
"Bapak memanggil saya?" tanya Arya setelah dia masuk dan kembali menutup pintu dengan pelan dan hati-hati.
"Ya, duduklah." titah Pak Hartono. Tidak ada wajah ramah di wajahnya, seperti keramahan yang pernah dia tunjukkan pada Arya saat lelaki tersebut pertama masuk disana.
Arya melangkah mendekat, kemudian duduk di kursi hitam yang ada di depan meja kerja Pak Hartono.
"Ini surat pemecatan kamu. Perusahaan tidak mau menerima karyawan yang berurusan dengan hukum, dan ini gaji kamu selama satu minggu kemarin sebelum kamu berurusan dengan hukum."
Singkat, padat, dan jelas. Kalimat yang keluar dari kepala HRD tersebut membuat Arya terperangah tak percaya. Bagaimana mungkin, di hari pertama dia kembali bekerja setelah tersandung masalah kemarin, Arya harus menerima berita pemecatan dirinya.
"Loh, Pak. Salah saya apa?" tanya Arya. "Urusan hukum kemarin itu hanya salah paham saja, Pak. Buktinya, sekarang saya sudah bebas, kan?" ucap Arya berusaha membela diri.
"Kamu masih saja bertanya, kesalahan apa yang sudah kamu buat? Kamu itu bodoh atau gimana? Kamu nggak sadar, kalau wajah kamu itu sudah viral di mana-mana? Saya tekankan sekali, mohon Pak Arya ingat! Perusahaan tidak pernah mau berurusan dengan orang tengah pernah tersandung masalah hukum. Lagipula, pemilik perusahaan langsung yang meminta saya untuk memecat Pak Arya."
"Tapi, Pak.... "
"Tidak ada kata tapi, silahkan Anda keluar dari ruangan ini dan langsung pulang saja. Anda tidak perlu bekerja dan jangan lupa bereskan barang-barang Anda."
Arya mendesah, mau tidak mau dia mengambil dua amplop coklat yang ada di hadapan nya itu. Yang satu berisi surat pemecatan resminya, dan yang satu berisi gajinya selama satu minggu kemarin yang jumlahnya tidak seberapa itu. Arya meremas amplop yang berisi surat pemecatannya hingga membentuk bulatan. Setelah itu, Arya beranjak dari kursi lalu pergi tanpa pamitan ataupun sekedar basa basi. Arya melangkah keluar, lalu melemparkan asal surat pemecatannya itu.
"Sialan! Kenapa hidupku jadi sial seperti ini? Indri benar-benar perempuan pembawa sial!" ucap Arya sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Lelaki itu benar-benar merasa kesal, hingga dia meninju dinding yang ada di dekatnya.
#Kasian amat yaaak, itu dinding.... nggak retak kaaaan...... 🤣🤣🤣
Hancur......
Hancur semuanya.
Impian bisa hidup enak tanpa perlu bersusah payah, kini hancur berantakan. Yang dia dapatkan malah sebaliknya.
Sial, sial... dan sial.
Yang dia dapatkan hanyalah kesialan saja. Arya melangkah menjauh dari ruangan HRD.
__ADS_1
"Sudah semua kok, Mas. Tinggal melakukan pengecekan saja. Itupun cuma sedikit kok."
"Bagus, nggak salah aku kembali mempekerjakan kamu di perusahaan ini. Hasil kerjamu memang nggak bisa diragukan lagi. Sempurna."
Deg! !!!
Seketika langkah Arya terhenti saat dia mengenali suara yang berasal dari ruangan manager keuangan. Ruangan yang dulu ditempati oleh istrinya.
Arya yakin jika itu adalah suara Indri, istrinya. Yaa, lelaki itu masih menganggap jika Indri adalah istrinya, sebab dia belum rela jika harus melepaskan Indri. Meski menganggap Indri adalah pembawa sial, tapi kehadirannya bisa dia jadikan pelampiasan saat merasa kesal.
"Tidak mungkin pengganti Indri memiliki suara yang persis sama, itu pasti Indri dan suara lelaki itu Marvell." batin Arya.
Dan untuk lebih memastikan, lelaki itu berjalan mendekat ke arah ruangan tersebut. Kemudian sedikit membuka pintu yang tidak tertutup rapat. Dan terlihat, Indri yang sedang duduk di belakang meja kerjanya.
Tanpa mengetuk pintu, Arya langsung membuka pintu itu lebar-lebar, kemudian lelaki itu langsung masuk ke dalam ruangan indri. Dan kedatangan Arya yang tiba-tiba membuat Indri dan Marvell terkejut.
