Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Semua dari Aku


__ADS_3

"Oh, iya In. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." wajah Arya berubah jadi serius.


"Ada apa Mas? Katakan saja!"


"Sebelumnya aku minta maaf ya, In. Besok saat aku dan Mamaku datang ke rumahmu untuk melamar, pasti Papamu akan menanyakan kapan pernikahan itu akan dilaksanakan, terus berapa mahar yang akan aku berikan. Lalu aku harus jawab apa, In? Sedangkan kamu tahu sendiri gajiku sangat kecil jika dibandingkan dengan gajimu yang seorang manager keuangan."


"Mas Arya tidak usah memikirkan hal itu, semua sudah aku pikirkan kok Mas. Mas Arya bilang saja kalau semua Mas Arya yang akan tanggung, nanti aku akan kirimkan uangnya ke Mas Arya. Mas Arya diam saja tidak perlu disampaikan ke Papa karena itu murni uang tabungan aku selama ink."


"Tapi, In. Harusnya itu semua kan kewajiban aku sebagai lelaki." ucap Ryan melancarkan sandiwara nya meski dalam hati dia jingkrak-jingkrak senang.


"Tidak masalah, Mas. Bukankah sudah aku katakan kali setelah menikah nanti kamu dan aku akan jadi kita. Menurut aku siapa yang ada dulu saja. Seandainya nunggu kamu ada uangnya, lantas kapan kita akan nikah Mas? Maaf, bukan maksudku menghina kamu Mas. Tapi aku ini perempuan. Jadi butuh kepastian. Mas Arya paham hal itu kan?"


"Akh juga nggak ada maksud menghina Mas Arya. Aku cuma ingin Mas Arya terlihat berharga di mata keluarga aku. Terutama di depan Mas Marvell. Mas Arya tidak luka kan, kalau dia pasti datang di acara pernikahan kita nanti." ucap Indri lagi.


Arya mengangguk-anggukan kepalanya sekolah mengerti dengan apa yang diucapkan Indri. Padahal, itulah yang sesungguhnya ditunggu Arya daritadi.


"Jadi, ini beneran gak masalah kalau biaya pernikahan dari kamu, In?" tanya Arya memastikan.


"Gak masalah Mas, besok setelah acara lamaran akan aku transfer uangnya."


"Memangnya kamu ingin pesta pernikahan yang seperti apa, In? Kalau mewah karena keluarga kamu yang kaya-kaya, jujur saja aku nggak mampu, In!"


"Mas Arya tenang saja. Alhamdulillah, tabungan aku lebih dari cukup kalau hanya untuk menggelar pesta pernikahan di gedung."


Arya meneguk ludah membayangkan berapa jumlah tabungan yang dimiliki Indri hingga dengan entengnya dia berkata seperti itu.


"Ehm, In. Maaf, kalau boleh tahu berapa gaji kamu gaji kamu dari Marvell. Kalau aku boleh tahu."


"Tentu saja kamu boleh tahu Mas! Karena tanggung jawab aku di kantor sebagai manager keuangan terbilang besar, dan akupun sepupu Mas Marvell, jadi dia menggaji aku 30 juta per bulan."


Mata Marvel membelalak mendengar nominal gaji Indri yang menurutnya adalah jumlah yang sangat besar.


"Hah? Banyak sekali In. Apalah aku ini di hadapanmu. Hanyalah remahan rengginang sisa lebaran."


Arya kembali merendahkan diri agar Indri merasa iba padanya.


"Mas Arya kenapa bicara seperti itu?Aku tuh menerima kamu apa adanya kamu Mas. Bukan ada apanya!"


"Tapi aku malu, In. Sudah jelas uang gajiku tidak akan pernah cukup untuk kamu In!"


"Soal itu juga sudah aku pikirkan Mas. Uang gajimu berikan saja pada Mamamu sebagai tanda bakti."


"Lalu kamu?"

__ADS_1


"Aku? Aku kan punya gaji Mas! Aku rasa itu sangat cukup untuk kita berdua dan anak-anak kita nantinya."


"Tapi itu kan tanggung jawab aku sebagai seorang suami, mana mungkin aku tidak memberikan kamu uang bulanan In?"


"Sudah ah Mas, nggak usah dipikirka. Toh semua sama saja."


"Tapi In... "


"Mas, please ya! Yang penting kita sah sebagai suami istri yang akan menjalani hidup bahagia bersama berdua. Bukan begitu?"tanya Indri sambil menatap wajah Arya di layar ponsel sambil tersenyum.


Sedetik kemudian, wajah Arya juga ikut tersenyum dan mengangguk.


"Ya sudah kalau gitu Mas, aku mau istirahat dulu. Capek banget rasanya hari ini. Besok aku ijin nggak masuk, kalau Mas Arya masuk kan?"


"Iyalah aku masuk In. Aku masih baru disana. Aku nggak mau di pecat gara-gara nggak masuk kerja." ucap Arya.


"Ya sudah, jaga hati dan jaga mata untuk aku ya, Mas!" ucap Indri malu-malu.


"Iya sayangku, jiwa raga ku hanya untukmu kamu seorang. Love you."


"Love you too, Mas!"


Klik.


"Arya! Ngapain kamu tengkurap di lantai?"


"Aduh Mama, bantuin dulu dong. Nanti dulu kalau mau nanya-nanya."


Mama amel pun mendekat dan membantu Arya melepas lilitan selimut di kakinya akibat jingkrak-jingkrak tadi.


"Kamu kenapa bisa jatuh gini? Kayak bocah aja!"


