Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Sumpah Mama Sofie


__ADS_3

"Makan dulu, Mas," ucap Indri. Kemudian dia meletakkan mangkok bubur yang dia bawa atas nakas. Kemudian dia membantu Arya duduk dan menumpuk beberapa bantal di belakang punggung Arya agar dia bisa bersandar. Setelah itu Indri mengambil mangkok bubur yang masih mengeluarkan kepulan asap.


"Makan Mas!" Indri mengulurkan sendok yang separuhnya berisi bubur. Lelaki itu tampak membuka mulut. Tapi, tiba-tiba....


Cuih


Arya menyemburkan suapan pertama itu hingga mengenai wajah Indri. Wanita itu tampak terkejut.


"Kenapa Mas?" tanya Indri gugup sambil. membersihkan wajahnya yang terkena semburan bubur Arya.


"Kenapa kamu bilang? Coba kamu makan bubur buatan kamu itu! Kamu mau coba bunuh aku hah? Kamu bikin bubur semangkok pakai garam satu karung?" ucap Arya dengan suara nyaring.


Sungguh luar biasa, dia tidak merasakan nyeri di bibirnya saat menghardik istrinya dengan nada 10 oktaf.


"Ma-maaf Mas!" jawab Indri sambil menundukkan kepala.


"Benar-benar istri nggak berguna!" ucap Arya pelan.


Indri kembali menahan tangis, wanita itu segera beranjak dari tempatnya duduk lalu melangkah berjalan ke arah dapur. Indri meletakkan mangkok bubur itu di atas meja. Kemudian, dia mengambil sepucuk sendok bubur. Dan benar saja, bubur buatannya terasa sangat asin. Bahkan sampai teras pahit dan getir di lidah. Indri akhirnya memesan bubur lewat online untuk menghindari terjadi masalah yang lebih besar lagi.


Dretttt


Dreeeetttt


Ponsel yang masih dipegang Indri bergetar, Indri memandang layar ponsel dengan tatapan tak percaya, karena nama sangat Mama yang muncul di layar ponsel sebagai pemanggil.


"Mau apa ya Mama telepon? Apa mau ngasih kabar baik ya? Apa Papa mau mengembalikan semua milikku?"


Wajah Indri menampilkan senyum sumringah. Dan secepatnya dia mengusap icon berwarna hijau untuk menerima panggilan.


"Hallo, Ma. Ada apa?" tanya Indri pura-pura cuek.


"Hallo, Sayang. Kamu ada dimana?" tanya Mama Sofie.


"Di rumah, Ma. Kenapa?" tanya Indri, dia berharap sangat Mama menyuruhnya pulang dan mengembalikan semua yang sudah disita.


"Kamu bisa kerumah, Sayang?"

__ADS_1


Senyum bahagia seketika terbit, wajahnya nampak berbinar.


"Papa sedang tidak enak badan, Nak. Papa tidak mau makan karena memikirkan kamu. Apa kamu bisa datang menjenguk Papa, Nak?"


Senyum yang tadi merekah, seketika pudar.


"Mama hubungi Indri cuma buat ngomong itu aja?"


Jawaban Indri membuat Mama Sofie tertegun. Inikah putri yang selama ini dia besarkan dengan penuh rasa kasih.


"Ma, hubungi Indri hanya jika Papa dan Mama ingin mengembalikan semua yang sebenarnya adalah milikku dan juga hak ku! Selain itu, sepertinya tidak penting buat Indri."


Deg!


Jantung Mama Sofie seakan berhenti berdetak. Dadanya terasa sangat sesak. Orang tua mana yang tidak hancur hatinya saat anaknya sudah tidak peduli lagi. Batin wanita itu menjerit, tangannya bergetar hebat. Lalu dia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menekan tombol berwarna merah.


Mama Sofie tergugu, dia tak bisa lagi menahan air mata yang menetes. Wanita itu menangis tergugu hingga dia memukul-mukul dadanya demi mengurangi rasa sesak. Namun usahanya sia-sia.


"Ya Allah, segera tunjukkan Kuasa-Mu, meskipun itu dengan cara yang paling menyakitkan sekalipun." ucap Mama Sofie dengan suara lantang.


Dadanya begitu sesak. Anak yang dia besarkan selama ini tega-teganya berkata seperti itu padanya hanya demi membela keluarga barunya yang jelas berbuat dzalim padanya.


