Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Whatever!


__ADS_3

Sejak tadi Arya nampak gelisah. Ia terus menduga-duga apa Indri jadi menemui Nissa. Meski dalam hati dia yakin jika apapun yang akan dikatakan Nissa Indri pasti tetap akan percaya padanya, tapi tidak menutup kemungkinan jika suatu hari Indri akan menaruh curiga padanya dan mempercayai ucapan Nissa. Apalagi Marvell adalah sepupunya. Pasti Marvel tidak akan diam melihat Indri masuk dalam perangkapnya.


"Hah! Kepalaku mendadak pusing!" ucap Arya sambil memijit pelipisnya yang terus berdenyut nyeri.


Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil mendongakan kepalanya ke atas menghadap langit-langit kantor. Hasan, rekan kerjanya yang satu ruangan heran melihat Arya yang hari ini tidak bersemangat.


"Kamu kenapa Ar? Kusut amat itu muka." tegur Hasan pada Arya. Arya pun menatap sekilas ke arah Hasan kemudian kembali lagi menatap pulpen yang dia pegang. Beruntungnya, pekerjaannya sudah dia selesaikan kemarin , jadi hari ini dia bisa sedikit bersantai.


"Gak apa-apa, cuma sedikit capek aja, San!" Arya tidak ingin memberi tahukan masalahnya pada Hasan, selain tidak ingin citranya jadi jelek, juga karena dia baru mengenal Hasan.


"Eh, Ar! Aku mau tanya dong!"


Kening Arya berkerut mendengar ucapan Hasan.


"Tanya apa, San?" tanya Arya.


"Kamu sama Bu Indri, benar ada hubungan khusus?"


"Em, gimana ya ngomongnya. Dibilang jadian itu, kita belum pernah ada kata jadian, tapi yah....seperti yang kamu lihat, kita berdua memang dekat."


"Terus artinya?"


"Hem, sebenarnya aku memang menaruh hati padanya. Siapa sih yang nggak suka lihat cewek udah cantik, pekerja keras, dan mapan juga. Pastilah sudah tentu jadi incaran cowok-cowok iya nggak? Eh, atau jangan-jangan kamu juga suka sama Indri?"


Hasan yang mendapatkan pertanyaan balik dari Arya jadi gelagapan.


"Eh, anu, itu, ya nggak gitu juga sih," jawab Hasan sambil menggaruk tengkuknya yang pasti tidak gatal.


Fix, Arya paham kalau sebenarnya Hasan juga mengagumi sosok Indri. Sebenarnya tidak masalah kalau hanya sekedar kagum saja, tapi kalau sudah berlebihan, Arya pasti tidak akan terima.


"Yah, asal jangan sampai berlebihan aja rasanya. Sebab, kamu kan tahu sendiri kalau Indri dekat sama aku, dan mungkin saja sebentar lagi kami akan punya hubungan khusus atau bahkan menikah."


"M-menikah?"


"Iya, kenapa? Heran? Sah-sah aja kan? Aku tampan, dia cantik! Dia mapan, akupun hampir sama."


Arya tergelak mendengar penuturannya sendiri. Sedangkan Hasan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah itu dia memutar bola mata malas, mual rasanya mendengar tingkat kepedean Arya.


"Ya udah deh, mending kita fokus kerja lagi! Bisa berabe kalau tiba-tiba bos datang dan melihat kita lagi santai-santai kayak begini." ucap Hasan.


"Halah, tenang aja, bos juga nggak setiap hari datang kesini kan?"


"Iya sih, tapi tetap aja gak enak kan, Ar! Kalau kamu mungkin bisa santai sebab kamu dekat sama Bu Indri. Nah kalau aku? Hah, mana bisa begitu?"


Lagi-lagi Arya tergelak mendengar ucapan Hasan. Padahal Hasan memang kesal, pasalnya dia yang sudah lama bekerja di sana malah Arya yang jauh lebih dekat dengan Indri. Wanita cantik yang sejak lama dia kagumi dalam diam.


...*****...


"Maaf, dengan Ibu siapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis perusahaan Nissa pada Indri.


Indri benar-benar mendatangi kantor Nissa. Tujuannya? Apalagi kalau bukan permasalahan antara dirinya dan Arya. Menurutnya Indri, gara-gara Nissa hubungannya dengan Marvel jadi memanas. Padahal sebelumnya, dia dan Marvel tidak pernah bersitegang seperti sekarang.


