Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Terkurung


__ADS_3

"Maafkan Indri, Pa." ucap Indri sambil kembali memeluk Papa Nando yang terbaring dibatas brankar rumah sakit.


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Dan percayalah setelah ini Papa akan membalas semua yang telah mereka lakukan. Papa akan membalas setiap rasa sakit yang mereka berikan padamu. Bila perlu, akan Papa patahkan tulang-tulang Arya."


"Pa, tidak perlu. Papa fokus saja pada proses penyembuhan Papa. Indri cuma mau kita cepat pulang dan kembali hidup bersama seperti dulu lagi. Jangan membuat Indri semakin merasa bersalah karena melihat Papa terbaring seperti ini lebih lama lagi."


"In, obat dari sakit Papa adalah kamu. Besok Papa pasti sudah di izinkan pulang oleh dokter. Papa yakin itu," ucap Papa Nando.


Indri tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


...*****...


Taksi online yang dipesan Mama Amel akhirnya sampai dan sudah berhenti di depan rumah. Dengan di papah oleh sang Mama, Arya berjalan menuju ke pintu utama rumah minimalisnya. Namun saat Mama Amel membuka handle pintu, ternyata pintunya tidak mau terbuka.


"Kenapa, Ma? Ayo buruan di buka. Sopirnya sudah nunggu kan?" tanya Arya.


"Pintunya nggak bisa dibuka, Ar! Nggak tahu kenapa," jawab Mama Amel.


"Kok bisa?"


"Mama nggak tahu, Arya!!!" jawab Mama Amel kesal.


"Mana kuncinya? Bukannya tadi Mama kunciin pintu biar si Indri nggak bisa keluar dari rumah ini!"


Seketika Mama Amel mengikuti jidatnya karena lupa jika penyebab pertengkaran sengitnya dengan Indri tadi adalah soal kunci pintu.


"Kenapa pakai tepok jidat begitu? Mama lupa dimana tadi naruh kuncinya?" tanya Arya penasaran.


"Ya Ampuuun, Mama sampai lupa kalau tadi kuncinya sudah di ambil si Indri. Makanya, dia bisa pergi."


"Lha, emang kuncinya nggak ditinggal di lubang pintu?"


"kalau mama tinggal di pintu sama juga bohong dong anak Mama yang ganteng, yang pinter, yang mikirnya cepet nggak telmi! Buat apa kita kunciin? Kan tinggal keluar aja kalau macam begitu!"


"Terus kurang gimana dong, Ma? Nggak bisa keluar terus gitu?"


"Nggak tahu lah! Mama juga bingung!"


"Mama nggak nyimpan kunci cadangan?"


"Nggak ada Ar, pintu itu kan sudah dari jaman dulu, mana ada lagi kunci cadangan nya." jawab Mama Amel.


Arya berjalan pelan ke arah sofa sambil meringis karena merasakan junior nya yang masih sakit dan nyut-nyutan.


"Ya gimana lagi! Bantu Mama mikir dong, Ar!"


"Haduh, udan badan sakit, masih juga di suruh mikir!"


Arya bdan Mama Amel terdiam beberapa lama hingga akhirnya suara ponsel Mama Amel berdering. Dengan sigap Mama Male. mengambil ponsel yang dia simpan di dalam tas miliknya. Dahinya berkerut saat melihat nomer asing yang menghubungi nya.


"Siapa Ma?" tanya Arya.

__ADS_1


"Nggak tahu Ar, ini nggak ada namanya!" jawab Mama Amel sambil. menggeser tombol warna hijau.


"Ya hallo?"


"Bu, ini saya sudah menunggu didepan rumah Ibu. Dan ini sudah lama sekali. Kenapa Ibu belum keluar juga?" tanya orang di seberang telepon yang ternyata sopir taksi online pesanan Mama Amel.


"Wah, kebetulan sekali Pak. Saya mau minta tolong bisa?" tanya Mama Amel.


"Ini saya posisi sudah siap, Pak. Tapi saya saya mau keluar tidak bisa. Ternyata terkunci di dalam. Bisa minta tolong dicarikan di halaman? Siapa tahu aja ada!"


"Waduh, kok bisa sih Bu?" tanya sopir itu.


"Sudah nggak udah banyak tanya ya, Pak! Nanti saya kasih lebih ongkosnya!"


"Oke! Tapi beneran di tambah ya Bu ongkosnya. Kan nggak masuk di layanan aplikasi!"


"Iya, Iya, Bawel amat! Sudah buruan cari sana!" titah Mama Amel.


"Siap kerjakan, Bu!"


Sang sopir segera turun dan melaksanakan perintah Mama Amel. Dia menyusuri halaman, tapi belum bisa menemukan dimana keberadaan kunci itu. Baru kali ini dia mendapatkan penumpang yang terkunci di dalam rumah dan minta tolong dicarikan kuncinya. Sebenarnya dia penasaran kenapa mereka bisa sampai terkunci seperti itu dan meminta tolong dicarikan kuncinya. Sopir taksi itu menggerutu karena belum menemukan juga apa yang dia cari.


"Lama banget sih Ma, nyari kunci doang lho ini!" protes Arya.


Mama Amel segera berjalan dan mendekat ke arah jendela kemudian menyibak korden. Tak lupa dia juga membuka jendela berteralis besi agar bisa melihat keberadaan sopir itu.


"Pak, gimana? Kenapa lama sekali?" tanya Mama Amel dari dalam rumah, persis seperti orang yang terpenjara.


"Kalau saya tahu nggak mungkin saya minta tolong buat carikan!" jawab Mama Amel ketus.


