
Setalah menghangatkan makanan yang ia masak, Mama Amel segera menata nya di atas meja.
"Ar, makanan sudah siap! Ayok keluar! Kita makan malam."
"Mama duluan aja, habis ini aku nyusul ke meja makan!"
"Jangan lama-lama ya! Mama tungguin!"
Tanpa menunggu jawaban dari Arya Mama Amel pun pergi ke meja makan dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Dulu saat anak-anaknya belum menikah, kursi itu pasti terisi penuh dan selalu lengkap. Kini hanya ada dirinya dan Arya saja.
Setelah sepuluh menit menunggu sambil memainkan ponselnya, akhirnya Arya datang. Arya mengambil posisi di sebelah Mama Amel. Dengan sigap Mama Amel mengambilkan nasi dan lauknya untuk Arya, anak kesayangannya.
"Ar, kamu besok jadi kan beli cincinnya? Biar besok kamu bisa lamar si Indri!"
"Jadi dong Ma, setelah Arya pikir benar juga kalau arya harus bergerak cepat. Takut keduluan sama si Hasan." Arya menjawab dengan kondisi mulut penuh.
"Hasan? Siapa itu?"
"Rekan kerja aku di kantor, Ma! Dia itu kemaren keceplosan bilang kalau suka sama Indri."
"Wah, kalau gitu kamu harus gerak cepat, Ar! Jangan sampai keduluan sama si Hasan itu!"
"Em, tapi kalau dipikir-pikir, nggak perlu khawatir juga sih, Ma!"
"Kok gitu?"
"Karena dia kalah tampan dari aku. Mukanya itu pas-pasan, jadi mana mungkin Indri tertarik sama dia!"
"Nah, itu dia! Itu dia kelemahan kamu Ar! Kamu terlalu meremehkan lawan. Ingat, meski muka dia pas-pasan, tapi kalau dia pandai merayu jelas kamu bakal kalah start. Wanita itu maunya yang pasti-pasti, bukan yang ulur-ulur waktu. Daripada kamu nyesel gara-gara keduluan si Hasan itu, lebih baik kamu cepat tembak Indri. Lamar dia di depan orang biar semua orang juga tahu kalau kamu calonnya di Indri."
Arya terdiam, dan ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham dengan ucapan Ibunya.
"Gimana, Ar?"
"Yah, Mama benar! Besok aku akan beli cincin terus pas makan siang aku akan lamar Indri. Tapi Mama janji, jangan minta yang aneh-aneh dulu sebelum aku dan Indri menikah. Setelah menikah baru deh Mama boleh minta sama dia, tapi tetep pakai sandiwara. Jangan terlalu kelihatan kalau kita memang mengincar hartanya."
"Beres Ar, kamu tenang saja. Mama pasti akan selalu mengingat pesan kamu ini."
Keduanya lalu melanjutkan makan malam mereka.
...*****...
Ddrrttt....
Ddrrttt....
Ddrrttt...
Ponsel Nissa berbunyi. Ia yang barus saja membersihan wajahnya segera mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Kedua sudut bibirnya mengembang saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Ya, hallo Vell, ada apa?" tanya Nissa setelah telepon tersambung.
"Nis, malam Minggu besok kamu ada acara nggak?"
Kening Nissa langsung mengerut karena tidak biasanya Marvel bertanya seperti itu.
"Em, nggak sih, paling cuma me time aja sama Mama dan Papa."
"Kalau aku ajak kamu nonton, boleh?"
"Nonton ke bioskop? Malam Minggu?"
"Iya Nis, mau nggak?"
Nissa tertawa, " Oh, jadi ceritanya kamu ngajak aku malam mingguan gitu?"
Marvell balas tertawa. "Bisa aja kamu Nis. Tapi memang iya juga sih, hehehehe. Gimana, kamu bisa kan?"
"Em, bisa kok. Kebetulan di bioskop ada film bagus yang bisa kita tonton."
"Oke! Apapun film yang akan kita tonton aku oke aja, Nis. Asal nontonnya sama kamu!"
"Bisa aja, jam berapa kira-kira, Vell?"
"Gimana kalau jam tujuh aja? Gimana, kamu bisa?"
"Bisa. Ya udah, sampai jumpa besok jam tujuh ya!"
"Oke, makasih ya Nis!"
"Sama-sama Vell!"
