
"Jadi ini kantor cabang kamu, Vel?" tanya Nissa pada seorang pria tampan yang ada disebelahnya.
"Yah, seperti itulah kira-kira. Tapi aku jarang kesini. Paling cuma sebulan sekali buat ngecek keadaan sama laporan, sejauh ini sih masih aman-aman saja. Sebab, semua yang kerja di sini orang-orang yang kompeten." jawab Marvel.
"Oh ya? Enak dong! Tinggal duduk dan tunggu hasilnya aja."
Pria yang bernama Marvel itu melebarkan kedua sudut bibirnya, hingga terlihat giginya yang rata dan putih itu. Tentu saja, hal itu membuat Nissa sedikit terpesona. Senyuman manisnya, wajah tampannya, serta keramahannya, benar-benar definisi pria sempurna di mata Nissa.
"Kamu bisa aja! Ya nggak bisa gitu dong Nis, yang namanya owner apalagi udah punya kantor cabang dan anak buah sehebat apapun, tetap saja harus berpikir keras gimana caranya perusahaan tetap bisa survive. Yah, aku bisa punya ini semua juga karena turunan dari Kakek. By the way, kamu juga hebat lho, perempuan tapi tetep bisa mengelola perusahan papi kamu dengan sangat baik!"
"Tapi masih kalah jauh sama perusahaan kamu, Vel!"
"Tidak masalah! Semua ada masanya, tidak mungkin sebuah perusahaan akan terus berada di bawah jika kita tetap mau berusaha. Tinggal tunggu waktu aja itu." ucap Marvel memberi semangat.
"Ya, kamu benar!"
"Eh, udah waktunya makan siang nih! Kamu masih ada jadwal lagi nggak habis ini?" tanya Marvel.
"Udah kosong sih, kerjaan juga udah pada kelar sih. Tinggal nunggu laporan aja."
"Jadi, kamu mau nggak makan siang sama aku? tanya Marvel sambil menatap Nissa.
"Emmmm, boleh deh!" jawab Nissa sambil tersenyum.
Keduanya pun berjalan turun dari ruangan Marvel. Mereka tampak serasi ketika berjalan berdampingan.
"Kita mau makan dimana Nis?" tanya Marvel ketika mereka masuk dalam lift untuk turun ke lantai bawah.
"Terserah kamu aja, Vel! Aku bukan type pemilih kok," jawab Nissa sambil mengulas senyum.
"Makan di kantin depan aja, gimana? Masakannya enak lho! Karyawan sini banyak kok yang makan disana, selain masakannya enak harganya juga murah."
"Oh ya? Beneran? Jadi penasaran!"
Sesampainya di kantin, Marvel dan Nissa segera mencari tempat kosong. Beberapa karyawan yang melihat kehadiran bos besar mereka di sana pun menundukan kepala sebagai tanda hormat. Marvel yang terkenal ramah pada karyawan pun membalas dengan senyuman.
"Kamu mau pesan apa, Nis?" tanya Marvel pada Nissa sembari melihat buku menu. Sedangkan pelayan kantin, sudah siap berdiri di samping mereka untuk mencatat pesanan.
"Aku mau sup iga satu, nasi putih satu, minumnya orange juice aja ya! Sama air es nya satu ya Mbak, panas banget cuacanya, minumnya harus dobel dong biar seger. Hehehhe," ucap Nissa polos sambil terkekeh.
Marvel pun tertawa melihat tingkah Nissa yang apa adanya. Baginya Nissa itu sangat menggemaskan, ingin sekali dia gigit pipi Nissa yang chubby itu. Eh....
"Aku mau sate ayam satu porsi aja pake nasi putih ya Mbak, terus minunya es lemon tea aja. Makasih ya Mbak!" ucap Marvel.
"Baik Pak, Bu. Mohon di tunggu sebentar ya, pesanan akan segera di antar." ucap pelayan yang tadi mencatat pesanan mereka.
Marvel dan Nissa mengangguk bersamaan, keduanya pun melanjutkan obrolan mereka yang tertunda hingga sebuah suara memanggil Marvel.
"Mas Marvel!"
"Indri? Hai... sini!" Marvel sedikit mengeraskan suaranya dan melambaikan tangan agar Indri ikut bergabung bersama mereka.
Wanita yang tak kalah cantiknya itu tersenyum dan balas melambai pada Marvel lalu ikut bergabung bersama Marvel dan Nissa.
"Mas, sama siapa? Kok kesini nggak ngasih kabar dulu?" tanya Indri.
"Oh, ini tadi dadakan. Soalnya temen Mas ini pengen lihat kantor cabang soalnya bakal ada kerjasama gitu." jawab Marvel.
