
Indri dan Arya akhirnya pergi dari tempat itu dengan membawa sejuta kesal dan emosi terpendam.
Setelah kepergian Arya dan Indri, Marvell segera mengambil ponsel dan mencari kontak yang dari kemaren terus menghubunginya.
"Ya, Vell. Gimana?" tanya seseorang di seberang sana.
"Beres Om, surat pemecatan sudah sampai ditangan Indri. Uang gaji dan juga pesangon juga sudah saya serahkan langsung pada Indri."
Marvell memang menghubungi Papa Nando, meski sebenarnya memang ada peraturan yang melarang suami istri bekerja satu perusahaan, tapi Marvell tidak tega jika harus memecat Indri. Indri adalah salah satu pegawainya yang cerdas yang ikut membesarkan nama perusahaan. Kepiawaiannya dalam mengatur keuangan perusahaan juga laporan dana keluar masuk membuat perusahaan Marvell selalu dalam kondisi stabil. Marvell melakukan itu karena permintaan Papa Nando yang meminta dan memohon agar Marvell membantu rencananya memberi pelajaran pada Indri dan membuka kedok Arya juga mamanya.
"Bagus! Nggak masalah uang itu dibawa Indri. Toh jumlahnya nggak seberapa jika dibandingkan dengan tabungan Indri uang Om sita kemaren. Sebenarnya, Om tidak tega melakukan itu sama Indri. Tapi mau bagaimana lagi Vell, susah menyadarkan orang yang sedang mabok cinta. Makasih ya Vell, sudah bantu Om ngasih pelajaran buat Indri!"
"Semoga dengan begini sifat asli Arya dan Mamanya cepat keluar dan Indri sadar seperti apa lelaki yang dia nikahi, seperti apa keluarga Arya yang dia bela mati-matian. Biar cepat juga Indri nanti bercerai dengan Arya. Meski Om tahu perceraian itu tidak baik. Om hanya ingin Indri mendapatkan lelaki yang tepat, bukan lelaki bren***k macam Arya."
"Iya Om, Marvell paham, Om yang sabar ya. Menghadapi Indri memang tidak mudah. Om harus banyak bersabar apalagi Indri anak Om satunya." ucap Marvell
"Ya, Om paham Vell. Terimakasih sudah banyak membantu Om, kalau begitu Om lanjut kerja lagi ya Vell, assalamu'alaikum!"
"Sama-sama, Om! Waalaikumsalam!"
...******...
"Aaargh, sial! Kenapa hidupku malah jadi sial seperti ini! Aargggghhh!"
Arya berteriak ketika sampai di rumah. Mama Amel uang sedang melihat televisi di ruang tengah sampai terkejut dan datang tergopoh-gopoh menghampiri Arya.
"Kamu kenapa? Pulang-pulang malah marah-marah nggak jelas! Lagian ini baru jam berapa? Kenapa jam segini sudah pulang? Bukannya tadi pagi kalian pamit kerja?" tanya Mama Amel.
__ADS_1
"Indri tuh Ma! Bikin kesel aja! Dasar perempuan pembawa sial!" maki Arya.
Ucapan demi ucapan yang dia keluar dari bibir Arya membuat jantungnya berdegup kencang. Baru saja mereka kemarin melaksanakan ijab qobul, sekarang Arya sudah menyebutnya perempuan pembawa sial. Rasanya sakit, perih jadi satu.
"Arya, apa maksud kamu? In, ada apa ini sebenarnya?" tanya Mama Amel yang saat ini sedang bingung.
"Aku..... aku di pecat Ma!" jawab Indri. Air matanya sudah tidak dapat lagi di bendung, terus menetes begitu saja membasahi pipinya.
"Serius? Kamu nggak lagi bohong kan?" tanya Mama Amel lagi.
"Beneran Ma! Serius! Makanya ini Arya kesel banget sama dia!" ucaonarya sambil meremas rambut lalu mengusap wajahnya kasar. Setelah menikah dengan Indri dia merasa masuk dalam lubang kesialan karena semua tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan.
"Kok aku sih Mas? Kan Mas Marvell yang mecat aku, bukan aku yang mengundurkan diri!"
"Halah, sama saja! Itu namanya kamu pembawa sial tahu nggak?" Arya kembali menghardik Indri.
"Mas, kenapa daritadi kamu tega mengatai aku seperti itu? Aku di sana hanya pekerja Mas, dan sua kendali ada di tangan Mas Marvell! Mas Arya harusnya paham hal itu!"
