
"Masih sisa sekitar lima juta, In! Mau beli apa lagi?" tanya Arya ketika mereka sedang makan di salah satu resto lantai satu.
"Sudah, Mas. Aku rasa itu semua sudah cukup buat bawaan Mas Arya nanti datang melamar. Maaf, jangan tersinggung ya Mas. Sisanya bisa Mas Arya gunakan untuk beli baju Mama dan Mas Arya sendiri, juga buat rental mobil nanti."
"Aduh, jangan In. Aku kembalikan saja ya!" ucap Arya dengan wajah pura-pura tak enak.
"Udah, nggak usah Mas! Apa perlu beli sekarang?" tanya Indri.
"Nggak usah In, lain kali saja!" Jawab Arya pura-pura agar tidak terlalu kelihatan jika dia memanfaatkan Indri.
"Sekalian aja, Mas. Mumpung ada di sini!"
"Udah gampang lah, In. Udah jam segini juga. Yang penting barang-barang buat lamaran kamu udah ada semuanya."
Obrolan mereka berhenti ketika pelayanan datang membawakan pesanan makanan mereka. Karena perut mereka benar-benar lapar, mereka bertiga akhirnya makan dengan sangat lahap.
Setelah belasan menit mengistirahatkan kaki dan mengisi asupan untuk cacing-cacing yang ada di perut mereka, mereka memutuskan untuk segera pulang.
Namun, baru saja mereka keluar dari pintu resto, tiba-tiba saja langkah mereka terhentj karena melihat Marvell dan Nissa tengah berjalan ke arah mereka.
Sedangkan Nissa dan Marvell pun tak tahu jika Indri dan Arya juga ada di sana, karena memang kehadiran Nissa dan Marvell bukan untuk menemui Indri dan Arya.
"Hay, Mas! Nggak nyangka ya, kita bisa ketemu disini!" ucap Indri menyapa terlebih dahulu. Sedangkan Nissa masih sibuk mengamati Arya dan Mama Amel. Lebih tepatnya, tas belanjaan yang ada di tangan mereka. Nissa yakin, jika belanjaan itu pasti menggunakan uang milik Indri.
Mama Amel dan Arya sadar dengan tatapan Nissa paham arti dari tatapan itu. Namun, karena dasarnya Mama Amel dan Arya adalah manusia yang unik bin ajaib, jadinya ya mereka tetap saja masa bodoh.
"Lagi borong, In?" tanya Marvell.
"Iya nih, Mas! Buat lamaran lusa, Mas Marvel datang ya! Tapi sendiri aja, nggak usah ngajak dia. Yang ada ntar malah bikin rusuh aja." celetuk Indri sambil melirik Nissa. Tapi yang dilirik hanya cuek dan tetap tenang.
"Jangan lupa datang ya, Mas. Aku tunggu lhooo!" Indri berucap antusias untuk memanasi Nissa. Tapi Nissa hanya tersenyum saja.
"Oh, jadi nikah sama dia? Sayang ya, belanjaan segini banyaknya semua kamu yang beli."
Indri seketika menegang saat mendengar ucapan Marvel. Gadis itu sampai menelan salivanya susah payah.
"Ah, nggak kok Mas! Semua Mas Arya yang bayarin!" jawab Indri gugup. Jelas jika gadis itu sedang berbohong.
"Oh ya? Hebat sekali! Gaji empat juta tapi bisa belanja barang sebanyak ini?" Marvel tersenyum sinis. "Mustahil!!!" ucapnya sambil melihat ke arah Arya.
"Kalau mau jadi benalu setidaknya modal dulu di awal, baru kemudian numpang hidup. Bikin malu kaum adam saja." Marvel lalu menoleh ke arah Nissa, "Yuk Nis, kita pergi saja!"
Nissa mengangguk sambil tersenyum puas dengan jawaban Marvell yang sangat telak. Bahkan wajah Mama Amel dan Arya berubah memerah seketika karena ucapan Marvell.
__ADS_1
"Mas, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan! Justru kamu yang akan menyesal karena lebih percaya perempuan ular yang licik itu daripada aku adik kamu, Mas!"
Ucapan indri membuat Marvell dan Nissa menghentikan langkah dan berbalik menatap Indri.
"Oh ya? Ya sudah mari kita lihat, siapa yang nantinya akan menyesal. Aku pastikan setelah kamu tahu siapa sebenarnya calon suami kamu ini kamu akan menangis dan aku hanya bisa melihat tanpa bisa membantu. Pikirkan sekali lagi keputusan kamu sebelum terlambat!"