"Saya Indri, dan mau bertemu dengan Ibu Nissa."


"Oh, kebetulan Ibu Nissa memang ada di ruangannya. Apa Ibu sudah membuat janji untuk bertemu?"


"Saya belum membuat janji dengan beliau, tapi katakan saja padanya kalau Indri ingin bertemu, ada hal penting yang ingin saya katakan padanya."


Suara Indri terdengar dingin, doa juga memasang wajah datar. Sama sekali tak ada senyuman di sana.


"Baik, kalau begitu mohon di tunggu sebentar ya, akan saya sampaikan."

__ADS_1


Indri hanya mengangguk kemudian dia duduk di sofa yang tersedia di lobby kantor.


Nissa yang sedang memeriksa beberapa laporan menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi menari di atas keyboard ketika mendengar suara pintu ruangannya diketuk. Ia menolehkan pandangannya ke pintu.


"Masuk!" ucap Nissa.


Tidak lama pintu pun terbuka dan Indah muncul dari sana.


"Ada apa, Ndah?"


"Bu Nissa, maaf mengganggu waktunya. Dari bagian resepsionis baru saja menginfokan kalau ada yang ingin bertemu dengan Bu Nissa."


"Oh ya? Siapa?"


"Namanya Indri. Katanya ada hal penting yang ingin dia bahas dengan Ibu."


Mata Nissa sedikit membelalak sebentar, namun sedetik kemudian Nissa sanggup menguasai raut wajahnya dari rasa terkejut karena kedatangan Indri ke kantornya.


"Baik, katakan saja lima belas menit bisa masuk ke ruangan saya. Saya harus menyelesaikan terlebih dahulu dulu, karena ini tidak bisa di tunda."


"Baik Bu." ucap Indah.


Setelah Indah keluar, Nissa melanjutkan pekerjaannya. Terpaksa dia meminta Indri untuk menunggu sebentar. Sebab, ianyak mau pekerjaannya terbengkalai hanya karena sesuatu yang tak penting.


Nissa paham apa tujuan sebenarnya Indri sampai datang ke kantornya. Pasti seputar hubungannya dengan Arya. Oleh karena itu, Nissa sengaja membuat Indri menunggu terlebih dahulu.


"Mohon maaf Bu, sekitar lima belas menit lagi Ibu baru bisa masuk ke ruangan Bu Nissa. Sebab beliau ada sedikit pekerjaan yang tidak bisa di ganggu dan harus segera diselesaikan." ucap resepsionis yang tadi melayani Indri.


Indri menatap wajah resepsionis itu tajam, sang resepsionis yang bernama Kanaya itu meneguk ludahnya sendiri karena merasa horor ketika melihat tatapan Indri yang seolah akan menelannya bulat-bulat.


"Heh! Kamu pikir saya kesini ada banyak waktu gitu? Kenapa dia sok sekali sih? Aku hanya butuh waktu sebentar loh, gak menghargai tamu banget sih?" ketus Indri pada Kanaya.


"Maaf Bu, tapi memang instruksi Bu Nissa seperti itu, kalau memang Bu Indri merasa waktu yang diminta Bu Nissa untuk menunggu terlalu lama sebaiknya Bu Indri pulang saja dan membuat jadwal temu lebih dulu dengan Bu Nissa. Karena Bu Indri kesini belum membuat jadwal temu lebih dulu bukan?"


"Berani kamu ya! Dasar jongos kurang ajar! Cepat panggilkan Nissa atau saya obrak abrik kantor ini?"


Tentu saja suara Nissa mengundang para karyawan untuk melihatnya termasuk dua orang satpam yang sedang bertugas di depan lobby. Kedua satpam itupun langsung menghampiri Indri dan Kanaya.


"Maaf, ada apa ini ribut-ribut?" salah satu satpam itu bertanya. Kanaya pun menceritakan siapa Indri dan kenapa mereka bisa ribut.


"Maaf Bu, tapi jika bos kami memang sedang tidak bisa diganggu maka Ibupun harus mengerti. Jika Ibu sedang terburu-buru sebaiknya Ibu kembali lagi besok. Ibu bisa membuat janji temu dulu dengan beliau."


Baru saja Indri hendak menjawab ucapan satpam itu, sudah terdengar suara Nissa yang keluar dari lift.


"Apakah seorang manager keuangan dan katanya berpendidikan tinggi yang katanya levelnya jauh di atasku justru akhlak dan adabnya minus seperti ini?"


