
"Maaf ya sayang, aku sama Mama aku selalu merepotkan kamu" Arya kembali memasang wajah sendu dan segan pada Indri. Yang pastinya itu semua hanya pura-pura saja.
"Mas, aku ikhlas dan tulus melakukan semuanya. Apalagi sebentar lagi kita akan menikah dan jadi satu keluarga. Yang namanya keluarga kan wajib saling tolong menolong dalam hal apapun itu." Indri berbicara sambil tersenyum.
"Tapi, aku tetap merasa nggak enak, In. Aku kan laki-laki, harusnya aku yang menanggung semua biayanya. Tapi nyatanya, sekarang semua kamu yang nanggung. Bahkan apa yang aku gunakan untuk melamar kamu kemarin tidak ada apa-apa nya In!"
"Tidak masalah Mas, aku tidak pernah meminta lebih dari batas kemampuan kamu. Bagiku, asal itu tulus dari hatimu walaupun hanya seribu perak aku akan sangat menghargainya Mas."
"Akun sungguh beruntung karena mendapatkan kamu, In!" ucap Arya semakin membuat Indri tersenyum malu hingga wajahnya memerah.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang saja ya, kasihan kalau nanti Mama Amel nungguin kita!" ajak Indri uang dijawab anggukan kepala oleh Arya.
Arya membukakan pintu mobil untuk Indri, setelah itu dia sedikit berlari menuju kursi kemudi. Setelah keduanya siap di dalam mobil, Arya segera menyalakan mesin dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
Setelah kurang lebih 20 menit perjalanan, mobil Indri sampai juga di rumah Mama Amel.
Melihat ada mobil masuk di pekarangan rumah, Mama Amel yakin jika itu adalah Indri dan Arya. Setelah memastikan hidangan yang ia beli sudah tertata dengan rapi, Mama Amel memulai sandiwara nya. Ia membasahi wajahnya agar terlihat seperti orang yang sedang berkeringat. Kain lap ia sampaikan di pundak, lalu meraih gagang pel dan air dalam ember yang sudah ia siapkan dari tadi.
"Sempurna! Penampilanku sudah mirip kayak babu nih, kalau saja bukan karena akting untuk mendapatkan simpati dari Indri gak bakalan sudi aku ngelakuin semua hal kayak gini. Nanti kalau sudah sah menjadi istri Arya, aku akan bebas meminta semua hal yang aku mau. Bukankah menantu itu harus berbakti sama mertua? Terlebih lagi, surga si Arya kan ada padaku, secara aku ini Ibunya."
Setelah melihat mobil hitam itu terparkir rapi di teras rumahnya, Indri dan Arya pun juga sudah turun dari mobil. Wanita paruh baya itu segera mengubah ekspresi wajahnya agar tampak semakin meyakinkan.
Ia membuka pintu utama sambil menenteng satu ember air berisi cairan pembersih lantai, tak lupa gagang pel yang sudah ia siapkan tadi.
Ia mulai mencelupkan kain pel tadi kemudian memeras kain tersebut. Setelah itu, baru ia gosok-gosokkan ke lantai rumahnya yang terlihat berdebu karena lama tidak di pel.
Indri segera berlari ke arah Mama Amel ketika melihat wanita itu kelelahan. "Mama? Mama lagi ngapain?" tanya Indri.
"Eh, kamu sudah datang Nak? Maaf, ini tadi Mama habis masak terus bersihkan rumah karena kamu kan mau datang. Mama kira masih lama, nggak tahunya kamu udah datang."
Indri menatap iba pada calon Mama mertuanya itu. Entah kenapa dia jadi membayangkan jika Mama Sofie yang ada di posisi Mama Amel. Tentu saja ia tak akan tega.
"Sini, Ma. Biar Indri bantuin!" Ucap Indri mengambil gagang pel yang ada ditangan Mama Amel. Tentu saja Mama Amel pura-pura terkejut dengan perlakuan Indri, sebab setelah mengambil seperangkat alat pel itu, Indri benar-benar melanjutkan pekerjaan Mama Amel mengepel lantai.
