Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Pekerjaan Baru


__ADS_3


Mampir juga yuk, di novel pertama aku,....


...*****...


Keesokan harinya, sesuai janji Arya datang ke perusahan milik sepupu Indri. Pagi-pagi sekali Indri sudah mengabari kalau berkas lamarannya susah diterima dan di acc juga. senyuman manis selalu menghiasi wajah Arya


di pagi hari itu. Suasana hati yang bahagia membuat wajahnya nampak berseri-seri.


"Wah, kayaknya ada yang lagi bahagia, nih?" ucap Mama Amel.


Pria tampan itu semakin mengembangkan senyumnya, sedangkan Rendra dan juga Vina yang tengah ikut sarapan hanya saling lirik saja. Rendra langsung menggedikkan bahunya yang seolah-olah tahu arti tatapan Vina yang menanyakan ada apa padanya.


"Iya dong Ma! Mama kan tahu apa yang bikin aku senang."


"Kabar baik dari Indri?"


Arya mengangguk semangat menjawab pertanyaan Mama Amel."Ya, tepat sekali. Pagi-pagi tadi dia sudah ngabarin kalau aku disuruh datang dan menghadap HRD nya. Makanya ini aku udah siap Ma. Nggak mungkin kan, aku telat di hari pertama. Aku gak mau reputasi aku jelek nantinya."


"Ya jelas dong Arya! Kamu harus jaga reputasi kamu di depan orang, dan pastinya jangan buat malu Indri. Jangan sampai dia kecewa melihat kamu malah telat di hari pertama."


"Kamu mau kemana, Ar? Udah rapi begitu?" Karena penasaran akhirnya Rendra pun bertanya pada adiknya itu.


"Mau kerja lah Mas? Nggak lihat apa aku udah rapi dan necis kayak gini?"


"Lah, bukannya kata Mama kamu sudah dipecat dari perusahaan Nissa?"


"Memangnya aku ada bilang mau kerja di tempat si Nissa? Nggak kan?" Arya menjawab dengan ketus.


"Terus, mau kerja di mana? Perasaan, Mas nggak lihat kamu masukin lamaran baru."


"Di Rendra, kamu ini apa-apaan sih. Adiknya mau kerja bukannya di dukung malah dihujani pertanyaan kayak gitu. Dia mau kerja di tempat keponakan teman Mama waktu sekolah dulu."


"Emang, sudah pasti diterima, Ma?"


"Yakinlah! Orang yang masukin lamarannya anak temen Mama itu kok! Jadi langsung ke atasannya nggak usah pakai wawancara!"


"Ooh, jalur orang dalam toh, pantes langsung di ACC."


"Emang kenapa kalau pake jalur orang dalam, Mas? Nggak usah julid deh!"


"Siapa yang julid sih, Ar? Mas kan cuma nanya, wajar dong. Secara kamu kan baru dipecat beberapa hari, kok cepat banget udah dapet kerjaan lagi. Rupanya jalur orang dalam, pantas saja."


"Udah deh Ren, harusnya kamu itu dukung buat kemajuan adik kamu. Bukannya malah nyinyir!"


"Mas Rendra pasti dukung lah, Ma! Cuma Arya nya aja yang terlalu sensitif. Gitu aja ngambek kayak anak perawan lagi PMS."


Mata Mama Amel melotot mendengar ucapan Vina yang spontan itu.


"Vina! Ngapain kamu ikut ngomong? Nggak ada yang ngajakin kamu ngomong!"


"Ya karena aku punya telinga, Ma! Makanya aku ikut ngomong! Kalau aku tuli, baru aku diem aja nggak ikut ngomong."


"Jangan kurang ajar kamu, Vina! Rendra, ajari istri kamu itu sopan santun! Sama mertua nggak punya adab sama sekali!"


"Kenapa kalian malah ribut? Mana makanan buat aku? Aku harus buru-buru nih, udah jam berapa ini, Ma? Gak enak sama Indri kalau aku telat."


"Vina! Kamu dengar nggak? Ambilkan nasi sama laik buat Arya! Jangan diam saja!" Mama Amel menatap Vina tajam.


"Lah, emang aku istrinya Arya? Nasi dan lauk juga udah di depan mata tinggal ambil? Emang dia nggak punya tangan, Ma? Kalau dia buntung, baru aku mau ambilkan!"


