Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Sebelum digaet orang


__ADS_3

Mendengar ucapan Nissa, Indri bukannya tersadar wanita itu malah tersenyum sinis.


"Kamu tidak perlu khawatir soal aku yang masih mencintai lelaki itu. Dan aku tegaskan sekali lagi jika apa yang ada di kepalamu itu semua salah besar! Seujung kuku pun tidak ada rasa iri sama sekali jika Arya sudah mendapatkan wanita pengganti yang jauh lebih baik dariku." Nissa dengan tegas berucap.


"Kamu pikir aku wanita bodoh, Nissa? Bukankah manusia munafik itu memang ada ya di dunia ini? Contohnya ya kamu ini! Di bibir bilangnya sudah tidak peduli dan tidak cinta lagi, namun faktanya sangat berbanding terbalik. Bukankah isi hati orang tidak ada yang tahu?"


Nissa mengepalkan tangannya sembari berjalan mengelilingi Indri. Gadis itu bingung melihat tingkah Nissa, matanya terus mengikuti pergerakan Nissa.


"Aku akui, kamu sebenarnya gadis yang pandai dan berpendidikan. bahkan kamu sadar bahwa tidak ada yang bisa mengetahui isi hati orang lain! Lantas kenapa kamu jadi orang yang bodoh seperti ini? Maaf, aku bukan bermaksud untuk ikut campur. Lupakan saja apa yang aku katakan!" ucap Nissa dengan nada yang begitu tenang.


"Jika kamu sudah yakin dengan hubungan kalian, semoga segera melangkah ke jenjang yang lebih serius. Selamat ya!"


Tangan Nissa terulur memberi selamat. Namun Indri membiarkan saja seolah jijik jika harus bersentuhan dengan Nissa.


"Oke, baiklah! Tidak apa-apa." Nissa menarik tangannya kembali. "Ada banyak pekerja yang menunggu! Hati-hati di jalan!"


Nissa memberikan tepukan sekali di bahu Indri sebelum melangkah pergi. Hal itu tentu saja sangat tidak disukai oleh Indri. Gadis itu sampai mengibas-ibaskan bekas tepukan dari tangan Nissa.


Nissa hanya tersenyum menanggapi kelakuan Indri. Kemudian meninggalkan Indri yang masih berdiri mematung menatap kepergian Nissa dengan tangan terkepal.


"Aku akan selalu ingat ucapanmu itu! Jika suatu hari aku temukan kamu ingkar maka kamu adalah manusia munafik!" Indri berucap dengan sangat lantang sampai-sampai Nissa yang sudah melangkah jauh pun masih bisa mendengar. Langkah Nissa terhenti, tanpa menoleh wanita itu mengacungkan jempol sambil tersenyum meski dia tahu Indri tidak akan pernah bisa melihat senyumnya.


Beberapa detik kemudian Nissa menurunkan tangannya dan melanjutkan langkah yang tadi sempat terhenti hingga akhirnya tubuh itu menghilang di balik pintu lift.


Indri menghentakkan kakinya sebagai luapan rasa kesal, lalu dia pergi dari kantor milik Nissa.


...*****...


[Sudah makan siang?]


Sebuah pesan terkirim dari nomer Arya untuk Indri menjelang jam makan siang.


[Belum, kan belum jam istirahat siang, Mas.]


Arya menepuk jidatnya, bagaimana bisa dia menanyakan hal yang dia sudah tahu jawabannya. Arya hanya mengirimkan emoticon tertawa sebagai balasannya.


[Nanti makan siang bareng ya! Tunggu aku lima menit lagi]


Selain ingin mendekatkan hubungan, Arya juga ingin mengetahui hasil pertemuan Indri dengan Nissa tadi. Karena hal itulah, Arya tidak bisa konsentrasi bekerja sejak dari tadi pagi sebab dia khawatir jika Nissa mengatakan yang tidak-tidak.


[Ok, Mas!] jawab Indri.


Arya hanya membaca tanpa berniat membalasnya. Lelaki itu lantas meletakkan ponselnya di atas meja. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja memikirkan sesuatu.