Indri melirik ke arah Nissa, lalu mereka saling melempar senyum.
"Kenalin In, ini Nissa!" ucap Marvel.
Indri dan Nissa saling mengulurkan tangan dan berjabat tangan.
"Indri."
"Nissa."
"Duduk, In! Kita makan siang bareng aja disini." ajak Marvel.
"Enggak ah, takut ganggu Mas Marvel sama Nissa," jawab Indri sambil terus mengulas senyum dan melirik ke arah Nissa. Indri menggoda Kakak sepupu nya itu hingga Marvel dan Nissa jadi salah tingkah.
"Udah nggak usah mikir macem-macem, duduk aja!" titah Marvel.
__ADS_1
Indri akhirnya mengangguk lalu duduk bersama Nissa dan Marvel. Pelayan kembali datang menghampiri ketika Marvel memberi kode dengan. melambaikan tangannya. Setelah mencatat pesanan Indri, pelayan itupun kembali masuk.
"Eh, In! Mas dapat kabar dari Pak Hartono kalau kamu masukin orang baru ya ke bagian staf HRD ya?" tanya Marvel.
Indri menganggukkan kepala setelah melihat Marvel. "Kenapa Mas?" tanyanya.
"Memangnya dia siapa? Selama inias belum pernah denger kamu merekomendasikan orang masuk ke kantor kita." jawab Marvel.
"Em, dia itu temanku Mas! Kasian dia Mas, baru saja dipecat karena owner-nya tidak profesional."
"Oh ya?" tanya Marvel mulai ragu. "Biasanya orang dipecat karena kinerjanya buruk, atau dia sudah melakukan kesalahan yang fatal." imbu Marvel.
"Ya, tidak selalu sih Mas! Bisa jadi sakit hati karena ada masalah pribadi, terus dipecat. Makanya tadi aku bilang owner nya nggak profesional."
"Masa sih?" tanya Marvel. "Gini ya, Mas nggak masalah kamu merekomendasikan orang buat masuk ke perusahaan kita. Tapi kamu harus tahu dulu seluk beluk dan benar-benar yakin dengan orang itu. Kamu tahu sendirilah, jaman sekarang banyak orang yang modus dengan menjual cerita sedih demi keuntungan pribadi mereka." jelas Marvel.
"Iya Mas, aku ngerti kok," jawab Indri. "Mas tenang aja, karena aku nggak mungkin salah orang. Dia juga anak teman Mama kok, makanya aku bisa kenal! Mas tahu kan selama ini circle pertemanan ku gimana?"
Marvel mengangguk kepala tanda mengerti. Adik sepupu itu memang bukan tipe wanita yang punya banyak teman apalagi pria. Pasti ada yang mengenalkan Indri. Dan kalau memang itu benar anak teman Tante Sofi, semoga saja dia memang orang yang baik dan tidak aneh-aneh.
"Iya, Mas gak papa. Asal kamu bisa menjamin kalau orang itu nggak akan bikin masalah. Riskan banget soalnya mempekerjakan orang yang baru saja dipecat, apalagi kamu hanya tahu alasannya dari dia saja." ucap Marvel mengemukakan kekhawatirannya.
"Mas tenang aja, Indri nggak bakal kena tipu." jawab Indri.
Marvel menghela nafasnya, "Oke! Mas percaya!"
"Em, kalau Mbak Nissa ini kerja dimana?" tanya Indri pada Nissa.
Nissa dan Marvel saling berpandangan.
"Kamu memang belum tahu, dia siapa?" tanya Marvel pada Indri yang hanya di jawab gelengan kepala.
"Nissa ini kan owner perusahaan yang gak jauh dari kantor pusat kita!"
"Oh ya? Waaah, keren banget!" ujar Indri memuji.
"Keren dong! Siapa dulu? Temennya Marvel gitu lho!!!" canda Marvel.
"Heleh, dasar! Yang hebat kan Mbak Nissa, bukan kamu Mas!" balas Indri.
Nissa hanya bisa tertawa melihat dua orang itu bercanda.
"Kalau boleh tahu, nama perusahaan nya apa Mbak?" tanya Indri.
"PT Bramastya Jaya Grup."
'Apa? Bramastya Jaya? Itukan? Jadi dia mantan tunangan Mas Arya.' batin Indri menjerit, namun ia tahan sekuat mungkin karena masih ada Marvel disana. Seketika pandangan kagum berubah menjadi benci dan sinis.
Wajah Indri yang semula terlihat antusias kini terlihat berbeda. Bahkan ia sampai mengalihkan pandangan ke arah lain seolah dia mual hanya dengan melihat wajah Nissa. Nissa yang melihatnya, hanya bisa mengerutkan kening.
