
"Ck, dah lah! Mama malah ngomongnya ngelantur kemana-mana. Pokoknya aku nggak bakalan seperti itu. Mama tenang saja. Tau nggak, Ma. Hanna itu kan punya usaha investasi saham, dan sekali orang nanam modal itu nggak sedikit. Bisa sepuluh sampai ratusan juta. Coba Mama bayangin, berapa keuntungannya? Itu juga salah satu alasan aku kenapa mau dekat sama Hanna. Yah, meskipun di balik itu semua aku juga sama orangnya. Ya... gimana ya, Ma. Habis dia itu orangnya cantik, sudah gitu supel lagi. Siapa coba yang nggak suka sama wanita seperti itu?"
"Tuh kan, belum apa-apa kamu sudah kesemsem sama dia." Mama Amel menatap Arya seakan tidak suka jika sang anak kesayangannya mengelu-elukan Hanna. Meski Hanna pernah menolongnya saat Arya
kena begal tempo hari.
"Sudahlah, males aku ngomong sama Mama. Bukannya dukung anaknya mau dapetin wanita kaya yang mandiri dan pekerja keras yang pasti banyak duitnya malah di julidin."
"Ya Mama nggak masalah kalau kamu sekedar mau manfaatin dia dan ambil hartanya, tapi kalau pakai cinta-cintaan mending nggak usah!"
"Yaaa terserah aku lah, Ma. Masa iya orang suka malah dilarang. Aneh memang Mama Ini. Dah lah, aku mau tidur aja. Capek seharian jadi kacung!" Arya pun beranjak menuju kamarnya.
"Lhooo, tapi Ar.... "
Blaaaammmmm
Arya menutup pintu kamarnya dengan kencang hingga membuat Mama Amel bertingkat kaget.
"Oalah, punya nama bungsu kesayangan tapi tingkahnya malah mirip kayak bapaknya, ada gendeng-gendengnya sedikit. Untung aja sayang, kalau nggak udah aku sumpah serapahi dari tadi."
Mama Amel pun kembali ke ruang tivi melanjutkan menonton sinetron azab favoritnya.
"Nah... ini nih kesukaan aku. Kisah suami yang kena azab karena selingkuh dan mertua yang jahat. Huh, kalau aku punya mertua seperti itu, sudah pasti akan aku lawan. Lagian, itu menantu bego amat jadi orang. Masak di tindas diam aja, kayak aku dong! Lawan mertua kejam. Suami ku aja aku hajar habis-habisan gara-gara kecantol sama pelakor murahan! Huuuh... gemes banget aku."
Yaaah... begitulah manusia. Dia tidak bisa melihat kesalahannya sendiri, tapi dia jeli jika melihat kesalahan orang lain.
...******...
Nissa duduk di depan televisi yang sedang menyala. Mama Imelda yang sedari tadi melihat anak perempuan satu-satunya itupun mendekat kemudian menepuk pelan pundaknya.
"Mama iih, bikin kaget aja," ucap Nissa.
"Ya habisnya, Mama perhatikan dari tadi kamu melamun aja, mana udah malem lho ini. Kalau ada setan lewat gimana coba? Kan bahaya!"
"Memangnya ada gitu setan yang berani sama aku? Nissa gitu lhoooo, mau dilawan."
"Halah sok-sok an, nanti kalau disamperin beneran malah lari ngibrit, terus ketuk-ketuk pintu kamar Mama. Kamu emang nggak takut sama orang, tapi takut sama setan, apalagi sama Mbak Kun... "
"Aaah, Mama. Kalau ngomong suka... bener... udah ah Ma, jangan ngomongin mereka. Ntar datang malah bahaya."
__ADS_1
"Kamu ini, udah kayak anak indihome aja!"
"Indihome? indigo kali Ma!"
"Hahhahahaha.... " Mama Imelda dan Nissa tertawa bersama karena obrolan mereka yang absurd.
"Ada apa sih, malam-malam malah ngelamun. Itu kan jadi ganti tivi nya yang ngeliatin kamu."
"Aku lagi mikirin pertanyaan Marvell, Ma."
"Yang soal dia nembak kamu?"
Nissa mengangguk.
"Kenapa lagi? Kamu sudah ada jawaban untuk nya?"
Nissa menganggukkan kepalanya lagi. Mama Imelda tersenyum senang. Matanya berbinar, pasalnya dia sudah sangat ingin melihat putri semata wayang yang sangat dia sayangi itu segera menikah, lalu dia segera menimang cucu. Dia sudah sangat rindu mendengar suara tangis bayi yang membuat rumahnya jadi ramai.
"Oh ya? Apa jawaban kamu? Kamu terima atau malah.... "
"Aku terima kok, Ma. Hanya saja... " Nissa menggigit kecil bibirnya.
"Sayang, lepaskan semua beban masa lalu kamu. Tataplah masa depan, tidak semua pria dan keluarga nya itu seperti Arya dan Mamanya. Bukankah kamu sendiri yang meyakini jika Marvell adalah pria yang sangat baik, lalu apalagi yang kamu takutkan?"