Suara Nissa menyita perhatian siapapun yang ada di sana, termasuk juga Indri yang langsung menoleh ke sumber asal suara. Dan terlihat Nissa yang tenang melangkah mendekat ke arah Indri. Wajahnya terlihat datar dan dan kedua matanya menatap tajam ke arah Indri


Suara heels makin nyaring terdengar saat Nissa semakin dekat dengan Indri. Kedua satpam itupun mengangguk hormat, begitupun dengan resepsionis yang ada di lobby.


"Kalian bisa kembali bekerja!" titah Nissa.


Ketiga orang yang merupakan bawahan Nissa segera kembali ke posisi mereka masing-masing. Pandangan Nissa sedari tadi terus tertuju pada Indri.


"Jangankan untuk meminta kamu menunggu lima belas menit, mengusir kamu saja itu adalah hal kecil buat saya!" ucap Nissa ketika langkahnya berhenti tepat di depan Indri.


Kedua telapak tangan Indri terkepal hingga pergelangan tangan wanita itu menyembul ketika dia mendengar ucapan-ucapan Nissa yang dia rasakan sebagai sebuah penghinaan.


"Duduk, dan segera katakan apa yang ingin kamu sampaikan!"


Dada Indri terlihat naik turun seiring dengan nafasnya yang memburu. Hal itu terlihat oleh sepasang iris hitam milik Nissa hingga membuat wanita itu tersenyum samar. Dengan langkah pasti Nissa berjalan menuju ke arah sofa yang diiringi tatapan mata Indri yang bergerak mengikuti langkah Nissa.

__ADS_1


Nampak Nissa yang duduk di sofa dengan sebelah kaki yang menopang di kaki lainnya dan punggung yang bersandar membuat dia terlihat seperti wanita yang berkelas dan elegan.


"Hei, aku tidak banyak waktu disini, jika kehadiran ku hanya untuk melihat kamu berdiri membisu, itu artinya aku hanya buang-buang waktu saja."


Indri menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian melangkah mendekat ke arah Nissa. Bukannya duduk, Indri tetap berdiri dan memasang wajah bengis tepat di hadapan Nissa.


Melihat Indri yang sudah berdiri di hadapannya, Indri menegakkan posisi duduknya.


"Kedatanganku kesini hanya ingin memperingatkan kamu agar jangan pernah lagi mencampuri urusanku dengan Arya, Nissa!"


Terdengar gemeretuk gigi dari arah Indri. pertanda gadis itu benar-benar merasa emosi dan geram yang benar-benar ada di puncak ubun-ubun.


"Siapa yang ikut campur? Aku tidak merasa melakukannya." jawab Nissa dengan nada tenang. Dan jawaban Nissa membuat Indri mencebik dan memutar bola matanya malas


"Apa maksudmu menyuruh Mas Marvell mengadu yang bukan ke Mamaku? Kamu cemburu melihat kedekatan ku dengan Mas Arya, iya? Sialan kamu Nissa!"


Karena Indri sudah tidak bisa lagi menahan emosi, tiba-tiba saja tangan wanita itu terulur dan berusaha meraih rambut Nissa. Dia ingin menjambak dan mengacak-acak rambut wanita yang ada dihadapannya itu.


Nissa yang sudah waspada dan antisipasi dengan gerakan Indri seketika mencekal pergelangan tangan Indri hingga serangan wanita itu gagal. Bukannya balas menyakiti ataupun marah, Nissa malah menurunkan tangan Indri pelan lalu melepaskan tangannya itu.


"Jangan pernah mencoba menyakitiku sedikit walau hanya sedikit saja. Sehelai saja rambutku rontok di tanganmu, maka yang kau hadapi bukan lagi Nissa yang seperti ini!"


Nissa berucap dengan lembut tapi mampu memancing emosi Indri.


"Coba katakan! Apa yang membuatmu datang kesini dengan emosi yang seperti ini? Apa yang aku lakukan padamu?" tanya Nissa.


"Jangan kamu pikir aku nggak tahu Nissa! Kamu menyuruh Mas Marvell untuk menemui Mamaku dan menceritakan bagaimana Mas Arya menurut versimu kan?" teriak Indri.


Kening Nissa berkerut dan alis yang saling bertaut.


"Kamu masih cinta sama Mas Arya kan? Kamu nggak rela kan dia sudah punya pengganti?" seru Indri.


