Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Masih Angkuh


__ADS_3

"Cih, aku tidak peduli dengan ucapanmu! Hai wanita sialan! Cabut laporanmu sekarang juga. Atau aku jamin hidupmu bakal sengsara selama! Kupastikan kamu tidak akan bisa mencium bau surga jika durhaka pada suami! Dasar ******." ucap Arya.


Para petugas dan juga Marvell tertawa. Bahkan salah satu petugas sampai geleng-geleng kepala melihat tingkat kepercayaan diri Arya yang over limit.


Arya semakin merasa kesal saat melihat semua orang yang ada disana tertawa. Bagaimanapun dia tidak terima diperlakukan seperti itu. Arya hendak menggebrak meja, namun tangannya berhasil ditahan oleh salah seorang polisi hingga akhirnya tangan lelaki itu hanya mengambang di udara. Arya berdecak dengan kesal hingga akhirnya lelaki itu menarik tangannya dengan kasar.


"Hei, kamu jangan berbuat seperti ini disini! Kamu pikir kamu siapa? Jagoan?" tegur salah seorang petugas yang ada di sana. Sedangkan Indri menatap Arya sinis.


"Kamu bilang apa tadi, Ar? Tidak akan mencium bau surga? Percaya diri sekali kamu. Kalau kamu itu suami yang benar-benar diridhoi oleh Allah, apa kamu sudah berkaca? Bahkan kurasa Allah saja tidak akan membiarkan kamu untuk menginjakkan kaki di surga walau hanya telunjuk kakimu saja. Jangankan menginjak, mencium wanginya saja kurasa tidak mungkin. Maka kubilang tadi berkaca! Udah kere, tukang hasut, tukang fitnah, tukang ngambil keuntungan! Dasar Garangan! Menyesal akun sudah percaya semua ucapanmu. Tapi aku sangat bersyukur karena Allah telah membuka semuanya dan juga menyandarkan ku kalau kamu dan Mamamu itu seorang penipu ulung. Kalian memang manusia tidak tahu diri. Sudah Pak, segera proses saja, muak aku lihat mereka. Sudahlah salah, tapi tidak sadar diri juga."


Mau tidak mau, Mama Amel dan Arya kembali ke tempat duduk mereka semula karena proses BAP belum selesai.


Setelah keadaan kembali tenang, pihak polisi kembali meminta keterangan lebih lanjut lagi baik dari pihak Arya dan Mama Amel maupun dari pihak Indri sebagai pelapor.


...*****...


Kendaraan roda dua yang dikemudikan Rendra dan diboncengi Vinna sudah masuk di halam rumah Mama Amel.


"Kok gelap ya Mas, rumah Mama?" tanya Vina saat baru turun dari motor dan melihat teras juga rumah sang Mama yang dalam kondisi gelap gulita.


"Nggak tahu juga, Vin. Lupa nyalakan barangkali." Jawab Rendra sambil melepas helm yang dia kenakan. Vina segera naik ke teras, ia menempelkan wajahnya di kaca jendela. Namun dia tidak bisa melihat apa-apa karena di dalam benar-benar gelap.


"Sepertinya Mama sama Arya pergi, Mas. Itu didalam juga gelap." Ucap Vina pada Rendra, suaminya.


Rendra segera melangkah naik ke teras dan melakukan hal yang sama seperti yang tadi dilakukan oleh Vina.


"Aku tanya ke tetangga dulu ya, kamu tunggu aja disini."


Fani menganggukkan kepalanya, lalu wanita itu duduk di kursi yang ada di teras depan.


Tok.... Tok.... Tok.


Rendra mengetuk rumah tetangga sebelah rumah yang sebenarnya saat ini masih terbuka lebar mesti hari sudah malam.

__ADS_1


Tidak lama, sang pemilik rumah keluar karena mendengar suara ketukan pintu hendak menemui siapa yang bertamu malam-malam seperti ini.


"Loh, Rendra? Ada apa Ren?" tanya sang pemilik rumah sambil mendekat ke arah Rendra yang masih berdiri di depan pintu.


"Mbak, mau tanya. Mbak ada lihat Ma saya sama Arya nggak? Apa mereka keluar? Kok rumah sepi, gelap juga."


"Oh, Mama kamu sama Arya tadi dibawa ke kantor polisi, Ren."


Rendra terkejut mendengar penuturan tetangganya itu. "Ke kantor polisi? Ada masalh apa ya Mbak?"