"Terus, kalau kamu nggak kerja, kita mau makan apa In? Makan batu? Atau makan rumput?" ucap Arya.
"Kan masih ada gaji kamu Mas, gaji kamu kan empat juta sekian, InsyaAllah aku akan berhemat dengan uang segitu!" jawab Indri.
"Apaaa? Uang Arya mau kamu pakai? Nggak bisa ya! Enak aja!" ketua Mama Amel.
"Tapi aku kan istrinya Mas Arya, Ma! Aku berhak dong terima gajinya Mas Arya!"
"Enak aja! Aku Ibunya! Aku yang lebih berhak! Dari kecil aku yang rawat dia sampai sebesar ini, enak saja kamu mau ambil gajinya Arya! Uang Arya akan jadi gak Mama, sesuai janjimu dulu sebelum kamu menikah dengan Arya! Kenapa sekarang malah kamu yang mau pegang! Enak aja!"
__ADS_1
"Itu kan kemarin pas aku masih kerja Ma, sekarang kan aku sudah nggak kerja lagi. Dan kamu Mas! Bukannya kamu sudah janji sama Papa bakal ngasih kehidupan yang layak buat aku, ngasih nafkah juga buat aku! Kenapa sekarang kamu malah berubah Mas?"
Arya tertawa mendengar ucapan Indri. "Kamu itu benar-benar bodoh ya! Itu yang namanya modus tahu nggak?" jawab Arya enteng.
"Jadi?"
"Ya, aku cuma ingin meyakinkan Papa kamu saja. Pencitraan! Eh, ternyata Papamu malah pelit bin medit, angkuh dan juga licik. Dia ambil ruang hartamu tanpa sisa! Sebenarnya apa sih yang Papamu itu pikirkan? Kalau kamu tanya kenapa aku berubah sekarang, semua itu karena Papa kamu yang tamak itu!"ucap Arya..
"Dan lagi, itu juga bukan urusan Mama kamu mau dapat duit darimana buat kebutuhan kamu! Yang penting, semua kemauan Mama harus Arya turuti karena surga Arya ada di telapak kaki Mama. Nyesel Mama udah ngrestui dia nikah sama kamu! Tahu gini mending Mama paksa dia buat balikan sa Nissa!"
Mata Indri kembali berkaca-kaca setelah mendengar ucapan mertuanya yang sangat pedas itu.
"Sebentar Ma, bukannya kemaren itu Mama yang mengatakan kalau Nissa itu nggak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan aku? Terus kenapa sekarang Mama malah berkata seperti itu?" tanya Indri.
"Karena kamu itu menantu yang nggak berguna! Kamu pikir aku sudi menikahkan kamu dengan anakku yang sangat tampan ini kalau tahu semua akan jadi seperti ini? Kamu itu sekarang sudah miskin! Jangankan untuk menyenangkan Mama, buat kamu makan sendiri saja sudah nggak sanggup, malah sekarang jadi beban buat Arya!" ketus Mama Amel.
"Maaf Ma, bukannya memang itu kewajiban seorang suami untuk menafkahi istrinya? Harusnya Mama yang sadar diri kalau anaknya itu sudah menikah, kenapa masih saja ngerongrong kayak gitu? Sekarang aku baru paham, mungkin kakak Arya dan juga istrinya pergi dari sini karena kelakuan Mama yang seperti itu? Juga sikal Mama yang selalu semena-mena dan maunya menang sendiri seperti ini?"
Indri menatap nyalang mata ibu mertua nya. Entah kenapa dia jadi kesalahan sekali setelah sebelumnya dihina berkali-kali oleh orang ya g selalu dia sanjung dan dia bela mati-matian di hadapan kedua orang tuanya.
Plaaaak!
"Diam kamu In! Berani sekali kamu sakiti hati Mama aku In?"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Indri dari tangan Arya hingga menimbulkan bekas kemerahan.
"Tega kamu Mas! Bahkan aku sampai menentang Papa demi membelamu! Inikah balasanmu?" isak Indri sambil memegangi pipinya yang terasa perih karena kerasnya tamparan yang ia terima. Namun tas asakit itu tak sebanding dengan rasa sakit di hati yang di goreskan oleh Arya. Inilah wajah asli suami dan mertuanya? Menyesal? Terlalu cepat untuk Indri menyatakan kalau dirinya menyesali pilihannya.
__ADS_1