Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Bagi duit, Mas!


__ADS_3

"Saya pikir-pikir dulu Pak. Sebab kakak saya tidak mengatakan posisi apa yang saat ini dibutuhkan."


"Baik, tidak masalah. Tapi saya hanya akan memberikan waktu sampai besok saja. Jika Anda berminat silahkan besok pagi datang, tapi jika besok pagi tidak datang maka perusahaan akan segera mencari orang lain."


"Iya, Pak. Saya akan segera memberikan keputusan."


Tampak Pak Soni hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, Anda bisa segera keluar dari ruangan saya." Ucap Pak Soni pelan tapi terdengar tegas.


Arya mengangguk kemudian lelaki itu segera beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar setelah menjabat tangan kepala HRD.


Dengan langkah gontai lelaki itu keluar dari halaman. Sepanjang perjalanan ia terus saja merutuki sikap sang kakak yang dianggap sangat keterlaluan. Hingga akhirnya dia menyusuri jalan yang menuju ke arah parkiran.


"Sudah Mas?" tanya security yang tadi berjaga di depan pintu masuk.


"Sudah, Pak. Tapi posisi yang kosong cuma sebagai Office Boy ya, Pak?"


"Iya, Mas. Memang benar."


"Kok, tadi bapak nggak bilang sih?"


"Loh, memangnya Mas tadi ada nanya ke saya?" tanya security tadi sambil menggelengkan kepalanya. "Memangnya Mas nya ini cari posisi apa?"


"Ya, minimal supervisor lah Pak. Di perusahaan saya yang sebelumnya saya menjabat sebagai supervisor sama staff keuangan. Itupun di perusahaan besar, lah ini sudah perusahaan kecil office boy pula." celetuk Arya.


"Saya numpang disini dulu sebentar ya, Pak. Saya mau telepon Mas Rendra."


"Oh, iya. Silahkan!" ucap lelaki berseragam khas itu.


Arya terlihat berjalan menuju ke pos satpam. Lelaki itu duduk di atas kursi plastik, kemudian mengeluarkan ponselnya. Ditekannya tombol power yang ada di sisi kanan ponsel hingga layar yang semula gelap berubah menjadi terang.


Arya mengusap layar benda pipih itu untuk membuka kunci. Kemudian dia mencari aplikasi berwarna hijau. Dicarinya nama Rendra di daftar kontak. Setelah itu dia menekan tombol panggil.


"Iya Ar?"

__ADS_1


Terdengar suara Rendra saat panggilan sudah terhubung.


"Mas, aku ada di pos satpam. Kamu keluar sebentar!" titah Arya tanpa basa basi.


"Oh, sudah sampai. Minta tolong aja sama satpam buat antar masuk ke dalam. Aku lagi sibuk banget nyelesain pekerjaan."


Arya berdecak, " Sebentar aja napa, Mas! Kayak orang penting yang sibuk aja!" hardik Arya.


"Ya sudah, tunggu aja di sana."


"Panggilan dimatikan begitu saja oleh Arya tanpa memberikan respon terlebih dahulu pada ucapan Rendra. Kemudian tampak lelaki itu memainkan ponsel miliknya. Dia sengaja tidak mengatakan jika sudah selesai interview pada Rendra agar pria itu mau keluar menemuinya.


Tak berselang lama, Rendra pun datang menemuinya.


"Ada apa Ar? Tinggal masuk aja itu lho!" ucap Rendra saat ia sudah berdiri di depan pintu pos satpam.


Kepala Arya yang semula menunduk melihat ponsel seketika terangkat saat mendengar suara Rendra hingga dia bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu.


Arya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian tanpa melihat pada ponselnya dia menekan tombol power agar layar ponselnya kembali gelap.


"Mas kok nggak ngomong sih kalau yang di cari cuma sebagai office boy?" tanya Arya yang terkesan menyalahkan Rendra.


"Mas uang bener dong, masa' iya aku yang dulu supervisor tiba-tiba aja harus jadi OB. Yang ada nanti malah jadi bahan tertawaan, Mas!" seru Arya yang tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Ar, cari kerjaan itu sekarang susah lho. Nggak usahlah kamu pilih-pilih kerjaan kayak gitu. Masih untung loh, ada perusahaan yang mau nerima kamu yang pernah kesandung urusan hukum."


