
Marvel masih saja sebal ketika mengingat perkataan Indri tadi. Bahkan ia sampai memukul stir mobil untuk meluapkan rasa kesalnya itu.
"Gak habis pikir aku sama si Indri ini! Kenapa gitu dia jadi bodoh cuma gara-gara cinta? Buat apa coba dia sekolah tinggi-tinggi dan menjabat jadi manager kalau logikanya tidak dia pakai. Mana bebal lagi kalau diingatkan. Hah, dari wajahnya saja sudah terlihat kalau laki-laki itu bukan orang yang baik."
Marvel terus saja menggerutu selama salam perjalanan hingga dia tidak sadar jika sudah sampai di cafe tempat dia janjian dengan Nissa.
Braaak
Marvel menutup pintu mobil cukup keras karena masih diselimuti emosi. Namun rasa kesal itu mendadak hilang saat dia berjalan masuk ke cafe dan melihat Nissa sudah ada di sana sambil tersenyum manis.
"Hai Nis, maaf ya nunggu lama," ucap Marvel.
Nissa melihat jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. "Iya nih, aku udah nungguin kamu dari dua puluh menit yang lalu. Kamu harus tanggung jawab ya! Kamu harus traktir aku makan apa aja yang aku mau siang ini!" ucap Nissa.
Marvel tergelak dan memamerkan gigi putih juga lesung pipinya, membuat dua gadis yang ada di seberang meja mereka menatap penuh minat pada Marvel.
Nissa yang melihat tatapan dua orang gadis itu segera menyenggol lengan Marvel.
"Ada apa?" tanya Marvel sambil mengernyit tak mengerti.
"Gak usah sok tebar pesona ya disini. Lihat, dua gadis itu sampai terkesima melihatmu tertawa." ucap Nissa dengan wajah masam.
Marvel menanggapi dengan senyuman. " Ciye ciyeee, ada yang cemburu nih kayaknya," ucap Marvel sambil memainkan alisnya pada Nissa yang saat ini sedang melotot.
"Hahay, aku dicemburuin sama seorang Nissa nih, hahahah," tawa Marvel semakin menggema.
"Iddih, ngadi-ngadi! Siapa juga yang cemburu?"
"Masak sih, kalau nggak cemburu kenapa muka ditekuk sampai lecek kayak gitu?" goda Marvel.
"Iiih, oede banget anda Pak!"
"Biarin lah, toh faktanya memang aku ini menarik!" ucap Marvel kembali tersenyum menggoda Nissa. Nissa pun tergelak sambil memukul lengan Marvel. Orang yang tidak tahu akan mengira jika mereka adalah sepasang kekasih yang serasi.
"Eh, sudah pesan makan belum? Aku traktir deh, apapun yang kamu mau sebagai permintaan maaf karena aku sudah telat tadi." ucap Marvel.
"Beneran?" tanya Nissa tak percaya.
__ADS_1
Marvel mengangguk yakin dan membuat wanita itu tersenyum sumringah. Yah, begitulah wanita. Meskipun mereka sudah memilik segalanya, tetapi bila keinginannya dituruti oleh orang yang spesial dia pasti sangat senang.
"Sekarang kamu cerita sama aku, kenapa bisa telat? Gak biasanya lho kamu telat kalau udah janjian!" protes Nissa.
Marvel nampak ragu ketika ingin menceritakan apa yang tadi dia alami di kantor cabang.
"Kenapa? Apa ada hal yang serius?" tanya Nissa.
Marvel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum akhirnya menceritakan yang sejujurnya tentang pertemuannya dengan Indri dan Arya tadi.
"Aku tadi debat dulu sama Arya dan Indri."
"Apa? Arya?" tanya Nissa.
"Iya, mantan calon tunangan kamu itu!" jawab Marvel sambil mengangguk.
"Terus, kalian berantem?"
"Ya nggak sampai gitu juga kali Nis! Cuma Indri tadi sempat ngelarang aku buat dekat-dekat sama kamu. Itu gara-gara hasutan kutu kupret. Dia pikir aku bodoh kali ya, bisa di bohongi kayak si Indri. Pahamlah aku gerak gerik sama mimik wajahnya itu, dia itu emang bukan pria baik-baik."
Marvel menarik nafas panjang, "Indri itu sudah dewasa, harusnya dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Seandainya aku memaksanya untuk mendengarkanku, aku rasa itu tidak akan bisa karena dia itu gadis yang sedikit keras kepala."
"Jadiiii?" tanya Nissa.
"Ya biar saja dia tahu sendiri kebusukan Arya dan keluarganya, aku yakin pasti suatu saat akan terbongkar juga. Namanya juga bangkai, di simpan kayak apapun pasti baunya bakal kecium."
