
Rendra menghembuskan nafasnya setelah melirik jam yang ada di ruang kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Ia segera merapikan kertas-kertasnya yang berserakan di atas meja. Setelah dia tumpuk rapi dia masukkan ke dalam map, baru setelah itu dia simpan di dalam laci meja kerjanya.
"Alhamdulillah, pulang." ucap Rendra.
Semenjak ia tahu istrinya hamil, jam pulang adalah salah satu hal yang paling dia rindukan. Andaikan jarak kantor dan rumah kontrakan nya dekat, ia lebih memilih pulang di jam istirahat siang.
[Mas mau pulang, mau dibelikan apa, Sayang?]
Rendra mengirim pesan pada istrinya tersebut.
Setelah beberapa menit tidak kunjung mendapatkan balasan, Rendra akhirnya bangkit dan melangkah pergi dari meja kerjanya. Dengan langkah tergesa-gesa dia berjalan menuju ke parkiran tempat dia memarkirkan motor yang dia gunakan untuk bekerja.
Lelaki itu terlihat merogoh saku celananya saat merasakan ada getaran ponsel. Ada pesan balasan yang ternyata dari istrinya.
[Nggak usah, Mas. Kamu pulang dengan selamat dan juga senyuman hangat saja aku sudah sangat senang.]
Kedua sudut bibir Rendra nampak tersenyum saat membaca pesan balasan dari istrinya.
[Oh, ya sudah. Mas jalan dulu, ya.]
[Hati-hati]
[👌]
Lelaki itu kembali memasukkan ponsel nya, dan beberapa detik kemudian terdengar deru suara mesin motor hingga akhirnya kendaraan Rendra keluar dari area parkir motor.
Beberapa saat kemudian, Rendra sampai di rumah kontrakan miliknya. Dia mengeluarkan satu kantong kresek dari dalam jok motor kesayangan nya itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Rendra saat baru masuk rumah.
Vina, yang saat ini sedang ada di dapur segera keluar untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Apa ini, Mas?" tanya Vina saat Rendra memberinya satu kantong kresek.
"Alpukat sama jeruk, Sayang. Kata teman kerjaku, wanita hamil bagus kalau mau konsumsi alpukat. Dan jeruknya, barangkali kamu sedang ingin yang asem-asem seger."
Perlakuan Rendra membuat dada Vina kembali berdesir hebat. Matanya berbinar saat membuka bungkusan itu, dan benar saja isinya alpukat dan jeruk.
"Terima kasih ya, Mas!"
__ADS_1
Rendra mengangguk dan tersenyum sambil mengusap puncak kepala istrinya. Tak lupa diciumnya kening sang istri, hingga akhirnya keduanya pun berjalan beriringan.
Baru saja Rendra hendak mengambil handuk yang tergantung di tempatnya, terdengar bunyi ponsel miliknya yang ia letakkan di atas nakas. Dilihatnya, panggilan masuk yang berasal dari nomor sang Mama.
Rendra berjalan mendekat ke arah ponselnya, tanpa berpikir panjang, dia mengusap icon berwarna hijau itu ke atas hingga akhirnya panggilan pun terhubung.
"Hallo, assalamu'alaikum, Ma." ucap Rendra setelah menempelkan benda pilih tersebut di telinga kanannya. Tampak lelaki itu duduk di pinggir ranjang dengan handuk yang tersampir disalah satu pundak nya.
"Waalaikumsalam, Ren. Ren,... di tempat kerja kamu ada lowongan pekerjaan tidak?" tanya Mama Amel.
"Buat siapa?" jawab Rendra balik bertanya.
"Buat adikmu, Arya. Kasihan, dia baru saja di pecat dari perusahaan nya."
Rendra yang mendengar kabar tersebut tidak merasa terkejut, karena dia sudah tahu jika tidak akan ada perusahaan yang mau mempekerjakan karyawan yang pernah berurusan dengan hukum. Apalagi, jika perusahaan tempatnya bekerja itu adalah milik sepupu Indri. Wanita yang pernah dia perlakuan dengan sangat keji.
Rendra terdiam, lelaki itu mengingat ada lowongan pekerjaan atau tidak di tempat dia bekerja.
"Sepertinya ada, Ma. Tapi perusahaan butuh secepatnya. Kalau Arya memang minat, besok datang saja ke kantor sambil membawa surat lamaran kerjanya." ucap Rendra saat ingat jika ada posisi yang kosong di tempat dia bekerja.
"Ooo.... ya.... syukurlah kalau begitu. Bagian apa, Ren?" tanya Mama Amel.
"Iya, Ren. Nanti biar Mama sampaikan ke Arya."
