
Papa Nando dan Mama Sofie terkejut melihat Indri yang berlarian ke arah mereka.
"Ma, Pa,... kok malah diam? Ini Mas Arya sudah kasih keputusan, katanya dia sudah siap menandatangani surat perjanjian pra nikah yang Papa buat. Gimana? Mas Arya nggak seperti yang Papa pikirkan bukan?" tanya Indri.
Papa Nando tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah apa yang dia pikirkan.
"Pa, gimana? Lamaran Mas Arya diterima kan?"
Indri kini duduk di sofa di depan Papa Nando. Sang Papa pun menatap lekat Indri.
"Secepat itu? Hemmm... Papa kok jadi curiga ya.. " Papa Nando berpikir sambil memegang dagunya. Hal itu membuat Indri jadi semakin emosi.
"Papa nih maunya apa sih sebenarnya? Tadi Papa bilang kalau Mas Arya nggak mau tanda tangan katanya Mas Arya nggak tulus sama aku. Sekarang Mas Arya mau tanda tangan Papa malah curiga. Papa mau aku jadi perawan tua? Itu maunya Papa? Atau Papa mau aku menikah dengan orang yang Papa jodohkan?Nggak Pa! Aku nggak mau menikah selain sama Mas Arya!"
"Pa, sudahlah! Itu kan syarat yang tadi kamu minta sama Arya. Toh, dia juga mau melakukan apa yang sudah kamu syarat kan tadi!" ujar Mama Sofie.
Papa Nando kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, besok suruh dia kesini untuk tanda tangan surat nya." Lalu Papa Nando pergi meninggalkan Indri dan Mama Sofie.
Setelah Papa Nando pergi, Mama Sofie dan Indri saling berpelukan. "Selamat ya sayang, akhirnya diterima juga. Sudah sana kamu istirahat, biar besok bisa fresh!"
"Oke Ma. Mama, makasih ya. Berkat Mama hati Papa yang sekeras beton itu akhirnya bisa luluh juga."
"Sama-sama sayang, apapun akan Mama lakukan demi kebahagiaan kamu."
...*****...
Esok hari, tepat sesuai janji Arya pada Indri. Arya kembali mendatangi kediaman Mama Sofie untuk menandatangani surat perjanjian itu.
"Jadi kamu sudah setuju dengan semua syarat yang saya ajukan?" tanya Papa Nando sambil menatap tajam pada Arya.
"Sudah Pak, saya setuju dengan semua syarat yang Bapak berikan."
Papa Nando menganggukan kepala sekolah ada yang sedang dia pikirkan. "Baik, segera tanda tangani surat ini di atas materai. Ingat! Surat ini berlaku setelah pernikahan kalian dilaksanakan nanti."
"Iya Pak., saya mengerti. Saya tulus mencintai Indri dari hati saya, Pak. Jadi tidak masalah bagi saya ada atau tidak adanya syarat itu."
Arya menjawab sangat mantap seolah-olah ia sangat yakin dan apa yang dia katakan adalah sebuah kebenaran. Sementara itu, Papa Nando hanya tersenyum menanggapi hal itu.
Arya segera menandatangani surat perjanjian pra nikah di atas materai. Sedangkan Indri tersenyum melihat hal itu. Gadis itu sudah tidak sabar untuk segera jadi istri sah dari Arya.
"Jadi, kapan rencananya pernikahan itu akan dilaksanakan?" tanya Papa Nando yang kali ini nampak santai. Tidak seperti saat pertama kali bertemu dengan Arya. Indri semakin melebarkan senyuman karena mengira jika sangat ayah sudah menerima calon suaminya, sebab terbukti cintanya tulus pada Indri.
"Kalau bisa secepatnya, Pak!"
"Iya, secepatnya itu kapan maksudnya?"
"Kalau, satu bulan lagi bagaimana, Pak?"
"Kamu yakin?"
"Yakin Pak! Tapi kalau menurut Bapak itu terlalu cepat, boleh kok di rubah sampai menurut Bapak waktunya pas."
__ADS_1
"Menurut saya itu terlalu lama! Dua minggu lagi kalian segera menikah!"
Ucapan Papa Nando membuat Indri dan Arya saling bertatapan.
"Bapak serius?" tanya Arya tak percaya.
"Menurut kamu? Bukankah niat baik itu tidak boleh ditunda-tunda?" jawab Papa Nando sambil tersenyum penuh arti.
Senyuman bahagia terukir di bibir Indri. Begitu juga dengan Arya dan Mama Sofie.
"Terima kasih, Pa. Terima kasih karena sudah menerima Mas Arya. Indri bahagia sekali, Pa. Indri janji, akan jadi anak yang lebih baik lagi dan membanggakan Papa dan Mama." Indri menghambur ke pelukan Papa Nando. Papa Nando menepuk-nepuk punggung putri semata wayangnya.
"Satu lagi, saya tidak bisa ikut dalam persiapan pesta pernikahan kalian. Saya masih ingin melihat sampai dimana keseriusan kamu pada anak saya. Kalau kamu memang serius, kamu pasti sudah siapkan semua keperluannya bukan?"
Papa Nando menatap tajam Arya, sedangkan Arya yang sudah pernah dijanjikan jika semua biaya pesta pernikahan adalah dari Indri, dia tetap tenang dan tidak ambil pusing.
"Bapak tenang saja, semua sudah saya persiapkan dengan matang. Oleh karena itu saya berani datang dan melamar putri Bapak!"
"Bagus, tapi apa kamu tahu berapa jumlah tamu yang ingin saya undang di pesta pernikahan kalian? Pastinya kamu tahu kalau saya ini bukan orang sembarangan, dan teman-teman saya sudah pasti sangat banyak."
