
Arya terperangah saat mendengar ucapan Papa Nando. Ekspresi wajah Arya yang melongo hingga membentuk huruf O dapat dilihat oleh Papa Nando dan Mama Sofie. Bagai sebuah mimpi buruk, itulah yang dirasakan oleh Arya saat ini hingga dirinya harus menelan salivanya dengan susah payah.
"Ada apa Ar? Apa yang kamu pikirkan? Kamu tidak suka jika kamu meminta kamu untuk bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan putri kami yang saat ini sudah jadi istri sah kamu?" ucap Mama Sofie.
Arya sontak gelagapan mendengar pertanyaan dari Mama mertuanya. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Eh, enggak kok Ma!Arya siap kok. Arya akan menafkahi Indri dengan sangat layak." ucap Arya tenang. Dan lagi-lagi itu hanya sandiwara Arya saja.
"Nggak bisa gitu dong Ma, Pa! Kenapa semua milik Indri diambil? Tidak ada pembicaraan soal ini sebelumya, kenapa Papa melakukan hal ini sama indri?" protes Indri pada Papanya.
"Kamu nurut saja sama Papa, In! Kenapa kamu harus protes dan keberatan jika suamimu saja bersedia dan menyanggupinya? Lalu apa yang membuat kamu khawatir seperti itu?" tanya Papa Nando.
"Ngga bisa gitu dong Pa! Papa nggak boleh egois kayak gitu!"
"Ar, tenangkan istrimu! Buat dia paham jika semua akan baik-baik saja karena kamu pasti akan mencukupi semua kebutuhannya!" ucap Papa Nando.
Arya yang belum sepenuhnya menguasai diri karena kejutan mendadak yang diberikan Papa Nando membuat Arya tidak punya persiapan hingga bibir dan otaknya tidak sinkron. Dia mendadak jadi orang bodoh, bahkan kata-kata manis yang biasa ia ucapkan mendadak hilang dari kamus perbendaharaan otaknya.
"Papa percaya kamu bisa memenuhi semua kebutuhan Indri. Jadi Papa minta sama kamu, biarkan Indri keluar dari pekerjaannya dan hanya menjadi seorang ibu rumah tangga biasa."ucap Papa Nando tegas.
"Iya, Pa!! Nanti Arya akan minta Indri untuk di rumah saja menemani Mama." ucap Arya.
"Bagus! Itu baru namanya laki-laki sejati." jawab Papa Nando.
"Sudah ya, In! Papa sama Mama pulang dulu. Sudah malam juga ini!"pamit Mama Sofie.
" Mas, kamu jangan iya-iya aja dong, bantuin aku ngomong!" ucap Indri pada Arya pelan.
"Pa, maaf! Kalau saya menerima sua keputusan Papa. Tapi apa Papa tidak kasihan pada Indri, anak kesayangan Papa satu-satunya?" tanya Arya melayangkan protes setelah Indri meminta bantuannya.
"Kasihan? Kenapa harus kasihan? Bukankah dia sudah punya suami yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan seperti kamu?" jawab Papa Nando.
"Mohon maaf, Pa! Gaji Arya itu hanya empat juta, dan itu hanya bisa untuk kebutuhan makan keluarga saja. Arya yakin jika Indri pasti bisa beradaptasi dengan itu semua. Tapi tentunya akan butuh waktu kan, Pa? Setidaknya biarkan Indri memegang uangnya sampai dia terbiasa dengan kondisi Arya yang sangat memprihatinkan."
Indri mengangguk menyetujui ucapan Arya yang dibalas senyuman sinis saat mendengar ucapan tak tahu malu dari Arya.
"Kalau mobil juga ikut ayah sita, lalu bagaimana dengan Indri, Pa? Arya hanya punya motor. Indri belum terbiasa berkendara di bawah terik matahari langsung Pa. Tolong kali saja, Papa tepis semua pikiran buruk Papa tentang Mas Arya. Pikirkan saja Indri, putri kandung Papa." ucap Arya. Lelaki itu berharap jika mertuanya bisa mengerti apa yang dia ucapkan dan tidak jadi menyita aset milik Indri.
