
"Stop membandingkan, Mas! Aku dan kamu itu sangat jauh berbeda!"
"Ya... aku tahu itu! Kita memang sangat jauh berbeda! Aku masih terlalu waras dan otakku masih berfungsi! Tidak seperti kamu!" ucap Rendra telak.
Arya mendengus mendengar ucapan demi ucapan Rendra yang membuatnya kesal.
"Gimana Ma, Ar? Jangan terlalu banyak berpikir, jika kalian berpikir untuk merayu Indri dan melanjutkan rencana gila kalian, lebih baik hentikan saja karena semua itu percuma!"
"Udahlah, Ar. Setuju saja. Mama sudah capek hidup disini. Mama nggak tahan, Ar! Baru juga sehari disini tapi Mama sudah disiksa sampai pingsan."
Akhirnya, Mama Amel menyerah. Bayangan saat dia dijadikan bulan-bulanan oleh penghuni senior kembali melintas hingga wanita paruh baya itu bergidik ngeri.
"Tapi, Ma!" ucap Arya berusaha protes pada Mamanya.
"Nggak ada kata tapi, Ar! Kamu bisa mencari lagi perempuan yang lebih segalanya daripada Indri. Untuk apa kamu mempertahankan istri nggak berguna seperti Indri. Dia hanya membawa sial untuk keluarga kita." seru Mama Amel.
Sepasang suami istri yang ada dihadapan mereka hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Harus dengan cara apa lagi Mama nya itu bisa berubah. Sedangkan dengan adanya kejadian ini saja tidak membuat mereka jera.
"Terus surat kuasa dan perjanjiannya mana, Ren?" tanya Mama Amel.
"Ya belum dibuat, Ma. Kan harus tulisan tangan Arya sendiri, jadi dia tidak bisa berkelit suatu saat nanti. Ini, tadi Rendra sudah belikan materai nya." ucap Rendra sambil mengeluarkan materai dari saku bajunya. Lalu dia menoleh pada polisi yang berjaga di sana.
"Pak, bisa pinjam bolpoin dan minta satu lembar kertas kosong?" tanya Rendra.
Polisi itu mengangguk lalu mengambilkan apa yang diminta oleh Rendra tadi. Hingga tak lama kemudian polisi itu kembali sambil membawa dia benda yang diminta oleh Rendra.
__ADS_1
Rendra segera menyerahkan dia benda itu pada Arya. Namun saat kedua benda itu sudah ada di depan Arya, lelaki itu tidak segera menuliskan syarat yang diminta oleh Papa Nando. Nampak Arya yang masih ragu untuk melepaskan Indri.
"Sudahlah, Ar! Cepat kamu tulis syarat yang mereka minta. Apa susahnya sih? Nanti kita bisa cari lagi setelah keluar dari sini. Buruan kamu tulis, biar nanti Rendra bisa segera menyerahkan pada si tua bangka itu dan kita bisa bebas hari ini juga. Mama sudah tidak tahan, Ar!" oceh Mama Amel.
Arya menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian dia segera menulis poin-poin penting yang diminta oleh keluarga Indri.
Setelah isi surat kuasa itu dibaca dan disaksikan oleh petugas lapas, Rendra segera menempelkan materai pecahan sepuluh ribu pada bagian bawah. Kemudian Rendra meminta Arya untuk menandatangani nya.
"Sudah." ucap Arya sambil mengulurkan kertas itu pada Rendra. "Sudah kan? Sekarang suruh mereka segera kesini untuk mencabut laporannya!"
"Kamu lupa? Semua ini belum lengkap, Ar! Tadi kan aku sudah katakan kalau mereka juga minta video permintaan maaf dan juga klarifikasi kamu dan Mama. Bukan apa-apa ya, tapi kalian kan memang sudah mencemarkan nama baik mereka dengan cerita bohong yang kalian buat." jelas Rendra.
Mama Amel terperangah saat mendengar ucapan Rendra. Sesaat Mama Amel dan Arya saling berpandangan, kemudian masing-masing menelan salivanya dengan susah payah.
"Mereka itu cuma mempermainkan kita dan kamu malah mendukung mereka, Ren?" tanya Mama Amel.
