
"Kamu mau tahu kenapa kami seperti ini padamu?" tanya Arya.
Arya yang sudah muak, karena setiap melihat wajah Indri yang ada hanyalah bayangan sikap angkuh dan sombong. Dia masih ingat saat Papa Nando mengambil semua milik Indri tanpa ada sisa. Dan baru saja dia ingin menikmati uang gaji dan pesangon milik Indri yang diberikan Marvell, ia malah dibegal di tengah jalan hingga membuat dia berakhir di rumah sakit. Dan menurutnya semua ini adalah salah Indri.
"Kenapa Mas?" tanya Indri.
"Karena aku kesal sudah menikahi perempuan tidak berguna seperti kamu. Kamu itu cuma perempuan pembawa sial! Semenjak aku menikah dengan kamu hidupku jadi semakin sial! Mulai dari Papamu yang angkuh itu, yang sudah menyita semua harta yang kamu punya hingga kini aku yang harus terkapar. Semua biru gara-gara kamu yang membawa sial ke rumah ini! Itu pasti karena kamu tidak ikhlas uang itu kamu bawa kan? Tahu bakal seperti ini, lebih baik waktu itu aku mengejar cinta Nissa saja!" jelas Arya.
Bisa dibayangkan bukan, betapa sakitnya hati Indri saat dibandingkan-bandingkan dengan wanita yang selama ini sudah dia hina dan dia caci maki demi membela calon suami yang sangat dia cintai.
"Tega kamu, Mas!"
"Halllaaaahhh, sudah! Nggak usah drama karena itu kenyataannya! Kamu pikir, untuk apa aku merestui kamu menikah dengan anakku yang tampan ini? Semua wanita pasti akan terpikat saya melihatnya! Kamu saja yang mendadak goblok saat pertama kami melihat Arya, bukan begitu? Baru juga dirayu sedikit sudah meleyot! Dasar kamunya saja yang murahan! Kau merestui kamu menikah dengan anakku karena harta yang orang tua kamu miliki! Untuk apa? Tentu saja untuk ikut menikmati kekayaan yang mereka punya secara kamu anak tunggal dan sudah pasti semua akan jatuh ke tangan kamu, dan pastinya Arya yang akan mengendalikan semuanya! Tapi nyatanya semuanya zonk! Tahu begini nggak akan aku restui kalian menikah! Sini, kemarikan tas kamu!" ucap Mama Amel.
"Maksud Mama?" Indri mengerutkan kening tak paham dengan maksud Mama Amel.
"Halah! Banyak tanya! Mau minta duit kamu lah!" jawab Mama Amel.
"Nggak ada uang lagi, Ma! Uang Indri sudah habis buat bayar biaya rumah sakit Mas Arya!" jawab Indri.
"Hah! Banyak omong kamu ya!" ucap Mama Amel sambil mendorong tubuh Indri dan merampas tas Indri yang tadi dia letakkan di atas nakas. Indri terpaksa membiarkan semua yang Mama Amel lakukan.
Mama Amel mulai menggeledah isi tas Indri. Matanya berbinar saat menemukan benda berbentuk persegi panjang milik Indri. Mama Amel segera mengambil dompet milik Indri dan membuka nya. Akan tetapi, ia harus menelan kekecewaan karena isi dompet Indri tak sesuai dengan apa yang dia bayangkan. Hanya ada tiga kembar uang berwarna merah di sana dan beberapa lembar warna coklat.
__ADS_1
"Apa ini? Kenapa uangnya cuma segini, In? Kamu kemanakan lainnya?" tanya Mama Amel.
"Ya Indri nggak tahu, Ma. Memang hanya itu yang tersisa di dompet Indri!"
"Kamu pasti bohong! Kamus sembunyikan dimana lainnya?" tanya Mama Amel cengo.
"Cuma itu aja Ma yang tersisa," jawab Indri.
"Jangan bohong kamu, In! Kamu kan habis jual kalung. Nggak mungkin kan laku murah, Mama tahu kalung kamu pasti harganya mahal!"
"Ma! Kalung itu cuma lakukan lima juta saja karena Indri jual tanpa ada suratnya. Dan apa Mama juga lupa, Indri harus membayar empat juta lima ratus untuk biaya rumah sakit Mas Arya! Uangnya hanya sisa itu saja Ma."
"Haah! Benar-benar menantu pembawa sial! Benar-benar muak aku melihatmu ada disini! " ucap Mama Amel dengan nafas ngos-ngosan. "Ya sudah, uang ini Mama bawa! Anggap saja sebagai permintaan maaf karena kamu siah bikin Mama emosi barusan!" ucapnya enteng.
"Bodo amat! Selama Arya sakit semua kebutuhan rumah ini jadi tanggung jawab kamu! Terserah kamu mau dapat uang darimana! Mau ngemis, mau jual diri! Itu terserah kamu!"
"Mas.... " ucap Indri menahan tangis dan rasa sakit di hatinya karena ucapan tak masuk akal Mama Amel.
