Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Bebas


__ADS_3

"Ren, kenapa mereka nggak kunjung mencabut laporannya sih?" tanya Mama Amel. "Sudah tiga malam lho, Mama dan adikmu ini menginap di kantor polisi." ucap wanita paruh baya itu saat baru saja duduk di kursi yang ada di depan Rendra.


"Infonya, pihak Indri katanya akan mencabut laporan setelah satu atau dua minggu ke depan, Ma!" jawab Rendra.


"Apa? Dua minggu mendatang?" pekik Mama Amel dan Arya bersamaan yang hanya di jawab anggukan kepala saja oleh Rendra. Dia sudah tidak mau terlalu memikirkan Mama dan Adiknya yang ternyata tidak pernah jera itu.


"Dasar penipu! Ini tidak sesuai dengan kesepakatan. Kita sudah melakukan semua ala yang mereka minta. Tapi, apa nyatanya?"


protes Mama Amel.


"Iya, mereka ingkar! Dasar pembohong." ketus


Arya. "Mas, kenapa kamu cuma diam saja? Harusnya kamu tagih dong janji mereka! Jangan terima gitu aja keputusan mereka. Nggak bisa kayak gitu, Mas!" ucap Arya menggebu-gebu.


"Ma, Ar, mereka melakukan semua itu untuk membuat kalian sadar. Bukan malah seperti ini. Sudah, jangan menyalahkan orang lain. Gunakan waktu kalian untuk instropeksi diri. Sudah, itu saja yang ingin Rendra sampaikan. Yang penting kan, Rendra sudah membantu kalian. Dan semua keputusan, ada ditangan Om Nando. Makanya, kalau nggak mau bermasalah jangan membuat masalah. Kalian ini sudah bikin malu dan menyusahkan saja. Sudah bagus lho aku mau bantu kalian, terlebih setelah apa yang kalian lakukan sama aku dan Vina. Sudah, aku mau berangkat kerja, takut telat. Assalamu'alaikum!" ucap Rendra sambil berdiri lalu melangkah pergi tanpa menunggu respon dari Mama dan Adiknya.


"Rendra! Dasar anak kurang ajar! Bukannya berusaha semaksimal mungkin biar bisa cepat keluar, malah pasrah gitu aja sama mereka" ucap Mama Amel kesal.


"Terus gimana dong, Ma?" tanya Arya.


"Ya nggak tahu, Ar! Terpaksa kita harus makan tempe dan tahu lagi sampai mereka membebaskan kita." jawab Mama Amel lemas.


Bayangannya bisa keluar dari tempat terkutuk itu hari ini, buyar sudah.


...‧͙⁺˚*・༓☾ ☽༓・*˚⁺‧͙...


Dua minggu berlalu, dia minggu juga Mama Amel dan Arya mendekam dan menikmati makanan khas penjara. Tampak sekali perubahan fisik pada dua orang itu. Mereka terlihat lebih kurus dan tidak terawat. Meski bukan dari kalangan kaya raya, tapi mereka selalu menomor satukan gaya dan gengsi.


Wajarlah, makanan yang mereka telan sewaktu di penjara termasuk makan biasa. Tidak seperti biasanya. Ditambah Vina dan Rendra yang tidak pernah datang menjenguk dan membawakan makanan untuk mereka.

__ADS_1


Rendra sengaja melarang Vina ikut datang menjenguk karena dia tidak ingin Vina sedih karena mendengar kalimat kasar dan pedas yang keluar dari mulut Mama dan juga adiknya. Dia tidak ingin membebani pikiran istrinya yang saat ini tengah hamil muda.


Setelah mencabut laporan, Indri pun langsung pulang tanpa menemui Arya dan Mamanya terlebih dahulu. Rasa kecewa dan benci yang masih ada dalam hati membuat wanita itu enggan untuk kembali melihat wajah dua orang yang sudah memberikannya luka yang begitu dalam.


"Akhirnya, sampai juga dirumah ya, Ma!" ucap Arya setelah turun dari taksi online yang mengantar mereka pulang ke rumah.


Pagi ini, sebelum berangkat bekerja, Rendra menyempatkan diri untuk menjemput Mama dan Adiknya. Dia pula yang mencarikan taksi online untuk mereka berdua karena Rendra harus segera berangkat bekerja dan tidak bisa mengantar mereka pulang ke rumah.


"Kamu langsung kerja, Ar?"


"Nggak lah, Ma. Nggak bakalan keburu. Lagipula aku mau santai-santai dulu di rumah seharian ini." jawab Arya.


