
"Sayang, tidak bisakah kamu berpikir kenapa kami sampai melakukan hal ini? Apa yang kami lakukan ini semua demi kebaikan kamu, sayang! Kami hanya ingin melindungi kami, suami dan mertua kamu itu bukan orang yang baik, In. Mereka hanya ingin memanfaatkan kamu saja!" ucap Mama Sofie berusaha membuat Indri sadar dan berpikir.
Indri menatap tajam Mama Sofie. "Demi kebaikanku? Bukan Ma! Semua itu demi kebaikan kalian. Di saat teman-temanku bebas bersenang-senang, tapi tidak denganku Ma. Aku berjuang untuk membuat Mama dan Papa banggaku. Tapi sekarang, kalian mengambil semuanya tanpa sisa. Indri mohon kembalikan Pa, Ma... Indri sangat butuh saat ini untuk biaya rumah sakit Arya!"
Indri masih saja membela Arya dan Mama Amel dengan tidak menceritakan semua ya g telah dia alami. Dia juga tidak mau menjadi bahan cibiran Nissa, wanita yang dulu selalu dia cela karena meninggalkan Arya. Lelaki yang sangat baik menurutnya. Mesti pada kenyataannya, apa yang dikatakan Nissa semuanya adalah benar.
"Kalau Papa tetap tidak mau mengembalikan, kamu mau apa, In? Apa yang akan mereka lakukan padamu? Apa mereka akan menyiksamu?" tanya Papa Nando.
Indri hanya diam dan tetap menutupi kenyataan yang ada. Dia yakin jika esok atau lusa mereka akan berubah dan kembali seperti semula. Asalkan Indri mendapatkan uang dan kondisinya kembali seperti semula. Dia yakin jika semua yang dia miliki kembali, Mama Amel dan Arya akan kembali memperlakukan nya dengan baik seperti semula.
"Papa jangan sok tahu! Sekarang, Indri minta tolong Papa kembalikan sm dia milik Indri. Indri sudah di pecat sama Mas Marvell. Indri butuh semua itu Pa, aku harus segera menyusul Mas Arya ke rumah sakit, Pa." Indri bersikeras dan memohon pada Papanya.
"Seperti kamu yang bersikeras, maka Papa pun akan tetap seperti itu. Jika kamu terus membelanya, maka lebih baik kamu keluar dari rumah ini, jangan pernah lagi datang jika hanya untuk meminta uang ataupun benda berharga lainnya. Karena Papa tidak akan pernah memberikannya. Kembalilah jika kamu aduah menyadari kebodohan kamu selama ini. Cinta yang kau banggakan dan kau agungkan itu nyatanya hanya membuatmu buta, tidak hanya buta mata tapi juga buta hatimu!" ucap Papa Nando.
Papa Nando pergi meninggalkan Indri. Air mata kembali membasahi kedua pipi perempuan itu. Entah darimana lagi dia akan mendapatkan uang untuk membayar biaya rumah sakit Arya. Indri kemudian menatap Mamanya yang masih duduk di sofa. Dia bersimpuh di depan Mama Sofie.
"Ma, please! Bantu Indri, Ma. Indri butuh buat biaya rumah sakit Mas Arya. Apa Mama tidak kasihan dengan menantu Mama?"
"Mama tidak akan pernah mengasihani orang yang tidak punya hari dan memperlakukan anak Mama dengan tidak baik! Jangan pernah berharap Mama akan membantumu lagi. Kali ini Papa tidak bisa lagi menghalangi keputusan Papa kamu!"
Indri akhirnya menangis sambil bersandar di dinding. Ia sudah bisa membayangkan jika dia datang ke rumah sakit tapi tidak bawa uang, pasti Mama Amel akan melayangkan cacian dan sumpah serapah padanya.
"Pulanglah, In. Pikirkan dan renungkan apa yang Papa dan Mama katakan. Mungkin kamu belum menyadari jika yang kami lakukan ini duanya demi kebaikan kamu, demi melindungi kamu. Pulanglah, Mama lelah dan mau istirahat."
Mama Sofie lalu berdiri meninggalkan Indri yang masih terisak. Indri masih memikirkan bagaimana caranya agar dapat uang hari itu juga. Dia terus mengusap air matanya yang terus mengalir seolah enggan untuk berhenti. Tangannya turun, lalu berhenti saat merasakan ada sesuatu yang melingkar di lehernya saat ini.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa lupa, aku masih punya kalung hadiah dari Mama dan Papa dulu. Ini pasti harganya lumayan." gumam Indri.
Indri segera pergi dari rumah orang tuanya lalu menuju ke toko emas terdekat. Namun langkahnya menjadi ragu saat ingat jika surat kalung yang saat ini dia pakai ada di dalam kotak perhiasan yang saat ini di sita Papanya.