"Pergilah, In! Kamu tidur saja di kamar lainnya! Aku muak melihat wajahmu yang selalu mengingatkan aku pada Papamu uang angkuh dan taman itu!" ucap Arya.
Indri menghela nafasnya. Ia meninggalkan kamar Arya dan menuju ke kamar bekas Rendra dan Vina saat masih tinggal bersama di rumah itu.
Indri segera merebahkan tubuhnya karena merasa sangat lelah. Tidak hanya lelah fisk, tapi juga lelah hatinya. Meski dia berbaring, tapi pikirannya berkelana kemana-mana. Namun beberapa detik kemudian, Indri teringat sesuatu. Ia pun bangkit mengambkltas yang tadi dia simpan diatas nakas. Lalu ia mengeluarkan dompet dan mengambil benda pipih tipis berbentuk persegi dari dalam sekat dompet yang letaknya tersembunyi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ATM rekening baruku masih aman. Untung saja tadi aku kepikiran untuk membuat rekening baru buat menyimpan uang hasil penjualan kalungku tadi. Kalau tidak, patut tadi sudah habis diambil Mama amel." ucap Indri dalam hati lalu kembali memasukkan ATM barunya ke tempat yang aman dan tak terlihat.
"Mama, Papa. Maafkan Indri. Sekarang Indri sadar kalau ternyata restu orang tua itu sangatlah dibutuhkan saat menjalin sebuah hubungan. Maafkan Indri yang sudah jadi anak durhaka!" ucap Indri penuh sesal saat teringat pada Mama dan Papa yang selama ini sudah membesarkan nya penuh kasih.
Indri kembali merasa bersalah, tapi dia malu jika harus menghubungi orang tuanya lebih dulu untuk minta maaf.
"Mungkin ini hukuman buatku karena tidak mau mendengarkan apa kata Papa. Apa mungkin ini hukum karmaku karena sudah mencaci maki dan juga menghardik Nissa? Entahlah, smeiga ini semua cepat berlalu. Semoga ini semua hanya mimpi dan saat aku terbangun nanti semua akan kembali baik-baik saja seperti semula." gumam Indri lalu membaringkan dirinya di atas ranjang . Kemudian ia memejamkan matanya karena rasa kantuk yang mulai tidak tertahankan.
...*****...
Sementara itu di tempat lain, Mama Sofie tamoak sangat panik karena suhu tubuh Papa Nando yang sangat tinggi. Bahkan sampai menggigil masukin AC sudah dimatikan dan dia menggunakan selimut tiga lapis.
"Papa, gimana ini? Kenapa tambah tinggi suhu tubuhnya. Apa aku telepon Indri saja ya? Tapi,... tadi Indri sudah bilang jangan pernah hubungi lagi jika bukan untuk mengembalikan semua miliknya, sedangkan aku sudah berjanji pada Papa tidak akan mengembalikan milik Indri apapun yang terjadi selama Indri masih bersama Arya dan Amel. Tapi, gimana ya? Ah, iya. Telepon Marvell saja. Aku minta bantuan sama dia." ucap Mama Sofie.
Mama Sofie segera menghubungi Marvell. Dia cukup terkejut saat mendengar cerita dari Mama Sofie. Tapi dia menyetujui untuk datang ke rumah Papa Nando.
Tak butuh waktu lama, Marvell pun sampai karena jarak rumah mereka yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Cukup sepuluh menit saja Marvell sudah sampai dan membantu Mam Sofie membawa Papa Nando ke rumah sakit. Dengan kecepatan sedikit di atas Rata-rata Marvell membelah jalan yang mulai sepi karena sudah larut malam.
Setelah sampai dirumah sakit, Marvell menurunkan Papa Nando di depan pintu IGD. Papa Nando pun segera ditangani oleh perawat. Setelah diperiksa oleh dokter dan segala sesuatu nya diurus, Papa Nando harus di opname untuk mendapatkan perawatan menyeluruh karena tensi Papa Nando saat itu sangat tinggi menurut dokter sehingga harus selalu diawasi. Itulah yang menyebabkan Papa Nando menjadi demam dan menggigil selain dia terlalu memikirkan Indri.
Mama Sofie duduk di sofa yang ada di ruang rawat Papa Nando. Wajahnya tampak lelah. Marvell yang tahu permasalahan yang saat ini dihadapi oleh Mama Sofie hanya bisa membantu menenangkan wanita itu.
"Tante yang sabar ya, kita doakan saja smeiga Indri bisa secepatnya sadar dan kembali pulang ke rumah. Kembali menjadi seperti Indri kita yang dulu." ucap Marvell sambil mengelus lembut punggung sangat Tante yang sudah seperti mamanya sendiri.
__ADS_1
Tiba-tiba saja air mata Mama Sofie keluar, Ia pun terisak. Dan Marvell masih terus mengelus lembut punggung tantenya itu.