Arya merapikan meja kerjanya saat jam istirahat siang tiba. Arya segara beranjak dari tempat duduk kemudian melangkah pergi setelah sedikit merapikan penampilannya.


Sepanjang perjalanan, Arya masih berharap Indri ada di pihaknya. Dia tak tahu akan seperti apa nasibnya kini jika Nissa berhasil mempengaruhi gadis incarannya saat ini.


"Hai!" Sapa Indri saat keduanya bertemu di lobby kantor. Arya membalasnya dengan senyum yang dia buat semanis dan senatural mungkin.


"Lita makan di luar yuk, Mas! Bosen di kanti. terus!" ajak Indri.

__ADS_1


"Boleh, naik motor gapapa? Aku belum ada mobil soalnya," jawab Arya sambil nyengir.


"Nggak masalah kok, Mas."


"Oke deh, yuk kita berangkat!" ajak Arya.


Keduanya menuju ke parkiran motor, lalu tak lama kemudian kendaraan roda dua itu melaju melesat membelah jalan raya.


"Tadi jadi ke kantor Nissa?" tanya Arya setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.


"Jadi!"


"Gimana?"


"Tenang aja, setelah ini dia tidak akan pernah lagi mencampuri urusan kita."


Arya bernafas lega karena semua sesuai dengan harapannya. Indri masih ada di pihaknya.


"Setelah ini kamu tidak perlu lagi buang-buang waktu untuk menemui wanita itu. Biarkan saja dia mau berkata apa. Biarkan saja dia melakukan cara apa saja untuk memisahkan kita. Biarkan saja dia meras kesal karena usahanya tidak kamu gubris. Aku Ikhlas dia mau memfitnahku seperti apapun, yang. penting kamu tetap percaya padaku."


Tangan Arya menyentuh tangan Indri yang ada di atas meja. Lelaki itu membelai tangannya sebelum akhirnya Arya memutuskan menggenggam erat tangan mulus milik Indri.


"Bagaimana bisa lelaki sebaik kamu diselingkuhi oleh wanita selicik itu, Mas?" tanya Indri.


"Wajar lah, In! Siapa sih aku ini? Hanya seorang Arya yang bekerja sebagai staff biasa saja. Tentu lebih menarik lelaki dengan jabatan tinggi diluar sana. Tapi kamu tenang saja, meskipun aku punya pengalaman buruk tapi aku tidak menilai semua wanita sama. Dan semua itu tentu karena kamu, In!"


Hah, makin besar kepala lah si Indri, bahkan jika dia punya sayap, mungkin saat ini dia sudah terbang ke angkasa.


Kedua tangan itu masih saling bertaut selama obrolan berlangsung. Hingga akhirnya Arya melepaskan tangan mereka saat pelayan datang membawa pesanan mereka satu nampan penuh.


"Makan yang banyak ya," ucap Arya sambil meletakkan makanan milik Indri tepat di depannya.


Jika orang lain yang mendengar ucapan Arya pasti akan mual, sebab ucapan itulah yang sering dikatakan oleh remaja tanggung pada kekasihnya.


Namun berbeda bagi Indri, ucapan itu ia anggap sebagai ungkapan kasih sayang.


Obrolan keduanya berhenti saat mereka mulai menyiapkan makanan. Akan tetapi, saat-saat seperti ini tidak dilewatkan Arya untuk semakin mencengkram mangsanya.


Sesekali Arya menyuapi Indri dengan makanannya, dan itu semakin membuat Indri terbang melayang.


Empat puluh menit sudah, Indri dan Arya menghabiskan waktu untuk makan siang di cafe. Sepasang lelaki dan permen yang sedang di mabuk asmara segara menaiki kendaraan roda duanya untuk kembali bekerja.


...*****...


"Ar, ada yang mau Mama bicarakan sama kamu."


Baru saja Arya menapaki teras rumah, sang Mama langsung mengutarakan apa yang sejak tadi ingin dia bicarakan.


"Arya capek, Ma! Istirahat dulu bentar. Nanti malam aja bicaranya." jawab Arya sambil melangkah.