"kok-"
"Permisi, silahkan dipilih menunya!" ucapan Nissa terhenti karena ada pelayan yang datang hendak menawarkan menu makanannya. Kemudian pelayan itu menyerahkan satu buku menu pada Indri.
"Mau pesan apa, In?" tanya Marvel pada Indri.
"Hmm, spaghetti sama jus jeruk aja Mas!" jawab Indri.
Pandang Marvel yang semula menatap Indri beralih pada pelayan tadi.
"Ada lagi Mbak?"
"Itu saja Mbak! Makasih!" Jawab Indri.
"Baik, mohon di tunggu sebentar ya." ucap pelayan itu sopan kemudian melangkah pergi sambil membawa buku daftar menu.
"Ngomong-ngomong, kamu kerja di bagian apa, In?" tanya Nissa yang berniat mengenal Indri lebih jauh agar tidak ada kecanggungan.
Pertanyaan dari Nissa mengambang di udara, bukan enggan menjawab, hanya saja Indri sedang sibuk dengan pemikirannya hingga tidak mendengar pertanyaan dari Nissa. Bahkan terlihat jemari wanita itu terus mengetuk meja sebagai pertanda jika Indri tengah serius berfikir.
"Heh, malah ngelamun!" seru Marvel sambil menepuk punggung tangan Indri. Tentu saja, perlakuan Marvel membuat Indri terkejut.
"Ditanya sama Nissa tuh, eh malah asik ngelamun sendiri!" ucap Marvel.
__ADS_1
"Eh, tanya apa memang?"
Seketika Marvel memutar bola matanya melihat reaksi dari Indri.
Jarum jam terus berputar, obrolan pun terus terjadi. Namun jika tadi ada tiga orang yang saling bertanya, kini yang terdengar hanya suara Nissa dan Marvel. Sedangkan Indri hanya diam saja.
Obrolan antara Marvel dan Nissa terhenti saat pelayan datang membawa makanan dan minuman pesanan mereka.
"Terima kasih Mbak!" ucap Marvel setelah pelayan itu selesai memindahkan semua pesanan dari nampan ke atas meja.
"Sama-sama, jika ada yang dibutuhkan lagi silahkan panggil saya. Saya ada di sebelah sana." jawab pelayan itu sambil menunjuk ke salah satu arah.
Marvel hanya mengangguk, lalu mereka bertiga segara menikmati pesanan makan siang mereka masing-masing. Tidak ada obrolan , hanya denting sendok garpu yang beradu dengan piring.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka menyelesaikan makan siang. Semua piring terlihat kosong. Begitupun dengan Nissa, wanita itu terlihat mengambil sehelai tissu untuk membersihkan area bibir agar bersih dari sisa makanan yang mungkin tertinggal.
"Aku ke toilet dulu ya!" pamit Marvel yang kemudian segera beranjak dari duduknya dan melangkah menuju toilet setelah mendapat anggukan dari Nissa dan Indri.
Ponsel yang ada dalam tas Nissa terdengar bergetar, wanita itu segera mengambil dan mengecak notifikasi yang masuk ke ponselnya itu. Indri tersenyum sinis saat Nissa tengah fokus dengan benda pipih di tangannya itu. Kemudian wanita itu berdiri lalu pindah di kursi yang tadi di tempati Marvel. Tidak hanya duduk, Indri bahkan menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Nissa.
"Ternyata, setelah kamu memutuskan calon tunangan kamu, memecatnya, sekarang kamu mengincar Mas Marvel, iya?" Indri berucap tepat di telinga Nissa membuat wanita itu tersentak lalu menoleh dengan kening berkerut.
Melihat lawannya sudah merespon, Indri kembali menarik tubuhnya duduk dengan tegak.
"Apa maksud kamu?" tanya Nissa.
"Harusnya, kamu bersyukur punya calon suami yang berbakti sama Ibunya. Harusnya, jika kamu mau sama anaknya, kamu juga harus terima Ibunya. Apalagi Ibunya hanya seorang janda! Mau minta makan sama siapa kalau nggak sama anaknya?" ucap Indri panjang lebar.
Nissa diam sejenak mencerna ucapan Indri. "Arya?" Satu nama yang disebut oleh Nissa seketika membuat Indri mangangguk.
"Siapa lagi memangnya?" tanya Indri.
Nissa hanya diam, dia ingin melihat sejauh apa Indri akan memojokkannya. Nissa juga ingin tahu, apa yang diucapkan Arya di luaran sana.