"Indri sudah terbiasa hidup kecukupan, lalu apa Papa tega melihat Indri hidup serba kekurangan?" tanya Indri masih mencoba membujuk Papanya. Bahkan kali ini Indri memasang wajah menyedihkan. Perempuan itu mengiba pada orang tuanya.
Nampak Indri uang berjalan ke arah Mama Sofie kemudian memeluk wanita itu. Wanita yang selama ini selalu mendukungnya. Namun kali ini wanita itu hanya diam saja sedari tadi.
__ADS_1
"Kenapa harus kasihan! Karena setahu Papa seorang lelaki akan rela melakukan apa saja demi kebahagian wanita yang dicintainya! Jadi Ar, bekerjalah lebih keras agar bisa membahagiakan istri kamu!"
Ucapan Papa Nando membuat lidah Arya manjadi kamu hingga tak dapat mengatakan apapun.
Indri merengek pada Mamanya agar untuk membujuk Papanya agar bersedia merubah keputusan nya.
"Pa, Ma, apa itu tidak keterlaluan? Bukankah dengan menandatangani surat perjanjian kemarin sudah menjadi bukti jika Arya benar-benar tulus pada Indri. Papa dan Mama bisa menuntut ganti rugi jika nantinya ditemukan Arya menggunakan uang milik Indri!" ucap Arya masih berusaha membujuk Papa Indri. Dadanya bergemuruh. Saat ini dia jauh lebih takut akan hidup miskin daripada rasa malunya.
Otak Arya terus berputar dan bekerja hingga akhirnya dia teringat dengan kedua tempat kotak amplop tempat undangan memasukan angpao untuk mereka. Dengan jumlah tamu yang begitu banyak dan mereka yang berasal bukan dari kalangan biasa, Arya yakin jika nominalnya pasti lumayan. Hal itu membuat senyum tipis di bibirnya terkembang.
"In, sudahlah. Jangan memberontak lagi. Biar Mama dan Papa bisa percaya sama aku. Usah ya, terima saja!" ucap Arya penuh kelembutan.
"Nggak bisa gitu dong Mas!" jawab Indri masih tetap kekeh dengan keinginan nya.
"Pa, jika Papa mau mengambil semua aset milik Indri tidak apa-apa! Tapi, bolehkan jangan amplop dari tamu untuk kami semua. Uang itu akan kami jadikan modal untuk membuka usaha Kecil-kecilan. Arya harus membuka usaha, karena tidak mungkin Arya terus-terusan kerja ikut orang dengan hasil yang kecil."
Papa Nando dan Mama Sofie terperangah tak percaya mendengar ucapan Arya. Sedangkan Indri mengangguk mendukung ide suaminya.
"Nggak bisa, uang itu sepenuhnya Papa dan Mama yang pegang!"
"Nggak bisa gitu dong, Pa! Pernikahan ini sepenuhnya Arya yang keluar modal. Jadi uang itu adalah hak Arya dan Indri. Kenapa Papa egois dan mengambil sesuatu yang bukan jadi hak milik Papa?" ucap Arya dengan nada suara yang meninggi.
Papa Nando tersenyum sinis mendengar ucapan menantu baru nya itu.
"Enggak Pa, Indri cuma mengeluarkan uang untuk biaya MUA dan catering aja. Ga salah kan kalau Indri memberi sedikit bantuan untuk Mas Arya? Toh semua untuk kepentingan kami berdua." ucap Indri menyela. " Pa, please tolong berikan hak kam!" imbuhnya.
"In, kamu pikir Papa bodoh? Papa sudah mencari tahu semuanya. Kamu jangan pernah remehkan Papa. Tak perlu kamu mencari alasan demi membela lelaki yang baru saja kamu kenal. Papa dan Mama benar-benar kecewa sama kamu, In!" ucap Papa Nando.
Papa Nando menghela nafas panjang lalu mengulurkan tangan sambil menoleh ke arah Mama Sofie.
Gegas Mama Sofie mengeluarkan ponsel Indri dari dalam saku baju yang dia pakai kemudian menyerahkan ponsel itu pada Papa Nando.