"Tapi ya nggak OB juga kali, Mas! Bisa-bisanya ya, seorang kakak ngasih kerjaan sebagai OB buat adiknya." gerutu Arya membuat emosi Rendra yang sedari tadi di tahan jadi tersulut.


"Memang kamu pikir ini perusahaan moyangmu, Ar? Mas disini juga kerja, Ar. Mana mungkin bisa seenaknya memasukkan kamu di posisi yang kamu inginkan!" Nada suara Rendra terdengar meninggi. Arya kembali berdecak saat mendapati sikap kakaknya yang seperti itu. Arya pun semakin kesal.


"Harusnya kamu itu sadar sama kemampuan kamu, Ar! Kamu dulu jadi supervisor juga karena Nissa. Jadi staff keuangan juga karena Indri. Kalau kamu cari kerjaan sendiri tanpa bantuan orang dalam, pastinya kamu bakal jadi OB." ucap Rendra.


"Sekarang cari kerjaan itu susah, kalau pengen bisa makan ya sudah jangan gedein gengsi. Kamu cari kerjaan di perusahaan lain, dengan posisi yang kmah inginkan dengan modal tampang aja nggak bakalan mungkin bisa, Ar!" imbuh Rendra.


"Tapi kan, Mas. Kamu lebih dulu bekerja di sini. Paling tidak kamu bisa masukin aku minimal jadi staff juga."

__ADS_1


"Ar, meskipun kamu S2 atau S3 sekalipun. Kalau kamu mau masuk kesini pastinya harus melewati semua prosedur. Mana bisa, aku disini yang hanya staff biasa menunjukan posisi buat kamu?!"


Arya menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Sudah, Mas mau kembali kerja. Mas lagu sibuk, kerjaan masih banyak. Kalau kamu mau ya ambil saja. Kalau nggak mau ya sudah, aku pun tidak akan memaksa. ayang penting, aku sudah coba bantuin kamu."


"Bantuan macam apa itu, Maaas.... Mas!"


Kini, giliran Rendra yang menghembuskan nafasnya dengan berat. "Kalau kamu mau ambil, kalau nggak mau ya sudah!" ucap Rendra kemudian melangkah pergi meninggalkan Arya.


"Mas, tunggu!"


Rendra menghentikan langkah kakinya kemudian berbalik menatap adiknya. Dan terlihat, Arya yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


"Ada apa lagi?"


"Mas, minta ongkos dong buat beli bensin. Nggak ada duit ini."


"Astaga Arya?" desis Rendra kemudian merogoh benda persegi berwarna hitam dari dalam saku celananya.


Segera dibukanya dompet itu, kemudian dia keluarkan satu lembar uang berwarna hijau dari sana kemudian dia ulurkan ke Arya.


"Lhooo, kok cuma dia puluh ribu sih, Mas?"


"Tadi kamu bilang buat beli bensin kan? Ini cukup kalau buat sekedar bolak balik lima kali dari rumah kesini." jawab Rendra.


Arya berdecih. Ia tak kunjung menerima uang yang di ulurkan sang kakak dan membiarkan tangan Rendra tetap menggantung di udara.


"Nggak mau ya udah," ucap Rendra. Saat dia akan memasukkan kembali uang itu tiba-tiba saja Arya mengambil uang tersebut lalu memasukkan ke dalam saku bajunya.


Rendra memutar mata dengan malas. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan sang adik yang masih menggerutu karena dia hanya memberikan uang sebesar dua puluh ribu saja.


"Punya kakak kok pelitna bukan main!" kembali Arya mengumpat.


"Pak, balik dulu ya!" teriak Arya kepada security, tampak lelaki itu hanya melambaikan tangannya saja pada Arya.

__ADS_1


Puluhan menit kemudian, Arya pin sampai di rumahnya. Saat mendengar suara mesin motor masuk di halaman rumah, Mama Amel yang semula sedang asik duduk di depan televisi sambil melihat sinetron favoritnya segera bergegas beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkah keluar.


"Gimana, Ar? Posisi apa yang diberikan? Supervisor, staff atau manager barangkali? Dari tadi Mama berdoa semoga kamu dapat posisi yang bagus di tempat yang baru itu." ucap Mama Amel saat Arya baru menapakkan kakinya di teras rumah.


__ADS_2