” tanya Alan. Dia bingung dengan kondisi Daan.
__ADS_1
“Daan ceritalah kepada kami.” Ferdinand menimpali.
“apa yang harus ku ceritakan? Aku tak menginginkan pertunangan ini. Aku tak mau menikah.” Ungkap Daan dengan rahang mengeras.
“Jika kau tak ingin katakan saja Daan, jangan menyiksa dirimu.” Imbuh Ferdinand dengan menepuk pundak sahabatnya.
“kau tahu bagaimana ayahku? Aku pun tidak tega membuat ayah dan ibuku kecewa.” Daan memejamkan matanya menjatuhkan tubuhnya yang kini bersandar di pembatas besi balkon.
“kami akan membantumu bicara dengan paman dan bibi.” Ucap Alan yakin.
“sudah jangan lakukan. Aku akan melangsungkan pertunangan ini. Aku juga tak ingin membuat keluargaku malu disini.” Ungkap Daan dengan tulus.
Acara pertunanganpun berlangsung dengan lancar, tamu undangan yang tadi hadir sudah tek terlihat, begitu pula keluarga Adrian, bersama putri dan istrinya mereka bertolak kembali ke kediaman mereka. Aston sudah melarang dan meminta mereka untuk menginap tapi Ardian pagi-pagi besok harus mengahadiri rapat penting. Aston pun tak punya pilihan selain mengiyakannya.
Di pagi hari, keluarga Aston pun bersiap-siap untuk kembali juga. Semua barang bawaan mereka sudah masuk ke dalam mobil. Daan mengendarai mobil itu duduk bersebelahan dengannya Juan, serta kedua orang tua mereka duduk di kursi belakang pengemudi.
“berhenti.” Perintah Aston tiba-tiba.
“ada apa sayang?” tanya Helen kepada suaminya.
“mundurkan mobilnya.” Perintah Aston lagi. Daan pun memundurkan mobilnya.
Aston membaca plang nama di sisi kiri jalan itu Audrey’s Bakkery.
“ini kan toko tempatku memesan kue.” Ungkap Helen sembari memperhatikan suaminya yang tak berhenti menatap plang nama depan toko kue yang masih tutup itu.
“ada apa yah?” kali ini Juan bertanya.
“mungkin hanya mirip.” Batin Aston. Tak lama kemudian mobil mereka kembali bergerak.
Satu bulan berlalu, pengumuman penerimaan mahasiswa di universitas yang di tuju Vivian sudah keluar. Vivian amat senang karena dia di terima untuk kuliah di universitas itu. Vivian mulai mempersiapkan segala kebutuhannya. Bersama dengan sahabatnya Angel mereka memutuskan untuk tinggal di asrama yang di sediakan sebagai fasilitas mahasiswa. Hari ini mereka bersiap untuk bertolak ke pusat kota, letak universitas mereka berada. Vivian mengambil jurusan fashion design, begitupun Angel.
“Vivian sering-seringlah menelpon ibu ya nak?” ungkap Cellyn kedua manik matanya tampak berkaca-kaca.
“ibu tentu saja, aku akan sangat merindukanmu.” Vivian memeluk tubuh ibu angkatnya itu dengan erat,menghujani wajahnya dengan ciuman.
Bus pengantarpun telah tiba. Begitu berat hati Cellyn melepas putrinya itu. Namun, dia percaya, ini semua adalah untuk masa depan Vivian. Cellyn memiliki tekad agar Vivian berhasil dan bisa menjadi orang yang sukses.
.
.
.
.
__ADS_1
.
terimakasih semoga tulisan ini menghibur, mampirlah untuk memberikan kritik dan saran kalian yaa..🤗