"Jadi, menurut Mama gimana?"
Mama Imelda terlihat tersenyum.
"Ya, Mama jelas setuju lah. Udah ganteng, mapan, baik lagi. Mama yakin, jika keluarganya juga pasti dari keluarga yang baik-baik juga. Cocoklah sama kamu, yang menjadi pewaris perusahaan Papa kamu."
"Jadi, Mama sama Papa setuju kalau aku sama Marvell?"
Mama Imelda kembali mengangguk.
"Sangat-sangat setuju, Sayang." jawab Mama Imelda.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengatakan ini semua pada Marvell."
"Naah, gitu dong. Itu baru anak Mama. Pokoknya Mama pasti akan selalu dukung kamu jika itu yang terbaik."
__ADS_1
Mama Imelda dan Nissa pun berpelukan.
...*****...
Sudah satu bulan ini Arya bekerja di kantor yang sama dengan Rendra sebagai OB. Dan selama itu pula dia merasa tersiksa karena harus siap untuk diperintah ini dan itu sewaktu-waktu di jam kerja. Padahal baru saja dia mendudukkan pantatnya di kursi, tapi sudah datang lagi perintah yang seakan tidak ada habis-habisnya.
Hari ini, adalah hari dimana Arya menerima gaji. Dua juta lima ratus, adalah nominal yang dia terima di bulan pertama dia bekerja. Arya mendesah saat melihat nominal yang dia terima di rekeningnya. Pasalnya, nominal itu sangatlah jauh jika dibandingkan dengan nominal uang biasa dia terima dengan nominal di atas enam juta rupiah perbulan.
"Haaah.... dua juta setengah sebulan, dapat apa uang segini buat sebulan. Sekali di bawa makan dan minum ke resto aja sudah pasti bakalan habis. Huft, kalau bukan karena terpaksa juga nggak bakal aku mau kerja kayak begini."
Arya terus saja menggerutu sepanjang hari karena gaji.
"Kalau nanti Mama Minta, terus aku pegang berapa? Sementara uang-uangku dari tempat kerja sebelumnya sudah mulai menipis. Mana cukup?"
"Kamu kenapa, Ar? Kayak bingung begitu?" tanya Rendra tiba-tiba saat melihat adiknya itu melamun di kantin yang letaknya di seberang kantor.
"Lagi bete, pusing, nggak punya duit, Mas!"
Kening Rendra seketika berkerut saat mendengar jawaban Arya.
"Gak punya duit? Bukannya habis gajian ya? Kan baru aja di transfer. Emang punya kamu belum di transfer?"
"Ya... udah sih. Tapi kan kurang," Jawab Arya enteng.
"Ya emangnya kalau kerja jadi Obe gajinya berapa sih, Ar? Kantor ini juga bukan kantor yang besar kan?"
"Ya makanya, aku jadi pusing. Karena gaji cuma dua setengah juta aja. Dapat apaa coba uang segitu buat sebulan?"
"Ya dapat beras, dapat bayar lauk, bayar kontrakan, asalkan perhitungannya jelas dan tepat. Orang mah harusnya bersyukur, Ar! Jaman sekarang susah cari kerjaan meski cuma jadi seorang OB. Kamu sudah dapat, tinggal masuk aja malah protes terus!"
"Ya... gimana ya Mas, biasanya kan gajiku itu gedhe, bahkan jauh di atasnya Mas Rendra."
"Ya salahmu sendiri kan semuanya itu. Kamu sendiri yang sudah menyia-nyiakan kesempatan itu. Udah punya kerjaan enak, pasangan cantik, dan tajir. Eeeh, malah kamu berulah. Mama kok kamu turutin!"
"Ya.. kalau nggak gitu durhaka dong kita, Mas."
"Ar, dengerin Mas ya, buat kali ini aja. Surga itu memang di telapak kaki Ibu. Tapi tidak semua perintahnya harus kita turuti, Ar! Terlebih lagi jika perintahnya melenceng dari jalur agama. Bukannya surga yang akan kita dapatkan, tapi neraka yang akan kita rasakan. Kamu mau percaya sama Mas, terserah. Nggak percaya pun nggak apa-apa. Mas hanya mengatakan yang sebenarnya. Makanya, kamu itu kalau pergi ngaji jangan setengah-setengah. Ngaji itu yang bener sama Pak Kiai, atau sama Pak Ustadz. Silahkan kamu tanya, pasti jawabannya bakal sama kayak aku. Syukuri saja apa yang ada. Jangan sampai kamu kufur akan nikmat yang kamu dapat. Nanti di cabut semua sama Allah baru kamu tahu rasa. Dah lah, Mas mau lanjut makan siang dulu. Kalau kamu masih kuat dengan pekerjaan ini ga terusin, kalau nggak kuat ya udah lepasin aja. Segampang itu hidup, jangan di bikin ribet."
Rendra pun bergegas pergi meninggalkan Arya yang masih termenung mendengarkan ucapan dari sang Kakak.
__ADS_1