"Ada lagi kah, Ma? Ini Rendra baru pulang kerja, masih mau mandi."
"Enggak, itu aja. Ya sudah kalau begitu. Ooo.. iya kamu jangan lupa uang bulanan Mama, kamu masih anak Mama. Jadi kamu wajib berbakti sama Mama sampai kapanpun."
"Iya, Ma. Aku mau mandi dulu, baru setelah itu aku transfer ke Mama." jawab Rendra.
"Gak perlu, biar Mama yang datang ke kontrakan kamu. Kamu kasih aja alamatnya ke Mama."
"Biar aku transfer saja. Itupun kalau Mama mau. Lebih enak kan, Mama nggak usah repot-repot datang ke kontrakan."
"Lhooo... kenapa memangnya? Apa ada yang salah kalau Mama datang ke rumah anaknya?"
"Nggak ada yang salah. Hanya saja Rendra hafal bagaimana perangai Mama. Saat ini Vina sedang hamil muda. Dan Rendra nggak mau saat Mama datang nanti Mama malah menghardik dan mencaci istriku. Itu bisa membuat Vina jadi stres, dan aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada anakku. Jadi kalau Mama mau aku transfer, kalau tidak mau ya sudah nggak usah sekalian."
Mama Amel sampai melongo saat mendengar ucapan Rendra, demi apa coba? Selama ini, Rendra yang selalu menuruti apa yang Mama Amel katakan.
__ADS_1
Rendra memang dapat dikatakan kurang tegas pada sang Mama. Tapi dengan hadirnya janin dalam rahim istrinya, tentu saka membuat Rendra secara alami lebih melindungi orang yang dia kasihi.
"Ya sudahlah, terserah kamu saja."
Tuuuut.....
Panggilan telepon dimatikan sepihak oleh Mama Amel. Rendra menjauhkan ponsel nya dan melihat layar datar yang kembali gelap. Lelaki itu menggelengkan kepalanya lalu mengembalikan ponsel pada tempatnya.
"Ternyata tetap saja nggak ada perubahan, kalau saja Mama bukan orang tuaku, mungkin sudah tak sudi aku berurusan dengan orang seperti Mama. Ampuni aku Ya Allah,...... bukan maksudku durhaka pada orang tua. Tapi sifat dan sikap Mama pada istriku sangat keterlaluan." ucap Rendra lirih sebelum akhirnya dia melangkah ke kamar mandi yang letaknya menyatu dengan dapur.
"Maaaas, makan yuuuk. Semua sudah aku siapin di ruang tamu, kita makan lesehan seperti biasa ya.... hehehe," ucap Vina.
Mereka memang hanya menggelar karpet sebagai alas duduk mereka di ruang tamu. Tidak ada meja ataupun sofa. Apalagi kursi dan meja makan. Semuanya sangat sederhana. Toh, mereka juga masih mengontrak, jadi untuk perabotan tidak perlu yang terlalu wah. Keduanya lebih memilih menabung saat ada uang lebih untuk mewujudkan impian mereka memiliki hunian sederhana untuk keluarga kecil mereka nanti.
"Kamu masak apa, Sayang? Nggak mual kah saat bau bawang?"
"Emmm, mual sih. Tapi Mas tenang aja, aku pakai masker kok kalau masak. Jadi, masih aman. Aku tadi masak telor balado, tumis brokoli jamur, sama goreng kerupuk udang."
"Waaah, enak kayaknya. Yuk, buruan kita ke depan. Mas sudah lapar."
Vina mengangguk menjawab ucapan Rendra. Ia pun berjalan sambil memeluk suaminya dari samping.
Beruntung, dia tidak mual dengan bau keringat suaminya sendiri seperti yang dialami oleh sebagian wanita hamil lainnya.
"Tadi, aku denger kayaknya Mama telpon ya, Mas?" tanya Vina saat mereka selesai makan. Vina yang mabok dengan nasi hanya makan sayur dan lauknya saja.
"Iya, tadi Mama nelpon."
"Tumben, emangnya ada hal penting ya, Mas? Selama kita disini, belum pernah aku dengar Mama telpon kamu."
"Minta kerjaan buat Arya, dia baru aja di pecat lagi."
"Ya iyalah dipecat, Mas. Perusahaan mana yang mau mempekerjakan karyawan yang pernah berurusan dengan hukum meski hanya sebentar. Terus, dia masuk ke kantormu, nanti apa nggak bikin rusuh! Dia kan biangnya rusuh, Mas!"
"Yaaa... semoga saja tidak ya, Sayang."
"Emangnya, posisi apa yang kosong, Mas?"
#posisi apa yaaa... yang pas buat si upil biawak? ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1