Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Dia bukan tanggung jawabku


__ADS_3

"Tadi, aku denger kayaknya Mama telpon ya, Mas?" tanya Vina saat mereka selesai makan. Vina yang mabok dengan nasi hanya makan sayur dan lauknya saja.


"Iya, tadi Mama nelpon."


"Tumben, emangnya ada hal penting ya, Mas? Selama kita disini, belum pernah aku dengar Mama telpon kamu."


"Minta kerjaan buat Arya, dia baru aja di pecat lagi."


"Ya iyalah dipecat, Mas. Perusahaan mana yang mau mempekerjakan karyawan yang pernah berurusan dengan hukum meski hanya sebentar. Terus, dia masuk ke kantormu, nanti apa nggak bikin rusuh! Dia kan biangnya rusuh, Mas!"


"Yaaa... semoga saja tidak ya, Sayang."


"Emangnya, posisi apa yang kosong, Mas?"


"Office boy," jawab Rendra enteng.


Vina tertawa mendengarnya.


"Kenapa memangnya, Sayang?"


"Emangnya dia bakalan mau jadi office boy? Kamu kayak nggak tahu adik kamu aja, Mas! Amit-amit ya, gayanya kan tengil banget!"


"Tadi sih, Mama sempat tanya posisinya apa. Tapi sengaja nggak aku jawab, males aja nanti denger ocehannya yang nggak jelas. Mulut Mama kan filternya lagi di gadaikan." jawab Rendra lalu terkekeh sendiri.


"Lhaaa... terus, nanti begitu dia sampai di kantormu terus nolak gimana, Mas?"


"Ya nggak gimana-gimana, Sayang. Itu urusan dia, dia kan sudah dewasa. Sudah pernah menikah juga. Masa iya mau disuapin terus? Udah bagus kan, Mas carikan dia Indonesia kerja. Kalau dia mau ya syukur, kalau nggak mau ya sudah nggak usah di ambil pusing."


"Iya juga, sih. Ya udahlah, biarin aja. Yang penting kan, Mas Rendra udah bantuin dia cari kerjaan lagi. Meskipun cuma OB, jaman sekarang kan susah cari kerjaan. Sudah bagus kalau nanti dia bisa diterima dengan kondisi dia yang pernah kesandung masalah hukum."


Rendra mengangguk, membenarkan apa yang istrinya itu katakan.


Setelah selesai makan, Rendra masuk ke kamarnya. Sedangkan Vina membersihkan bekas makan malam mereka ke belakang. Awalnya Rendra ingin membantu, tapi dilarang oleh Vina karena dia kasihan melihat suaminya yang sudah lelah bekerja mencari nafkah tapi masih harus kembali dipusingkan dengan urusan cucian piring kotor.


Rendra mendudukkan dirinya di atas kasur spring bed model lesehan yang dia beli saat pertama menempati rumah kontrakan tersebut. Rendra mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi M-banking miliknya. Rendra memilih menu transfer kemudian memasukkan nomer rekening Mamanya. Setelah berhasil, dia mengirimkan pesan pada Mamanya.


[Ma, Rendra sudah kirim uang bulanan Mama satu juta.]

__ADS_1


Baru saja Rendra meletakkan ponsel miliknya di atas kasur, benda pipih itu tiba-tiba berdering. Layarnya berkedip, ternyata Mama Amel yang menghubungi.


"Halo, Ma. Ada apa?"


"Ada apa, ada apa kamu bilang. Kamu nggak salah kirim uang ke Mama cuma segitu?"


"Enggak kok, emang kenapa Ma?" tanya Rendra dengan kening berkerut.


"Astaga Rendraaa, uang satu juta mana cukup untuk biaya hidup kami selama satu bulan?"


"Hidup kami? Hidup siapa, maksudnya Mama?"


"Lhaaa, ya hidup Mama sama Arya lah. Kamu ini gimana sih? Apalagi Arya sekarang nganggur lagi. Uang darimana kalau bukan dari kamu,Ren." jawab Mama Amel.


"Lhoooo, kalau soal hidup Arya itu bukan urusan Rendra, Ma. Itu bukan tanggung jawab Rendra, dia kan sudah dewasa dan Rendra yakin dia juga pasti dapat uang gaji dari perusahaan nya yang lama. Dan lagi, uang pemecatan dari kantor Nissa kemana? Itu banyak lhooo, dan Rendra juga tahu waktu dia menikah dengan Indri, Arya kan nggak modal apa-apa! Semua biaya ditanggung oleh Indri! Lalu kemana uangnya?"


Duuuaaarrr....


Mama Amel seketika terdiam, dia sedang mencari jawaban apa yang akan dia berikan pada Rendra.