"Kalau mereka sampai menikah gimana? Yang kulihat, sepupu kamu itu tergila-gila sama Arya."
"Ya mau gimana lagi? Itu pilihannya. Resiko ditanggung sendiri bukan?"
"Yah, kamu benar. Yang penting kamu sudah berusaha memberitahu dia. Kalau dia tidak mau mendengarkan ya sudah, kamu bisa apa? Dia sudah dewasa dan harusnya bisa menentukan jalan hidupnya sendiri, mau yang baik atau yang buruk. Beruntung aku bisa cepat lepas dari Arya dan keluarganya. Kalau diingat-ingat suka serem sendiri sama sifatnya mama si Arya. Masa iya sebagai perempuan aku harus memberikan apa yang dia minta sebagai ganti balas jasa dia selama merawat anaknya. Orang tua macam apa itu? Menjadikan anak sebagai investasi. Beruntung aku bisa berpikir logis. Dan seandainya itu terjadi sama sepupu kamu dan dia menyetujuinya kamu bisa bayangkan apa yang bakal terjadi sama sepupu kamu. Pada kehidupan rumah tangga mereka kelak."
Marvel pun terdiam memikirkan apa yang Nissa katakan. Bayangan buruk terus bergentayangan memenuhi kepala lelaki itu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan. Di satu sisi aku tidak akan pernah tega jika sesuatu hal yang buruk harus terjadi pada Indri. Namun di sisi lain, Indri benar-benar keras kepala. Aku saja sampai meras heran, bagaimana bisa dianjadi sebodoh itu?" ucap Marvel sendu. Bagaimanapun Indri adalah sepupunya. Dia tidak akan pernah rela jika Indri benar-benar jatuh ke tangan Arya.
"Jangan lelah untuk mengingatkan Indri, kalau perlu kirim mata-mata untuk mencari bukti tentang Arya lalu berikan pada Indri biar dia percaya. Aku tidak punya bukti apapun, jadi maaf, aku tidak bisa membantu."
__ADS_1
"Aku lihat, Indri itu sebenarnya anak yang baik. Kasihan kalau sampai masuk ke perangkap Arya dan Mamanya." ucap Nissa lagi.
"Sebentar ya!" ucap Marvel. Kemudian dia nampak mengutak-atik layar ponselnya mencari kontak seseorang. Begitu menemukan kontak yang dia cari Marvel segera beranjak bangkit dari tempat duduknya lalu sedikit menjauh dari Nissa.
"Hallo Tante?"
"Ya, Vel? Ada apa?" tanya wanita di seberang sana.
"Tante sekarang dimana?"
"Ada di rumah, ada apa memangnya? Apa terjadi sesuatu?"
"Ah, nggak Tante, Marvel cuma pengen ketemu aja sama tante. Marvel langsung kebeumah aja ya, Tan. Ada yang mau Marvel bicarakan."
"Iya Vel! Datang langsung aja ya!"
Panggilan pun terputus, pria itu merasa sedikit lega karena telah menemukan cara untuk memisahkan Indri dan Arya.
Ya, yang barusan dihubungi Marvel adalah Mama Sofi, mamanya Indri. Marvel tahu betul tidak akan mungkin menasehati orang yang sedang jatuh cinta. Marvel bermaksud mengungkap kebusukan Arya lewat Mama Sofi.
Makan siangpun usai. Marvel dan Nissa berpisah di depan cafe karena arah yang mereka tuju berbeda. Jika Nissa melajukan mobilnya menuju kantor, Marvel akan berkunjung ke kediaman Mama Sofi.
Meski Marvel bertekad akan memberitahukan pada Mama Sofi, tapi dia tidak memberitahukan rencananya pada Nissa.
Puluhan menit berlalu, mobil yang dikendarai Marvel sudah masuk halaman yang begitu luas begitu gerbang yang menjulang tinggi terbuka.
Mama Sofi ternyata sudah menunggu di teras ketika Marvel sampai di rumah Indri. Marvel segera melangkah mendekati Mama sofi lalu mencium tangan mama Sofi. Dan Mama Sofi akhirnya mengajak Marvel untuk masuk ke dalam.
Ada apa Vel? Apa ada sesuatu yang terjadi sama Indri?" tanya Mama Sofi.
"Begini Tan, sebenarnya kurang pantas kalu saya membawa Tante dalam masalah ini. Tapi, apa boleh buat. Hanya ini yang Marvel bisa lakukan karena Indri terlalu mendengarkan apa yang temannya katakan."
Kening Mama Sofi berkerut belum paham arah pembicaraan Marvel. Namun yang ia tahu, ini soal Indri putrinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Indri, Vel?Apa dia baik-baik saja?" tanya Mama Sofi yang khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya.
"Apa Tante tahu kalau Indri sedang dekat dengan seseorang?"
__ADS_1