Yah, semenjak melihat Nissa melawan Mama Amel, Vina benar-benar berubah. Bahkan, Rendra sendiri sampai terkejut melihat perubahan istri tersayangnya itu. Namun, Rendra bukannya marah, justru ia tampak senang karena akhirnya istrinya itu bisa melawan. Sebab Vina selama ini selalu mengalah dan diam saat Ibunya menghina dan menghardik. Padahal, Rendra tidak masalah jika Vina melawan Mama Amel asalkan posisinya benar.


"Rendra! Itu is..."


Sebelum Mama Amel menyelesaikan kalimatnya, Rendra sudah memotong.


"Sudahlah, Ma! Kenapa Mama harus marah? Apa yang Vina katakan itu benar, Arya itu bukan suaminya, jadi Vina nggak punya kewajiban untuk melayani Arya seperti Vina melayani aku."


Vina tersenyum mendengar pembelaan dari suaminya.


"Belain aja terus istri kamu itu! Lama-lama bisa besar kepala dia!"


"Ya harus dong, Ma! Kalau bukan aku siapa lagi yang akan melindungi? Gak mungkin Mama sama Arya kan? Sebab, kalian bisanya hanya memerintah, menghardik, bahkan memaki. Sudah ah, aku kenyang! Yuk sayang, kamu sudah selesai belum sarapannya?"


"Sudah Mas! Yuk aku antar ke depan!"


Rendra mengangguk menjawab ucapan Vina lali meraih tangan Mama Amel dan mencium takzim.


"Rendra....!"


"Ma, udah deh nggak usah ngurusin Mas Rendra. Buruan Ma, mana makanan aku? Mama mau aku kerja di tempat Indri nggak sih? Daritadi malah berantem nggak jelas sama pecundang itu."


"Heh! Siapa yang kamu sebut pecundang itu hah?"

__ADS_1


Vina yang baru saja mengantar sang suami pergi kerja pun mendengar ucapan Arya menjadi murka. Telinganya panas dan bibirnya gatal. Rasanya ia ingin menyumpal mulut Arya dengan kolor bekas.


"Ya suami kamulah! Laki-laki kok takut istri. Dikit-dikit istri! Laki macam apa itu, cuuuih!" Arya memiringkan mulutnya ke kanan dan ke kiri.


"Yang jelas dia bukan laki-laki mokondo kayak kamu! Laki kok mulutnya lemes! Sini gih, pake rok! Kayaknya lebih pantas kamu daripada aku yang pake! Pantesan Nissa buang kamu karena kamu emang gak layak dipertahankan. Baguslah! Manusia toxic macam kamu nggak dapat panggung, jadi nggak bisa berkoar terlalu banyak!"


Demi apa? Ucapan Vina benar-benar telah mengoyak harga diri Arya. Tangan Arya terangkat dan hendak menampar Vina. Namun, belum sempat tangan itu ia layangkan pasa wajah kakak iparnya tapi ucapan Vina membuatnya menurunkan tangannya.


"Sekali saja kamu menyentuh kulitku walau secuil jangan harap kamu bisa hidup tenang. Di negara ini punya hukum dan kamu akan tahu berurusan dengan siapa. Jangan anggap aku diam selama ini lantas bisa kalian injak-injak terus menerus. Ayo lakukan! Jika kalian ingin mendekam di penjara!"


"Sudah Ar, nggak usah urusin dia! Ayo kita sarapan! Nanti kamu telah lagi!"


Arya Pun beranjak dari tempatnya berdiri menuju meja makan. Sedangkan Vina tersenyum sinis melihat Mama Amel dan Arya menciut nyalinya.


"Huh! Beruntung aku sedang menjaga mood ku agar tetap baik. Awas saja nanti kalau mereka masih bikin masalah, ku jadikan lemper mulut mereka." Vina bergumam lalu meninggalkan Arya dan Mama Amel yang sedang sibuk mengisi perut mereka.


...*****...


"Selamat bergabung bersama kami, Pak! Mulai besok, Bapak sudah bisa mulai bekerja disini."


Pak Hartono sebagai kepala HRD menyalami Arya yang direkomendasikan langsung oleh Indri. Sepupu dari pemilik perusahaan.


