Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...

Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh...
Pepet terus Ar!


__ADS_3

Entah kenapa perasaan Arya sedikit menghangat saat Indri memberikan dukungan, dia menatap lekat gadis cantik itu.


"Tapi, bagaimana seandainya aku di tolak di perusahaan sepupu kamu?"


"Kan aku baru saja ngomong kalau aku sepupunya, jadi tentu saja aku bisa membantu mu masuk kesana,"


"Apa kamu yakin?"


Indri mengangguk sangat mantap, ia yakin Arya pasti bisa masuk kesana atas bantuan dari Indri.


'Gak papa lah meski dia gak secantik DNA sekaya Nissa, tapi yang penting dia bisa masukin ke kantor sepupunya, dan dia juga wanita karir. Kalau aku menikah sama dia aku juga tidak kesusahan harus memenuhi gaya hidupnya karena dia bisa memenuhinya sendiri. Dan pastinya Mama setuju dengan wanita ini. Ya sudahlah, aku sama Indri aja! Dan Nissa, akan kupastikan dia menyesal karena sudah membuang ku seperti sampah!' Arya terus membatin sambil menatap ke arah Indri.


"Terimakasih, ya."


"Untuk?" Indri mengerutkan keningnya sambil menatap Arya.


"Untuk semuanya, kita baru kenal tapi kamu sudah mau membantuku."


"Karena Mama kita berteman baik, jadi nggak ada salahnya kan aku bantu anak teman baik Mama aku!" ucap Indri.


"Em.....In, aku mau nanya sesuatu sama kamu, boleh?"


"Mau tanya apa, Ar?"


"Menurut kamu, seorang anak laki-laki yang sangat menyayangi dan berbakti pada Ibunya, itu menurutmu bagaimana?"


"Ya bagus dong, itu artinya dia lelaki penyayang. Bukankah itu juga kewajiban dari anak laki-laki? Bahkan setelah menikah pun seorang Ibu tetap jadi tanggung jawab anak lelakinya, karena surga laki-laki ada pada Ibunya!"


"Jadi, kamu tahu akan hal itu, In?"


Indri mengangguk dengan sangat yakin.


"Dan kamu tidak mempermasalahkannya?"


"Ya enggaklah! Malah aku seneng, karena lelaki itu pasti seorang penyayang dan juga pasti akan sayang sama istrinya."


"Jadi begitu keyakinan kamu?"


"Iya! Emangnya kenapa sih, Ar?"


"Sayangnya, Nissa tidak seperti itu. Baginya, jika aku ingin membahagiakan Ibuku, itu buka urusannya, dan harusnya dia aku bahagiakan bukan Ibu!"


"Oh ya?" Indri menatap Arya terkejut.


"Ya, seperti itulah. Dari awal hubungan seringkali kami cekcok karena Mama meminta setelah kami menikah aku tetap bertanggung jawab pada Mama. Tapi Nissa bilang setelah menikah dialah prioritasku. Dan dia melarangku memberikan uang bulanan lagi pada Mama. Dan setelah itu, kami sering ribut, hingga aku memergoki dia sedang berselingkuh dengan rekan bisnisnya. Aku marah dong! Coba kalau kamu jadi aku, pasti gak terima juga kan sama kelakuannya? Dan pas aku bilang mau sudahi hubungan sama dia, eh malah aku dipecat. Padahal kan itu urusan pribadi, ga profesional kan berarti?"


Indri mengangguk tanda mengerti. "Lalu menurutmu, apa aku juga akan seperti itu?" tanya Indri sambil menatap lekat mata Arya.


"Maksud kamu?"


"Menurut kamu, apa aku juga akan melakukan hal yang sama seperti mantan tunangan kamu itu?"


Arya menggedikkan bahunya. "Entahlah! Kan kita baru juga kenal, In."


"Ya, kamu benar. Kita memang baru saling kenal dan masih butuh banyak waktu untuk saling mengenal lebih jauh lagi."


"Kalau begitu, bolehkah aku mengenalmu lebih jauh lagi, Ar?" tanya Indri sekali lagi sambil menatap wajah Arya yang memang sangat tampan. Tak heran Arya dan Mama Amel sellau membanggakan wajah tampan Arya. Karena itu memang aset bagi mereka untuk mendapatkan pasangan cantik yang tentunya juga bukan orang biasa.


