Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Kamu sanggup kan?


__ADS_3

Jarum jam terus berdetak, acara ijab kabul pun sebentar lagi akan dilaksanakan. Tidak lama lagi Indri akan benar-benar sah menjadi istri dari Arya. Sementara Arya, Pak penghulu dan Papa Nando sudah siap berada di tempatnya masing-masing. Sedangkan Indri baru akan keluar nanti setelah acara ijab kabul selesai.


"Nggak nyangka ya jeng, ucapan kita waktu sekolah dulu akhirnya jadi kenyataan. Kita jadi besanan," ucap Mama Amel.


Mama Amel sudah membayangkan bagaimana bahagianya kehidupannya setelah ini. Terlihat dari binar matanya, yang sedari tadi tak hilang.


"Iya!" jawab Mama Sofie datar dan ketus membuat Mama Amel menatap ke arah Mama Sofie. Mama Amel heran melihat perubahan sikap Mama Sofie yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Padahal semalam mereka masih baik-baik saja dan ngobrol hingga larut malam. Tak hanya Mama Amel uang merasa heran, Indri pun juga demikian. Dia terkejut melihat perubahan sikap Mamanya pada Mama Amel.


"Saya terima nikah dan kawinnya Indri Safitri binti Bapak Nando Kurniawan dengan mas kawin emas seberat 20 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


Suara Arya terdengar menggema memenuhi ruanhan. Indri yang masih ada di ruangan lain meneteskan air mata saat melihat proses ijab kabul uang dari layar televisi yang terpasang di ruangannya. Ia bersyukur, akhirnya sah sebagai istri dari Arya.


"Alhamdulillah, sayang. Kamu akhirnya resmi menjadi menantu Mama." ucap Mama Amel sambil memeluk Indri.


Berbeda dengan Mama Sofie yang menangis tanpa suara. Bukan tangis karena bahagia Indri sudah menikah dan menemukan pendamping hidup, melainkan tangis karena dia khawatir apa yang akan terjadi pada putrinya nanti setelah diboyong oleh Arya ke rumahnya. Meski sangat suami sudah berjanji akan terus mengawasi dan menjaga Indri dari jauh.


"Ma, jangan nangis dong. Nanti malem up nya luntur loh."


Indri memeluk erat Mamanya dan menghapus pelan air mata yang berlinang. Setelah itu mereka berdua berpelukan. Mama Sofie menciumi puncak kepala putrinya.


Setelah itu, Mama Sofie dan Mama Amel mengantar Indri keluar untuk bertemu dengan suaminya. Tampak disana mata Papa Nando berkaca-kaca, bahkan tak ada pancaran bahagia di wajahnya. Ia sedih karena harus melepaskan putri kesayangannya, mulai detik ini Indri sudah bukan lagi tanggung jawabnya. Dan sayangnya pilihan Indri bukanlah lelaki yang tepat.


Indri berjalan mendekati Arya yang sudah menunggunya di pelaminan. Kemudian Indri mencium tangan suaminya dan di balas Arya dengan mencium kening wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. Meski tak ada rasa spesial buat Arya, tapi senyumnya harus tetap merekah demi sandiwara yang saat ini dia lakonkan.


"Alhamdulillah ya Mas, akhirnya kita sah sebagai suami istri."


"Iya sayang, Mas juga bahagia sekali." jawab Arya sambil tersenyum dan menyalami tamu yang memberikan ucapan selamat pada mereka.


Indri tersipu malu saat Arya menatapnya lekat. Dadanya berdegub kencang karena otaknya saat ini sedang traveling entah kemana.


"Ya ampun, apa nanti Mas Arya langsung minta haknya? Kok aku deg-degan ya, gimana kalau nanti sakit kayak yang diomongin sama si Zarra. Tapi gak mungkin juga kan aku nolak Mas Arya nanti. Ya ampun, mikir apa sih aku ini!"


"Selamat ya, In. Mas doakan semoga kamu bahagia dengan lelaki pilihan kamu." ucap Marvell.


Seketika lamunan Indri buyar, hingga dia dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang berdiri di samping Marvell, dan berhadapan tepat dengan suaminya. Wanita itu mengulurkan tangan sambil tersenyum menatap Arya.


Dan hal itu membuat mood Indri jadi berantakan, ketika melihat Nissa yang datang bersama Marvell padahal dia merasa tidak mengundang Nissa di acara pernikahannya. Ah, sudah pasti Marvell yang mengajak Nissa datang ke pernikahannya dengan Arya.