"Meskipun kamu seorang owner yang kaya raya, sampai kamu tua tidak akan ada lelaki yang mau sama kamu jika perangai mu seperti itu. Belum apa-apa saja, kamu sudah berani meminta calon suami kamu menelantarkan orang tuanya. Wanita macam apa kamu ini? Apa kamu pikir kamu akan terus muda dan bisa melakukan segalanya? Kamu pikir, kamu nggak bakalan tua? Bayangkan, jika nanti di masa tuamu kamu dicampakkan begitu saja oleh anakmu dan dibuang ke panti jompo begitu saja karena anak dan menantunya tidak sudi merawat mu, seperti yang sekarang kamu lakukan!"
Indri berucap panjang lebar, sedangkan Nissa hanya mendengarkan sambil tersenyum tanpa ada niat untuk menjawab ucapan Indri.
"Kasihan sekali Mas Marvel jika harus mendapatkan wanita siluman seperti kamu! Semoga saja matanya segera terbuka dan bisa melihat siapa kamu sebenarnya!" imbuh Indri.
Sejenak dia terdiam, lalu mengambil nafas perlahan.
"Awalnya, saat melihatmu aku begitu kagum. Sudah cantik, mandiri, seorang owner pula! Tapi setelah tahu siapa kamu sebenarnya, aku kok merasa jijik ya, rasanya aku menyesal menerima ajakan Mas Marvel. Kalau bukan karena Mas Marvel, ogah aku satu meja sama kamu!"
"Selama aku berkecimpung di dunia bisnis baru kali ini aku ketemu owner kayak kamu. Cuma karena sakit hati, kamu memecat karyawan kamu. Wajarlah jika lelaki itu memilih pergi, wanitanya aja tukang selingkuh! Ck!"
"Ada lagi?" tanya Nissa. Sebenarnya dada wanita itu sudah bergemuruh mendengarkan hinaan yang meluncur dengan begitu mudahnya.
Indri hanya melirik sinis pada Nissa.
"Sebenarnya, aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang Mas Arya katakan di luaran sana tentang aku. Tapi rasa-rasanya, aku harus memberikan klarifikasi sama kamu. Bukankah orang yang bijak itu tidak hanya mendengar dan menilai sesuatu hanya dari satu sisi saja bukan?" ucap Nissa dengan nada setenang mungkin.
"Soal selingkuh! Itu hanya fitnah! Tidak ada yang namanya perselingkuhan!"
Indri tertawa, "Hahahha, kamu pikir aku percaya sama kamu?"
"Dan aku sama sekali tidak memaksa kamu untuk percaya sama aku! Saranku, lebih baik kamu mencari tahu dulu kebenaran dari sebuah permasalahan, bukannya menelan bulat-bulat begitu saja," Nissa masih dengan nada tenang dan tersenyum manis menanggapi ucapan Indri.
"Dan satu lagi, selama aku jadi owner, tidak pernah sekalipun aku memecat karyawan begitu saja apalagi hanya karena masalah pribadi. Dan, kalau itu sampai terjadi itu pasti karena ada masalah."
Ketika Indri hendak menjawab ucapan Nissa, dia melihat Marvel yang menuju ke arah mereka. Indri segara berdiri dan duduk di tempatnya semula.
Sesampainya di meja, Marvel berdehem sambil duduk dan membenarkan lipatan lengan bajunya.
"Mas, sepertinya masih banyak hal yang belum Mas Marvel ketahui tentang Mbak Nissa. Karena aku adik sepupu yang sangat baik, jadi aku mengingatkan Mas agar mencari tahu segala sesuatu tentang Mbak Nissa. Mas cuma tahu Mbak Nissa yang owner aja kan? Tapi Mas belum tahu pencapaian apa saja yang sudah dia dapat dan apa saja yang sudah dia lakukan!
Tadi, Mbak Nissa banyak cerita ke aku lho waktu Mas Marvel ke toilet. Aku saja sampai tercengang mendengar ceritanya. Bahkan aku iri sama Mbak Nissa!"
Sesekali Indri melirik Nissa ketika bicara, namun saat ini Nissa enggan untuk menyela ataupun membela diri. Nissa lebih memilih diam dan mengatakan apapun yang Indri inginkan. Nissa tahu, Indri menyindirnya dengan kalimat sarkas.
"Nissa ini temanku dari kuliah, In! Jadi, apa yang tidak aku tahu tentang Nissa? Benar katamu, banyak pencapaian yang Nissa raih sejak kuliah dulu. Tanpa dicari tahu pun semua orang sudah tahu kalu Nissa itu seorang wanita yang cantik, mandiri, dan pekerja keras." jawab Marvel.
"Tapi meskipun begitu, dia punya hati yang busuk!" kata Indri.
__ADS_1
" Apa maksudmu?"