Marvell menarik Nissa dengan sedikit merengkuh bahunya. Hal itu terlihat oleh Arya dan seketika membuat kepalanya seolah mengeluarkan kepulan asap. Karena selama ini Nissa selalu menolak adanya kontak fisik dengannya dengan alasan belum sah saat Arya ingin sekedar memeluk atau mencium pipi.
"Dasar perempuan murahan, kemarin saja kamu mohon-mohon agar aku tidak meninggalkan kamu. Tapi kenyataannya sekarang, kamu sudah dalam pelukan pria lain. Kalau dasarnya j****g, mau dibalut pakai apapun pastinya akan tetap jadi j****g!"
Nissa menatap wajah Arya, ingin rasanya dia merobek-robek mulut lelaki benalu itu. Namun Nissa sadar, jika dia melakukan itu maka Indri akan menang karena memiliki bahan untuk mempermalukannya.
Nissa menghirup nafas panjang untuk sekedar menghilangkan sesak dan emosi yang bergemuruh di dada. Ia tersenyum walau hanya sekilas.
"Lagi ngomongin diri sendiri ya? Apa kamu pikir dengan berkata seperti itu kamu bisa menjatuhkan harga diriku? Tentu saja tidak, Ar! Aku memang tidak bisa membungkam mulut laknatmu itu, dan juga lidah tajam mu yang berbisa itu. Tapi ingat! Aku masih punya Tuhan, yang bisa membungkam mulutmu itu hanya dalam satu kedipan mata. Dan kamu Indri, Selamat! Selamat datang di gerbang penderitaan. Aku harap kamu tidak sampai gila setelah masuk ke keluarga toxic macam mereka. Atau, jangan-jangan kamu nanti akan ikutan gila seperti mereka?" Nissa bergidik ngeri lalu tersenyum mengejek ke arah Indri.
Tangan Indri terangkat dan melayang ke arah wajah Nissa. Namun wanita itu dengan sigap menangkap tangan Indri lalu ia hempaskan tangannya begitu saja.
"Jangan pernah menyentuhku walau hanya satu inci saja. Karena bisa kupastikan kamu akan mendapatkan balasannya. Aku bisa saja meminta Marvell untuk memecat kamu, meski kamu sepupunya. Dan bisa kupastikan kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan kembali setelah itu. Kamu tidak lupa kan siapa aku? Aku bisa membuat hidupmu berantakan hanya dalam satu jentikan jari."
"Jangan keterlaluan kamu, Nis! Kamu boleh saja menghinaku, tapi jangan pernah menghina calon istriku!" ucap Arya sambil menatap tajam Nissa.
Namun wanita itu justru tersenyum mengejek pada Arya. Nissa sangat tahu bagaimana karakter Arya. Apa yang dilakukan lelaki itu saat ini hanyalah sebuah sandiwara belaka.
"Ayo, Vell kita pergi saja. Buang-buang waktu saja hanya untuk menghadapi manusia sampah macam mereka. Terutama sepupumu itu. Dia sudah besar dan pastinya punya otak kan? Semoga Tuhan segera menyadarkan nya jika ia sudah salah memilih." Nissa mengabaikan ucapan Arya dan mengajak Marvell untuk pergi.
Dengan sigap Marvell menggenggam tangan Nissa dan Nissa pun membalas genggaman tangan itu untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja meski tidak bersama dengan Arya. Namun, didalam dada Arya kembali bergemuruh melihat hal tersebut. Kalau saja saat ini tidak ada Indri, dan Marvell bukanlah pemilik perusahaan tempat dia bekerja, sudah bisa dipastikan Arya akan membuat perhitungan dengan meninju wajah pria itu karena sudah berani merebut perhatian Nissa darinya. Arya memang belum rela jika Nissa akan hidup bahagia tanpa dirinya.
Bagi Arya, jika dia tidak bisa memiliki Nissa maka tidak boleh ada satupun pria yang bisa memiliki Nissa juga. Begitu picik jalan pikiran lelaki itu.
Marvell dan Nissa terus melangkah tanpa ada niat untuk berhenti ataupun menoleh ke belakang barang satu detikpun. Dan begitu jarak mereka sudah lumayan jauh Nissa pun melepaskan genggaman tangan Marvell. Lelaki yang sedari tadi menikmati hangatnya genggaman tangan Nissa akhirnya menghembuskan nafas kecewa.
"Kamu jangan dengerin ucapan Arya, anggap aja angin lalu!"