"Yaa... kalau begitu bukan urusan Rendra juga kan kalau dia sampai nggak bisa makan? Salah dia sendiri punya uang banyak bukan nya di tabung malah di buat foya-foya. Dengar ya Ma, perlu Mama ingat! Hidup Arya itu bukan tanggung jawab Rendra. Kalau Mama, okelah Rendra masih bisa ngasih. Tapi ya nggak bisa banyak, karena tanggung jawab Rendra yang utama adalah Vina dan juga calon anak Rendra. Lagian, Mas Rifki dan Mbak Kiki tiap bulan juga masih kirim uang ke Mama sebesar dua juta kan? Dan kalau ditotal sama uang yang Mama dapat dari Rendra jumlahnya jadi tiga juta kan, Rendra rasa itu sudah lebih dari cukup untuk biaya hidup Mama selama satu bulan. Dan satu lagi, hidup sederhana saja, tidak perlu mengutamakan gengsi dan sejenisnya! Dah lah, Ma. Rendra capek mau istirahat. Kalau Mama nggak terima dengan uang yang diberikan Rendra, nggak masalah. Tinggal Mama transfer belik aja uang itu ke Rendra. Assalamu'alaikum."


Tuuut.


Telepon dimatikan sepihak oleh Rendra, sementara di seberang sana Mama Amel terus saja menggerutu.


"Punya anak tiga, yang dia hidup sudah enak tapi malah lupa sama orang tua. Apalagi si Rifki sama Kiki. Huh, boro-boro mereka itu. Kerjaan si Rifki kan manager, masak kirim uang cuma dua juta aja. Buat apa uang segitu doang. Emang sih, kalau di total sama uang kiriman Rendra jadinya tiga juta. Tapi kan saat dia dulu tinggal sama aku, semua kebutuhan rumah dia yang tanggung. Jadi uang tiga juta itu utuh aku pakai buat tambah beli perhiasan. Sial! Ngelahirin anak nggak ada yang berguna. Si Arya juga, nikahi perempuan katanya kaya. Tapi nyatanya zonk. Hah.... sial!"


Tok....


Tok....


Tok....


"Ar, Arya!"


Suara Mama Amel yang memekakkan telinga membuat Arya beringsut dari tempat tidurnya. Ia berdecak kesal karena tidurnya terganggu oleh teriakan Mamanya.

__ADS_1


"Apa sih, Ma! Aku kan sudah bilang mau istirahat, Mama ini ganggu aja deh!"


Wajah Arya nampak kesal saat dia membuka pintu kamarnya.


"Heh, dengerin dulu. Kamu itu kalau Mama panggil dengan suara pelan nggak pernah bisa denger! Makanya tadi Mama panggil langsung pake volume level tinggi. Masih untung Mama nggak pakai toa Masjid!"


"Duh, apaan sih Mama. Nggak jelas banget! Buruan ngomong, ada apa?"


"Besok pagi kamu pergi ke kantornya Rendra, jangan lupa bawa lamaran?"


"Buat apa?" kening Arya berkerut heran.


"Masih tanya buat apa? buat bungkus rujak! Ya buat ngelamar kerja lah Arya, anak Mama yang paling tampan. Katanya Rendra di kantornya ada lowongan pekerjaan, besok pagi kamu cepet kesana, keburu ada yang ngisi. Nanti kamu malah tambah pusing kalau kelamaan nganggur!"


"Emangnya ada posisi apa, Ma? Kalau cuma pegawai rendahan mah ogah, nggak level. Apalagi cuma staff biasa seperti Mas Rendra. Males banget!"


"Halah, nggak usah kebanyakan gaya. Waktu di kantor Indri kamu juga cuma staff biasa kan?"


"Ya tapi kan, staff keuangan Ma. Nggak kayak Mas Rendra, nggak ada gaya-gaya nya sama sekali."


"Kita nggak makan gaya Arya! Kita makan nasi, nasi dari beras dan beras dibelinya pakai uang! Kalau kamu nganggur, dapat uang darimana buat makan? Emangnya perut bisa kenyang cuma makan gaya aja? Sudah sana, kamu siapkan surat lamaran kerja buat ke kantor Rendra."


"Emangnya posisinya apa, Ma?" tanya Arya.


"Mama nggak tahu, Rendra cuma bilang nanti bakal di infokan sama orang HRD."


"Hah, ya udah deh, Arya mau tidur dulu. Ngantuk!"


Blaaamm


Arya kembali menutup pintu agak keras sehingga menimbulkan suara yang sedikit mengagetkan.


"Ya ampun, punya anak bungsu modelan kayak gitu, untung sayang. Kalau nggak udah aku pites, aku masukin lagi dalam perut."


#Ikutan dong Ma, kalau mites si Arya... 🤣🤣🤣


...༻꫞ 𝐻𝑎𝑝𝑝𝑦 𝑅𝑒𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 ꫞༺...

__ADS_1


__ADS_2