Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Lakukan Saja!


__ADS_3

Mama Sofie duduk di sofa yang ada di ruang rawat Papa Nando. Wajahnya tampak lelah. Marvell yang tahu permasalahan yang saat ini dihadapi oleh Mama Sofie hanya bisa membantu menenangkan wanita itu.


"Tante yang sabar ya, kita doakan saja semoga Indri bisa secepatnya sadar dan kembali pulang ke rumah. Kembali menjadi seperti Indri kita yang dulu." ucap Marvell sambil mengelus lembut punggung sangat Tante yang sudah seperti mamanya sendiri.


Tiba-tiba saja air mata Mama Sofie keluar, Ia pun terisak. Dan Marvell masih terus mengelus lembut punggung tantenya itu.


"Ini juga salah tante Vell, tante yang sudah mengenalkan Indri pada Arya dan juga Amel. Andai saja Tante tidak mengenalkan mereka, pasti semua ini tidak terjadi," ucap Mama Sofie penuh sesal.


"Yah, mau bagaimana lagi Tan. Semua sudah terlanjur terjadi bukan? Lagipula jalan mungkin memang sudah jalan takdirnya seperti ini. Kita doakan saja supaya Indri lekas sadar jika pilihannya salah, dan lekas kembali menjadi Indri yang kita kenal dulu."


...*****...


Tok..... Tok..... Tok....


Terdengar ketukan pintu di kamar uang Indri gunakan. Suara Mama Amel pun sudah terdengar padahal belum genap jam empat pagi. Namun, karena semalam Indri tidur terlalu larut, ia pun hanya menggeliat saja.


"Indri, banguuun! Lihat ini sudah jam berapa?" teriak Mama Amel yang tidak sabaran hingga akhirnya langsung masuk menerobos ke dalam kamar Indri lalu menyiramnya dengan segelas air yang tadi dia bawa.


"Bangun pemalas! Dasar menantu pembawa sial!"


Indri seketika terbangun dan gelagapan karena air yang disiramkan oleh Mama Amel yang langsung ke wajahnya. Ia pun seketika tersadar dari mimpi dan mengusap wajahnya yang basah.


"Kenapa aku disiram, Ma?"


"Itu hukuman buat kamu! Menantu pemalas! Cepat bangun, terus masak. Setelah itu bersih-bersih rumah dan cuci baju! Jangan pakai mesin cuci, nanti tagihan listrik jadi mahal!" ucap Mama Amel lalu pergi meninggalkan Indri yang masih bengong di kamar.


Indri kemudian menghela nafasnya setelah tersadar. Lalu ia bangkit dan mulai mengerjakan apa yang baru saja mertuanya itu perintahkan. Sebab jika tidak, sudah bisa dipastikan akan ada suara yang lebih menggelegar daripada tadi.


...*****...


Indri menyelesaikan pekerjaan nya tepat jam delapan. Sebuah kebanggaan baginya ketika berhasil menyajikan sarapan nasi goreng, juga telor ceplok. Suatu hal ya g tak pernah ia kerjakan saat masih tinggal bersama orang tuanya.

__ADS_1


"Sarapan macam apa ini? Mana nasinya benyek, telurnya juga bentuknya abstrak kayak gini," Mama Amel mulai menilai masakan yang disajikan Indri macam juri dalam kontes masak. Namun Indri tidak berniat meladeni ucapan mertuanya. Dia tidak ingin masalah jadi melebar kemana-mana.


Arya diam tak berbicara, ia pun mulai menyiapkan nasi goreng dengan tampilan absurd itu ke dalam mulutnya. Tubuhnya yang terasa lebih enak, membuat dia memutuskan untuk sarapan bersama Mamanya di meja makan. Ia pun merasa bosan jika seharian berbaring terus di dalam kamar.


"Hem, lumayan juga rasanya. Nggak kayak bubur garam kemaren. Rupanya dia cepat belajar juga!" batin Arya sambil terus mengunyah nasi yang ada dalam mulutnya.


"Gimana rasanya Mas?" tanya Indri.


"Lumayan, nggak seburuk bubur buatan mu kemarin." jawab Arya singkat.


Indri bernafas lega. Kemudian dia hendak duduk di sebelah Arya untuk ikut sarapan bersama mereka. Namun, dia mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Arya.


"Kamu makannya nanti saja setelah kami selesai makan. Aku cuma ingin makan bersama Mama. Nanti kalau kamu ikutan makan disini, takutnya aku jadi mual dan muntah."


