Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Mama Amel


__ADS_3

Puluhan menit kemudian, Arya pin sampai di rumahnya. Saat mendengar suara mesin motor masuk di halaman rumah, Mama Amel yang semula sedang asik duduk di depan televisi sambil melihat sinetron favoritnya segera bergegas beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkah keluar.


"Gimana, Ar? Posisi apa yang diberikan? Supervisor, staff atau manager barangkali? Dari tadi Mama berdoa semoga kamu dapat posisi yang bagus di tempat yang baru itu." ucap Mama Amel saat Arya baru menapakkan kakinya di teras rumah.


"Supervisor apaan Ma? Jangankan jadi supervisor, staff biasa aja bukan. Apalagi manager, Mama halu! Di tempat kerja Mas Rendra itu cuma butuh OB, Ma!"


"Apa? OB? Office boy maksud kamu?"


"Apalagi?" ketus lelaki itu kemudian masuk dan melewati Mama Amel yang masih berdiri di ambang pintu.


"Keterlaluan banget emang Mas Rendra itu. Bisa-bisanya dia kasih kerjaan office boy buat adiknya," gerutu Arya sampai bibirnya maju sambil melangkah masuk lebih dalam lagu ke rumah.


Lelaki itu tampak menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada di ruang tamu.


"Terus gimana?" tanya Mama Amel mendekat lalu duduk di samping anaknya yang tampan rupawan itu.


Terlihat Arya bersandar dengan tangan yang membentang di atas sandaran kursi. Kepalanya mendongak menatap langit-langit rumah yang berwarna putih polos.


"Jelas Arya nolak lah, Ma. Masak iya, seorang mantan supervisor dan staff keuangan jadi Office boy. Bisa-bisa Arya di ketawain sama cicak dong. Apalagi kalau Indri sama Nissa dengar, mah ditaruh dimana muka Arya yang ganteng ini, Ma?" seru Arya.


"Terus, kamu sudah bilang belum kalau sebelumya posisi kamu itu supervisor dan staff keuangan? Kamu sudah nolak tawaran itu apa belum?"


"Nggak perlu Arya ngomong juga HRD udah tahu kali, Ma. Kan ada di CV nya Arya. Arya belum jawab apa-apa. Malu Arya kalau langsung nolak di depan HRD secara langsung. Tadi, HRD nya bilang ngasih waktu satu hari buat berpikir. Kalau mau jadi OB, besok pagi bisa langsung datang dan bekerja. Kalau menolak berarti besok tidak udah datang ke sana."


"Syukurlah kalau kamu belum menolak, Ar." ucap Mama Amel lega.


Seketika kedua bola mata Arya mendelik setelah mendengar respon dari Mamanya. Dia benar-benar terkejut, bahkan sampai menggosok telinganya takut jika dia salah dengar.

__ADS_1


"Sudah, terima saja dulu, Ar. Lumayan dari pada kami nganggur." ucap Mama Arya yang membuat lelaki itu yakin jika dia tidak salah dengar.


"Mama sehat?" tanya Arya sambil tangannya terulur memegang kening Mama Amel. "Mama tega lihat anak Mama yang ganteng nya paripurna ini jadi OB? Malu lag Ma, nggak mau Arya."


"Yaa... mau bagaimana lagi, Ar. Ambil saja dulu sambil. kamu cari-cari kerjaan yang lainnya. Anggap saja jadi batu loncatan."


"Tapi, Ma... "


"Kalau kamu nolak, makan pakai apa, Ar?"


"Kan ada kiriman dari Mbak Kiki dan Mas Rendra, Ma!"


"Haduuuh, kalah itu lain lagi, Ar! Kalau urusan dapur itu bagian kamu," jawab Mama Amel.


"Jadi maksud Mama, Arya harus terima tawaran jadi Ob, gitu?"


"Amb saja, Ar. Sambil cari kerja lain dari pada kamu nganggur malah Mama Nanti yang susah."


Tok...


