
Lelaki berseragam security itu terkejut mendengar cerita dari Mama Amel yang sepenuhnya adalah kebohongan belaka.
"Astaghfirullah, kok jahat banget sih Bu? Setahu saya, Pak Rendra itu orangnya baik. Dia suka membantu temannya, dan juga sering mentraktir saya meski cuma segelas kopi saja." ucap security itu.
"Justru itu Pak! Sebenarnya putra saya itu anak yang sangat baik, hanya saja istrinya itu yang jahat. Sampai-sampai putra saya itu takut dan nurut sama dia. Saya kecewa dengan menantu saya yang sudah menyalah gunakan kebaikan anak saya." Mama Amel semakin terisak, bahkan beberapa kali terlihat menghapus jejak air matanya.
"Astaghfirullah, semoga masalahnya cepat selesai ya, Bu! Dan menantu Ibu segera mendapatkan hidayah!"
"Aamiin Pak!"
Tak berselang lama, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Rendra baru saja turun dari ojek online.
"Itu Pak Rendra datang Bu!" ucap security itu.
Pandangan Mama Amel langsung beralih pada Rendra yang baru masuk melewati gerbang.
"Iya bener, saya permisi dulu ya Pak. Mau nyamperin anak saya dulu." pamit Mama Amel.
"Silahkan, Bu!"
Mama Amel segera melangkah mendekat ke arah Rendra, hingga akhirnya Rendra melihat keberadaan Mama Amel. Rendra menghentikan langkahnya. Nampak kedua bola matanya melotot. Ia terkejut ketika melihat Mama Amel pagi-pagi sudah ada di kantornya.
"Mama ngapain kesini?" tanya Rendra.
Lelaki itu lalu mencekal pergelangan tangan Mama Amel lalu membawanya manjauh Ari area kantor. Rendra tahu pasti akan terjadi pertengkaran diantara mereka, dan Rendra tidak ingin kejadian itu menyita perhatian siapapun yang ada disana.
"Mama mau minta duit buat bayar arisan." ucap Mama Amel enteng. Bahkan telapak tangannya terbuka dan menengadah di depan Rendra.
Senyum sinis terbit di wajah Rendra. "Mama nggak malu minta uang sama anak yang sudah Mama sumpahin masa depannya? Mama nggak malu sama sekali? Atau Mama sudah lupa dengan kejadian itu?" tanya Rendra
Masih terbersit rasa kecewa pada Mama nya atas kejadian malam itu. Sungguh, hati Rendra sangat kecewa dan benar-benar terluka.
__ADS_1
"Kenapa Mama harus malu? Mama minta uang sama anak kandung Mama sendiri! Bukan ngemis sama orang lain!" ucap Mama Amel yang sebenarnya malu dan masih gengsi, namun demi mendapatkan uang untuk bayar arisan ia kesampingkan semua itu.
Rendra mengangkat pergelangan tangan kirinya lalu melihat jam yang ternyata sudah sangat mepet. Tak ada waktu lagi untuk sekedar berdebat dengan sang Mama yang ahli bersilat lidah.
Lelaki itu menghembuskan nafasnya dengan berat, namun pada akhirnya dia mengambil dompet yang ada di saku celananya. Mama Amel tersenyum samar melihatnya.
"Rendra hanya bisa kasih segini!"
Rendra mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan, ia letakkan di tangan sang Mama yang terbuka. Gegas Mama Amel menghitung uang yang Rendra berikan, sedangkan Rendra kembali menyimpan dompetnya.
"Loh, Ren! Biasanya kan kamu kasih lima ratus ribu buat bayar arisan! Segini mah kurang Ren!" ucap Mama Amel.
"Maaf Ma, Rendra cuma punya segitu, uangnya sudah buat bayar kontrakan Kemaren. Rendra masuk dulu, Ma!"
Tanpa menunggu respon sang Mama, Rendra langsung berbalik dan melangkah masuk area perkantoran. Dia mempercepat langkahnya agar tidak dihentikan lagi oleh Mamanya.