Setelah sambungan telepon di matikan, Marvel tak henti-hentinya tersenyum membuat heran Mamanya yang melihat tingkah aneh putranya.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Ini hari Jumat loh, gak lagi kesambet kan? Atau obat kamu habis?"
"Obat apaan sih, Ma? Ya kali aku gila makanya harus minum obat?" jawab Marvel membuat Mama Ratri terkikik.
__ADS_1
"Ya kali aja kan Nak, habisnya kamu dari tadi senyum-senyum sendiri, Mama kan jadi takut kamu ketempelan atau kalau nggak kerasukan setan gitu!"
"Ya nggak lah, aku tuh lagi seneng, Ma!"
"Oh ya? Boleh sing berbagi kebahagiaan sama Mama? Mama penasaran tahu nggak? Apa sih yang bikin anak Mama sampai senyum-senyum sendiri?" goda Mama Ratri.
"Kak Marvell itu lagi kasmaran tahu nggak Ma! Makanya senyum-senyum nggak jelas kayak gitu."
Tiba-tiba saja suara Erika, adik Marvell terdengar. Marvell pun melotot pada sang adik yang mendekati Mama Ratri.
"Iyakah? Kamu lagi jatuh cinta, Nak?"
"Apaan sih Ma, itu si Erika aja suka ngadi-ngadi. Nggak usah percaya, syirik kalau percaya sama dia!"
"Heleh, orang kasmaran itu kelihatan tau dari raut wajahnya. Beberapa hari ini aku lihat Kakak tuh suka melamun sambil senyum-senyum sendiri," ucap Erika.
"Dasar kamu anak kecil, tahu apa emangnya?" Marvell mencubit gemas pipi Erika yang chubby hingga adiknya itu berteriak dan kesal karena sang kakak memperlakukannya seperti anak kecil.
"Kakak ih, jangan gini dong, nanti pipi aku kayak bakpao gelambir!" ucap Erika sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya nggak di cubit pun itu pipi udah kayak bakpao! Kakak gemes tahu, pipi bisa mentul-mentul kayak gitu dikasik apa coba?"
Bu Ratri tertawa melihat tingkah kedua anaknya yang kadang akur, tapi kadang juga berantem.
"Udah ah, jangan pada ribut, udah waktunya makan malam. Sana kalian bersiap di meja makan, Mama mau panggil Papa kalian dulu!"
"Iya, Ma!"
Marvel dan Erika segara bersiap di meja makan. Setelah semua berkumpul mereka segara menyantap makanan yang terhidang di meja.
...*****...
Keesokan harinya, seperti yang sudah Arya rencanakan dengan sang Mama. Arya pergi ke pasar terdekat untuk membeli perhiasan yang akan dia gunakan untuk melamar Indri dadakan.
"Kalau saja bukan karena ada maksud dan tujuan khusus, gak bakal mau aku panas-panasan ke pasar kayak gini." Arya Terus saja menggerutu sepanjang perjalanan.
Sesampainya di toko perhiasan, Arya langsung disambut oleh pemilik toko. Dan ia pun langsung mengutarakan maksudnya.
"Ci, tolong carikan cincin satu gram saja ya, berapa harganya?"
"Ukuran jarinya berapa Mas?"
Arya diam, berpikir sejenak. Dia pun lupa jika ia tak tahu ukuran jari Indri. Ia kembali mengingat postur tubuh dan saat dia menggenggam jemari Indri. Tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan ukuran jari Indri meski hanya sekedar mengira-ngira.
"Mas?"
"Ehm, maaf Ci. Saya nggak tahu ukuran jarinya, Kalau saya tanya, jadinya kan nggak surprise lagi. Soalnya ini mau buat hadiah, kalau dilihat dari postur tubuhnya, Cici bisa mengira-ngira nggak?"
Kebetulan Arya punya foto Indri yang dia ambil dari galeri ponsel Mama Amel. Dan foto itupun tampak full body. Si pemilik toko pun memperhatikan dengan seksama dan mencoba mengira-ngira.
"Kalau postur tubuhnya segitu, kayaknya ukurannya yang ini deh, Mas! Atau gini aja, misalnya ukurannya salah bisa di tukar asal langsung hari ini juga sekalian bawa sama suratnya ya!"
Arya menimbang-nimbang ucapan si penjual, dan akhirnya dia mengiyakan karena kebetulan. model cincinnya cukup bagus dan simpel dengan satu mata di tengah. Hanya saja cincin itu tampak tipis karena ukurannya yang cuma 1 gram di tambah itu hanya mas muda saja.