"Waduh, kalau itu saya kurang paham, Ren."


"Ya sudah Mbak, kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih."


"Sama-sama," jawab si pemilik rumah. Lalu Rendra segera melangkah pergi. Dia menemui Vina istrinya, yang sudah menunggu di teras rumah.


"Mereka keluar ya Mas?" tanya Vina saat melihat suaminya datang dan melangkah tergopoh-gopoh.


"Itu.... apa.... em, kata tetangga mereka dibawa ke kantor Polisi." ucap Rendra membuat bina mengerutkan kening.


Rendra langsung memberikan penjelasan agar Vina tidak lagi bertanya. Seolah Rendra tahu apa yang akan ditanyakan oleh istrinya.


Vina menganggukkan kepalanya, dengan cepat sepasang suami-istri itu melangkah ke motor yang baru beberapa menit lalu terparkir.


Bebraoa menit kemudian, kendaraan roda duit itu sudah melakukan keluar dari halaman rumah Mama Amel kemudian melesat dengan kecepatan tinggi saat sudah sampai di jalan raya.


Di sepanjang jalan keduanya saling diam, bukan tanpa sebab, Vina hanya tidak mau mengganggu suaminya yang saat ini sedang konsentrasi mengendarai motornya.


Belasan menit berlalu hingga akhirnya Rendra dan Vina sampai di kantor polisi tempat Ma Amel dan Arya dilaporkan.


"Permisi Pak. Maaf, saya mau bertemu dengan Mama dan Adik saya. Mama Amel dan Arya."


"Oh, yang kena kasus KDRT itu ya?"

__ADS_1


"Maksudnya gimana Pak?" tanya Rendra.


"Anda tidak tahu, mereka terkena kasus apa?"


Rendra hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Ya sudah, tunggu sebentar. Tanyakan saja nanti sama yang bersangkutan. Silahkan duduk dulu." ucap petugas itu.


Vina dan Rendra segera duduk di kursi plastik yang ada di ruangan itu. Sedangkan petugas itu melangkah pergi. Tak lama kemudian, terlihat Mama Amel dan Arya mendatangi mereka.


Rendra merasakan heran saat melihat penampilan Mama nya yang berantakan, dan juga Arya yang penuh lebam di wajah tampannya.


"Ma, Ar! Sebenarnya, ini ada apa?" tanya Rendra. Ia menatap bergantian pada Arya dan Mamanya. Terselip rasa khawatir dalam dirinya.


"Ini semua gara-gara Indri. Istri adik kamu itu, dia sudah membuat laporan KDRT!" Jawab Mama Amel ketus.


"Istrinya Arya? Jadi Arya sudah menikah Ma?" tanya Rendra kaget. Pasalnya, baik Mama ataupun adiknya itu tidak ada yang memberitahukan tentang rencana pernikahan Arya. Dia bahkan baru tahu jika Arya sudah menikah. Sebenci itukah mereka padanya?


"Sudah, baru dapat satu minggu tapi istrinya butuh sudah membuat ulah!"


"Sama Nissa?" tanya Rendra lagi.


"Bukan Rendra! Tadi kan Mama sudah bilang lalu namanya Indri, bukan Nissa!"


Rendra benar-benar tidak tahu tentang pernikahan adiknya, begitu pula kakaknya. Sebab saat Arya menikah mereka memang sama sekali tidak dilibatkan dalam acara tersebut.


"Ren, bantu Mama keluar dari sini dong. Coba kamu temui mereka di rumahnya. Kamu nggak kasihan, melihat Mama dan adikmu tinggal disini?" tanya Mama Amel dan Rendra pun menggeleng.


"Entah bagaimana caramu, yang penting Mama dan Arya bisa bebas dan keluar dari tempat ini." ucap Mama Amel penuh penekanan.


"Iya, Ma! Akan Rendra usahakan."


"Jangan cuma diusahakan, Ren! Tapi harus berhasil!" ucap Mama Amel .

__ADS_1


"Ma.... ma.... Sudah dalam keadaan begini tapi masih saja egois. Nggak bisa ya, minta tolong baik-baik? Nggak usah pakai maksa." Ucap Vina geram. Ia geram pada sikap sang Mertua. Sudah dalam keadaan seperti ini tapi masih saja angkuh.


Mama Amel langsung mendelik saat mendengar ucapan Vina. Ia tidak suka dengan apa yang dikatakan menantunya tersebut.


__ADS_2