Mama Amel terus berteriak memanggil sang putra, namun Rendra sudah tidak menghiraukan panggilan Mama Amel. Jangan berhenti, menoleh saja tidak. Sang security yang ada di dalam pos hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah Rendra.
"Ini sekedar ongkos untuk ke rumah sakit, Bu! Semoga berguna, maaf hanya sedikit membantu saja."
"Lah, emang wajahku kayak pengemis apa ya?" batin Mama Amel sambil mwmbolak balik uang seratus ribu dari security itu. "Ah, peduli setan yang penting aku bisa bayar arisan." ucapnya dalam hati.
"Ya Allah Pak, terimakasih banyak. Uang ini sangat berarti buat saya. Semoga kebaikan yang Bapak lakukan menjadi ladang pahala di akhirat nanti."
"Aamiin, terima kasih doanya, Bu!"
...*****...
Arya baru saja sampai di kantor, dan ternyata kedatangannya bersamaan dengan Indri. Keduanya sama-sama masuk, hanya saja Arya menuju parkiran motor, sedangkan Indri masuk ke parkiran mobil.
Arya menunggu Indri di area parkir motor yang posisinya lebih dekat dengan lobby. Lelaki itu duduk di sana untuk menunggu wanita yang menjadi incarannya saat ini.
__ADS_1
Setalah lima menit menunggu, terlihat seorang wanita cantik dengan penampilan menarik.
"Hai, selamat pagi!" sapa Arya.
"Hai, Mas. Lagi nungguin siapa?" tanya Indri sambil menoleh ke samping kanan kiri juga ke belakang seperti mencari seseorang.
"Nungguin kamu lah cantik,au nungguin siapa lagi?"
Indri pun tertawa mendengar jawaban pria di depannya. Keduanya akhirnya melangkah beriringan masuk ke kantor.
"Mas Arya, aku minta nomor kontaknya Nissa dong!"
Langkah Arya terhenti seketika, jantungnya berdegup kencang seiring perasaan tak enak yang muncul dalam hatinya
"Apa Indri akan menyelidiki aku langsung Sam Nissa? Apa Indri sudah tak percaya padaku lagi? Apa sandiwara ku belum meyakinkan?" berbagai pertanyaan itu berkejaran dalam pikirannya.
"Penting banget soalnya Mas!" ucap Indri lagi. Lalu keduanya melanjutkan langkah mereka.
"Aduh, bukannya nggak mau ya In! Taoi aku sudah tidak menyimpan nomor kontaknya Nissa lagi. Memang untuk apa, sampai kamu meminta nomor kontak wanita itu?" tanya Arya penasaran.
"Iya, penting banget Mas! Ini soal hubungan kita. Ya udah gapapa kalau kamu udah nggak menyimpan nomor wanita ular itu. Itu malah lebih baik. Nanti saja aku samperin langsung ke kantornya. Deket ini juga. Ya sudah Mas, aku ke ruanganku dulu ya!"
Indri berbelok, ia melambaikan tangan kenarah Arya. Lelaki itu seperti ingin menghentikan langkah Indri, namun jantungnya yang berdebar kencang membuat ia hanya bisa terdiam.
"Aduh, bagaimana kalau Indri lebih percaya pada Nissa. Bisa gawat ini!" Arya menggerutu sendiri. Tangannya menggaruk kepala ya g sebenarnya tidak gatal. Bahkan Arya sampai meninju dinding yang ada disampingnya untuk meluapkan keresahannya.
"Nggak, itu nggak boleh terjadi. Indri nggak boleh menemui ataupun menghubungi Nissa. Bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkan Indri. Kalau tidak bisa mendapatkan biangnya paus, paling nggak harus bisa dapat anaknya paus," batin Arya.
Lelaki itu akhirnya berjalan menuju tempat kerjanya sebagai staf biasa.
^Happy reading^
__ADS_1