Nissa pun bangkit dari duduknya. Kemudian wanita itu berdiri dan melangkah ke dekat tanaman hias yang ada di ujung ruangan. Sedangkan Indri masih berdiri di tempatnya dan mengawasi pergerakan Nissa.


Nissa terkekeh geli mendengar tuduhan Indri yang sangat tidak masuk akal menurutnya. Setelah tawanya mereda, Nissa kembali memutar hingga dua matanya bertatapan dengan Indri.


"Jujur aku malu jika harus berdebat dengan orang lain hanya karena lelaki itu, In! Jika aku masih mencintai Arya, aku pasti sudah memungutnya kembali dan bisa kupastikan Arya akan menerimaku dan membuang mu!


Apa kamu pikir dia sangat mencintaimu? Tentu saja tidak, kamu hanya pelarian untuknya! Namun pantang bagi seorang Nissa untuk memungut apa yang sudah dia buang. Mau dia dekat dengan siapapun aku benar-benar tidak peduli, In! Bahkan meski dia punya kekasih selusin pun itu bukan urusanku!" ucap Nissa dengan nada mengejek.


"Ya, katakan saja alasan mu menolak apa yang aku katakan, Nis! Keluarkan saja semua alasan yang ada di otakmu! Padahal faktanya kau memang tidak rela jika Arya sudah mendapatkan penggantimu. Kenapa? Kamu menyesal karena sudah mencampakkan Mas Arya?"


"Hahahhaha," Nissa tertawa. "Menyesal? Apa yang harus aku sesalkan, In? Tidak ada! Oh, ada sih! Aku hanya menyesal kenapa dulu aku habiskan waktu hanya untuk lelaki seperti itu! Justru aku sangat bersyukur bisa terlepas dari Arya dan keluarganya. Soal Marvel yang menemui orang tuamu, aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Bahkan Marvel tidak menceritakan apapun mengenai itu!" ucap Nissa penuh penekanan.


"Asal kamu tahu, In! Kecil bagi seorang Nissa untuk mencari pengganti yang lebih baik dari seorang Arya!" Nissa menjentikkan jarinya.


"Sombong sekali!!"


"Sombong di depan kalian itu hukumnya wajib! Cinta itu boleh, tapi please...pake ini ya!" ucap Nissa sambil mengetuk pelipisnya beberapa kali.


"Jangan terlalu percaya dengan ucapan lelaki yang penuh tipu-tipu!" imbuh Nissa.


"Sepertinya hatimu terlalu sakit ya karena rencana pertunangan kalian dibatalkan Mas Arya, sampai-sampai semua yang keluar dari bibirmu adalah ungkapan rasa sakit hatimu saja.


Nissa sampai geleng-geleng kepala mendengar ucapan Indri. Dia menghembuskan nafas dengan berat, bagaimana bisa Indri sekarang perempuan berpendidikan tinggi dan mempunyai jabatan yang tidak kaleng-kaleng, bisa sampai menutup mata tentang Arya. Hanya telinganya saja yang bekerja mendengar setiap tutur kata yang Hanay keluar dari mulut lemes Arya! Entah ilmu apa yang dipakai Arya hingga bisa menjerat wanita seperti Indri.


"Sepertinya penjelasan ku sudah cukup panjang, dan juga jelas. Kamu mau percaya atau tidak, itu terserah padamu. Dan satu lagi, aku harap ini untuk terakhir kalinya kamu datang hanya untuk membahas soal Arya! Maaf kata nih ya, nama Arya sudah aku buang jauh-jauh, jangankan masih mencintainya, namanya saja sudah tidak ada sedikitpun! Sudah ya, aku kembali dulu ke ruanganku, pekerjaanku sudah menumpuk!" ucap Nissa lalu segera beranjak dari tempatnya. Namun ucapan Indri membuatnya berhenti sejenak.


"Aku dan Mas Arya akan segera menikah! Jadi aku harap kamu jangan lagi mengganggunya! Harusnya kamu sadar diri karena sudah dicampakkan Mas Arya dan dia lebih memilihku!"


"Whatever! Jangankan dia menikah denganmu, bahkan jika dia matipun aku tidak peduli! Selamat ya kalau kalian benar-benar akan menikah! UPS, maksudku selamat memasuki gerbang penderitaan! Hahahha!" Nissa berjalan menjauhi Indri yang sudah mengepalkan tangannya erat.

__ADS_1


"Nissa sialan, akan aku pastikan kamu akan menagih darah ketika aku dan Mas Arya menikah!"


__ADS_2