"Iya, Mas. Terimakasih karena sudah menyempatkan untuk datang, padahal aku cuma ngundang Mas Marvell lho. Kok bisa datang sama dia." ucap Indri sambil menatao sinis pada Nissa.


"Oh, Nissa memang Mas yang ajak. Mas yang udah maksa dia buat datang nemenin Mas, tahu sendirikan, Mas paling males datang ke acara macam gini sendirian. Sedangkan Ayah sama Ibu lagi ada acara penting juga di luar kota. Jadi Mas maksa Nissa buat nemenin Mas datang, nggak masalah Kan?" tanya Marvell.


"Nggak masalah sih, asal jangan bikin onar akan di pesta pernikahan orang!" jawab Indri.

__ADS_1


Mendadak Marvell segera menggenggam tangan Nissa lalu sedikit menariknya mendekat ke arah Marvell.


"Nissa ini wanita yang berkelas dan elegan. Dia juga pemilik perusahaan. Jadi tidak mungkin dia akan merusuh dan mempermalukan dirinya sendiri di pesta orang lain terlebih itu mantan yang sudah tidak ia harapkan lagi. Jadi kamu nggak usah khawatir karena suamimu bukan levelnya. Turun yuk Nis!" ajak Marvell.


Nissa hanya mengangguk. Senyuman manis terus mengembang di bibirnya. Ia sangat pusat dengan jawaban yang Marvell berikan.


Wajah Arya memerah menahan geram. Sedangkan tangan Indri sudah mengepal kuat menahan emosinya karena tidak mungkin dia ngereog di hari pernikahan yang sudah ia nanti dan ia impikan.


Marvell dan Nissa berjalan menjauh dari pelaminan. Mereka menuju tempat makan yang memang sudah disiapkan untuk para tamu yang datang.


"Makasih ya, Vell!" ucap Nissa.


"Sama-sama Nis, aku nggak akan pernah membiarkan mereka menghina dan merendahkan kamu. Kamu lapar nggak, Nis? Makan yuuuk, lapar nih," ucap Marvell.


Nissa mengangguk, ia pun akhirnya berjalan bersama Marvell menuju meja prasmanan yang di atasnya sudah ada banyak menu yang menggugah selera. Marvell dan Nissa mengambil menu sesuai selera mereka masing-masing. Tak lupa mereka juga mengambil minuman dan dessert yang sudah disediakan.


Marvell dan Nissa menikmati hidangan itu sambil ngobrol dan bercanda. Obrolan mereka berdua terhenti ketika tiba-tiba ada suara orang yang berbicara.


"Wah, berani juga kamu datang di pesta pernikahan Arya. Kenapa? Masih belum bisa move on dari anak saya yang tampan itu? Makanya, jadi perempuan jangan sok jual mahal, jangan banyak gaya! Sekarang baru sadar? Tapi sayang udah telat, Arya sudah menikah dengan wanita pujaan hatinya yang lebih bisa memahami dan mengerti. Tidak seperti kamu yang pelit bin medit.!" ucap wanita yang ternyata Mamanya Arya. Wanita paruh baya itu hendak ke toilet saat melihat Indri ada di sana.


"Emmm, Vell. Kamu denger kayak ada suara-suara gitu nggak? Ih, serem banget sih gedung ini. Ini acara nikahan apa acara uju nyali sih?" ucap Nissa sambil bergidik.


Marvell tertawa mendengar ucapan Nissa. Sedangkan Mama Amel menghentakkan kakinya kesal, mirip seperti anak kecil. Sebenarnya dia sangat ingin menampar mulut Nissa yang menurutnya sudah kurang ajar. Tapi panggilan alam sudah tidak dapat ia tahan lagi membuat wanita itu segera berlalu ke toilet.


"Ayo, kita pergi dari sini. Aku nggak mau lihat kamu diperlakukan seperti itu lagi di sini." Ajak Marvell.


Setelah menuntaskan hajatnya, Mama Amel celingukan mencari Nissa. Tentu saja dian tidak akan bisa menemukan karena Nissa sudah pulang bersama Marvell.


"Sialan! Perempuan itu sudah pergi. Padahal aku pengen banget acak-acak mukanya tadi. Hah, makan lagi aja lah. Untungnya menantuku pesan cateringnya lumayan banyak. Nggak masalah kalau aku mau makan lagi. Bahkan kalau perlu nanti aku mau bungkus buat nanti."


...๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”...


