
Tidak terasa sudah satu Minggu Arya bekerja di perusahaan milik Marvel Sejauh ini kinerja Arya sangat bagus. Tapi meski sudah satu Minggu bekerja di sana, Arya belum pernah bertemu dengan Marvel. Indri sudah menceritakan siapa sosok yang bernama Nissa saat itu, adalah sang pemilik perusahaan
Ada rasa tidak terima di hati Arya saat mengetahui Nissa mendapatkan sosok yang kastanya lebih jauh darinya. Namun, tak ada lagi yang bisa dia lakukan.
Hal itu membuat Arya semakin bersemangat untuk mendapatkan seorang Indri. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa Indri adalah sosok yang tepat meski bukan seorang bos, tapi orang tua Indri mempunyai aset yang lumayan banyak.
Andai Marvel tidak bersikap profesional dia pasti sudah menendang Arya dari perusahaannya. Banyak alasan yang bisa dia pakai untuk melakukan hal itu. Pertama, karena Arya sudah memfitnah Nissa. Dan yang kedua karena dia ingin menjauhkan Indri darinlwlaki toxic itu.
Siang ini Marvel sedang menandatangani berkas-berkas penting di kantor cabang tenoat Arya dan indri bekerja.
[Kita ketemu di cafe biasanya, ya!]
Marvel mengirimkan pesan pada Nissa, dan tak lama status pesan itu berubah jadi centang berwarna biru.
[Oke, aku kesana sekarang,]
[Hati-hati ya, Nis.]
Marvel segera membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya lalu menumpuk di sudut meja. Lelaki itu segera bangun dari duduknya dan menuju ke pintu setelah memakai jasnya. Sebelum itu, Marvel menyempatkan diri merapikan penampilannya.
Dengan langkah tegap dan pasti dia melangkah keluar kantor. Sesekali lelaki itu mengangguk dan tersenyum ketika ada salah satu pegawai yang menyapa.
"Mas, mau kemana?" tiba-tiba suara Indri terdengar. Membuat langkah Marvel terhenti. Lelaki itu melihat Indri yang saat ini bersama seorang lelaki.
"Mau makan siang!" jawab Marvel biasa dan tak ingin mengungkit masalah satu Minggu yang lalu
"Makan siang bareng sama kita aja Mas, sama aku dan Arya di kantin." tangan Indri menunjuk ke arah Arya.
Marvel melirik ke arah Arya, "Oh, ini yang mau tunangan sama Nissa tapi gagal?"
Indri dan Arya kompak menganggukkan kepala mereka.
"Kalian duluan saja, aku sudah ada janji sama Nissa buat makan siang bareng!" jawab Marvel sambil menekan kata Nissa.
"Oh, pasti Nissa sudah cerita yang bukan-bukan sama Bapak ya? Saran saya, Bapak hati-hati dengan Nissa. Dia bukan wanita yang baik, buktinya dia sudah berselingkuh saat kami akan melangsungkan pertunangan. Untung saja semua kebusukan Nissa terbongkar sebelum acara pertunangan.
Hah! Dasar lelaki bermulut lemes. Dalam situasi seperti ini saja dia masih terus memfitnah Nissa.
__ADS_1
Marvel hanya menanggapi bualan Arya dengan senyum sinis. Marvel benar-benar tak menyangka jika ada laki-laki yang sangat pandai mengolah kata dan lincah dalam bersuara untuk mengobral fitnahannya itu.
"Tapi sayang sekali ya, saya bukan orang bodoh yang dengan mudahnya termakan omongan orang lain meski sedang jatuh cinta seperti adik sepupu saya ini. Dia ini sebenarnya pintar lhooo, tapi mendadak bodoh saat jatuh cinta!"
Indri membalalak saat mendengar ucapan Marvel. Ia tak terima dengan ucapannya.
"Apa sih Mas? Mas Marvel kan dengar sendiri ceritanya dari Mas Arya. Nissa itu buka perempuan yang baik, Mas!"
Marvel berdecak kesal, "Sudahlah In, namanya kebusukan pasti akan terbongkar jika sudah waktunya. Semoga saja tabiat Nissa terlihat sebelum Pak Marvel benar-benar jatuh cinta," ucap Arya.
"Tuh Mas! Lihat Mas Arya! Dalam kondisi tersakiti saja dia masih mendoakan yang baik-baik" ucap Indri.