"Nyusahin banget sih! Awas aja nanti ongkosnya nggak ditambahin. Nyusahin orang aja!"


Ia pun kembali mencari, hingga lima belas menit kemudian akhirnya sopir itu menemukan kunci yang tergeletak diantara pot dan batu besar. Padahal dia tadi sudah mencari di sana. Karena warna kunci dan batu sama, akhirnya susah jika hanya sekali lihat saja.


Sopir itu akhirnya berjalan mendekat ke arah pintu. Mama Amel tampak sumringah saat melihat sopir itu mendekat sambil membawa kunci di tangannya.


"Gimana, Pak? Dapat?" tanya Mama Amel memastikan.


"Dapat dong, inikan?" jawab Sopir itu sambil menunjukkan kunci yang ada di tangannya.


"Ah, iya benar itu kuncinya! Cepat bawa kesini kuncinya Pak!"ucap Mama Amel sambil mengulurkan tangannya keluar jendela.


Namun belum sempat Mama Amel mengambil kunci yang ada di tangan sang sopir, sopir itu kembali menarik kuncinya.


" Kenapa kuncinya diambil lagi?" bentak Mama Amel.


"Tapi Ibu janji kan tadi mau melebihkan uang ongkosnya?" tanya sopir itu meyakinkan.


"Iya! Kemarikan kuncinya!"


"Ya udah, Nih! Awas aja kalau bohong!" jawab sopir itu.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kuncinya, Mama Amel segera memakai Arya untuk berjalan keluar dan naik ke mobil taksi online yang sudah dia pesan tadi. Setelah itu dia baru kembali untuk mengunci pintu. Setelah itu, Mama Amel segera kembali dan masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggu.


"Sesuai aplikasi ya Bu?" tanya sopir taksi itu.


"Iya Pak, agak cepat ya! Ada urusan penting soalnya!"


Sopir itupun menganggukkan kepalanya, hingga tak perlu menunggu waktu lama terdengar seru suara mesin mobil. Dan tak lama kemudian kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan lumayan tinggi membelah jalanan.


Puluhan menit berlalu, hingga sampailah mobil taksi online itu di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi dan dalam keadaan tertutup.


"Kamu disini saja ya!" titah Mama Amel pada Arya. "Repot kalau Mama harus malah kamu, kan cuma mau tanya dimana Papa Indri dirawat." imbuhnya.


"Iya, Ma!" jawab Arya sambil mengangguk.


Gegas Mama Amel turun dan berjalan menuju gerbang itu.


Tok ..... Tok..... Tok....


Mama Amel mengetuk gerbang yang dalam keadaan tertutup dan juga terkunci dari dalam itu. Seorang satpam gegas keluar karena mendengar suara ketukan di pintu gerbang. Satpam itu melihat siapa yang datang terlebih dahulu sebelum membuka pintu gerbang.


"Eh, Bu Amel. Sebentar ya, Bu! Saya buka dulu pintu gerbangnya." ucap satpam itu lalu memasukkan anak kunci setelah itu sedikit membuka pintu gerbang.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya satpam itu ramah.


"Saya dapat kabar kalau Pak Nando saat ini tengah sakit dan sedang dirawat di rumah sakit. Kalau boleh tahu, di rumah sakit mana ya?"


Tanpa ada rasa ragu satpam itu mengatakan dimana Papa Nando dirawat karena tidak sa perintah untuk merahasiakan dimana tempat majikannya itu dirawat. Apalagi setahunya, Mama Amel adalah besan dari majikannya.


"Tapi saya nggak tahu ruangannya, Bu."


" Nggak papa Pak, nanti saya bisa tanya di ruang informasi. Terimakasih."


"Sama-sama, Bu."


Mama Amel segera pergi dan masuk ke dalam mobil taksi online yang sudah menunggu. Kemudian, dia meminta sang sopir untuk melajukan ke rumah sakit yang disebutkan oleh satpam penjaga rumah Papa Nando tadi.


Singkat cerita, Mama Amel dan Arya sampai di rumah sakit tempat Papa Nando dirawat. Setelah turun Arya dan Mama Amel beranjak pergi begitu saja setelah membayar ongkos taksi online tadi. Namun dengan cepat, sang sopir tadi segera memanggil Mama Amel dan menagih ongkos mencari kunci yang sudah dijanjikan tadi.


"Bu, tunggu dulu!"


"Ada apa lagi, kan saya sudah bayar ongkos taksi tadi?" jawab Mama Amel.


"Iya, ongkos taksinya sudah bayar. Tapi ongkos jasa cari kuncinya mana?" tagih sopir taksi itu.


"Jangan sok lupa ya, Bu!" imbuh sopir taksi itu.


"Astaga, kamu ini perhitungan banget jadi orang! Cuma bantu nyari kunci aja minta bayaran. Sudah anggap saja sedekah!" ucap Mama Amel enteng.


"Ya nggak bisa gitu dong, Bu! Namanya sedekah itu nggak bisa dipaksakan. Harus ikhlas dari hati. Kalau tahu Ibu ingkar, mending tadi saya cancel aja orderan dari Ibu. Waktu nyari kunci tadi lama banget lho Bu! Nggak sesuai sama ongkos taksi ini. Ibu sudah buang-buang waktu saya!" jawab sopir taksi itu geram.


"Iya... iya, bentar saya ambil duit dulu. Ar, kamu berdiri sendiri sebentar ya, Mama mau ambil uang dulu!"

__ADS_1


__ADS_2