"Mama salah paham, Rendra tidak mendukung siapapun. Catat ya Ma, siapapun! Rendra hanya menyampaikan pesan dan syarat dari mereka. Tinggal satu langkah lagi Mama dan Arya akan bebas. Jika kalian tidak mengerjakan syarat kedua, artinya kalian lebih betah tinggal di dalam penjara daripada di luar sana. Asal kalian tahu, kasus KDRT itu hukumannya lumayan lama. Kamu apa tidak malu, sebagai laki-laki kamu akan mendapat cap sebagai pelaku kejahatan KDRT. Belum lagi hukuman yang akan kalian terima dari napi lain yang ada di dalam lapas sana. Tidak usah ku jelaskan, kalian pasti paham apa maksud ku?"
Ya, mereka berdua memang mengalami bagaimana rasanya di bully dan dihajar oleh para napi yang lebih senior. Oleh karena itu wajah Arya terlihat babak belur. Bagi mereka penghuni lapas, kasus yang paling memalukan dan paling rendahan adalah kasus KDRT dan pencabulan.
"Ya sudah, Ar! Iya ingin ajalah biar kita bisa cepat keluar dari tempat ini. Mama sudah nggak betah, Ar! Mama pengen segera pulang terus tidur di kamar yang nyaman. Bukan di tempat seperti ini, emangnya kamu masih betah tinggal di tempat terkutuk seperti ini? Kalau Mama sih ogah,Ar!"
Arya mengangguk. Dengan disaksikan petugas lapas mereka membuat video klarifikasi dari video yang mereka buat tempo hari. Dan mereka menyatakan jika apa yang mereka katakan dalam video itu bukanlah sebuah fakta melainkan bualan mereka untuk menarik simpati netizen dan menjatuhkan nama baik keluarga Indri.
Tidak lama kemudian video berdurasi sekitar empat menit itu jadi. Namun hasilnya sudah lumayan bagus. Rendra dan Vina segera pamit karena mereka harus segera ke rumah keluarga Indri.
__ADS_1
"Katakan pada mereka, hari ini juga segera kesini untuk mencabut laporan mereka dan segera membebaskan kami." titah Mama Amel.
"Hmmm" Rendra hanya berdehem.
Rendra dan Vina segera melangkah keluar dari kantor polisi dan langsung menuju ke rumah Indri.
Setelah beberapa lama mereka membelah jalanan dengan motor matic milik mereka, dan sedikit terjebak macet akhirnya mereka sampai juga di halaman rumah Indri.
"Mohon maaf, jika kedatangan kami mengganggu Om. Kami datang kesini hanya ingin menyerahkan syarat-syarat yang Om minta untuk membebaskan Mama dan juga Arya." ucap Rendra setelah dia duduk di ruang tamu. Namun kali ini hanya Papa Nando yang menemui mereka karena Indri dan Mama Sofie sedang pergi.
"Baguslah, jika mereka mau menuruti syarat yang kami minta." ucap Papa Nando.
"Tapi saya tidak akan membebaskan mereka saat ini juga. Saya tidak akan ingkar janji. Saya pasti akan mencabut laporan itu. Tapi saya akan membiarkan mereka menginap disana barang satu atau dua minggu. Setidaknya biar menjadi efek jera bagi mereka. Agar mereka bisa berpikir lebih dahulu sebelum bertindak. Biar mereka juga paham jika apa yang mereka inginkan harus didapatkan dengan cara yang benar. Hidup ini keras, apa yang mereka lakukan pasti ada konsekuensi di belakangnya." ucap Papa Nando dengan nada yang sangat tegas.
"Iya, Om. Saya paham, dan sebagai perwakilan dari keluarga Arya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Om."
"Iya, lupakan saja."
Tak selang berapa lama, Rendra dan Vina keluar dari rumah Indri.
"Sudah siap?" tanya Rendra pada Vina saat dia sudah duduk di jok bagian depan.
"Sudah, Mas. Ayo!"
Sedetik kemudian terdengar deru suara mesin motor. Hingga tak lama kemudian kendaraan roda dua itu bergerak perlahan keluar dari halaman rumah dan melewati pintu gerbang yang menjulang tinggi. Setelah itu, Rendra menambah laju kendaraannya. Di sepanjang jalan, sepasang suami istri itu membicarakan Mama Amel dan Arya yang tingkahnya di luar nalar.
__ADS_1