"Apa kamu tidak malu mengenal pria sepertiku, In?"


"Malu? Memangnya kenapa aku mesti malu?"


"Karena aku seorang pengangguran. Sedangkan di luaran sana banyak yang lebih baik dari aku, In."


Indri menarik dua sudut bibirnya hingga membentuk senyuman manis.


"Memangnya kenapa kalau kami nganggur, Mas? Kamu nganggur kan bukan karena kamu malas bekerja, hanya saja kamu baru dipecat oleh mantan tunangan kamu yang tidak profesional itu! Kecuali kamu ada kerjaan, tapi kamunya nggak mau kerja itu lain cerita. Dan aku pasti bakal mikir seribu kali buat dekat sama kamu!"


Arya hanya mengangguk lalu tersenyum menanggapi pendapat dari Indri tentang dirinya. '


Yes! Mangsa masuk perangkap!' batin Arya

__ADS_1


"Jadi?" tanya Arya membuat kening Indri berkerut.


"Jadi apa, Mas?"


"Kamu mau jadi teman dekat aku? Dan kita coba untuk saling mengenal, jika cocok maka kita akan lanjutkan ke hubungan yang lebih serius lagi!"


Arya langsung menembak Indri saat itu juga. Pikirnya, untuk apa terlalu lama mengungkapkan rasa jika pada akhirnya tetap sama saja.


"Eemmm boleh, jadi kita saling dekat untuk saling mengenal satu sama lain dulu ya!"


"Ya, kamu benar cantik!"


Indri seketika tersipu saat Arya memanggilnya dengan sebutan cantik. Semburat merah pun tercipta di kedua pipinya, ia sesekali mencuri pandang pada Arya.


"Ah, ternyata kamu jago ngegombal ya, Ar?"


"Eh, beneran kok! Kamu memang cantik, In!"


"Ya sudah, masuk yuk! Ngobrol-ngobrol lagi sama Mama di dalam."


Lalu keduanya pun berjalan menuju ke tempat para Mama asik mengobrol.


"Ma!" panggil Arya dan Indri bersamaan pada kedua wanita paruh baya yang masih tetap cantik itu.


"Hei, kalian sudah selesai ngobrolnya?" tanya Mama Amel sambil menggeser duduknya, memberi tempat pada Indri untuk duduk di tengah diantara dirinya dan Mama Sofi.


"Sudah, Ma!" jawab Arya.


"Jadi apa keputusanmu, Ar?" tanya Mama Amel.


"Iya, aku akan nitip lamaran lewat Indri, Ma. Nanti, katanya Indri yang urus semuanya. Aku tinggal terima beres aja."


"Syukurlah kalau begitu, akhirnya kamu punya kerjaan lagi, Nak!" Mama Amel tampak tersenyum senang.


"Iya Ma, ini juga berkat Indri sama Mamanya."


"Iya, kamu memang baik banget dari dulu, Sof."


"Sebagai sahabat, kan sudah sewajarnya kita saling tolong menolong bukan? Jadi gak perlu sungkan!"


Mama Amel mengulas senyum, sebentar lagi putranya akan bekerja lagi. Jadi, dia tak perlu pusing memikirkan kebutuhan di hari selanjutnya.


Perbincangan hangat pun terus mengalir, hingga kedekatan dua keluarga kian terasa. Tak jarang Mama Amel memergoki gadis yang ada di sebelahnya menatap sang putra tanpa berkedip. Sebagai wanita dewasa yang sudah banyak menikmati asam, manis, dan pahitnya kehidupan dia tahu arti tatapan dan senyuman Indri.


Puluhan menit berlalu, setelah mereka puas mengobrol, Mama Sofi pun pamit pulang.


"Mel, aku sama Indri pulang dulu ya!"


"Kok cepet banget sih? Padahal lagi seru-serunya loh!" ucap Mama Amel.


"Lain kali saja aku mampir lagi kesini!" ucap Mama Sofi, kemudian dia segera beranjak dari tempat duduknya diikuti Indri.


"Janji loh ya!" ucap Mama Amel.


"Iya, Mel!"


Mama Sofi mengulurkan tangan pada Mama Amel, setelah itu berganti ke Arya. Dan lagi-lagi diikuti oleh Indri.


Mama Amel dan Mama Sofi melangkah di depan diikuti sepasang muda mudi di belakangnya.