Mama Amel yang mendapat penolakan tentu saja tidak terima, dia segera mensejajari langkah kaki Arya.

__ADS_1


"Sebentar saja, Ar!"


Arya mendesah, namun ia tak peduli dan tetap melangkah, hingga akhirnya sang Mama menarik tangannya lalu berjalan menuju ke sofa di ruang tamu.


"Duduk dulu sebentar, Ar!"


Arya menghembuskan nafas berat, namun akhirnya dia tetap duduk juga di sofa dengan kasar. Karena merasa sangat lelah akhirnya Arya bersandar sembari merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa.


"Mama mau kamu segera menikahi Indri!"


Arya terperangah.


"Apa tidak terlalu cepat, Ma? Baru juga kenal masa' udah ngajak nikah?"


"Memang bagaimana hubungan kamu saat ini sama dia? Baik-baik saja kan?"


"Kalau itu sih baik-baik aja, Ma! Tapi rasanya kok gimana gitu ya, tiba-tiba ajak Indri nikah. Terkesan buru-buru gitu, Ma!" Arya melakukan penolakan dengan apa yang diminta oleh sang Mama.


Mama Amel yang sedari dulu tidak suka dengan penolakan langsung mendecakkan lidah.


"Memang kamu mau keduluan? Kamu mau Indri di gaet sama orang lain? Indri itu buka gadis biasa, Ar! Tentu saja banyak yang mengincar. Kamu mau kehilangan Indri? Kalau sampai itu terjadi mau cari dimana lagi kamu perempuan kayak Indri?" ucap Mama Amel.


Arya terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari bibir sang Mama. Hingga perlahan dia membenarkan karena teringat Hasan yang juga suka dengan Indri.


"Jangan banyak berpikir, bukankah Nissa juga kenal dengan gadis itu. Bagaimana kalau dia terus mempengaruhi Indri lalu dia jadi berbalik dan enggan menerima kamu?"


Arya nampak mengangguk beberapa kali membuat Mama Amel tersenyum puas melihatnya.


"Nanti kamu beli saja cincin satu gram nggak usah banyak-banyak, beli emas muda saja lebih murah, paling juga empat ratus ribu sudah dapat. Kalau emas tua mahal. Indri kelihatan banget cinta sama kamu. Dia pasti tidak mempermasalahkan hal itu!" bujuk Mama Amel lagi.


"Ya sudah lah Ma, Arya ngikut aja rencana Mama. Tapi Mama harus ingat, jangan gegabah seperti saat dengan Nissa kemaren. Pelan-pelan saja!"


"Iya, iya Ar! Harus banget ya tiap hari ngomong kayak gitu?"


"Ya, Arya cuma khawatir saja kalau kejadian masa dulu itu terulang lagi."


"Jadi intinya, kamu nurut sama Mama, mau segera menikahi Indri?"


"Iya, Ma!"


"Sipp! Kamu memang anak Mama yang terbaik. Sangat berbeda sekali dengan kedua kakakmu yang durhaka itu. Mama yakin, kelak hidupmu pasti lebih sukses dari mereka." Mama Amel berucap dengan nada sangat antusias.


"Arya mau istirahat dulu, Ma! Capek," ucap Arya sambil bangkit dari duduknya.


"Iya, istirahatlah. Nanti kalau makan malam sudah siap, kamu Mama panggil!"


Arya hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Memang Arya satu-satunya anak yang bisa aku andalkan. Tidak percuma sejak kecil aku selalu mendoktrinnya agar selalu berbakti dan menurut apa yang dikatakan Mamanya.


Wajah Mama Amel jadi berseri. Dia sudah membayangkan akan jadi seorang nyonya besar. Mama Amel seakan sudah tidak sabar lagi untuk menghabiskan waktunya hanya dengan duduk ongkang-ongkang kaki dan shoping sana sini tanpa peduli dengan label harga. Tidak hanya itu, dia juga membayangkan jika dirinya tidak akan lagi bergabung dengan grup arisan receh. Namun berganti dengan berkumpul bersama geng sosialita.

__ADS_1


^Happy reading^


__ADS_2