"Ya udah Ci, saya ambil yang ini, harganya berapa?"
"Empat ratus ribu saja Mas, ini suratnya."
Arya segera membayar cincin yang dia beli. Tak lupa dia membeli kotak merah berbentuk love agar terlihat makin romantis.
Setelah mendapatkan apa yanh ia cari, Arya segera bergegas berangkat ke kantor karena waktu yang semakin mepet.
Sesampainya di kantor ternyata bersamaan dengan Indri yang juga baru datang.
"Mas Arya, tumben kok baru datang? Biasanya pagi udah datang?" Indri menyapa Arya dengan senyum manis di bibirnya.
"Iya, tadi habis beli sesuatu, emm In, nanti makan siang bareng ya, aku ada kejutan buat kamu!" langkah Indri terhenti, ia menatap Arya yang sejak tadi berjalan di sampingnya
dengan kening berkerut.
"Kejutan? Kejutan apa Mas?"
"Kalau di kasih tahu namanya buka kejutan lagi dong, In!"
"Yah, nggak asik ah, kan aku jadi penasaran!"
"Hem, pokoknya nanti saja. Yuk kita masuk, sudah jam kerja ini."
Indri mengangguk membenarkan ucapan Arya, keduanya lalu masuk lift dan turun di lantai yang sama tapi ruangan yang berbeda.
...*****...
"Weits, ceria benar Bro? Lagi bahagia kayaknya?" tanya Hasan.
"Jelas dong, lagi bahagia pake banget!" jawab Arya. "Sebab, aku mau ngelamar wanita pujaanku hatiku."
Entah kenapa tiba-tiba raut wajah Hasan nampak berubah. Ia yakin jika yang dimaksud Arya adalah Indri.
__ADS_1
"Maksud kamu, Indri?"
"Siapa lagi, kamu dan semua orang kan sudah tahu kalau selama ini aku dekat dengan Indri."
"Memangnya Indri sudah pasti mau gitu? Ya kalau diterima? Kalau ditolak gimana?"
Rahang Arya mengeras mendengar ucapan Hasan yang terkesan mengejeknya.
"Maksud kamu apa? Kamu doain supaya Indri nolak aku gitu? Memangnya kamu nggak lihat, kalau Indri sebenarnya juga suka dan cinta sama aku?"
"Kurasa itu hanya kepedean kamu yang terlalu tinggi saja, Ar! Indri kan memang baik sama semua orang!"
"Oh ya? Kamu lihat saja nanti. Akan kupastikan kalau Indri menerima lamaran aku dan kamu akan gigit jari."
Arya pun kembali ke mejanya dan mulai fokus untuk menyelesaikan tugasnya hari ini tanpa menoleh ke arah Hasan. Sementara itu, di hati Hasan seakan berdenyut nyeri saat tahu Indri akan dilamar orang lain.
...*****...
Jam istirahat pun tiba, Arya dengan semangat meninggalkan meja kerjanya. Dan tak lupa dianjuga membawa perhiasan yang ia beli di pasar tadi. Arya berhenti saat berada di depan ruangan Indri, gadis manis sepupu pemilik perusahaan.
Tidak menunggu lama, dua menit kemudian terlihat Indri yang keluar dari ruangannya.
"Lho, Mas Arya. Kamu nunggu daritadi disitu? Kenapa nggak masuk ruangan aja, Mas?"
"Gak apa-apa, In. Hanya sebentar saja kok. Lagian aku yakin kamu sebentar lagi juga keluar dan bakal nemuin aku." jawab Arya sambil terkekeh.
"Ya iyalah, secara Mas nungguinnya di depan ruangan aku. Ya pasti ketemu lah!" jawab Indri lalu tertawa bersama Arya.
"Ya udah, makan siang sekarang yuk!" ajak Arya.
"Mau makan siang dimana, Mas?"
"Di kantin aja kali ya, biar nggak terlalu jauh!" jawab Arya.
Indri mengaangguk setuju. Keduanya berjalan beriringan. Ketika akan masuk ke dalam lift Arya melihat Hasan yang menatap dirinya dan Indri. Bibirnya tersenyum puas saat melihat tatapan cemburu dari Hasan.