"Terimakasih, Pak! Senang bisa bergabung bersama kalian. Mohon bantuannya, apabila saya berbuat salah mohon dimaklumi dan di maafkan." Arya menyambut jabatan tangan Pak Hartono. Senyuman tak henti-hentinya menghiasi bibir lelaki itu.


Setelah sesi wawancara non formal selesai, akhirnya Arya kembali keluar dari ruangan Pak Hartono. Ia melangkah ringan karena suasana hatinya sedang sangat bagus-bagusnya.


"Akhirnya aku punya kerjaan juga setelah beberapa hari kemaren sempat menganggur. Hah, setelah ini aku harus bekerja lebih keras supaya bisa menggeser posisi si tua Hartono itu. Usianya sudah tak layak lagi untuk tetap bekerja disini. Jadi, hanya akulah yang layak disini. Meski aku baru bekerja tapi aku kan rekomendasi dari Indri. Hanya aku yang pantas menggantikan Pak Hartono nantinya."


Arya terus berjalan menjauhi ruangan Pak Hartono menuju lift, setelah lift terbuka Arya masuk kedalamnya dan menekan tombol L yang artinya lantai dasar, karena ruangan Pak Hartono ada di lantai dua.


"Mas Arya!"


Suara yang tak asing terdengar di telinga Arya, ia yang baru saja keluar dari dalam lift pun menoleh ke arah datangnya suara. Dan benar saja, ternyata Indri lah yang memanggilnya.


"Hay, kamu darimana?" tanya Arya sekedar basa basi. Ia pun memamerkan deretan giginya yang putih dan tertata rapi seperti biji timun.


"Aku? Dari ruangan aku lah!"


"Oh, iya! Kamu disini kan manager keuangan ya! Sampai lupa aku!"


"Hehehhe, gimana? Tadi sudah ketemu Pak Hartono belum?"


"Sudah Doong, dan dia ngucapin selamat ke aku!"


"Aku juga mau ngucapin selamat ke kamu, Mas! Selamat bergabung di perusahaan kita! Semoga kamu betah kerja disini, ya!"


Wajah Indri mendadak bersemu merah, ia sekilas menunduk lalu kembali mendongak menatap Arya.


"Lalu, kapan Mas bisa mulai kerja?"


"Besok sih, katanya sudah bisa mulai kerja. Eh, tapi aku belum kamu kenalin sama sepupu kamu yang katanya pemilik perusahaan ini."


"Oh, Mas Marvel? Dia mah jarang datang ke kantor. Soalnya kan, ini hanya kantor cabang aja. Biasanya Mas Marvel akan datang ke perusahan pusat. Letaknya nggak jauh kok Mas dari kantor milik mantan tunangan kamu."


Arya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Waaah, sepupu kamu kaya banget ya! Sampai punya beberapa perusahaan. Padahal ini cuma cabangnya tapi sudah sebesar ini. Apalagi kantor pusatnya?"


"Yaa tapi tetap aja yang kaya kakak sepupu aku, bukan aku!"


"Hehehhehe, sama sajalah In! Kan kamu juga keluarganya jadi kamu juga termasuk orang terpandang. Nyatanya kamu bisa dengan mudah masukin aku ke kantor ini. Kalau bukan karena kamu orang besar disini, mana mungkin aku bisa lolos begitu saja kan?"


Indri tersenyum, tersipu mendengar pujian dari Arya.


"Sekali lagi, terimakasih ya In! Kalau bukan karena kamu pasti hari ini aku masih nganggur. Entah harus dengan cara apa aku membalas kebaikan kamu ini," ucap Arya dengan nada lembutnya.


"Sama-sama, Mas! Udah ah, jangan bilang makasih terus deh, kayak apa aja!"


Ucapan Indri berhasil membuat Arya tertawa.


"Memang benar ya kata orang! Di setiap musibah pasti ada hikmah. Disaat pertunangan aku gagal karena ternyata perempuan itu bukan sosok yang baik, Tuhan mempertemukan aku dengan kamu. Sosok perempuan yang baik, sangat baik sekali. Dan saat aku dipecat dari pekerjaan, kamu hadir memberikan aku pekerjaan. Sungguh, Tuhan memang benar-benar baik."


Demi apa Arya bisa mengucapkan kata-kata seperti itu? Astaga! Entah darimana laki-laki itu belajar merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang begitu indah.


"Namanya juga hidup, Mas!"