"In, jangan Nak! Biar Mama yang kerjakan. Inikan tugas Mama. Ya, harap maklum. Namanya nggak punya anak perempuan, sekalinya punya malah durhaka sama Mama. Kalau Mama Minta tolong Arya juga gak mungkin, kan dia kerja kantoran, nggak pantes lah kalau pegang barang remeh kayak begini."
Mama Amel terus melanjutkan sandiwara nya agar Indri semakin iba padanya.
"Gak papa, Ma! Sebentar lagi Indri kan jadi menantu Mama. Jadi anggap saja Indri sedang belajar jadi menantu dan istri yang baik."
"Tapi kamu ini seorang manager, In. Tidak pantas kamu pegang beginian, Nak!"
"Gak masalah Ma, Mamaku sering mengajari aku bagaimana caranya menggunakan alat-alat rumah tangga. Selain itu Mama juga mengajarkan aku bagaimana menjadi istri dan menantu yang baik. Indri juga harus paruh pada suami Indri kelak, karena setelah menikah maka surga Indri akan berpindah padanya."
__ADS_1
Mama Amel tersenyum mendengar ucapan Indri. Bukan senyuman tulus karena menerima kebaikan Indri, melainkan senyuman modus untuk melancarkan aksi. Target sudah terperangkap, selangkah lagi misinya akan berhasil.
Arya dan Mama Amel saling melirik saat Indri begitu antusias mengepel lantai teras.
"Nah, sudah selesai kan Ma? Kalau cuma begini saja sih bisa indri."ucap Indri sambil tersenyum.
"Ya sudah, kita masuk yuk! Kamu wajib cicipi masakan Mama!"
"Siap Ma!"
Ketiganya lalu masuk ke dalam rumah langsung menuju ke ruang makan dan duduk di sana dengan posisi Indri yang duduk di antara Mama Amel dan Arya.
"Ayo, In. Cicipin masakan Mama. Dijamin kamu pasti ketagihan." ucap Mama Amel sambil terkekeh.
"Ini semua masakan Mama?" tanya Indri dengan tatapan takjub kala melihat banyaknya menu makanan yang sudah tersaji di atas meja makan.
Indri takjub bukan karena dia belum pernah merasakan rasa dari makanan yang saat ini tersaji. Dia terharu karena penyambutan yang dibuat oleh calon Mama mertuanya. Dia merasa sangat diharapkan oleh Arya dan Mamanya.
"Iya, ini semua masakan Mama. Special untuk calon mantu kesayangan Mama. Ayo, di cicipin ya, jangan sungkan-sungkan."
"Indri nggak nyangka lho kalau Mama ternyata jago masak. Apa Mama nggak capek masak sebanyak ini?"
"Ya karena sudah biasa jadi nggak berasa capeknya. Asal jangan tiap hari saja!" jawab Mama Amel sambil terkekeh dan menatap penuh arti pada Arya. Semua tertawa mendengar ucapkan Mama Amel.
"Ehm, kalian kan sudah resmi berhubungan. Mama harap kalian tidak lama-lama untuk naik ke jenjang pernikahan. Tidak baik jika kalian terlalu lama berhubungan tanpa ikatan. Takut sesuatu terjadi di tengah jalan. Jadi kalau bisa secepatnya kalian menikah ya!"
Rayuan maut mulai ditebar Mama Amel. Indri yang baru saja menyuapkan makanannya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Indri meminum air di dalam gelas yang ada di depannya. Setelah selesai, baru dia menjawab ucapan calon mertuanya. "Kalau Indri, ikut apa kata Mas Arya aja, Ma!"
"Gimana Ar? Kapan kamu mau menghalalkan Indri?" desak sang Mama.
"Kalau aku sih, ngikut aja Ma. Sebagai anak yang berbakti sama orang tua, aku setuju sama apa yang Mama katakan tadi. Lagipula, sebenarnya aku juga sudah tidak sabar untuk segera menghalalkan Indri. Aku sangat mencintai Indri, Ma!"
Indri menundukkan kepalanya, ia tersipu mendengar kata cinta dari Arya. Indri memang tak pernah berpacaran ataupun memiliki kekasih sebelum ini. Dia termasuk kuper jika soal hubungan dengan lawan jenis. Indri yang kutu buku dan tak secantik sekarang, hingga tidak ada lelaki yang mendekati nya. Dunia nya hanya dengan buku saja. Dia bisa berubah seperti sekarang karena dorongan dari Marvell dan Mama Sofie.
