
Saat waktu sudah menunjukkan waktu pukul enam sore, Arya segera bersiap pulang dan berganti baju. Di sana, dia juga bertemu dengan Pak Irawan yang juga sedang berganti baju dan bersiap untuk pulang Setelah berpamitan dengan Pak Irawan, Arya kemudian berjalan ke cafe yang ada di seberang jalan. Cafe itu tidak jauh dari kantornya.
Arya memesan minuman dan duduk di pojokan, dia menghindari riuhnya pengunjung sambil menatap orang-orang yang masih lalu lalang di jalan. Jadi semuanya terlihat sangat jelas.
"Arya, Hai.... ketemu lagi. Lagi ngapain?" sapa wanita sambil menepuk bahu Arya.
Sejenak Arya menatap pada wanita itu. Lalu matanya terbelalak saat bertemu tatap dengan wanita itu.
"Hanna?" Wanita itu mengangguk mantap, kemudian duduk di kursi yang ada di sisi Arya.
"Yaelah, masak udah lupa, baru juga ketemu kemarin kan?"
Mereka berdua terkekeh, ya... mereka kembali bertemu saat Arya pergi menyegarkan pikiran ke cafe beberapa waktu lalu, setelah Arya tidak sengaja bertemu dengan Indri.
"Ya... maaf, soalnya aku kaget. Habisnya kamu main tepuk pundak aku aja."
"Eh, aku boleh duduk disini kan, Ar?"
"Ngapain juga nanya, udah duduk juga kan?" jawab Arya lalu mereka tertawa bersama.
Tidak ada yang mengira jika Arya dan Hanna bertemu secara kebetulan disana.
"Kamu lagi janjian sama orang apa gimana?" tanya Hanna.
"Nggak kok, lagi suntuk dan capek aja habis bekerja seharian." jawab Arya jujur tanpa mengungkap kan apa pekerjaan nya yang sebenarnya. Dia takut jika Hanna akan merendahkan atau mentertawakan dirinya.
"Aku juga lagi suntuk, capek urusin bisnisku." jawab Hanna.
Arya memperhatikan style yang dipakai oleh Hanna. Dari penampilan nya nampak rapi dan berkelas. Pasti Hanna ini orang yang berada dan banyak uang.
"Kamu sih enak punya bisnis sendiri. Lha aku, aku ini cuma pekerja yang harus ikut apa kata atasan."
"Atau, kamu join aja sama aku. Aku ada investasi saham, dijamin deh nanti pasti untung. Aku bakal ajarin kamu sampai bisa Les privat dan gratis. Modalmu bisa balik dia kali lipat dalam waktu satu sampai dua bulan. "
__ADS_1
Mendengar penjelasan Hanna tentu saja membuat Arya tergiur. Jika dia mengikuti jejak wanita itu, tentu saja dia tidak perlu bekerja lagi sebagai office boy dan tak perlu di suruh-suruh oleh orang lain lagi.
Di dalam benaknya, Arya mulai mengagumi sosok Hanna. Dan kehadiran Hanna membuat obsesinya pada sosok seorang Nissa hilang dalam sekejap. Entah apa yang di pakai Hanna, tapi tampaknya Arya benar-benar tertarik pada wanita itu. Yah meskipun begitu, Arya tetap harus jaga image pada wanita itu.
"Kamu serius?" tanya Arya pada Hanna.
Wanita itu mengangguk, "Serius dong, jika Hanna sudah bicara dia tidak akan pernah bohong! Kalau kamu mau, kamu bisa hubungi aku kapan saja. Aku pasti siap."
"Baiklah, aku terima tawaran dari kamu. Tapi aku nggak bisa langsung join. Soalnya selain terkendala dana, aku juga hari obrolan kan ini semua sama orang tua aku. Yah, biar bagaimanapun restu orang tua tetap yang utama kan?" ucap Arya kembali melancarkan perilakunya yang mengutamakan orang tuanya san selalu melibatkan orang tua dalam setiap urusannya.
"Yah, tentu saja boleh. Aku siap membantumu kapan saja."
"Terimakasih, lagi-lagi kamu sudah membantuku. Padahal kita baru kenal, itupun gak sengaja karena waktu itu kamu juga menolongku dari pembegalan waktu itu."
"No problem, bukankah sesama manusia wajib tolong menolong?"
Arya mengangguk membenarkan ucapan Hanna sambil tersenyum. Keduanya melanjutkan obrolan hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul delapan malam dan Arya bersiap-siap pulang ke rumahnya dengan menggunakan ojek online tentunya.