"Kalau mau fitnah orang itu lihat dulu baik-baik siapa musuh yang diajak bicara!" Marvel bicara tegas.
Tanpa sadar kedua telapak tangan Arya terkepal pertanda pria itu sedang menahan emosinya. Dan pemandangan itu tertangkap penglihatan Marvel. Lelaki itu hanya menampilkan senyum dinginnya.
"Udah ya, aku pergi dulu. Aku nggak mau membuat Nissa menunggu terlalu lama." kata Marvel.
Marvel memutar hendak melanjutkan langkahnya. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba suara Indri kembali terdengar.
"Mas! Aku nggak suka ya kalau Mas deket-deket sama perempuan ular itu ya!" Indri berteriak. Dan tentu saja itu menyita perhatian karyawan yang lalu lalang di lobby hotel. Keadaan saya itu memang ramai karena masuk jam istirahat.
"Jika aku yang memintamu seperti itu, apa kamu bisa?" tanya Marvel membuat kening Indri berkerut dan alis saling bertaut.
Indri paham dengan maksud pertanyaan tersebut, tapi dia hanya ingin memastikan saja apa yang ada dalam pikirannya. "Maksud Mas Marvel apa?" tanya Indri ragu, ketika melihat Marvel menatapnya dingin.
"Aku tidak suka dengan lelaki ini! Apa kamu bisa menjauhinya?"
Indri terdiam, tenggorokannya tercekat hingga susah sekedar untuk menelan salivanya.
"Nggak bisa kan?" tanya Marvel lagi. "Kalau nggak bisa, kamu nggak usah sok keras larang- larang aku buat dekat sama Nissa. Sadar! Kamu hanya sebatas sepupu!"
Jawaban telak dari Marvel semakin membuat Indri mati kutu dan semakin kesal dengan perlakuan Marvel. Indri semakin membenci Nissa, sebab semuanya berawal dari wanita itu.
Marvel melangkah, tak di pedulikannya lagi sepupunya yang menghentakkan satu kakinya.
Marvel segera berjalan ke area parkir dan menyelinap di balik kemudi, kemudian melajukan kuda besinya hingga akhirnya melesat membelah jalan raya.
__ADS_1
"Sialan!" desis Indri geram.
"Sudah, jangan marah! Doakan saja semoga Pak Marvel tersadar dan segera menjauhi Nissa. Mungkin saat ini Pak Marvel lebih percaya Nissa di bandingkan kamu, sepupunya.
Jangan terlalu dipikirkan! Makan siang dulu yuk, cacing udah pada demo minta jatah nih!'" gurau Arya.
Indri mangangguk dan tersenyum, lalu keduanya berjalan beriringan menuju ke kantin.
"Kamu kenapa kok cemberut gitu mukanya? Senyum dong biar cantiknya jadi berkali-kali lipat!" ucap Arya ketika mereka sampai di kantin.
Indri pun terpaksa mengulas senyumnya.
"Nah, kalau gitu kan cantik! Secantik bidadari yang turun ke kantor ini!" Arya mulai menebar gombalannya.
"Kok ke kantor ini?" tanya Indri.
" Ya kan mana mungkin turun dari kayangan! Mana bisa mereka mainin komputer sama ngerjakan laporan!"
"Hahahahha, iya! Kamu benar juga Mas.Ya kali ada bidadari yang kerja di kantor ini." ucap Indri sambil tertawa.
"Ada dong!"
"Siapa?" tanya Indri polos.
"Kan aku udah bilang tadi, bidadarinya kamu In!" jawab Arya.
Blush
Wajah Indri seketika memerah malu-malu kucing betina.
"Ya sudah, tuh makanan sudah datang! Makan yuk! Kamu jangan sedih terus dong, In! Aku nggak bisa lho liat kamu sedih," ucap Arya.
Tiba-tiba tangan Arya memegang tangan Indri yang ada di atas meja. Jantung Indri berdegup semakin cepat, andaikan jantung itu ada di luar pasti dia sudah joget-joget pargoy.
"Em, iya Kak. Makasih ya, kamu sudah sangat perhatian sama aku. Aku yakin Nissa pasti akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan pria se baik dan seperhatian kayak kamu."
Arya hanya menanggapi ucapan Indri dengan senyum manisnya yang tentu saja membuat Indri semakin klepek-klepek.
__ADS_1
😊 happy reading 😊