"Jadi kalian setuju kan, kalau pernikahan kalian dipercepat?"
Arya dan Indri kembali saling berpandangan lalu tersenyum. "Setuju, Ma!" jawab keduanya kompak.
"Alhamdulillah, jadi kapan rencana kamu pergi ke rumah Indri buat lamaran resminya, Ar?"
"Ehm, karena ini habis gajian, bagaimana kalau lusa saja. Tapi, maaf ya, In. Kalau bawaan ku nggak bisa banyak dan mungkin biasa-biasa saja. Kamu paham kan maksudku. Aku baru saja kembali bekerja. Gajiku tak banyak dan harus menafkahi Mamaku juga." wajah Arya mendadak berubah jadi sendu.
__ADS_1
Indri menyentuh telapak tangan Arya dan menggenggam nya. "Mas Arya nggak usah mikirin itu, nanti aku akan bantu. Biar keluarga ku nantinya tidak menghinamu."
Arya dan Mama Amel saling berpandangan, mereka tidak menyangka jika Indri akan berbuat sejauh ini demi mereka.
"Tapi, In. Itu kan tanggung jawab aku sebagai calon suami kamu. Masa kamu juga yang harus membayar?"
"Mas, bukankah setelah kita menikah nanti aku akan jadi kamu, begitu juga sebaliknya. Jadi menurut aku, apa yang aku punya nantinya akan jadi milik Mas Arya juga."
"Hah, target benar-benar sudah terjerat. Klepek-klepek macam ikan kehabisan air. Cantik sih, tapi aku masih penasaran dengan Nissa. Wanita yang bisa menggetarkan hati saya pertama bertemu. Wanita itu begitu mahal. Saking mahalnya sampai tidak bisa aku gapai. Tapi, tak apalah. daripada zonk. Toh uangnya juga lumayan. Dengan uang dari Indri aku akan bergaya di depan Nissa. Siapa tahu wanita itu mau kembali sama aku. Nanti, saat Nissa kembali dalam pelukanku. Wanita bodoh ini sudah kupastikan akan ku tendang!"
Ucap Arya dalam hati, saking asyiknya berkhayal dia sampai tidak mendengar Pertayaan dari Indri. Hingga sebuah tangan mendarat lembut di bajunya.
"Ar, Indri nanya tuh! Kamu kok malah bengong aja?"
"Eh, iya Ma. Maaf! Kamu ngomong apa tadi, Sayang?"
"Aku bilang, kita siapkan saja semua hari buat lusa. Gimana?"
"Tapi, kamu kan belum kasih tahu Mama Papa kamu, In!"
"Gampang itu Mas, kalau Mama sudah pasti setuju. Dan Papa, biar jadi urusan Mama saja."
"Oke, Mau belanja dimana?"
"Ke mall xxx aja gimana? Disana banyak lho barang-barang buat hantaran yang bagus-bagus."
"Kalau ke pasar aja gimana, In? Uangku nggak akan cukup kalau di sana." tutur Arya.
"Berapa nomer rekening kamu, Mas?"
"Untuk apa kamu minta nomer rekening aku, In?"
"Ya buat kirim uang lah, Mas! Masak iya kirim parcel?" Indri terkekeh, kemudian disusul oleh Arya dan Mama Amel.
"Jangan gitu deh, In! Aku beneran nggak enak ini sama kamu! Kita ke pasar aja ya!"
"Sudah deh Mas, nggak usah banyak protes. Tadi aku sudah bilang kan, kalau sebentar lagi kita bakal jadi satu keluarga. Apa yang aku punya nantinya juga bakal jadi milik kamu."
"Tapi, ini beneran nggak papa, In?"
"Iya, nggak masalah Mas. Aku ikhlas." jawab Indri sambil tersenyum. Akhirnya Arya memberikan nomer rekeningnya pada Indri.
"Sudah akun transfer ya, Mas! Coba cek, aku transfer 35 juta ke rekening kamu!"
__ADS_1
...☆࿐ཽ༵༆༒ 𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒓𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈༒༆࿐ཽ༵☆...