Tok...


Tok


Suara ketukan di pintu menghentikan obrolan sepasang ibu dan anak tersebut. Keduanya melihat ke arah pintu yang masih terbuka itu bersamaan. Karena tidak tahu siapa yang datang, Arya segera beranjak dari sofa kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Lain halnya dengan Mama Amel yang sudah tahu siapa tamu yang datang, wanita paruh baya itu terlihat gugup.


"Silahkan masuk Bu Arini." ucap Mama Amel pada wanita berpenampilan modis dengan perhiasan yang memenuhi hampir seluruh tubuhnya. Bu Arini adalah seorang perempuan paruh baya yang memiliki usaha perkreditan barang dan juga uang. Jika ada orang yang menginginkan barang tapi dia tidak memiliki uang, maka dia bisa mendatangi rumah Bu Arini. Tinggal mengatakan apa yang dia mau, maka Bu Arini akan mencarikan nya. Tentu saja dengan harga dan bunga yang sudah di sepakati.

__ADS_1


Seperti yang dilakukan oleh Mama Amel. Dia mengambil sofa dengan harga yang sangat mahal. Tidak hanya sofa, tapi Mama Amel juga mengambil ranjang dan televisi. Dengan cara mencicil, padahal harga yang diberikan lebih besar tiga puluh persen dari harga aslinya.


"Tidak perlu basa basi. Sudah satu minggu ini terlambat bayar cicilan. Bagaimana ini?" tanya Bu Arini. Di belakang nya sudah berdiri seorang laki-laki berbadan besar dengan pakaian serba hitam. Lelaki itu tampak mengerikan dengan wajah yang terlihat sangar. Badannya yang tinggi tegap, sudah menjelaskan siapa sebenarnya lelaki itu.


"Maaf, Bu. Anak saya baru saja di pecat dari pekerjaannya. Jadi saya belum ada uang buat bayar cicilan, Bu."


"Itu bukan urusan saya, mau di pecat atau mati sekalian saya tetap tidak peduli. Tidak ada alasan yang saya dengar. Sesuai perjanjian, cicilan harus di bayar tepat waktu." ucap Bu Arini tegas.


"Maaf, Bu. Tolong beri saya waktu satu minggu lagi. Saya akan bayar cicilan setelah uangnya ada saya akan langsung membayarnya."


"Enak banget minta waktu satu minggu lagi. Dua hari. Saya kasih waktu kamu dua hari saja."


"Baik, Bu. Dua hari lagi akan saya bayar."


"Harus dong! Masak cuma waktu hutang aja semangat. Tapi waktu bayarnya juga harus begitu. Sama semangatnya!" ucap Bu Arini. Dan Mama Amel hanya bisa mengangguk saja.


"Dua hari lagi saya akan ke sini. Kalau tidak bayar, semua barang akan saya tarik semuanya."


"Baik, Bu!"


"Ingat! Denda tetap berjalan. Masih ingatkan? Telat satu hari, denda lima puluh ribu. Sampai saat ini sudah terlambat satu minggu. Nanti saat saya kesini dia hari lagi, berati total terlambat sembilan hari. Sembilan hari dikalikan lima puluh ribu, jadi denda yang harus dibayar sebesar empat ratus lima puluh ribu. Mengerti kan?


" I... iya Bu. Saya mengerti." ucap Mama Amel terbata-bata.


Setelah memberikan ancaman, Bu Arini segera pergi dari rumah Mama Amel. Setelah kendaraan mewah yang di tumpangi bu Arini pergi, Mama Amel segera masuk dan menutup pintu rumah kemudian melangkah pergi.


"Mau kemana, Ar?" tanya Mama Amel saat melihat Arya keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah ganti. Jika tadi mengenakan pakaian formal untuk bekerja, saat ini lelaki itu mengenakan kaos putih lengan pendek dengan celana jeans selutut."

__ADS_1


#Hayoooo mau kemana lo upil biawak?


__ADS_2