Setelah lift berada di lantai bawah dan pintunya terbuka, keduanya segera keluar bersamaan. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Indri menganggukkan kepalanya dan Indri pun membalasnya.
Sebenarnya Indri adalah orang yang baik, atasn yang ramah dan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap karyawannya. Namun sayang, dia terlalu bodoh dan naif untuk urusan hati dan perasaan.
"Emm, kita duduk di sini saja ya In!"
Arya memilih tempat duduk yang ada di dlama kantin dan ber AC. Karena kebetulan cuaca juga sedang panas-panasnya.
"Iya Mas! Ya udah pesen gih, mau makan apa?"
Setelah selesai memesan makanan Indri kembali menatap Arya.
"Kenapa ngliatin aku kayak gitu?" tanya Arya pada Indri yang duduk berhadapan dengannya.
"Kamu masih hutang satu penjelasan sama aku soal yang kamu bilang mau kasih kejutan. Ayo Mas, sekarang tunjukkan kejutannya, aku penasaran tahu nggak!"
Arya tertawa, "Ternyata kamu udah nggak sabar. Oke, baiklah. Sambil menunggu pesanan datang, aku akan mengatakan sesuatu sama kamu. Dan itu mengenai isi hati aku. Indri, mungkin menurutmu ini semua terlalu cepat,"
Arya menjeda kalimatnya, dia merogoh kantong celananya mengambil kotak perhiasan lalu membukanya di depan Indri.
"In, sebenarnya aku sudah suka sama kamu sejak pandangan pertama. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku takut jika nanti keduluan orang. Sejujurnya, aku suka kamu, aku sayang kamu, aku cinta sama kamu, In! Mau nggak kamu nikah sama aku? Aku janji bakal bahagiakan kamu dan menjadikan kamu wanita satu-satunya dalam hidup aku."
Wajah Indri langsung memerah, matanya melotot tidak percaya saat mendengar apa yang Arya ucapkan. Tiba-tiba saja otaknya ngeblank.
"In, kenapa diam saja? Apa kamu mau terima aku jadi suami kamu? Aku janji, akan meratukan kamu dalam dalam hati dan rumah kita nanti. Mungkin sekarang aku hanya karyawan biasa dengan gaji pas-pasan. Namun aku yakin, jika kita menikah nanti rejeki kita akan semakin banyak dan bertambah lancar. Jadi, please! Terima aku ya!"
Indri menutup mulut karena tidak menyangkal jika kejutan dari Arya adalah lamaran dadakan untuknya.
"Mas, Ini beneran kan? Kamu gak lagi nge prank aku kan?" tanya Indri.
Arya menganggukan kepalanya. " Aku serius, In!"
Arya berdiri lalu berjalan ke arah tempat duduk Indri. Arya menekuk satu kakinya hingga nampak berlutut di hadapan Indri. Tentu saja yang Arya lakukan menjadi pusat perhatian semua karyawan yang sedang makan di San termasuk Hasan.
"In, sekali lagi aku tanya, Mau kah kamu menikah denganku? Aku tulus cinta sama kamu, In!"
Indri menoleh dan melihat ke sekeliling. Lalu indri menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Iya, Mas! Aku mau menikah denganmu."
Arya merasa lega setelah mendapatkan jawab. dari Indri. Akhirnya, rencanannya dengan sang Mama menunjukkan hasil yang positif. Arya mengambil cincin tersebut lalu menyematkan di jari manis Indri. Ternyata cincin itu sangat pas di jari mungil Indri. Indri pun tak bisa menyembunyikan pancaran kebahagiaan di wajahnya.
"Terimakasih ya Mas! Aku nggak nyangka kamu bisa seromantis ini!"
"Sama-sama In, maaf kalau cincinnya hanya seperti itu, uangku hanya cukup untuk membeli itu."
"Tidak masalah Mas, aku tidak melihat dari harganya. Tapi aku melihatnya dari ketulusan hatimu. Sekali lagi terimakasih ya, Mas. Aku sangat bahagia."
Setelah mendapatkan jawaban dari Indri, Arya pun kembali ke tempat duduknya. Tanpa sengaja dia melihat Hasan yang juga tengah menatap dirinya. Sekilas, Arya menampilkan senyumannya sinis di salah satu sudut bibirnya seolah mengatakan " Lo kalah, dan gue menang!"
^Happy reading^
__ADS_1
Terimakasih dukungannya, terus dukung ya...
lopelope sekebon readers.😘😘😘