Langkah Arya langsung mendekat ke arah Indri, Arya tak peduli akan keberadaan Marvell di ruangan itu, bahkan melirik saja tidak. Toh, dia sudah di pecat dari perusahaan itu, jadi dia tak perlu lagi menaruh rasa hormat pada Marvell.
"Ayo pulang, In!" ucap Arya sambil mencengkeram pergelangan tangan Indri.
"Ayo kita pulang!! Kamu tidak lupa kan, siapa kamu? Aku suami mu, dan kamu istriku!" ucap Arya.
Ia kembali menarik kuat-kuat pergelangan tangan Indri hingga wanita itu sedikit terseret.
Marvell yang melihat perbuatan Arya segera menghadang langkah mantan karyawannya itu.
Kali ini, Marvell mencengkram kerah baju milik Arya. Kedua manik hitam legam itu saling menatap tajam. Wajah keduanya sama-sama saling menantang. Tak ada sedikitpun wajah takut diantara keduanya.
"Kamu tidak lupa bukan, dengan surat perjanjian yang sudah kamu buat dan kamu tanda tangani?" tanya Marvell sambil tersenyum sinis. Cekalan tangan Arya sedikit melonggar meski belum sepenuhnya melepaskan.
"Kamu sudah menceraikan Indri, dan kamu juga sudah berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupan Indri. Kamu tidak lupa kan, apa konsekuensi yang akan kamu terima jika kamu melanggar perjanjian itu? Sudah siap masuk penjara lagi?" tanya Marvell.
Seketika Arya menepis tangan Marvell.
__ADS_1
"Awas kalian! Setelah ini, akan kupastikan jika hidup kalian tidak akan pernah tenang!" ancam Arya, kemudian lelaki itu berlalu pergi.
"Kamu baik-baik saja kan, In?" tanya Marvell setelah memastikan jika Arya benar-benar sudah pergi.
"Nggak papa, Mas. Cuma sedikit sakit aja di pergelangan tangan." jawab Indri.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Kamu lanjutkan nanti saja pekerjaanmu setelah sakitnya hilang. Aku mau ke depan dulu, memastikan jika upil biawak itu sudah keluar dari kantor tanpa menimbulkan masalah."
"Iya, Mas."
Marvell pun melangkah keluar dari ruangan Indri dan menuju ke lantai bawah. Sesampainya di bawah, dia segera memberitahukan pada resepsionis dan juga security agar tidak membiarkan Arya bebas keluar masuk di kantor itu. Dan tentu saja, langsung di setujui oleh resepsionis dan juga security.
...******...
"Aaarrrgghhh... sialan! Nggak yang laki, nggak yang perempuan! Semua bikin aku kesal!An***g!!"
Arya terus saja mengumpat sepanjang perjalanan dia pulang, hal itu membuat pengendara lainnya merasa heran dengan tingkah Arya. Mereka berpikir jika Arya adalah orang yang sedang depresi, bahkan ada yang mengira jika Arya gila. Meskipun memang kenyataan nya seperti itu, apalagi ditambah dengan penampilan Arya yang terlihat berantakan.
Arya terus mengumpat dan mengeluarkan semua rasa kesal yang ada dalam hatinya. Hingga akhirnya dia melihat seseorang yang sangat dia kenali masuk ke dalam cafe.
"Nissa... " Arya sampai terperangah karena melihat Nissa yang kini terlihat makin cantik. Sudah lama dia tidak melihat wanita yang sebenarnya dia cintai itu. Dia terus saja memandangi Nissa hingga tubuhnya tak lagi terlihat, sampai suara klakson dari pengendara lainnya membuatnya melonjak kaget.
Akhirnya lelaki itu memutuskan menemui mantan kekasihnya tersebut. Karena sejatinya, dia sangat merindukan wanita itu.
#rindu dihajar Nissa kayaknya 😅😅
Arya segera memarkirkan kendaraan roda duanya di parkiran cafe yang tadi dimasuki oleh Nissa. Setelah itu, lelaki itu langsung masuk ke dalam cafe untuk mencari keberadaan Nissa. Ternyata, wanita itu duduk tak jauh dari tempat Arya berdiri dan sedang menikmati segelas minuman berwarna merah.
"Nissa.... "
Suara Arya membuat Nissa mendongak ke arah Arya. Matanya sedikit terbelalak karena terkejut melihat Arya yang tiba-tiba datang ke mejanya. Namun sedetik kemudian, wajah wanita cantik itu sudah berubah kembali datar tanpa ekspresi.
"Ada Apa?" tanya Nissa tanpa melihat Arya kembali. Ia kembali menikmati minuman yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Niss, aku mau minta maaf sama kamu. Aku rindu sama kamu. Please, kembali sama aku, Niss. Aku masih sangat mencintai kamu!"
...♡*♡∞:。.。 。.。:∞♡*♡...