
"Kenapa? Kamu pernah punya salah sama mantannya Arya, Nak? Kalau Iya, sebaiknya kamu segera minta maaf," ucap Papa Nando.
"Indri sebenarnya juga ingin minta maaf, Pa. Tapi... " Indri menjeda ucapannya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Tapi kenapa?"
"Tapi Indri malu, Pa. Indri dulu sudah sangat keterlaluan pada Nissa. Dia pasti marah besar nanti."
"Kan belum dicoba, Nak! Minta maaf itu bukanlah satu hal yang memalukan. Saat kita melakukan kesalahan maka kita wajib meminta maaf. Urusan di maafkan atau tidak itu bukan tanggung jawab kamu. Yang terpenting niat dan hati kamu sudah tulus."
Indri terdiam saat mendengar nasihat dari Papanya. Hingga mereka mendengar suara dari depan pintu yang belum ditutup oleh Mama Sofie maupun Indri.
"Benar apa yang dikatakan Om Nando, Nis. Nggak ada salahnya kamu minta maaf sama Nissa. Aku yakin, Nissa nggak akan menolak permintaan maaf kamu. Dan dia pasti juga nggak akan marah."
"Marvell? Kapan kamu datang? Kok nggak kedengaran suara mobil kamu?" tanya Papa Nando yang terkejut karena Marvell tiba-tiba muncul.
"Gimana mau denger, Om. Kalau kalian ngobrol serius seperti ini."
"Tapi beneran lho Vell, kita nggak denger suara mobil kamu," ucap Mama Sofie.
"Hehehehe.... mobilnya aku parkir di seberang, Tante. Makanya kalian nggak ada yang denger. Tapi, bener lho In, yang dikatakan Papa kamu tadi. Bagaimanapun juga, kamu dulu pernah datang dan memaki-maki Nissa di kantor nya. Aku yakin, Nissa pasti akan memaafkan. Dia itu perempuan yang baik."
"Ya, seperti itulah Om. Saking bucin nya sama dedemit satu itu, adik ku yang cantik ini sampai rela mempermalukan dirinya sendiri dan datang menemukan Nissa."
"Ya ampun, Indri. Kalau seperti itu, kamu wajib datang menemui Nissa dan minta maaf, Sayang."
"Tapi..... "
"Tapi apa?" tanya Marvell.
__ADS_1
"Aku malu, aku juga takut."
"Aneh! Takut kenapa? Memangnya Nissa itu monster yang akan menerkam kamu?"
"Yaaa, bukan gitu Mas. Tapi aku takut kalau nanti ganti Nissa yang maki aku dan mempermalukan aku di depan semua karyawannya."
"Itu resiko kamu, Sayang. Dulu, saat kamu melabrak Nissa apa pernah kamu memikirkan muka Nissa di depan karyawannya. Mama dan Papa tahu, kamu ini anak yang pemberani dan bertanggung jawab."
Indri menghela nafasnya. "Baiklah, aku akan minta maaf langsung pada Nissa. Tapi, Mas Marvell temani aku ya."
"Tenang saja, aku pasti temani kamu. Kamu tidak usah takut, Nissa itu orang yang sangat baik."
"Ekhm, baik sih baik. Tapi kalau nggak cepet di halalin keburu di samber orang."
"Hahahah... Om ini. Emangnya Nissa apaan coba. Pakai di sambar segala? Aku sih maunya cepat Om. Tapi Nissa sepertinya masih trauma gara-gara ulah Arya dan Mamanya kemarin."
"Ya sudah. Om tunggu aja kabar baiknya ya. Yang penting kamu harus lebih semangat dan lebih keras lagi berjuangnya."
...******...
Dddrrrttttt
Dddrrrttttt....
Nissa mengambil ponselnya yang sedang berdering di atas meja.
[Kamu ada di kantor nggak Nis?]
Ternyata pesan dari Marvell. Nissa mengerutkan keningnya, dia merasa heran karena seingat nya pria itu akan datang di waktu makan siang. Sedangkan sekarang baru jam delapan pagi.
__ADS_1
[Iya, aku ada di kantor. Kenapa, Vell?]
[Aku mau ke kantormu sekarang, bisa kan?]
[Bisa. Tapi ada apa ya, Vell? Biasanya kan kamu kesini siang.]
[Ada deh, nanti kamu kan juga tahu sendiri. Aku kesana sekarang ya!]
Nissa tidak membalas lagi pesan dari Marvell. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sekitar lima belas menit kemudian, Marvell datang dan tentu saja dia bersama dengan Indri. Akan tetapi, pria itu masuk lebih dulu ke dalam ruangan Nissa. Sedangkan Indri masih menunggu di depan ruangan Indri.
"Vell, tumben kesini pagi? Ada apa?" tanya Nissa.
"Ada yang ingin bertemu denganmu, Nis."
"Denganku? Siapa, Vell?" tanya Nissa penasaran.
"Tunggu sebentar ya, akh panggil dulu. Orangnya masih nunggu di depan."
Nissa pun mengangguk, kemudian Marvell segera beranjak keluar dan memanggilnya Indri.
Suara heels yang dipakai oleh Indri mendominasi ruangan milik Nissa saat wanita itu masuk. Nissa sampai terperangah melihat kedatangan Indri.
"Hai, Rin... Apa kabar? Maaf kalau kedatangan ku yang tiba-tiba ini mengganggu. Aku kesini untuk minta maaf atas semua perbuatan yang dulu ke kamu. Aku mohon, kamu mau memaafkan semua kesalahan ku. Aku sangat menyesal, Nis. Kenapa dulu aku tidak mau mendengarkan ucapan mu. Dan sekarang, aku sudah mendapatkan hukuman dari semua perbuatan ku dulu ke kamu, Nis."
"Hai, In. Itu bukan hukuman. Melainkan sebuah pelajaran untuk kamu. Aku sudah memaafkan kamu sejak lama kok, kamu nggak usah takut seperti itu." ucap Nissa.
Indri menatap Nissa penuh rasa haru hingga matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jadi, mulai hari ini kita berteman. Kamu mau kan?" tanya Nissa.