"Baiklah In, sesuai keinginanmu. Mama tidak akan pernah menghubungi kamu apapun yang terjadi. Apapun In, itu janji Mama."


...*****...


"Mas, ini bubur pesanan nya sudah datang, ayo dimakan dulu." ucap Indri sambil mengulas senyum. Ia membangunkan sang suami lalu membantunya untuk bangun.


Arya menahan rasa sakit sampai meringis. Lelaki itu kembali duduk dengan bersandarkan bantal yang di tumpuk di belakang punggungnya. Indri mulai menyuapi Arya bubur yang dia beli online perlahan.


"Ayo makan lagi, Mas! Kamu baru makan sedikit. Baru lima suap lho Mas!"


"Enggak, aku udah kenyang!" jawab Arya.


"Tapi Mas, kamu nanti lama sembuhnya kalau makan cuma sedikit."


"Kamu denger nggak sih aku tadi bilang apa? Sekali nggak itu ya nggak! Makanya punya kuping itu dipakai buat dengerin, bukan cuma buat dicentelin aja!"

__ADS_1


Arya kembali berteriak karena merasa kesal pada Indri hingga ia tak merasakan nyeri pada bekas lukanya. Namun sedetik kemudian, dia kembali meringis merasakan sakit.


Indri kembali terdiam, karena jika ia menjawab maka Arya akan semakin marah. Ia hanya bisa menghela nafas lalu meletakkan sendok kena tas mangkok. Baru saja Arya terdiam, kini berganti dengan suara Mama Amel.


"Heh, menanti goblok! Sebentar aja kamu nggak bikin Arya kesal kenapa sih? Katanya kamu sudah nggak ada uang! Bubur aja kenapa kamu beli online?"


"Maaf Ma, ini tadi pakai uang sisa buat bayar rumah sakit." jawab Indri.


"Oooo, jadi kamu menyalahkan kita, gara-gara kita uang kamu habis, begitu?"


"Bukan begitu maksud Indri, tapi... "


"Halah, gak usah pura-pura baik! Kamu senang kan Arya seperti sekarang? Ini semua gara-gara kamu!"


"Maksud Mama gimana? Indri aja kaget lho Ma pas denger kalian habis dibegal! Harusnya itu Indri yang marah sama kalian! Uang yang harusnya hak Indri kalian bawa. Lalu, saat kalian terkena musibah seperti ini, kenapa sekarang malah menyalahkan Indri?"


Entah mendapatkan kekuatan dari mana tiba-tiba saja Indri berani melawan mertuanya. Bahkan Arya dan Mama Amel sampai mendelik karena mendengar perubahan sikap Arya yang tiba-tiba.


Dada Mama Amel terlihat naik turun, mukanya memerah. Dan tangannya pun terkepal erat.


Mama Amel melangkah ke depan mendekati Indri. Lalu....


Srettt!!!!


Tiba-tiba saja tangan wanita tua itu terulur dan menarik rambut panjang milik Indri hingga wajahnya mendongak ke atas dan menjerit karena merasakan perih di sekujur kulit kepalanya.


"Aw, lepas Ma! Ini sakit!" teriak Indri.


Namun Mama Amel yang sudah dikuasai emosi tidak menuruti permintaan Indri. Bahkan ada satu menit Mama Amel menarik rambut Indri sebelum akhirnya wanita itu menghempaskan kepala Indri hingga hampir saja membentur ke lantai andai saja Indri tidak bisa menahan tubuhnya.


Air mata Indri bercucuran, seolah menjadi saksi bisu kekejian sang Mama mertua.


"Kenapa kalian tega berbuat sekeji ini padaku? Apa salahku pada kalian? Bahkan hingga saat ini aku masih merawat Mas Arya!"


Terdengar suara tangis pilu Indri yang sangat menyayat hati.


"Kamu mau tahu kenapa kami seperti ini padamu?" tanya Arya.

__ADS_1


Arya yang sudah muak, karena setiap melihat wajah Indri yang ada hanyalah bayangan sikap angkuh dan sombong. Dia masih ingat saat Papa Nando mengambil semua milik Indri tanpa ada sisa. Dan baru saja dia ingin menikmati uang gaji dan pesangon milik Indri yang diberikan Marvell, ia malah dibegal di tengah jalanjalan hingga membuat dia berakhir di rumah sakit. Dan menurutnya semua ini adalah salah Indri.


__ADS_2