"In, boleh minta nomer ponselnya?" tanya Arya ketika mereka sampai di teras rumah.


"Boleh, Mas!" jawab Indri


"Bentar aku ambil ponselku dulu!" ucap Arya


Pandang Arya beralih ke Mama Sofi. "Maaf Te, tunggu sebentar ya?" pinta Arya.


"Oke, santai saja Ar!" jawab Mama Sofi dengan nada lembut.


Bergegas Arya melangkah pergi masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya yang sedari tadi dia campakkan.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Arya sudah kembali dan mengetik satu persatu angka yang disebutkan Indri lalu menyimpan di ponselnya.


Setelah Arya selesai menyimpan nomor Indri, Mama Sofi dan Indri melangkah menuju mobil yang terparkir di teras. Beberapa menit kemudian, suara deru mobil terdengar. Indri memencet klakson sekali sebagai tanda pamit. Mama Amel dan Arya pun mengangguk, hingga tak lama kendaraan roda empat itu mulai bergerak dan melaju keluar dari halaman rumah menuju ke jalan raya.


"Menurut Mama, Arya itu gimana orangnya?" tanya Indri sambil terus fokus mengemudi dan menatap jalanan yang terlihat ramai tapi lancar.


"Kenapa tanya gitu? Kamu suka sama dia?" tanya Mama Sofi.


Tak ada jawaban dari Indri, namun lengkungan senyum yang terlihat cukup sebagai jawaban untuk pertanyaan Mama Sofi.


"Selama Mama dekat dengan Tante Amel, setahu Mama, Arya itu anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya. Tante Amel tidak pernah mengeluh soal sikap putranya," jelas Mama Sofi.


Mendengar penjelasan Mama Sofi, hari Indri jadi semakin yakin menerima ajakan Arya untuk saling dekat dan mengenal lebih jauh lagi. Terlebih Mama Sofi yang sepertinya memberi lampu Hijau.


"Mama pernah dengar ada yang bilang gini, lihatlah seorang lelaki dari caranya memperlakukan Ibunya, jika pada Ibunya dia sangat baik, tentu dia akan naik juga pada pasangannya. Begitupun sebaliknya, jika lelaki itu durhaka pada Ibunya, maka pasti buruk juga perlakuannya pada pasangannya." imbuh Mama Sofi terdengar lembut namun sangat tegas.


Indri mengangguk tanda dia paham dengan apa yang mamanya katakan.


"Arya tadi cerita penyebab pernikahannya yang batal, Ma! Meski sudah menikah, Arya tetap ingin berbakti pada Mamanya, apalagi Mamanya kan seorang janda, sedangkan Arya itu anak bungsu dan anak kesayangan Mamanya. Kedua kakaknya tidak terlalu peduli sama mamanya. Jadi, kalau bukan Arya yang menanggung hidup mamanya mau siapa lagi kan Ma? Nah, mantannya itu nggak mau melakukan itu semua. Maunya dia, kalau sudah menikah 100% prioritas Arya harus sama dia saja. Nggak ada itu ceritanya berbakti sama Ibunya. Kan aneh Ma, bukannya bersyukur punya calon suami yang berbakti, mau yang durhaka mungkin ya Ma?" panjang lebar Indri bercerita, mengulang secara lengkap sesuai apa yang tadi Arya ceritakan padanya. Dan tentunya itu hanya karangan Arya saja.


"Udah maunya begitu, eh selingkuh pula Ma! Keterlaluan kan, kasihan Arya nya!"


"Mungkin takdir mereka memang tidak bisa bersama, jika Arya memang lelaki yang baik, semoga saja kamu berjodoh dengan dia ya!"


Dalam hati, Indri meng-aminkan doa yang baru saja diucapkan Mamanya.


Jika Indri sedang fokus mengemudi, berbanding terbalik dengan Arya yang kini sedang duduk santai dengan Mama Amel di ruang tamu. Tentu saja mereka membicarakan Indri.


"Gimana Ar, sama Indri?"


"Aman Ma, tenang saja!" jawab Arya dengan enteng tanpa menatap sang Mama. Perhatiannya tertuju pada benda pipih yang ada dalam genggaman tangannya. Jemari itu menari-nari diatas benda pipih yang menyala. Menuliskan pesan untuk dikirimkan ke nomor ponsel wanita yang jadi incarannya.