Acara pun usai sesuai jadwal yang direncakan. Para tamu juga sudah berangsur pulang. Yang tersisa hanya keluarga inti termasuk Papa Nando dan Mama Sofie.


"Yang, aku seneng banget deh, akhirnya kita sekarang sudah resmi." ucap Arya sambil memeluk Indri dari belakang. Deru nafas Arya menerpa tengkuk Indri membuat gadis itu gugup dan kembali deg-degan.


Indri yang saya itu sedang membersihkan makeup segera meletakkan kapas bekas membersihkan di atas meja. Arya membalkkka tubuh Indri ke arahnya lalu mendekat. Pandangan mata mereka saling mengunci dan wajah mereka saling mendekat. Dan semakin mendekat. Dan....


Tok, tok, tok.....


pintu kamar Indri di ketuk,


"Siapa sih, ganggu aja!" ucap Arya kesal. Namun Indri malah tersenyum karena baginya tingkah Arya terlihat sangat lucu.

__ADS_1


"Ya sudah, buka aja dulu Mas! Siapa tahu ada yang penting!" jawab Indri.


Arya pun akhirnya berjalan ke arah pintu. Saat pintu itu terbuka, Arya sangat terkejut karena a melihat kedua mertuanya berdiri di depan pintu kamarnya.


"Papa, Mama!"


"Kami mau pamit pulang! Indri mana?" Tanya Papa Nando datar dengan wajah yang kembali dingin seperti awal mereka bertemu. Bahkan tatapan tajam Papa Nando membuat Arya sedikit gemetar dan susah menelan salivanya.


"Ehm, mari masuk Pa, Indri ada kok di dalam." jawab Arya.


Papa Nando dan Mama Sofie pu masuk ke dalam kamar Arya dan Indri. Merka duduk di sofa yang ada di seberang tempat tidur.


"Papa, Mama, ada apa?" tanya Indri.


"Kami mau pamit pulang, In!" jawab Papa Nando.


"Oh, iya. Hati-hati ya Pa, Ma." jawab Indri.


"Tapi sebelum Papa pulang, ada hal penting yang ingin Papa bicarakan pada kalian berdua."


"Pada kami? Apa Pa?" tanya Arya sambil menghembuskan nafas panjang pelan.


"Kalian berdua duduklah, karena yang akan Papa katakan adalah hal serius dan sangat penting!" titah Papa Nando.


"Jadi begini Arya, mulai hari ini kamu sudah resmi jadi suami Indri kan?"


Arya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Papa Nando.


"Jadi mulai hari ini juga, semua tanggung jawab saya pada Indri sepenuhnya pindah padamu. Kamu tentunya paham akan hal itu kan, Arya?"


Lagi-lagi Arya mengangguk.


"Jadi mulai sekarang kamu yang bertugas memenuhi semua kebutuhan putri saya tanpa terkecuali!"


"Kalau soal itu Papa tidak usah khawatir. Arya pasti akan bertanggung jawab sepenuhnya pada Indri." jawab Arya.


"Baguslah kalau seperti itu, karena mulai sekarang semua fasilitas yang pernah saya berikan untuk Indri, saya tarik kembali."


Arya dan Indri saling pandang dengan kedua mata yang melebar.


"Maksud Papa gimana?" tanya Indri dan Arya bersamaan.


"Jadi, semua ATM, kartu kredit, buku tabungan juga STNK beserta mobilnya akan saya tarik karena semua berasal dari saya. Mulailah hidup kalian dari awal tanpa ada bantuan dari tabungan yang Indri kumpulkan semasa lajang, kartu kredit yang tiap bulan saya yang bayarkan, juga mobil yang saya belikan khusus untuk Indri. Kalau kamu memang betul-betul tulus pada Indri, saya rasa ini tidak akan pernah jadi masalah buat kamu kan Arya? Dan Indri, setelah ini saya harap kamu akan berhenti bekerja, karena kodrat wanita sesungguhnya adalah untuk di nafkahi, bukan mencari nafkah! Kamu paham In? Biarkan saja Arya yang bekerja untuk memenuhi semua keinginan kami. Kamu sanggup kan, Arya?"

__ADS_1


...โ˜†เฟเผตเฝฝเผ†เผ’ ๐‘ฏ๐’‚๐’‘๐’‘๐’š ๐‘น๐’†๐’‚๐’…๐’Š๐’๐’ˆ เผ’เผ†เฟเผตเฝฝโ˜†...


__ADS_2