Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Datang Berkunjung


__ADS_3

Mohon maaf, untuk bab kemaren banyak typo bertebaran dan sudah di revisi. 🙏🙏🙏


...******...


Keesokan harinya, Rendra dan Vina sudah siap untuk kembali datang ke kantor polisi tempat Mamanya dan Arya ditahan. Bahkan, Vina sampai memasak makanan untuk mereka. Meski tidak mewah, hanya masakan rumah sederhana saja. Namun, Rendra sangat berharap jika dua orang itu akan senang dan menikmati masakan istrinya itu.


"Sudah siap sayang?" tanya Rendra.


"Sudah, Mas. Yuk kita berangkat!"


Dua puluh menit lamanya Rendra dan Vina membelah jalanan dengan mengendarai motor mereka hingga akhirnya sampai di parkiran kantor polisi. Mereka membuat laporan lebih dahulu sebelum akhirnya diizinkan masuk.


Tampak Mama Amel dan Arya yang berjalan mendekat ke arah Rendra dan juga Vina. Ma Amel tampak berantakan, sangat berbeda jauh dengan tampilannya di rumah yang selalu heboh. Tak jauh berbeda, dengan Arya. Matanya tampak seperti mata panda. Baru juga sehari mereka ditahan, tapi kondisi mereka tampak memprihatinkan.


"Ma, gimana kondisi Mama? Sehat?" tanya Vina sambil mencium tangan Mama mertuanya itu. Sedangkan makanan yang ia bawa dalam rantang tadi dia letakkan di atas kursi yang ada di sampingnya.


"Menurutmu? Apa iya Mama akan baik-baik saja saat menginap di tempat seperti ini?"


Seperti biasa, Mama Amel pasti akan selalu ketus jika bicara dengan Vina. Vina menghela nafasnya, meski sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, tetapi masih saja terasa sesak. Bahkan petugas pun sampai menggelengkan kepalanya melihat sikap Mama Amel.


"Mama ini ya, padahal sudah dikasih teguran dengan adanya masalah seperti ini. Tapi kenapa, Mama masih saja bersikap seperti itu? Mulut Mama itu nggak pernah bisa di rem!" ujar Rendra. Ia merasa kasihan pada istrinya karena tidak pernah benar di mata Mamanya.


"Udah deh Ren, kalau kamu datang ke sini cuma mau ceramah, mending kamu pulang sana!" ketus Mama Amel.


"Oh, ya sudah kalau begitu, Ma. Padahal kami datang kesini ingin menyampaikan pesan dari Papa nya Indri. Vin, seperti nya Mama betah tinggal disini. Kita pulang aja yuk!"


Baru saja Rendra dan Vina berdiri, namun Mama Amel segera mencegah. Berbeda dengan Arya yang sedari tadi hanya diam saja.

__ADS_1


"Ehm, tunggu Ren! Apa maksudmu kita bisa bebas dari sini?" tanya Mama Amel.


"Kayaknya Mama lebih senang disini. Buat bersikap baik sama Vina saja Mama nggak bisa. Padahal Vina juga yang sudah membantu Arya dan Mama selama ini. Tapi Mama nggak pernah berterima kasih."


"Jangan gitu ya, Ren. Iya... Ma minta maaf. Arya juga, iya kan Ar?"


"Lha... kan Mama yang dari tadi ngoceh, kenapa aku juga harus minta maaf?" protes Arya.


Mama Amel menyikut lengan Arya lalu mengedipkan matanya hingga akhirnya Arya pun mengangguk.


"Iya Mas, tolong kasih tahu apa syaratnya kalau mau bebas."


"Mereka minta baik kamu ataupun Mama membuat video permintaan maaf, lalu menandatangani surat perjanjian tidak akan mengganggu Indri dan keluarganya lagi."


"Lha, bagaimana tidak mengganggu? Indri itu istriku!"


Belum apa-apa tapi Arya sudah sewot mendengar syarat yang diajukan.


"Apa-apaan ini? Aku nggak terima dengan syarat yang mereka ajukan!" ucap Arya geram. Dia berdiri sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.