"Ini ponsel kamu Papa kembalikan. Maaf jika terkesan Papa lancang. Papa sudah membaca semua chat kalian. Dan Papa juga sudah memeriksa transaksi M-banking kamu. Jadi, percuma saja kamu mencari alasan untuk membela laki-laki itu, karena Papa dan Mama sudah tahu semuanya! Keputusan Papa dan Mama sudah bulat!"
Indri terkejut karena baru sadar jika ponsel nya ternyata tidak ada di kamar, sedari tadi dia tidak menggunakan benda pipih itu. Bergegas Indri mengambil alih ponsel yang diulurkan oleh Papanya.
Setelah selesai berucap, Papa Nando dan Mama Sofie pergi meninggalkan pengantin baru itu di kamarnya. Arya dan Indri semakin membisu.
Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berkali-kali lelaki itu menghembuskan nafas dalam kemudian ia keluarkan secara perlahan. Sungguh dia tidak menyangka hadiah pernikahan yang diberikan kedua mertuanya sangat spektakuler. Sejatinya, Arya menikahi Indri hanya karena hartanya saja. Dia tidak menyangka jika akan jadi seperti ini. Bukan harta yang dia dapat, justru beban yaang semakin bertambah.
__ADS_1
"Mas," panggil Indri.
Arya hanya melirik saja tanpa berminat menjawab panggilan Indri. Kepalanya masih berdenyut nyeri karena kejutan itu tadi. Arya tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
"Kamu tenang saja Mas.Kita berjuang bersama ya Mas. Aku tidak akan berhenti bekerja setelah ini. Gaji aku kan tiga puluh lima juta per bulan. Minggu depan kita sudah gajian. Jangan sedih ya!"
Arya mendesah dan menepis tangan Indri yang akan mengusap wajahnya. Lelaki itu lalu naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya.
Arya lalu merubah ekspresi nya jadi semanis mungkin karena masih ada satu harta yang bisa diselamatkan.
"Yang, sini deh!" ucap Arya sambil menepuk tempat di sampingnya.
Indri pun segera naik ke atas ranjang. Dia duduk bersila di samping sang suami.
"Kamu pakai M-banking kan? Sekarang kamu transfer semua ke rekening aku, besok kita buat rekening baru atas nama kita. Sebelum Papa mu sadar dan meminta semuanya."
"Ah, Mas Arya bener juga!"
Indri lalu mengambil ponsel yang ia letakkan di nakas samping tempat tidur. Wanita itu terlihat mengutak-atik ponselnya. Arya melongok kan kepalanya ikut melihat. Saat menemukan aplikasi M-banking di ponsel kedua matanya membelalak saat password yang dia masukan berkali-kali salah.
"Kamu nggak salah masukin password nya kan?" tanya Arya.
"Nggak Mas! Aku nggak pernah ganti password sejak dari awal buka rekening!"
"Apa jangan-jangan password nya sudah diganti sama Papa kamu! Coba kamu cek email kamu!"
Indri menekan tombol exit, lalu membuka email. Kedua bila matanya lagi-lagi membelalak karena inbox nya kosong.
"Astaga, Papa sudah ganti email nya, Mas! Ponsel nini sepertinya sudah di reset dan ganti email baru!" ucap Indri lemas.
"Tinggal masukkan emailnya lagi kan?"
"Masalahnya aku nggak ingat emailnya apa Mas!"
"Astaga Indri!"
Arya berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tak lagi dapat membendung kekesalan yang sedari tadi dia tahan. Lelaki itu membenarkan posisi bantalnya kemudian berbalik membelakangi Indri samb memeluk guling.
"Mas, jangan marah-marah dong. Besok-besok aku akan ke rumah Papa. Aku akan minta Papa mengembalikan semuanya." ucap indri sambil menggoyang-goyangkan lengan Arya.
__ADS_1
Namun Arya sama sekali tidak peduli. Arya tetap memejamkan mata. Niat hatinya ingin menghabiskan malam pertama dengan bermesraan justru yang ia dapatkan kejutan yang membuatnya kesal.
...☆࿐ཽ༵༆༒ 𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 ༒༆࿐ཽ༵☆...