'Ya, akupun berpikir seperti itu. Memikirkan ucapan mereka itu hanya buang-buang waktu saja." jawab Nissa dan Marvell mengangguk.
"Kita doakan saja semoga Arya dan Mamanya bisa berubah, meskipun itu mustahil. Sebenarnya aku kasihan sama Indri, tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah berusaha menyadarkan dia tentang siapa Arya sebenarnya, tapi dia malah menyalahkan kamu dan menuduh yang bukan-bukan seperti itu. Ya sudah, biarkan saja dia menjalani alur yang sudah dia pilih."
"Iya," jawab Nissa singkat.
Kemudian Marvell dan Nissa melanjutkan langkah mereka ke tempat yang menjadi tujuan mereka saat ini.
Sementara di tempat lain, Arya tengah menenangkan batin Indri. Ucapan Marvell dan Nissa tadi membuat dirinya dan Mama Amel takut jika Indri percaya dengan ucapan mereka.
__ADS_1
"Ada yang sakit sayang?" tanya Mama Amel sambil mendekat ke arah Indri yang saat ini tengah mengibaskan tangannya di tubuh yang terkena sentuhan tangan Nissa.
"Nggak ada, Ma! Indri baik-baik saja!" jawab Indri lembut. Kini pandangannya beralih pada Arya. "Lihatlah, Mas! Begitu piciknya mantan kekasihmu itu sampai-sampai dia mempengaruhi Mas Marvell. Entah ilmu apa yang dia pakai hingga Mas Marvell berubah seperti itu." Indri meluruskan pandangannya.
Ucapan Indri membuat Mama Amel dan Arya saling tatap kemudian melempar senyuman. Mereka lega, karena dari ucapan Indri tersebut mengartikan jika posisi mereka berdua aman.
"Ya sudah, nggak usah dipikirin lagi omongan mereka berdua. Anggap saja mereka iri dengan kebersamaan kita. Tahu sendiri kan? Melihat kita bersama saja sudah membuat Nissa nekat. Apalagi kalau dia tahu kamu juga sangat dekat dengan Mama. Pasti saat ini kepalanya sangat panas dan sudah mengeluarkan kepulan asap hitam."
"Kita pulang saja, Mas! Disini juga sudah tidak nyaman." Ajak Indri yang dibalas dengan anggukan kepala dari Mama Amel dan Arya.
Ketiga orang itu tampak seperti keluarga yang bahagia. Mereka menuju ke parkiran tempat mereka tadi memarkirkan mobil milik Indri. Hingga tak butuh waktu lama, kendaraan roda empat itu sudah membelah jalanan yang ramai namun masih lancar.
Di sepanjang perjalanan, keadaan mobil begitu berisik Arya dan Mama Amel sibuk menghujat Nissa dan selalu memuji Indri. Mendapatkan hal seperti itu membuat Indri yakin jika Arya dan Mama Amel adalah orang yang sangat baik dan menyayangi nya. Bahkan saat ini Indri menganggap dirinya adalah orang yang sangat beruntung. Sebab di luar sana banyak sekali menantu dan mertua yang tidak bisa kaur dan memiliki hubungan yang buruk. Berbanding terbalik dengan yang Indri rasakan saat ini.
Ddrrttt
Ddrrttttt
Ponsel Indri bergetar, dan obrolan pun terhenti karena ada panggilan masuk.
Indri segera membuka resleting tas yang ada di pangkuannya. Mengambil benda pipih yang sejak sampai di rumah Arya belum ia sentuh sama sekali.
Begitu layar ponsel terpampang, ternyata papanya yang menelepon.
"Siapa?" tanya Arya berbisik.
"Papa!"
Arya hanya mengangguk lalu kembali melihat ke arah depan.
"Hallo Pa?" ucapan Indri menyapa saat panggilan sudah terhubung.
"Hallo, In! Segera pulang ya! Ada yang Papa mau bicarakan sama kamu! Penting!"
"Soal apa Pa?"
"Sudah, kamu pulang saja dulu! Penting!" tanpa menunggu jawaban dari Indri, sang Papa segera mematikan sambungan telepon dan bertepatan dengan mobil yang mereka tumpangi sampai di halaman rumah Mama Amel.
"Ma, Mas Arya aku langsung pulang ya! Sama Papa disuruh pulang sekarang, ada yang penting katanya!"
Deg......
...◌⑅⃝●♡⋆♡ нαρρу яєα∂ιηg♡⋆♡●⑅⃝◌...
__ADS_1