"Oh, iya sebagai ucapan terimakasih ku, boleh kan kapan-kapan aku traktir kamu? Nggak ada penolakan ya!"


"Hmm, boleh!"


Akhirnya sepasang lelaki dan perempuan itu terus berbincang-bincang. Ada begitu banyak obrolan yang mereka bahas, dari masalah pekerjaan maupun masalah pribadi. Tak jarang keduanya melihat ke arah yang sama yaitu layar ponsel Indri. Entah apa yang ditunjukkan Indri pada lelaki itu.


"Permisi Bu Indri, mohon maaf. Berkas yang Ibu minta sudah saya letakkan di atas meja ruang. Ibu," suara sosok wanita terdengar dari arah belakang, membuat Indri menoleh. Dan ternyata wanita itu adalah bawahannya.


"Oh, iya! Terimakasih!" jawab Indri dengan santun. Memang, meski Indri memilik jabatan yang tinggi, dan sebagai kerabat dari pemilik perusahaan, lantas tidak membuat Indri menjadi sosok wanita yang angkuh. Ia selalu bersikap baik kepada rekan kerja dan juga bawahannya. Rasanya tidak pantas wanita sebaik Indri disandingkan dengan lelaki toxic seperti Arya.

__ADS_1


"Apa ada yang bisa dibantu lagi Bu?" tanya wanita yang berpakaian rapi tersebut.


"Udah cukup, kamu bisa kembali bekerjasama di meja kamu!"


Wanita itu kembali mengangguk, lalu meninggalkan Indri dan Arya yang masih berdiri di tempatnya itu.


"Aku balik ke ruangan aku dulu ya, Mas! Ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan."


"Iya silahkan, In! Terimakasih ya!"


Indri mengangguk sambil mengulas senyum. Kemudian wanita itupun segeea melangkah pergi menuju ke ruangannya. Sedangkan Arya , masih berdiri terpaku menatap punggung Indri yang kian mengecil hingga akhirnya menghilang setelah melewati dinding ruangan.


"Benar-benar wanita yang baik, cocoklah sebagai pengganti Nissa. Sudahlah kaya, baik, lembut, dan pengertian pula. Wanita lugu seperti itu gampang untuk digenggam. Ah, aku semakin semangat untuk mendapatkannya." gumam Arya lirih.


Arya kembali melangkah untuk pulang. Dengan langkah pasti dan kepala mendongak memancarkan aura kesombongan. Lelaki itu bersikap seolah-olah dirinya petinggi di perusahaan padahal dia hanyalah seorang staf biasa. Awalnya Arya tidak masalah jika hanya menjadi seorang staf biasa. Tetapi setelah melakukan sesi wawancara, ambisinya Arya berubah. Dia ingin menjadi petinggi di perusahaan tersebut.


Saat Arya hendak melewati ambang pintu, ia seketika berdiri mematung disana. Bukan tanpa sebab, lelaki itu melihat sosok wanita yang sangat dia kenali. Nissa!


Ya, Nissa!


Nissa berjalan bersama seorang lelaki secara beriringan. Tak jarang keduanya saling melempar senyuman yang membuat hati Arya jadi memanas.


Memang, Arya hanya mengincar harta Nissa. Namun, bukankah seiring berjalannya waktu perasaan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya? Itulah yang dirasakan Arya saat bersama dengan Nissa. Bahkan rasa itu hingga kini masih bersemayam.


Sebenarnya berat bagi Arya untuk melepaskan Nissa. Tapi mau bagaimana lagi? Permintaan dari sang ibunda adalah perintah yang harus dilaksanakan. Tidak ada kata penolakan. Begitulah doktrin dari Mama Amel sejak dulu.


Pandangan Arya yang semula tertuju pada wajah cantik Nissa, kini beralih ke pria yang ada di sampingnya. Arya menatap lekat, menelisik wajah tampan itu. Arya hanya ingin mengingat-ingat adakah wajah lelaki itu di ponsel yang tadi di tunjukkan Indri tadi atau tidak.


Arya masih mengingat wajah-wajah petinggi yang ada di perusahaan tersebut. Namun tidak satupun wajah pria yang bersama Nissa tadi ada di foto yang ditujukkan Indri tadi.


"Ternyata selera kamu hanya seorang staf rendahan Nissa!" lirih Arya saat yakin wajah lelaki itu sangat asing di ingatannya.