Arya menatap Indri, lalu kembali menatap Papa Nando sambil menelan salivanya susah payah.
Arya terdiam. Indri yang seolah paham dengan apa yang sedang dipikirkan calon suaminya itu, angkat bicara.
"Papa tenang saja, berapapun tamu yang akan diundang, Mas Arya pasti akan menyanggupinya. Iya kan, Mas?" tanya Indri. Arya hanya mengangguk menyetujui ucapan Indri.
"Bagus! Saya akan mengundang kurang lebih lima ratusan orang saja. Itu belum semua kolega dan teman-teman saya. Saya pilih yang penting-penting saja. Kalau saya undang semuanya bisa-bisa kamu langsung stroke mikir uangnya darimana! Ya sudah, saya mau ke kamar dulu!"
Papa Nando berlalu meninggalkan Arya, Indri dan juga Mama Sofie. Arya tersenyum kecut mengingat ucapan Papa Nando yang terkesan meremehkannya.
...*****...
Ddrrttt....
Dddrrrttttt.....
Ponsel milik Nissa berdering ketika dia baru saja sampai di kantor. Dia langsung mengambil ponsel itu dari dalam tas. Dahknya berkerut ketika melihat nama Marvell di layar ponselnya.
"Hallo Vell, tumben pagi-pagi sudah telepon, ada apa? Ada sesuatu yang penting kah?"
"Hehehe, maaf kalau aku ganggu waktu kamu. Aku cuma mau kasih tahu kamu aja, dua minggu lagi Arya dan Indri akan menikah. Apa kamu sudah dapat undangan dari mereka?".
Mata Nissa terbelalak seketika, dia tidak menyangka akan secepat itu mereka menikah. Padahal Nissa sudah memberitahu siapa Arya sebenarnya dan keluarganya. Tapi kembali lagi, semua keputusan ada di tangan Indri. Dan semua resiko nanti, dia juga yang akan merasakan.
"Ehm, ga ada undangan sih. Tapi gak masalah juga kalau aku tidak di undang. Hehehe." jawab Nissa.
"Ehm, kamu mau nggak nemenin aku datang ke pesta pernikahan mereka? Mau ya...!" pintar Marvell.
"Duh gimana ya, Vell. Bukannya nggak mau, tapi malas aja aku dengar mulut mereka kalau udah ngomong. Belum lagi kesombongan mereka. Bayangin nya aja udah males lho, Vell! Bikin mual tahu gak!"
"Ayolah, Nis! Please! Aku sebenarnya juga mala. Tapi mau bagaimana lagi, si Indri kan sepupu aku. Jadi mau nggak mau aku harus datang."
__ADS_1
Nissa terdiam sejenak, dia sebenarnya malas jika harus kembali berurusan dengan Arya dan juga Indri. Tapi dia juga merasa tidak enak jika menolak permintaan Marvell.
"Hallooo, Niiiss? Ayolah... mau ya...?"
Nissa kembali menghela nafas, "Ya sudahlah, kalau bukan demi kamu, beneran deh aku malas datang ke pernikahan mereka."
"Yesss! Makasih ya Nis, kamu memang the best pokoknya!" jawab Marvell.
Nissa terkekeh mendengar ucapan Marvell yang mirip anak TK yang baru saja dibagikan coklat.
"Ehm, Nis.... "
"Ya, Vell?"
"Kamu, gak pengen gitu nyusul?"
Kening Nissa berkerut karena tidak paham dengan pertanyaan dari Marvell.
"Nyusul siapa? Kemana?"
"Nyusul ke pelaminan lah!"
Nissa tertawa mendengar jawaban Marvell.
"Ish, serius Nis! Malah tertawa!"
"Kamu juga aneh! Calonnya aja belum ada, mau nyusul sama siapa?"
"Kalau sama aku aja, mau nggak?"
"Maksud kamu?" tanya Nissa.
"Ya sama aku, aku bisa kok jadi calonnya."
Mendadak Nissa jadi terdiam, pipinya menghangat dan memerah. Untung saja ini hanya lewat panggilan telepon. Kalau saja mereka sedang bertemu langsung, Nissa tidak dapat membayangkan betapa malunya dia di depan Marvell.
"Hallo, Niss?"
"Eh, iya Vell! Udah ah, masih pagi ini. Jangan bercanda!"
"Aku nggak bercanda Nissa, aku serius ingin jadi pendamping hidup kamu!" jawab Marvell.
"Vell?"
"Iya, Niss?"
"Sebelumnya aku minta maaf, saat ini aku masih menata hati. Meski dulu aku sama Arya juga tidak terlalu cinta, tapi batalnya pernikahan kami tidak hanya membuat trauma, aku juga malu pada teman-teman dan keluarga. Juga pada semua kolega bisnis, baik dari perusahaan yang aku pimpin, juga kolega Papa.
Aku harap kamu bisa mengerti kondisi aku sekarang."
"Iya, Nis. Aku paham. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan. Aku tidak berharap kamu membalas nya, tapi aku akan tetap berdoa supaya kamu jadi jodohku, kata Mama, tikung di sepertiga malam lewat doa, heheheh. Tapi jika tidak bisa dikabulkan, bisa menjadi teman dan sahabat yang bisa melihatmu bahagia, itu sudah cukup buatku untuk ikut bahagia."
__ADS_1
Seketika hati Nissa menghangat mendengar curaham hati Marvell.
...☆࿐ཽ༵༆༒ 𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 ༒༆࿐ཽ༵☆...