"Ini gara-gara aku jingkrak-jingkrak tadi, Ma!"


"Lha, ngapain kamu jingkrak-jingkrak?"


Akhirnya Arya pun bercerita semua tentang pembicaraan yang baru saja dia lakukan dengan Indri di telepon. Hal itu membuat Mama Amel bahagia hingga wanita paruh baya itu berdiri lalu berjoget sambil bernyanyi lagu favoritnya dengan suara cempreng yang membuat sakit telinga. Hingga Arya menutup telinga saking cempreng nya suara sang Mama.


...******...


Hari itu baik Indri maupun Mamanya sangat sibuk mempersiapkan untuk acara nanti malam. Meskipun hanya Arya dan Mamanya yang datang tapi mereka tetap harus mempersiapkan semuanya. Mereka tidak mau ada yang terlihat kurang di depan sahabat baiknya.


"Sudah semua In?" tanya Mama Sofie pada Indri.

__ADS_1


"Sudah Ma. Kalau makanan nanti di antar jam lima."


"Oh, okey. Kalau gitu kamu istirahat dulu aja. Pagi capek mempersiapkan ini dari tadi pagi. "


Indri tersenyum lalu mengangguk, dia mengistirahatkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang Tivi. Begitu juga dengan Mama Sofie. Ia juga beristirahat di samping anaknya. Sedangkan Papa Nando tidak ada. Lelaki itu lebih memilih menyibukan diri dengan urusan bisnisnya.


"Mama nggak nyangka, In. Sebentar lagi kamu akan jadi istri orang." ucap Mama Sofie sambil memiringkan kepalanya menatap indri.


"Indri juga Ma. Padahal dulu kalau Indri suka sama seseorang pasti Indri pendam dan diam saja. Indri takut kejadian seperti waktu sekolah dulu saat Indri menyatakan cinta terus ditolak mentah-mentah hingga akhirnya Indri jadi bahan bullyan mereka."


"Terus, biaya lamaran dan pernikahan ini nanti gimana? Mereka juga kan yang bakal keluar biaya?" tanya Mama Sofie.


Lidah Indri seketika kelu mendengar pertanyaan dari Mamanya. Ia diam karena tak tahu harus menjawab apa, karena dia belum tahu apa Mama nya akan tetap mendukungnya jika tahu bahwa sejauh ini, Indri lah yang sudah menanggung semua biaya yang harusnya dikeluarkan oleh keluarga Arya.


Sebenarnya, jauh dalam hatinya dia membenarkan ucapan Nissa. Tapi karena sudah terlanjur kemakan omongan nya sendiri dan juga gengsi, akhirnya apapun itu hasilnya dia akan terima. Lagipula dia terlanjur jatuh cinta dan tergila-gila pada Arya.


"In? Kenapa diam? Jangan bilang kalau kamu yang sudah membiayai semuanya!" ucap Mama Sofie sambil menatap Indri tajam dan penuh selidik. Seketika apa yang pernah Marvell dulu ucapkan padanya kembali terngiang. Ia, yang awalnya sangat yakin jika sahabatnya itu tidak akan menipu dirinya, menjadi ragu saat melihat Indri yang tidak lekas menjawab pertanyaannya.


"Enggak lah Ma. Mana mungkin aku yang keluar uang untuk biayain semuanya. Dimana-mana kan itu tanggung jawab pihak laki-laki meski tidak seluruhnya." jawab Indri dengan wajah meyakinkan.


Mama Sofie bernafas lega saat mendengar jawaban Indri dan ekspresi wajahnya yang sangat meyakinkan meski awalnya terlihat gugup. Ia yakin jika Indri adalah gadis yang pintar dan tidak mungkin bisa dibodohi oleh seorang pria.


"Bagus deh kalau mereka memang punya andil untuk membiayai. Kalian mau pernikahan yang seperti apa?"


"Rencananya mau di gedung yang ada di sebelah kantor Indri itu aja, Ma!"


"Memangnya Arya punya duit buat sewa gedungnya? Maaf, bukan maksud Mama menghina, tapi kan kita tahu kalau Arya baru saja dipecat dari tempat kerjanya yang lama. Dan dia juga baru masuk kerja. Biaya sewa gedung itu nggak murah lho, In. Belum WO dan cateringnya!"


"Ya nggak semua mereka tanggung, Ma. Indri ada bantu juga kok meski cuma sedikit. Mana mungkin Indri memberatkan mereka. Kan itu nggak boleh Ma. Bukankah sebaik-baik wanita adalah yang paling murah maharnya? Begitupun untuk acara pernikahan. Tidak mungkin Indri membiarkan Mas Arya kesusahan sendiri. Kan nantinya Mas Arya akan jadi suami Indri."


"Jadi kamu mau bantu acara pernikahannya juga?" tanya Mama Indri.


Indri hanya mengangguk menjawab pertanyaan mamanya.


"Iya Ma. Nggak banyak kok. Cuma sekedarnya saja buat meringankan mereka."


Indri terpaksa berbohong karena tidak mau jika pernikahannya dengan Arya dibatalkan. Yah, sebodoh itu ternyata dia hanya karena cinta.


"Ya sudah kalau begitu. Mama istirahat dulu. Kamu juga, istirahat yang cukup biar nanti fresh saat menyambut kedatangan calon suami kamu."


Indri tersenyum mendengar kata 'calon suami' dari Mama Sofie.


...◌⑅⃝●♡⋆♡ HaPpY ReAdInG ♡⋆♡●⑅⃝◌...

__ADS_1


__ADS_2