Arya segera menggeser tubuhnya untuk bersembunyi dari Nissa.


"Sekarang aku akan sembunyi dulu, belum saatnya aku muncul di depan kalian. Awas saja Nissa. Aku akan memperlakukan pria itu seperti apa yang sudah kamu lakukan padaku. Memecat laki-laki itu seperti kamu memecatku. Ah, rasanya semakin semangat saja buat menggeser posisi Pak Hartono di perusahaan ini!" batin Arya sembari memandang Nissa dan pria itu masuk area kantor.


Arya pun kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran kemudian lanjut pulang ke rumahnya.


...*****...


"Gimana, Ar?" baru saja Arya masuk ke dalam rumah Mama Amel sudah menodongnya dengan pertanyaan.


"Lancar Ma, besok sudah mulai kerja," jawab Arya sambil masuk rumah, melewati sang Mama yang berdiri di ambang pintu. "Tadi Arya juga lihat Nissa ada di sana!"


Mama Amel langsung menoleh ketika mendengar ucapan Arya. " Oh ya? Dimana?" tanya Mama Amel yang mengikuti langkah Arya yang menuju sofa di ruang tamu. Arya meletakkan tas nya di atas meja lalu segera duduk di sofa yang diikuti Mama Amel yang ingin mendengar cerita putranya tentang sosok wanita yang gagal menjadi menantunya.


"Di perusahaan itu Ma, lelaki itu juga pegawai disana, mereka terlihat sangat dekat, sepertinya Nissa jadikan sebagai pengganti Arya."


"Oh ya? Jabatannya apa disana?"


"Halah, hanya seorang staf biasa Ma!" jawab Arya dengan ras percaya diri yang tinggi.


"Memang kamu menemui dia?"


"Enggak Ma, tadi itu Indri menunjukkan foto-foto para petinggi perusahaan. Tapi Arya ngerasa asing banget sama lelaki itu karena wajahnya nggak ada di foto dia disana. Nah, dari situ sudah bisa diambil kesimpulan kan siapa laki-laki itu! Kalau lelaki itu petinggi di perusahaan, pasti tadi Arya sudah lihat di fotonya," balas Arya panjang lebar, Mama Amel yang mendengarkan hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Masih mending kamu ya Ar, putus dari Nissa dapat Indri yang juga dari kalangan orang kaya. Nggak kayak Nissa yang masih aja suka sama bawahannya."


"Iya dong Ma! Indri kan manager keuangan. Dan sepertinya wajah pria itu kurang menarik jika menjadi petinggi perusahaan apalagi jadi pemilik perusahaan." jawab Arya.


"Ya sudah sana, kamu istirahat dulu!"


"Iya Ma."


Arya segera beranjak dari duduknya lalu masuk ke kamar. Sesampainya di kamar, Arya segera bersih-bersih lalu istirahat. Sambil berbaring di mencari kontak Indri lalu menuliskan sebuah pesan.


[Aku tadi lihat mantan tunanganku di sana. Sepertinya kekasih barunya itu bekerja satu perusahaan dengan kamu]


Send.


Tak menunggu waktu lama sudah ada balas. dari Indri.


[Oh ya? Siapa pria yang sedang bersamanya? Kamu ada fotonya?]


[Aku tadi sama sekali tidak kepikiran untuk mengambil foto mereka.]


[Oh, iya nggak papa. Mungkin lain kali kita bisa ketemu sama mereka secara langsung. Kamu sudah sampai rumah?]


[Sudah barusan, oh iya Mama titip salam buat kamu. Katanya terima kasih karena sudah membantuku mendekatka pekerjaan baru.] balas Arya yang sudah pasti hanya karangannya saja.


[Ternyata kamu sama Mama Amel sama saja. Ngomong terimakasih nya gak ada hentinya.] Diakhir pesan Indri mencantumkan emoticon tertawa ngakak.


[Ya gimana....namanya juga sudah dibantu! Hehehe!]


[Iya, sama-sama. Salam balik buat Mama Amel ya! Oh ya, udah dulu ya Mas. Pemilik perusahaan datang, aku mau kasih laporan dulu. Bye.]

__ADS_1


[Siap!] jawab Arya singkat lalu dia mulai berselancar di aplikasi lainnya.


__ADS_2