
Sementara itu, Arya yang sedang mencari angin segar, sedang nongkrong di cafe yang ada ditengah kota. Lelaki itu berharap mendapat ide untuk melanjutkan hidup ke depannya.
Satu gelas es cappucino sudah dia nikmati setengahnya. Sisa setengah lagi kemudian akan habis. Tapi lelaki itu belum juga menemukan ide yang sekiranya bisa membuat masa depannya cerah. Tangannya terus mengaduk hingga matanya memicing saat melihat seseorang yang sangat dia kenali.
"Indri.... "
Yah, wanita itu datang seorang diri dan duduk di salah satu kursi yang menghadap keluar. Jadi dia tidak bisa melihat Arya.
"Indri? sedang apa dia disini? Ah, tentu saja untuk minum, kenapa aku jadi bodoh sekali. Tapi, aku dan dia kan belum resmi bercerai,tapi gayanya seperti wanita lajang saja. Kesana kemari tebar kecantikan. Aaah, sepertinya tiba-tiba aku punya ide."
Arya segera menghabiskan sisa minuman dalam gelasnya kemudian membayar harga minuman itu. Setelah itu, Arya segera menghampiri Indri yang baru saja selesai memesan sesuatu pada pelayan.
"Sedang apa kamu disini? Apa kamu lupa jika kamu adalah seorang wanita bersuami? Tapi kenapa lagakmu seperti wanita lajang saja?"
Suara itu sontak membuat Indri mendongakkan kepalanya ke atas menatap Arya.
Mata Indri terbelalak saat melihat Arya yang berdiri di depannya. Tapi sedetik kemudian, Indri mampu merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja.
"Oh, kamu... ada apa kamu datang ke mejaku?"
"Kenapa kamu malah balik bertanya? Kan aku yang baru saja bertanya padamu! Sedang apa kamu disini? Kenapa lagakmu seperti wanita lajang saja?"
__ADS_1
Indri menatap Arya sinis, lalu ia menjawab, "Apa urusannya denganmu? Mau apa dan sedang apa aku disini itu bukan urusanmu."
Greeep...
Arya memegang tangan Indri seketika. Wanita itu terkejut dan berusaha melepaskan pegangan tangan Arya yang lumayan erat.
"Kamu itu masih istriku, In! Kamu harusnya tidak lupa dengan hal itu!" Arya mendesis sambil menatap wajah manis di hadapannya.
"Kamu tidak lupa kan, kalau kamu juga sudah menandatangani surat pernyataan bahwa kamu sudah menceraikan aku? Jadi aku bebas mau apa dan kemanapun sesuai keinginanku. Lagipula aku memang masih lajang kan? Dan akupun masih perawan karena kamu belum menyentuhku sedikitpun.
Tapi aku sangat bersyukur, karena predikat ku jadi janda perawan tingting, hahaha.... "
Arya mengambil posisi duduk di sebelah Indri. Tapi wanita itu langsung berdiri menjauh dan pindah duduk di seberang Arya. Tangan pria itu terkepal kuat tapi tetap niat sembunyikan di bawah meja hingga Indri tidak bisa melihatnya.
"Kenapa kamu pindah? Kamu pikir aku ini najis?"
"Yups, tepat sekali. Kamu ini memang najis, najis besar yang harus segera dihindari. Dan ketika tidak sengaja bersentuhan harus segera dicuci dengan tanah tujuh kali lalu harus dibasuh lagi dengan air. Sudah, tidak udah basa basi. Kau tidak punya banyak waktu dan harus segera menemui temanku."
"Teman? Teman siapa? Wanita apa laki-laki?"
"Mau wanita, atau mau laki-laki itu tidak ada urusannya denganmu. Sudah, cepat katakan apa tujuan kamu datang ke mejaku? Bukan nya kamu selalu mengatakan aku pembawa sial? Lalu untuk apa kamu dekat-dekat denganku! Sana, kamu pergi jauh-jauh."
__ADS_1
Arya tampak menghembuskan nafasnya. Ia pun mulai berkata... "Indri, maafkan aku... "
Suasana mendadak jadi hening.
Hampir satu menit lamanya Indri menatap Arya. Ia melihat ke dalam manik mata pria itu, dan mencari kesungguhan di dalamnya. Tapi dia tidak menemukan itu. Indri menggelengkan kepalanya. Ia mulai sadar jika ini hanya trik yang digunakan oleh Arya saja.
"Yah... aku sudah memaafkan mu."
Seketika wajah Arya berubah sumringah. "Benarkah? Kalau begitu kamu.... "
"Hanya memaafkan saja. Bukan untuk kembali bersama."
"Tapi kamu sudah memaafkan aku," ucap Arya.
"Apa ada sebuah keharusan, jika sudah memaafkan harus kembali bersama? Jika seperti itu tidak akan ada rumah tangga yang hancur karena sebuah perceraian. Mereka akan kembali dengan mudahnya karena sudah saling memaafkan."
"In, please. Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi lagi kesalahanku. Kita mulai lagi dari awal ya, dari nol."
"Kamu pikir aku POM Bensin?" jawab Indri. "Tidak Ar, hidup ku terlalu berharga untuk kembali memulai semuanya dari awal bersamamu. Semua hanya buang-buang waktu saja. Kalau di ingat-ingat lagi, sungguh sayang. Kita menikah tidak sampai satu bulan. Bahkan masih hitungan hari lhooo, tapi kondisinya sudah seperti ini. Jujur saja, mengenalmu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Kamu dan Mamamu sungguh pandai bersandiwara."
#Maaf... part pendek ya.... si bocil lagi wel... wel... kena demam bapil. 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1