[Kalau sudah sampai rumah, kabarin ya.]


send.


Centang dia berwarna abu-abu, yang artinya pesannya sudah terkirim dan tinggal menunggu si pemilik membuka pesannya.


Sembari menunggu pesan balasan dari Indri, Arya meletakkan ponselnya di atas meja, lalu bersandar merilekskan tubuhnya.


"Pepet terus dia Ar, Mama dukung sepenuhnya. Pokonya jangan sampai lolos kayak Nissa kemarin."


"Iya Ma, yang ada di pikiran Arya saat ini tidak masalah tidak sekaya dan secantik Nissa kemarin, yang penting dia bekerja jadi nanti Arya tidak perlu direpotkan untuk memenuhi kebutuhannya."


"Loh, jangan salah kamu! Keluarga Tante Sofi itu bukan orang sembarangan. Kalau hanya wanita karir dan dari keluarga biasa saja, ogah lah Mama! Kamu itu tampan, gampang buat cari perempuan yang cantik, kaya, dan pasti nya


tidak pelit seperti Nissa!" Mama Amel menyebut nama Nissa dengan nada kesal.


"Jangan salah gimana maksud Mama, Indri itu hanya seorang pekerja, Ma! Perusahaan itu milik sepupunya. Bukan milik keluarga Indri." Jawab Arya. Lelaki itu sampai menegakkan tubuhnya sambil menatap sang Mama.


"Meski Indri itu bekerja di perusahaan sepupunya, tapi usaha keluarganya ada dimana-mana. Asal kamu tahu saja, mereka punya usaha jual beli mobil bekas, rental mobil, dan kos-kosan lebih dari sepuluh pintu. Bayangkan saja misalnya orang tuanya meninggal, berapa banyak warisan yang dia dapatkan? Terlebih Indri itu anak tunggal, jadi sudah bisa dipastikan kalau semua waris6akan jatuh ke tangannya." Jelas Mama Amel dengan antusias. Arya yang mendengarnya pun nampak terkejut, hingga susah menelan salivanya.


"Sekaya itu Ma?" tanya Arya dengan nada tidak percaya.


Mama Amel mengangguk mantap. "Iya, makanya Mama dukung kamu sepenuhnya buat pepet dia. Kalau kamu mengincar wanita karir dari kalangan biasa yaaa....sory sorry to say ya..... Mama gak bakalan pernah kasik mau terima!"


"Pokoknya, bagaimanapun caranya kamu harus dapatkan dia, Ar! Bayangkan saja, semisal kamu menikah dengan Indri, pasti orang tuanya akan memberikan sebagian usahanya untuk kalian kelola. Mereka sangat menyayangi Indri, sudah pasti sebagian usaha mereka akan diberikan agar kehidupan putrinya terjamin. Tidak mungkin mereka melepaskan Indri begitu saja buat kamu yang cuma pegawai biasa." ucap Mama Amel menyemangati Arya.


"Berarti keluarga Indri kaya banget ya, Ma?" ucap Arya yang mulai semangat mendapatkan Indri sebagai pengganti Nissa.


"Iyalah, kalau nggak kaya mana mungkin Mama kenalkan sama kamu. Keluarga dia bukan dari kalangan sembarangan, jadi kamu harus bisa mendapatkan nya. Apalagi keluarga mereka tidak pernah menilai seseorang dari materi. Tante Sofi pernah bilang sama Mama, ia akan merestui pilihan putrinya meski bukan berasal dari kalangan orang kaya."


"Iya Ma, serahkan semuanya sama Arya! Mama cukup duduk dan diam saja, ikuti rencana Arya. Daripada gagal seperti yang sudah-sudah." titah Arya.


"Iya pokoknya Mama tunggu kabar baiknya, jangan lama-lama!" tegas Mama Amel yang di angguki oleh Arya.


"Bagus!!! Kamu memang yang terbaik Ar!!"


Setelah selesai memberikan pujian, Mama Amel beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Arya yang saat ini tengah mendongak menatap langit-langit rumah seolah-olah menatap masa depan.


Arya terdiam, namun otaknya mulai bekerja.

__ADS_1


"Lihatlah, Nissa. Sebentar lagi akan aku pastikan kalau kau akan menyaksikan sendiri kebahagiaanku." tanpa sadar kedua sudut bibir Arya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman licik.


__ADS_2