Baru saja Indri merasa senang, karena masakannya bisa diterima di lidah Arya dan Mama Amel namun hatinya kembali tergores oleh ucapan Arya. Akhirnya Indri memutuskan masuk ke kamar yang dia pakai saat ini.


Indri mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas kasur. Ponsel itu menyala, memberi tanda jika ada pesan masuk.


[Datanglah ke rumah sakit Citra Medika. Papamu dirawat disana. Dia terus memanggilnya namamu, meskipun kamu masih sakit hati dengan kami, setidaknya datanglah sebagai ucapan terimakasih karena Papa sudah memberikan kehidupan yang sangat layak untuk kamu selama ini. Setidaknya itu bisa menunjukkan jika kamu masih punya hati.]


Hati Indri berdenyut setelah membaca pesan yang di kirimkan oleh Mama Sofie. Sederhana itukah dirinya pada sangat Papa? Sampai-sampai Mama Sofie yang selama ini selalu bersikap lembut padanya kini berubah bisa mengeluarkan kalimat-kalimat tajam sedemikian rupa.


Tanpa pikir panjang Indri pun segera bersiap. Ia juga merasa sangat bersalah pada Papanya jika sampai terjadi sesuatu dan dia belum sempat melihat kondisi Papanya. Setelah dirasa cukup, dia segera keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan karena masih terdengar suara Arya dan Mama Amel yang masih sarapan.


"Mau kemana kamu?" tanya Mama Amel saat melihat Indri yang sudah rapi dan membawa tas di lengannya.


"Mas Arya, Ma, aku mau minta ijin ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Mau apa kamu pergi sana?" tanya Arya.


"Papa masuk rumah sakit, Mas. Dan aku harus segera kesana melihat kondisi Papa!"

__ADS_1


Arya dan Mama Amel saling berpandangan, Mama Amel segera menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan permintaan Indri.


"Tidak! Kamu tidak boleh kemana-mana! Selesaikan semua pekerjaan kamu! Bersihkan rumah ini dari semua debu dan kotoran." jawab Arya.


"Tapi, Mas.... "


"Nggak ada tapi-tapian! Kamu istri aku! Dan sudah kewajiban kamu untuk menuruti semua ucapanku!!" jawab Arya tegas dengan nada agak tinggi.


"Tapi, Mas. Saat ini Papa butuh aku. Aku takut jika nanti Papa... "


"Kenapa? Mati maksudmu? Baguslah, kalau sintya bangka itu mati. Berarti kamu akan segera dapat warisan. Iya kan, Ma?"


Mama Amel mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Arya.


"Keterlaluan kamu, Mas! Papaku itu mertua kamu, Mas! Tidak bisakah kamu menghormatinya sedikit saja?" tanya Indri.


"Kenapa? Kamu nggak terima? Apa yang aku katakan itu benar kan? Kamu nggak boleh datang kesana!"


"Maaf, Mas! Aku tetap harus kesana. Papa membutuhkan aku!" jawab Indri lalu berbalik hendak pergi. Baru lima langkah dia berhenti karena mendengar ucapan suaminya.


"Selangkah saja kamu keluar dari rumah ini, maka aku akan menceraikan kamu!"


Indri menatap suami dan Mama mertuanya dengan tatapan sendu. Apa selain harta tidak ada lagi yang mereka pikirkan.


"Nah, bagus! Jadi istri itu memang harus begitu! Nurut apa kata suami! Ingat, sekali saja kamu keluar dari rumah ini, aku akan menceraikan kamu!"


Indri tersenyum tipis, kini tak ada lagi air mata yang mengalir karena rasa sakit yang diciptakan oleh Arya dan Mama Amel.


"Lakukan Mas! Lakukanlah jika memang itu keinginanmu! Kini aku sadar, jika cinta saja tidak akan pernah cukup untuk kita meneruskan rumah tangga kita ini. Aku yang terlalu bodoh dan naif karena percaya begitu saja dengan ucapan manis dan bujuk rayumu juga Mamamu. Aku abaikan semua peringatan dari orang-orang terdekatku, juga kenyataan yang diungkapkan Nissa saat itu. Aku menyesal, kebodohanku membuat aku jatuh ke jurang yang begitu dalam. Maka lakukanlah, jika menceraikan aku membuatmu dan juga Mamamu hidup bahagia!"


...༺ღ༒ hׁׅ֮ɑׁׅ℘℘ᨮׁׅ֮ ꭈׁׅꫀׁׅܻ݊ɑׁׅժׁׅ݊ꪱׁׁׁׅׅׅ֮ϐׁᧁׁ ༒ღ༻...

__ADS_1


__ADS_2