"Terserah! Itu syarat dari mereka. Kamu mau terima atau tidak, itu terserah kamu mau memilih yang mana. Aku hanya menyampaikan saja. Itupun jika kalian ingin bebas. Kalau nggak ya, mendekam aja di tahanan entah berapa lama." ucap Rendra dengan nada yang sangat tenang dan santai.


"Ya nggak bisa gitu juga Mas! Orang tua mana yang maj memisahkan dan juga menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri? Memang dasar mertua durjana!" hardik Arya yang membuat Rendra geleng-geleng kepala untuk kesekian kalinya.


"Ar, apa sampai sekarang pikiran kamu itu belum terbuka juga? Atau jangan-jangan kepala kamu itu nggak isinya? Kamu sendiri lho yang menghancurkan rumah tangga kamu! Keluarga Indri itu sudah sangat berbaik hati membuka diri menerima kamu. Coba bayangkan, kamu ini dari keluarga sederhana! Kamu itu siapa jika dibandingkan dengan Indri? Nggak ada apa-apa nya, Ar! Sudah bagus mereka bisa menerima kamu. Jangankan yang kaya raya seperti keluarga Indri. Yang sederajat saja masih ada yang tidak di terima. Kamu ini bukannya bersyukur sudah bisa mendapatkan Indri yang sangat mencintai kamu dan mau menerima apa adanya kamu, tapi kamu malah bersikap keterlaluan seperti ini."


"Harusnya kamu bisa buktikan jika kamu lelaki yang bertanggung jawab dan bisa membahagiakan Indri. Bukannya malah menyiksa istrimu seperti itu. Aku saja merasa tidak tahan saat melihat videonya. Sampai hati kamu main tangan sama istri kamu sendiri!"

__ADS_1


Ucap Rendra panjang lebar meski ia sangsi apa yang dia ucapkan bisa diterima oleh adiknya. Terbukti dengan perubahan ekspreai pada wajah Arya yang terlihat tidak suka dengan apa yang Rendra utarakan tadi.


Terdengar helaan nafas yang berat dari arah Rendra. Kemudian lelaki itu berpaling menatao pada Mamanya.


"Ma, Rendra benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin sebagai sesama perempuan Mama bisa berbuat seperti itu. Coba bayangkan jika semua itu di alami oleh putri Mama. Andai Rendra yang jadi orang tua Indri, Rendra tidak akan pernah melepaskan kalian berdua sebelum kalian mendapatkan hukuman yang paling berat!"


BRAAAAKKK


Tiba-tiba saja tangan Arya sudah mencengkeram kerahasiaan baju Rendra. aja menariknya hingga Rendra berdiri dari tempat duduknya.


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Hah?"


"Lepas! Atau kubiarkan kalian mendekam disini!"


Akhirnya Arya melepaskan cengkeraman tangannya kemudian kembali duduk.


"Ma, Ar! Cepat berikan keputusan kalian! Terima atau tidak dengan syarat yang diajukan keluarga Indri? Besok Rendra masuk kerja. Tidak akan ada waktu untuk mengurus masalah yang kalian hadapi saat ini!"


"Ren, apa nggak bisa dibicarakan lagi?" ucap Mama Amel.


"Iya, benar kata Mama! Apa nggak ada cara lain selain menghinakan diri seperti itu?"


Kali ini Arya bersuara. Karena dengan mengakui tidak bisa menafkahi Indri lahir dan batin itu sudah membuat harga dirinya tercabik-cabik.


"Ar! Dengan kamu melakukan kekerasan fisik pada istrimu itu saja sudah membuat kamu kehilangan harga diri sebagai seorang lelaki! Coba kamu tanya sama Vina. Bertahun-tahun hidup denganku apa pernah aku melakukan kekerasan? Bahkan meninggikan suara saja tidak pernah, Ar! Aku tidak tega!"


"Stop membandingkan, Mas! Aku dan kamu itu sangat jauh berbeda!"

__ADS_1


"Ya... aku tahu itu! Kita memang sangat jauh berbeda! Aku masih terlalu waras dan otakku masih berfungsi! Tidak seperti kamu!" ucap Rendra telak.


Arya mendengus mendengar ucapan demi ucapan Rendra yang membuatnya kesal.


__ADS_2