Setelah sampai di depan rumah, Arya pun turun. Ia melambaikan tangan mengiringi kepergian Hanna.
Saat Arya baru saja akan mengetik pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan sudah ada sang Mama yang menyambut kedatangannya.
"Mama bikin kaget aja! Baru juga mau ngetuk pintu!"
"Kamu pulang sama siapa? Mobilnya bagus banget! Terus kayak nggak asing juga."
"Oh, itu Hanna Ma."
"Hanna yang waktu itu nolongin bawa kamu ke rumah sakit?" tanya Mama Amel.
Arya hanya menganggukkan kepalanya.
"Hemmm, sepertinya ada bau-bau kalau dia naksir sama kamu deh, Ar!"
__ADS_1
"Yah, semoga saja benar begitu, Ma."
Mama Amel mengerutkan dahinya mendengar jawaban Arya. Biasanya jika dia mendengar ada wanita kaya baru, dia pasti akan semangat membahas apa yang harus mereka lakukan untuk mendekati target mereka, namun sepertinya kali ini Arya sedikit lain.
"Kamu kenapa, Ar? Tumben?"
"Tumben apa, Ma?" jawab Arya sambil masuk ke dalam rumah. Lalu dia mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
"Ya tumben aja, kayak nggak semangat bahas mau kita apakan wanita kaya itu."
"Hemmm.... nggak tahu, Ma. Kayak ada yang lain aja sama sosok Hanna. Apa ini yang dinamakan getaran cinta? Meski aku pernah merasakan pada Nissa, tapi tidak seperti ini."
"Jangan bodoh kamu, Ar! Memangnya kamu mau menyerahkan cinta kamu pada wanita kemudian wanita itu menginjak-injakan kakinya di kepalamu agar kamu tunduk padanya. Ingat, Ar! Kamu itu laki-laki, dan posisinya harus ada di atas sebagai pemimpin. Jadi sudah seharusnya, hanya kamu yang dicintai oleh wanita itu. Bukan sebaliknya! Yang cerdas dong jadi laki-laki!"
Arya menatap lekat sang Mama, lalu dia kembali menatap kedua tangannya yang sedang memainkan kuku yang belum dia potong.
"Memangnya kenapa kalau aku jatuh cinta sama Hanna? Memangnya itu salah?"
"Yah... itu salah! Sangat salah! Kamu tahu, orang yang jatuh cinta itu akan jadi orang yang bodoh. Sangat-sangat bodoh!"
Arya mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan sang Mama. Ia bingung, sebenarnya maksud Mamanya itu apa.
"Maksud Mama?" tanya Arya.
"Duh, masa gitu aja kamu nggak tahu sih? Orang yang sudah jatuh cinta itu ibarat tai kucing rasa coklat. Contohnya itu si Indri. Dia kan cinta banget sama kamu. Bahkan dia sampai menentang orang tuanya demi cintanya sama kamu. Mama nggak mau ya kalau kamu sampai seperti itu sama Mama!"
"Halah, Mama lebay! Nggak mungkinlah aku sampai seperti itu sama Mama. Aku juga tahu kali, Ma. Kalau aku itu lelaki dan kodrat ku itu sebagai pemimpin."
"Nah, makanya itu. Mama nggak mau ya kalau kamu nanti sampai di injak-injak sama istrimu kelak kalau kamu menikah lagi. Makanya, jangan pakai cinta, tapi pakai ini!" ucap Mama Amel sambil menunjuk pelipisnya pada Arya yang mengartikan otak untuk berpikir.
"Ck, dah lah! Mama malah ngomongnya ngelantur kemana-mana. Pokoknya aku nggak bakalan seperti itu. Mama tenang saja. Tau nggak, Ma. Hanna itu kan punya usaha investasi saham, dan sekali orang nanam modal itu nggak sedikit. Bisa sepuluh sampai ratusan juta. Coba Mama bayangin, berapa keuntungannya? Itu juga salah satu alasan aku kenapa mau dekat sama Hanna. Yah, meskipun di balik itu semua aku juga sama orangnya. Ya... gimana ya, Ma. Habis dia itu orangnya cantik, sudah gitu supel lagi. Siapa coba yang nggak suka sama wanita seperti itu?"
"Tuh kan, belum apa-apa kamu sudah kesemsem sama dia." Mama Amel menatap Arya seakan tidak suka jika sang anak kesayangannya mengelu-elukan Hanna. Meski Hanna pernah menolongnya saat Arya kena begal tempo hari.
__ADS_1