...*****...
Indri berjalan cepat bahkan setengah berlari mencari dimana ruang rawat suaminya. Akhirnya ia bertanya ke bagian informasi. Ternyata Arya masih ada di UGD. Berkali-kali dia menelepon Mama Amel. Tapi tak sekalipun panggilannya di angkat.
Sesampainya di UGD, Indri segera mencari keberadaan suami dan mertuanya hingga akhirnya dia menemukan Mama Amel yang sedang duduk menunggu Arya yang masih tiduran di atas brankar rumah sakit. Akan tetapi, dia melihat jika sang Mama tak hanya sendiri. Ada perempuan asing yang juga ada di sana. Mereka sedang berbincang. Bahkan saking seriusnya hingga mereka tidak menyadari kedatangan Indri.
"Ma.... " panggil Indri.
"Sudah datang kamu? Darimana saja? Suami masuk rumah sakit bukannya cepet datang, malah kelayapan nggak jelas! Dasar istri durhaka!" maki Mama Amel.
Wanita paruh baya itu benar-benar tidak bisa melihat dimana situasi dan kondisi mereka sekarang berada. Yang dia lakukan dari tadi hanya memaki dan menghardik menantu yang dia anggap sebagai pembawa sial.
"Oh, sudah bawa uang! Baguslah!" ucap Mama Amel enteng.
"Terus itu siapa Ma?" tanya Indri lagi sambil menunjuk perempuan asing yang ada di sebelah Mama Amel.
"Oh, ini Hana. Dia yang tadi nolongin bawa suami kamu ke rumah sakit!"
Indri mengangguk pada Hana lalu menjabat tangannya, mengucapkan terima kasih. Hana pun belas mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi gimana keadaan Mas Arya Ma??" tanya Indri.
__ADS_1
" Arya sebenarnya sudah boleh pulang karena nggak ada luka dalam, tapi karena Mama nggak ada uang ya sudah nunggu kamu datang aja. Ini semua kan gara-gara Arya bawa uang kamu. Jadinya kita kerampokan. Untung aja Arya masih selamat. Tapi lihat aja itu mukanya jadi bonyok!"
"Maaf Ma, tadi kan sudah Indri jelaskan sama Mama kalau Indri harus cari uangnya dulu. Ini Indri susah disini dan bawa uangnya juga."
"Dapat duit darimana?" tanya Mama Amel. "Nyolong ya?" imbuhnya.
Indri memejamkan matanya lalu menarik nafasnya panjang ketika mendengar pertanyaan mertuanya. "Enggak Ma, Indri barusan jual kalung Indri. Hadiah ulang tahun dari Mama dan Papa indri."
"Baguslah! Itu kan sudah jadi tugas dan kewajiban kamu sebagai istri Arya. Sudah sana! Buruan kamu bayar! Mama sudah capek banget nungguin kamu yang nggak datang-datang dari tadi."
Indri pun akhirnya melangkah pergi ke bagian administrasi untuk membayar tagihan rumah sakit Arya.
...*****...
"Nis, kamu jadi ikut kan nanti ke acara arisan keluarga nanti sore?" tanya Mamanya.
Mereka saat ini sedang berkumpul untkm makan siang bersama. Kebetulan hari ini mereka sesuai ada di rumah semua karena hari minggu.
Nissa mendesah pelan. "Sebenarnya nissa Nissa malas lho Ma datang ke acara itu. Nissa merasa acara itu cuma kedok aja. Aslinya arisan itu cuma ajang pamer buat mereka. Bukan sebagai ajang untuk mempererat tapi silaturahmi sebagai keluarga." jawab Nissa.
Nissa sering sekali mendapatkan pertanyaan 'kapan nikah?' lalu berlanjut ke acara nyinyir, 'masa pemilik perusahaan nggak laku-laku'.
Mamanya yang mengerti apa yang dirasakan putri kesayangannya.
"Kamu yang sabar Niss, kamu nggak usah mikirin dan dengarkan apa kata mereka. Menikah itu kalau bisa cukup sekali untuk seumur hidup, carilah pria yang benar-benar baik dan bertanggung jawab. Karena setia san mapan saja tidak cukup. Tapi kalau memiliki tanggung jawab uang kuat, Mama dan Papa yakin jika lelaki itu akan selalu memperlakukan kamu dengan dengan baik hingga nantinya kalian menua bersama."
__ADS_1
Nissa menghela nafas. Apa yang Mamanya katakan ada benarnya. Toh ia juga tidak minta makan pada orang-orang yang julid itu.
...-\=₪۩۞۩₪\= ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ \=₪۩۞۩₪\=-...