...*****...


Seperti biasanya, Arya selalu dibangunkan jam tujuh lagi boleh Mama Amel agar segera bersiap untuk berangkat bekerja. Dan kini, sepasang ibu dan anak itu sudah ada di meja makan untuk sarapan. Di depannya, hanya terhidang oseng kangkung dan telur dadar saja karena kondisi keuangan mereka yang menipis. Jadi harus super hemat.


Setelah menghabiskan sepiring sarapannya,


Baru saja Arya menginjakkan kakinya din lobby kantor, dia sudah menjadi pusat perhatian. Tetapi siapapun yang melihatnya selalu saja memandang dengan tatapan jijik. Dan Arya menyadari hal itu.


Oleh karena itu, sebelum masuk ke ruangannya Arya memutuskan pergi ke toilet terlebih dahulu. Ia hanya ingin memastikan jika tidak ada yang salah dengan penampilannya.


"Nggak ada yang salah," ucap Arya saat dia menilai penampilannya di depan kaca. Bahkan sudah beberapa kali dia merapikan rambut dengan jemari tangannya.


Arta nampak menghembuskan nafasnya dengan berat, kemudian dia melangkah menuju ke ruang kerjanya. Dan disepanjang jalan menuju ruang kerjanya, semua karyawan melihatnya dengan tatapan jijik.


"Permisi Pak Arya, Bapak diminta segera menghadap ke ruangan kepala HRD,"


"Ada apa ya?"

__ADS_1


"Mohon maaf Pak Arya, saya kurang tahu. Saya hanya diminta menyampaikan pesan dari Pak Hartono. Kalau begitu saya permisi dulu." ucap wanita dengan pakaian formal itu tadi. Wanita itu kemudian melangkah menjauhi meja kerja Arya.


"Sudah dapat istri wanita yang cantik, punya karir cemerlang, dari keluarga kaya raya pula, eeehhh.... malah berulah. Dasar, orang kok nggak tahu diri. Mainin anak orang kok nggak tanggung-tanggung. Ganti rok aja kali, Bro!" Hasan tersenyum sinis. Dan ucapan Hasan itu membuat Arya emosi. Terlihat dari telapak tangan Arya yang mengepal erat. Napas Arya pun terdengar memburu seiring gerakan dadanya yang baik turun.


"Coba kau ulangi sekali lagi, apa yang kamu ucapkan tadi?" titah Arya sambil melangkah ke arah Hasan.


Dengan enteng Hasan kembali mengulangi ucapannya, bahkan kali ini penuh dengan penekanan pada tiap kata.


Seketika tangan Arya melayang, kepalan tangannya hendak menghantam wajah Hasan. Namun Hasan dapat menangkisnya dengan cepat.


"Sudah sana cepat temui Pak Hartono. Dia pasti punya hadiah spesial untuk menyambut kedatangan kamu yang baru keluar dari penjara." ucap Hasan sambil terkekeh membuat emosi Arya semakin memuncak. Arya sangat ingin menghantam wajah Hasan, tapi karena suatu hal Arya lebih memilih untuk menahan nya.


"Sudah sana Tuan Muda, semoga harimu menyenangkan ya.... hahahahahah.... " ucap Hasan sambil tertawa.


Arya pun tidak punya pilihan lain selain segera beranjak ke ruang Kepala HRD yang sudah menunggunya dari tadi.


Saat sampai di depan pintu ruangan Pak Hartono, Arya berhenti sebentar sekedar mengatur nafas. Dihelanya nafas dalam-dalam kemudian dikeluarkan perlahan. Arya berharap apa yang dia lakukan mampu meredam emosi yang masih bergejolak dalam dada.


Tok....


Tok...


Tok...


"Masuk!" Terdengar suara datar dari dalam setelah Arya mengetuk pintu beberapa kali. Tangan lelaki itu terulur meraih handle pintu lalu perlahan mendorong sambil memberi tekanan.


"Bapak memanggil saya?" tanya Arya setelah dia masuk dan kembali menutup pintu dengan pelan dan hati-hati.


"Ya, duduklah." titah Pak Hartono. Tidak ada wajah ramah di wajahnya, seperti keramahan yang pernah dia tunjukkan pada Arya saat lelaki tersebut pertama masuk disana.

__ADS_1


Arya melangkah mendekat, kemudian duduk di kursi hitam yang ada di depan meja kerja Pak Hartono.


#Nah lhooooo..... ada apa ya kira-kira.......


__ADS_2